2 WARNA

2 WARNA

Oleh: arara

Eunggh..

Lengguhan kecil akhirnya lolos dari celah-celah bibir tipisku. Kulirikan mataku keluar jendela, kulihat bias-bias cahaya matahari secara samar-samar terpantul pada kaca transparan jendela. Sudah sore ternyata! Kebiasaan buruk seorang Raka sangat sulit dihilangkan, batinku merutuki diriku bahwa lagi-lagi tertidur pada jam terakhir pelajaran. 

Dengan malas, aku beranjak meninggalkan kelas sembari menenteng tasku secara sembarang. Derap langkah tegasku menggema memenuhi koridor sekolah, sesekali kau bersiul untuk menghilangkan rasa bosan yang menderaku dalam perjalanan meninggalkan sekolah. Pada ujung koridor, mata kecilku menangkap siluet perempuan sedang memeluk kakinya dengan erat. Akhirnya, aku memutuskan untuk melangkahkan kaki jenjangku ke arahnya. Aku sedikit terkejut saat mendapati perempuan itu adalah Sarah. Gadis yang terkenal ceria dan suka menampilkan deretan giginya untuk menebar kebahagian pada orang sekitarnya. Terkadang aku berfikir, apa perempuan ini terjangkit virus senyum maksimal atau semacamnya. Namun, sekarang berbanding terbalik dari Sarah yang kukenal sebelumnya. Terlihat jelas bekas aliran air mata yang tercetak pada lingkar mata dan pipi gembulnya. Bibir merah itu dia gigit untuk meredam suara tangisnya, apa dia tidak takut bibirnya berdarah? Aku beranikan diriku menepuk bahunya, tapi dia tetap tidak menoleh menatapku. Matanya masih terpaku menatap kosong pada kaki mungilnya.

“Aku menyia-nyiakannya!” ucapnya lirih nyaris tidak dapat ditangkap oleh indra pendengaranku. 

“Kesempatan. Aku menyia-nyiakan kesempatan yang kupunya Rakaa,” sambungnya dengan nada seolah-olah dia tersiksa dengan realita yang dia terima.

“Matematika,” ucapku sambil menyamakan posisiku agar sejajar dengannya.

“Seharusnya aku lebih giat lagi. Aku mengecewakan semua orang.”

“Percayalah, Sarah, mungkin kamu ditakdirkan untuk tidak menang kali ini. Namun, takdir ini tidak akan membuatmu menyerah bukan?” Jawabku dengan nada selembut mungkin agar dia terasa nyaman di dekatku.

“Bodoh kau memang tidak pandai berkata-kata,” ketusnya sambil menampilkan senyum indah yang terpahat dengan sempurna di wajah cantiknya. Apalagi cahaya matahari senja seolah-olah terpantul pada mata indah yang mampu membius orang-orang agar tidak berpaling menatapnya.

***

2 MINGGU BERLALU

Matahari bersinar terang seperti biasanya. Suara ricuh khas pelajar memenuhi koridor sekolah. Membuat aku mendengus kesal. Suara yang mengganggu batinku. Membuat kepalaku kadang berkedut seolah dihantam oleh batu. Langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok Sarah berdiri di depan papan pengumuman dengan mata yang berbinar. Olimpiade Matematika rupanya, pantas dia terlihat begitu gembira. Ucapku dalam hati saat menangkap beberapa kalimat dalam brosur yang tertempel di papan pengumuman dari kejauhan.

Tiba-tiba Sarah melangkahkan kakinya meninggalkan koridor sekolah dengan tergesa. Secara refleks aku mengikuti Sarah juga. Sosok sarah terlihat memasuki ruang guru, mataku sedikit mengintip dan kupasang telingaku agar dapat menangkap perbincangan yang terjadi antara dua insan di dalam sana.

“Sarah, bukannya saya melarang, tapi kamu mana mungkin bisa mengalahkan Dara dalam kompetisi ini?”

“Walaupun kemarin saya kalah dari Dara, tapi kali ini saya pasti menang Pak,” ucap Sarah lantang menatap guru kelasnya yang kutau bernama Hendro itu.

“Terserah kau saja. Tapi maaf, saya hanya bisa memberikan bimbingan pada Dara karena dia yang ditunjuk oleh pihak sekolah. Lagi pula, selama 2 tahun ini Dara selalu membawa pulang medali emas, sedangkan kamu? Jadi, saya tetap memprioritaskan Dara karena sudah jelas kemampuannya.” 

Bak tersambar petir di siang bolong. Mendengar perkataan Pak Hendro membuat hati kecilku seolah ditusuk oleh ribuan peniti. Sebegitu berharganya Dara, padahal Sarah juga murid di sini seharusnya dia juga mempunyai hak yang sama. Walaupun Dara sering menang dalam kompetisi sebelumnya tapi ini bukan harga mati bahwa Sarah tidak dapat mengalahkan Dara.

