Perang

Oleh: Budi Akbar

 

Aku harus mulai dari mana?

Mungkin bertanya dulu apa ini

Yang gemelutuk dalam hati

Atau luka-luka yang berjelaga jingga

Diantara rongga dada

 

Pada akhirnya aku dapati perasaan ini mengikis, teriris!

 

Di satu senja menuju haribaan untuk tunduk pada tuhanku

Segumpal senyuman dewi membuatku terhenti

Dibawahlonceng berdentang setiap Minggu pagi

Hingga kita berbagi cinta dalam cerita

 

Saat itu juga tuhan kita berseteru

Aku kamu termangu

 

Tapi, di sana iblis terpingkal-pingkal

Malaikat dongkol menghentikan tugasnya

Sampai hari ini yang aku tahu mereka semua asik menyoraki tuhannya sendiri

 

Pada akhirnya kita di sini

Meminta diksi-diksi sang-Maha

Nihil……

Tak ada sabda, tak ada firman

Walau seberapa lamapun lutut kita bercumbu dengan bumi

 

Surat Tua

Oleh: Andre Lontong

Darahku memutih

Tak seperti menceritakan melati

Oleh senja yang memakan-makan

Hinggap lalat tersisa

-1

 

Waktu itu detik

Hanya kepalan puing rima

Masih menyisah ingat

Dan langkah terus bersajak-sajak

-2

 

Kemarin tak bubar-bubar

Ku pegang masih cenayang

Oleh kudus tak bernokhta

Ku jemari penah melekat

-3s

Menengok Pendidikan Karakter INDONESIA

Miftakhul Huda

 

“Bangsa kita, sepertinya saat ini kehilangan kearifan lokal yang menjadi karakter budaya bangsa sejak berabad – abad lalu.” Menurut pasal I Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2003, disebutkan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan (pendidikan yang unggul dan profesional), kepribadian dan akhlak mulia (beriman dan bertaqwa).

Menurut Goleman, keberhasilan seseorang dimasyarakat, ternyata 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak disekolah ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak saja, tetapi pada karakter yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, kemampuan berkomunikasi, kreatif, inovatif, problem solving, berpikir kritis, dan entrepreneurship. Pengertian yang dikemukakan oleh Aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan terus menerus dilakukan. Menurut Kemendiknas (2010), karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian  seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Menurut Suyanto (2010), karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan & siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Sementara, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pakerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitif), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Sehingga individu dapat mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Ibnu Miskawaih (932-1030M) misalnya, dalam bukunya yang berjudul  Tahdzib al-Akhlak mengemukakan akan pentingnya akhlak, dimana akhlak ini merupakan”keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu melaksanakannya dalam tindakan-tindakan utama secara spontan”.  Lanjut  Ibnu Miskawaih menyebutkan adanya dua sifat yang menonjol dalam jiwa manusia, yaitu sifat buruk dari jiwa yang pengecut, sombong, dan penipu. Serta sifat jiwa yang cerdas yaitu : adil, pemberani, pemurah, sabar, benar, tawakal, dan kerja keras.

Kita tidak boleh putus asa, jika bangsa ini konsisten dan memiliki tekad yang kuat untuk “mengharusutamakan” pendidikan karakter, tentu bisa direaliasikan. Syaratnya pendidikan karakter harus dilakukan secara komprehensif-integral; tidak hanya melalui pendidikan formal saja, tetapi juga melalui pendidikan informal dan nonformal. Yang terpenting, pendidikan karakter jangan hanya menjadi tanggung jawab parsial dunia pendidikan tetapi menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat, keluarga dan sekolah.

 

Artikel ini pernah di ikutkan lomba UM’s Essay Competition di Forum Studi Sains dan Teknologi (FS2T) FMIPA UM pada tahun 2012, artikel ini menempati posisi ke-33 dari 57 pendaftar


Mengemis = Kemunduran mental sosial

M. Ziyan Takhqiqi Arsyad10)

 

“Kesejahteraan tidak akan lepas dari pandangan masyarakat terhadap sekelumit kelompok sosial”

 

Sikap sosial di masyarakat tidak selalu membawa dampak yang komperhensif. Sikap memberi kepada pengemis kini menjadi stimulan memunculkan lebih banyak tangan-tangan peminta. Seakan-akan niat tulus untuk membantu sesama menjadi salah arah. Munculah konflik antara niat memberi dan pikiran sadar yang tak ingin melatih orang menjadi peminta. Hal tersebut tidak boleh terus dibiarkan agar tercipta kehidupan selaras seperi yang diharapkan.

