Resensi Aloer-Aloer Merah, Kumpulan Cerita Pendek

Menyatunya Sejarah Bisu dalam Sebuah Fiksi

Judul: Aloer-Aloer Merah, Kumpulan Cerita Pendek

Karya: Ardi Wina Saputra

Cetakan: pertama, April 2017

Ukuran: 13×20 cm

Tebal: 146 halaman

Penerbit: pelangi sastra, malang

ISBN: 978-602-60790-3-9

Sejarah merupakan media pengajaran yang paling tepat ketika berbicara mengenai jati diri, terutama bagi suatu bangsa. Jati diri suatu bangsa akan terlihat jelas dari sejarah yang telah melahirkannya. Sejarah serupa ibu, ia melahirkan, merawat, juga membentuk kepribadian anak-anaknya. Melupakan sejarah sama halnya melupakan jati diri.

Berbicara mengenai sejarah, sebagian besar dari kita akan membayangkan suatu hal yang berkesan tua, lama, dan membosankan. Membayangkan hal tersebut telah membanhkitkan rasa bosan yang berkepanjangan. Namun, akan berbeda bila sejarah bersatu dalam sebuah karya fiksi. Tentunya akan terdengar baru dan menarik. Inilah yang terjadi pada kumpulan cerpen Aloer-Aloer Merah karya Ardi Wina Saputra.

Atas rasa cintanya kepada kota Malang dan Surabaya yang kental akan peninggalan sejarah. Ardi mencoba untuk mengemas hal-hal bersejarah dalam balutan cerita fiksi. Membutuhkan usaha lebih tentunya ketika membuat cerita fiksi berlatar sejarah. Pengetahuan yang mencukupi tentu menjadi modal utama agar hal-hal bersejarah tidak disampaikan secara ngawur. Kisah yang ditawarkan Ardi mungkin hanyalah fiksi, namun semua kisah tersebut dilatari oleh peristiwa sejarah yang nyata. Sejarah yang telah melahirkan kota Malang dan Surabaya.

Kumpulan Cerpen Aloer-aloer Merah menyajikan sepuluh cerita di dalamnya. Cerita pertama berjudul aloer-aloer merah yang menyajikan kisah pembalasan dendam seorang anak Letnan Belanda atas kematian ibunya. Cerita kedua berjudul gundik yang mengisahkan pengorbanan seorang gadis untuk menjaga martabat negerinya. Cerita ketiga berjudul senja terakhir mengisahkan cinta seorang pejuang dengan gadis belia keturunan belanda. Cerita keempat berjudul kutukan berkisah mengenai seorang suami yang mendapat kutukan atas kematian istrinya. Cerita kelima berjudul kaleng susu yang berkisah tentang persahabatan singkat dua orang gadis keturunan belanda. Cerita keenam berjudul bulan beranak merah delima yang menyuguhkan kisah cinta tak terwujud seorang nenek dengan kekasihnya di masa lampau. Tak berbeda dengan cerita keenam, cerita ketujuh yang berjudul lelaki yang berdiri menatap bianglala menghadirkan kisah cinta tak terwujud seorang gundik laki-laki dengan nona belanda, putri majikannya. Cerita kedelapan berjudul lesung pipit yang mengisahkan kemurkaan seorang anak gadis berdarah campuran belanda-jawa kepada ayahnya. Cerita kesembilan berjudul terloepa yang bercerita mengenai tentara belanda berdarah campuran yang membenci sosok ibunya. Cerita terakhir berjudul Rawis yang mengisahkan percintaan gadis belanda dengan seekor kuda peliharaannya.

Sepuluh kisah yang dihadirkan Ardi dalam kumpulan cerpen ini selalu menghadirkan sosok wanita sebagai pencipta peristiwa dalam setiap kisah.

Kematian merupakan topik utama yang dihadirkan oleh Ardi dalam kumpulan cerpen ini. Tidak salah bila Tengsoe Tjahjono memberikan pengantar dengan judul jalan kematian di dalam buku ini. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Ardi menghadirkan sosok wanita sebagai titik tolak setiap peristiwa. Selain menghadirkan sosok perempuan sebagai pondasi utama, Ardi juga menghadirkan warna kematian dalam setiap kisah. Entah itu membunuh, dibunuh, ataupun bunuh diri. Para tokoh dalam cerpen seolah menunjukkan kepada pembaca bahwa kematian merupakan jalan yang tepat dan membanggakan untuk memeroleh kebebasan sejati, sebuah kemerdekaan yang hakiki.

Membaca kumpulan cerpen aloer-aloer merah memberikan sensasi tersendiri. Kita diajak menyelami peristiwa-peristiwa sejarah dengan cara yang menyenangkan. Tak ada kebosanan yang dihadirkan Ardi dalam setiap kisah yang dia tuliskan. Namun, jangan harapkan kisah yang bahagia dari kisah-kisah ciptaan Ardi ini. Hanya kematian yang dihadirkan Ardi sebagai bentuk kebhagiaqn yang diharapkan para tokohnya.