“Saya akan buktikan bahwa saya juga mempunyai kemampuan yang melebihi Dara,” ucap Sarah dengan senyum tipis terpatri di wajahnya penuh dengan keteguhan. Membuatku tanpa sadar juga mengulas sebuah senyum.

***

Sudah 3 hari berlalu. Dalam kurun waktu 3 hari ini pula setiap jam istirahat  aku selalu melihat pemandangan Sarah sedang membawa setumpuk buku melintasi depan kelasku dan berakhir pada Sarah yang memasuki perpustakaan.

Pada siang hari saat jam terakhir pelajaran berakhir, Sarah selalu mendudukan diri pada bangku perpustakaan dengan mata yang terfokus pada buku, sesekali tangannya menari di atas kertas untuk mencatat beberapa rumus. Apa dia tidak lelah dengan kegiatan barunya ini?

Untuk hari ini, kuputuskan untuk melangkahkan kaki menuju tempat yang orang-orang sebut dengan surga ilmu itu. Mungkin untuk sekadar menemani Sarah belajar atau membantu, itu pun jika aku paham dengan rumus-rumus bak racun. 

Aku dan Sarah memang berbeda, walaupun kami ini adalah teman akrab. Bagai warna kuning dan kelabu. Sarah adalah warna kuning tersebut. Selalu membawa keceriaan pada orang sekitarnya. Sikap tegar dan pantang menyerahnya membuat dia selalu dikelilingi dengan kasih sayang. Sedangkan akulah si Kelabu. Sudah jelas bagaimana aku ini tergambar dengan pengandaian warna kelabu. 

Saat aku sampai di perpustakaan, seketika hatiku mencelus melihat sosok itu terlelap dengan ditemani puluhan buku yang terbuka seolah menunggu pembacanya bangun. Aku mendudukkan diriku di sampingnya secara perlahan agar dia tidak bangun. Namun, usahaku ini gagal. Kelopak mata itu perlahan terbuka menampilkan bola mata terang bak bintang kejora. Dia tersenyum menatapku.

“Ngapain di sini?” ucapnya seraya mengusapkan punggung tangannya pada bagian bawah bibirnya untuk sekadar menghilangkan jejak saliva yang mungkin tercetak di sana.

“Ngeliatin calon juara belajar” 

“Benarkah? Menurutmu aku pantas jadi juara?” aturnya dengan mata berbinar.

“Mungkin saja,” jawabku tak acuh sambil merapikan buku-buku yang berserakan.

“Jangan kau rapikan! Masih mau aku pelajari!” larangnya sambil merampas buku yang kupegang.

“Jangan ngeyel! Yang kamu perluin sekarang istirahat!” tangas dengan tegas.

“Tapi-”

“Tidak ada penolakan,” potongku sebelum Sarah menyelesaikan kalimatnya.

***

Langkah kaki kami terayun sesuai irama yang dari awal kami ciptakan. Berjalan berdampingan membelah lautan manusia yang memadati kota dari siang menuju sore tepatnya. Bibir kami terkatup, menyajikan keheningan yang membuat kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tanpa sadar kami telah berada di depan rumah Sarah.

“Raka, terima kasih sudah mau nganter sampe rumah,” bibir tipisnya berucap, suaranya begitu menenangkan. Ditambah semburat merah muda terpatri di kedua belah pipinya. Dia benar-benar sosok wanita yang sempurna.

“Wah, wah, kau bisa merona juga rupanya,” ejekku sambil mencubit pipinya membuat dia meringis tipis.

“Dasar kau ini, pulang sana!” ucapnya berbalik melangkahkan kakinya memasuki rumah.

“Aku tidak ditawari mampir?” 

“Bodo amat!” teriaknya dari balik pagar sambil menjulurkan lidahnya. Membuatku terkekeh. 

“Dasar seperti anak kecil saja.”

***

Sudah 2 hari ini aku tidak mendapati Sarah di perpustakaan seperti biasa, jadi kuputuskan setelah pulang sekolah aku langsung menuju tempat di mana aku dapat mengembangkan minatku. Menyanyi adalah hal yang paling aku senangi. Mungkin sedikit terdengar aneh jika pria sepertiku memiliki hobi menyanyi, tapi bagaimana lagi cuma hal ini yang menjadi pelarianku jika saat-saat sulit menimpaku.

Pukul delapan malam, kupercepat langkahku meninggalkan studio. Derap langkahku menggema memenuhi jalanan sepi yang aku lewati. Angin malam berembus secara perlahan seolah-olah menghantarkan ketakutan. Seketika bulu romaku berdiri. Ditambah suara binatang khas malam hari yang entah apa jenisnya menambah aura mencekam. Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah cepat mendekatiku. Dengan cepat pula aku melenggang meninggalkan tempat itu, tapi suara itu menghilang. Kutengokkan wajahku ke belakang mencari penjelasan atas hal ini. Tapi nihil, aku tidak mendapatkan apapun. Kubalikkan wajah dengan perlahan, aku terlonjak kaget menabrak tembok di sampingku.