Pengemis menurut saya merupakan orang yang terlatih menjadi peminta. Sangat disayangkan profesi pengemis utility value terhadap kehidupan sosial sangatlah rendah. Utility value atau nilai guna salah satunya diukur dari seberapa berguna atau apa timbal balik yang diberikan dari suatu perlakuan. Limited utility value menjadi problematika karena pengemis tidak memiliki nilai sosial dan strata sosial yang diakui masyarakat. Siapapun mereka, pengemis ada dan masih menjadi bagian dari masyarakat meskipun mereka kecil dan dikecilkan.

Berhenti pada nilai guna dalam kehidupan sosial, pengemis memiliki sisi kehidupan lain yang mampu menembus suatu strata dalam ukuran ekonomi. Kondisi demikian terjadi jika penghasilan pengemis melebihi rata-rata penghasilan masyarakat di Indonesia, dapat dipersempit Jawa. Menurut dapat survei rata-rata penghasilan masyarakat indonesia antara 2-4 US $, sedangkan pengemis setiap harinya bisa mengumpulkan sekitar 100 ribu atau 10 US $ (Kompas.com). Nilai penghasilan yang segitu besar dapat memenuhi kebutuhan berskala mewah. Jika diukur, terjadi simpangan sekitar 6-8 US $ yaitu 2 kali lipat penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia. Dari ukuran ekomomi pengemis bisa dikatakan makmur.

Pasti ada kondisi keterkejutan masyarakat luas jika tahu penghasilan pengemis bisa mencapai berjuta-juta sebulan. Jika melihat kondisi sosialnya tidak meyakinkan  namun pengemis memiliki kematangan secara ekonomi dan memenuhi kebutuhan materilnya. Disinilah yang tidak boleh dibiarkan jika “manusia” sudah puas dengan kecukupan materi saja. Manusia tidak akan memiliki eksitensi diri jika tidak berkontribusi kepada orang lain. Materialisme dan hilangya eksistensi diri di mata manusia lain, lama-kelamaan dapat membunuh rasa saling membutuhkan sebagai makhluk sosial. Kekhawatiran tersebut mungkin sangat berlebihan untuk masalah pengemis. Yang tidak saya inginkan rasa saling tidak percaya yang nantinya memunculkan sikap saling tidak membutuhkan.

Kunci dari problematika dalam wacana ini yaitu: sikap sosial salah arah, utility value, dan kecukupan material. Rasa sosial akan bangkit jika seseorang peduli pada orang lain atau seseorang melakukan hal untuk kepentingan umum. Di Inggris dikenal kerja sosial untuk hukuman pelanggaran publik, misalnya lalu lintas. Jika kerja sosial diterapkan akan dapat menjaga rasa sosial terhadap pengemis. Jika setiap pengemis diberikan tanggung jawab sosial tertentu. Jika pengemis mau balas budi. Entah mimpi apa itu.

Anggap saja kerja sosial ialah balas budi pengemis kepada orang-orang yang telah mengisi tengadahan tangannya. Misalanya sekelompok pengemis diberikan tanggung jawab membersihkan fasilitas publik terntentu bersama-sama pegawai kebersihan. Atau membantu tugas-tugas publik yang lain. Setidaknya dengan upaya kerja sosial pengemis memiliki kontribusi langsung terhadap masyarakat. Hal tersebut tidak akan membuat pandangan masyarakat terhadap pengemis selalu buram.  Namun, pengelolaan operasional untuk kerja sosial sebagai “suatu gerakan balas budi” apakah suatu hal yang solutif masih perlu dipertimbangkan lagi. Saya hanya tidak ingin melihat “peminta-minta” terus bermental peminta-minta dan nantinya menular dan turun-menurun.

 

“Setiap kelompok manusia pasti dijangkiti patologi sosial tertentu”