“SARAH?!!” Teriakku tanpa pikir panjang.

“Hihihi.. salah sendiri dipanggilin ga ada respon” 

“Jadi dari tadi itu kamu. Aku hampir mati muda karena ketakutan tau!” ucapku sembari menormalkan detak jantungku yang masih menggila ini.

“Raka.” 

“Apa?” jawabku dengan nada kesal. 

“Aku punya kabar gembira untuk kita.”

“Kabar gembira untukmu lebih tepatnya,” ucapku seolah membenahi kalimat Sarah.

“Ishh, kamu ini selalu menyebalkan. Emang kamu tau apa kabar gembiranya?” timpal Sarah dengan wajah penuh rasa kesal.

“Entahlah aku cuma merasa kabar gembira ini untukmu, benar, kan?” 

“Terserah jika memang kabar gembira ini untukku. Lantas apa salahnya aku membagi kebahagiaan denganmu?” jawab Sarah dengan raut wajah penuh keceriaan.

“Terserah. Apa kabar gembiranya?” tanyaku yang mulai jenuh dengan perbincangan ini.

“Aku lolos seleksi Olimpiade Matematika, yang berarti aku masuk final besok!”

“Benarkah? Selamat!” ucapku meninggalkan Sarah.

“Ya, Raka. Besok jangan lupa kamu harus temani akuuu!!” teriaknya dengan nyaring di belakang sana.

***

Di sinilah kami duduk berjajar menunggu hasil olimpiade matematika. Mata kami menatap laki-laki yang berdiri di atas panggung sambil membawa selembar kertas, yang kutahu laki-laki itu adalah pembawa acara.

“Akhirnya hasil lomba sudah ada di tangan saya,” seru sang pembawa acara dengan ekspresi dibuat seolah-olah baru mendapat kelegaan.

Aku menoleh menatap Sarah, wajahnya pucat dialiri dengan keringat yang mengucur deras melalui pori-pori kulit seolah dia memiliki kelainan pada kelenjar keringatnya. Aku menyentuh tanganya lembut berusaha menghilangkan rasa tegang yang mendera dia.

“Aku tidak yakin bisa menang. Melihat lawan yang benar-benar membuat jantung berdetak tak karu-karuan,” ucapnya pelan, matanya tetap fokus pada orang yang menyebut dirinya sebagai pembawa acara di atas panggung itu.

”Kau bisa. Kau pasti bisa Sarah!” balasku mencoba menenangkannya.

“Untuk nama yang saya sebut silahkan naik ke atas panggung. Oke langsung saja. Juara kelima adalah Anton Herlino dengan skor 935, beri tepuk tangan!”

“Sedangkan juara terbaik keempat diraih oleh Mahesa Setyanur Atmaja dengan skor 987!” ucap pembawa acara dan aku tetap memanjatkan doa agar Sarah mendapatkan juara terbaik.

“Lalu juara ketiga diraih oleh… Dara Dwinaputi dengan skor 1098!” ucapnya diiringi dengan sorak-sorak dari penonton.

“Lihat, Raka! Dara saja mendapat juara ketiga,” atur Sarah dengan wajah sedikit kacau.

“Sabar. Kita dengar saja dulu.”

“Juara terbaik kedua adalah… Mahendra Nur-Kholiq dengan skor 1158!” 

“Raka, ayo pulang! Aku tidak menang.” 

“Tunggu, Sarah, masih belum selesai, aku yakin-“ ucapku terpotong saat Pembawa acara meneriaki namanya.

“Sarah Wijaya Putri sebagai juara pertama dengan skor yang menakjubkan 1420. Beri tepuk tangan yang meriah!”

Aku menengok menatap Sarah. Air bening bak kristal mengalir di sana. Raut wajahnya berubah gembira, dia memelukku sekilas. Lalu, dia berlari ke atas panggung menyongsong piala yang dia impikan selama ini.

Aku melihatnya dari bawah. Menatap lekat wajah teman terbaikku. Raut kebahagiaan benar-benar terpancar, senyumnya bagai sinar mentari, dan matanya juga tak kalah bersinar. Untuk pertama kalinya, aku merasa bersyukur dapat menjadi teman seorang Sarah. Dapat melihat kesempurnaan Sarah dari dekat. Tuhan benar Maha Adil, di sela-sela kekuranganku, hadir sosok yang membuatku merasa kelebihan perlahan mendekapku. Mungkin tanpa adanya dia aku masih diam menggantung mimpiku, tanpa adanya usaha untuk meraihnya. Namun, dia datang memberikan semangat agar aku meraih mimpiku ini. 

“Sarah, kau sudah dapatkan mimpimu. Sekarang giliranku tiba. Aku akan membuatmu menjadi saksi perjalananku untuk menjadi penyanyi yang andal.”

Related posts

Leave a Comment