Resensi 1984 – George Orwell

 

Judul: 1984

Penulis : George Orwell

Penerjemah : Landung simatupang

Penerbit : Bentang pustaka

        Nama Orwell pada hakikatnya tidak terlalu dikenal oleh masyarakat kita yang sebagian besar suka membaca novel. Mungkin nama orwell lebih banyak dikenal oleh kalangan pembaca dengan tingkat intelektual lebih tinggi, atau bahkan memang bergelut di bidang sastra lebih mendalam. 1984 merupakan salah satu karya Orwell yang akhir2 diterbitkan kembali di tanah air kita. Kalangan intelektual sastra akan menyebut karya Orwell ini sebagai sastra kanon. Karya sastra serius, sekaligus populer, dan tak lekang waktu. Karya Orwell ini pertama kali terbit pada tahun 60-an dan begitu diminati pada masanya. Banyak orang yang beranggapan bahwa karyanya ini mampu menggambarkan masa depan. Anggapan tersebut tidak dapat disalahkan, bila kita membaca karya ini, pada masa kini, tentu akan terlihat persamaan yang luar biasa antara kehidupan sosial yang digambarkan orwell dalam novelnya dengan kehidupan sosial pada masa kini. Ambil contoh alat canggih yang bernama teleskrin, bisa kita bandingkan dengan cctv ataupun speaker mini yang ada dimana-mana. Alat-alat itu juga mengawasi setiap pergerakan kita selayaknya teleskrin.

         Plot twist atau akhir yang tak terduga merupakan poin penting yang membuat suatu karya sastra terlihat menarik. Menebak kelanjutan cerita atau akhir cerita merupakan kebiasaan pembaca yang dilakukan tanpa sadar. Tugas penulis yang baik adalah merusak hasil angan-angan pembaca tersebut. Memberikan sensasi penuh kejutan tentunya. Orwell mampu merusak angan-angan pembaca dengan baik dalam novelnya ini. Secara garis besar, novel 1984 ini menampilkan inggris yang kaku, tercengkram dalam kekuasaan politik yang tak terbantahkan. Kisahnya sendiri berpusat pada karakter Winston, seorang pegawai partai yang memiliki pemikiran untuk melawan partai. Tidak akan ada spoiler dalam tulisan saya ini, gambaran singkat tadi tentu sudah memunculkan banyak persepsi mengenai alur cerita, bahkan akhir ceritanya. Namun, saya tekankan sekali lagi bahwa orwell mampu merusak persepsi tersebut. Saya sarankan untuk membaca novelnya sendiri. Tambahan penting, novel ini mampu membawa kita pada pemikiran bahwa setiap cerita yang disampaikan adalah nyata. Lampiran di akhir novel ini juga menambahkan sensasi besar bahwa novel ini kisah nyata, bukan suatu yang fiksi, selayaknya novel pada umumnya. Saya kira Orwell mungkin melakukan suatu penelitian mendalam sebelum menuangkan pemikiran-pemikirannya yang brillian dalam novel ini.

*”Lomba Menulis Cerpen Mahasiswa Se-Indonesia”*

Akulah Penulis !

Hai, mahasiswa di seluruh Indonesia!
Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang mempersembahkan:

*”Lomba Menulis Cerpen Mahasiswa Se-Indonesia”*

Lomba ini adalah salah satu rangkaian acara Pameran Karya yang diselenggarakan oleh UKM Penulis UM yang ke-13

Hadir dengan tema:
“Pesona Budaya Nusantara”

Hadiah:
Juara 1: Sertifikat + Uang Tunai Rp 1.500.000 + Buku Karya UKMP + Trofi
Juara 2: Sertifikat + Uang Tunai Rp 1.000.000 + Buku Karya UKMP + Trofi
Juara 3: Sertifikat + Uang Tunai Rp 500.000 + Buku Karya UKMP + Trofi

✔Semua peserta lomba mendapatkan e-sertifikat dan e-book antologi 20 karya terbaik

❗Catat tanggal pentingnya:
18 Agustus – 18 September 2017: Pendaftaran dan Pengumpulan Karya
19 September – 05 Oktober 2017: Penjurian
13 Oktober 2017: Pengumuman Pemenang

Formulir dan Info Selengkapnya dapat diunduh di laman penulis.ukm.um.ac.id

Atau kunjungi
Website: penulis.ukm.um.ac.id
FB: www.facebook.com/akulahpenulis
Twitter: @ukmpenulis
IG: ukmp_um

Narahubung :
Dina (085645663657)
Irmaya (081333745351)

 

 

INKubator – Layouting

*Akulah Penulis*

*_Show up your imagine and creativity_*

INKubator UKM Penulis dengan bangga mempersembahkan,
_LAYOUTING for your individual book with_:

*Fitrah Izul Falaq*

Layouter Majalah Komunikasi UM 2016

🎖Achievement
1. Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah _Reality Researh Competition_ tingkat Nasional UNY,
2. Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Matriks UMM tingkat Nasional,
3. _Best Presentation National Essay Competition_ tingkat Nasional Universitas Negeri Medan,
4. Juara 2 Musabaqah Karya Tulis Al Quran,
_and much more_

📌 Save the date:
🗓 Minggu, 20 Agustus 2017
⏳ Pukul 18.00 WIB
🏘 Balai Penulis Muda UKMP
🎙 M. Fatkhur Rizal

🍃Liburan adalah suatu masa ketika seseorang yang telah bekerja keras harus istirahat untuk menyeimbangkan kebutuhan rohani. Oleh sebab itu, liburan bukanlah suatu waktu bagi setiap individu untuk bermalas-malasan dan kembali menumbuhkan keterbatasan. Imajinasi dan kreativitas muncul bahkan di saat yang tidak terduga.

_Charlie Chaplin ever said this, “Imajinasi tidak berarti apa-apa tanpa berbuat sesuatu.”_

*Ekspresikan imajinasi isi tulisan karyamu melalui cover buku yang provokatif*

nb:
1. Acara ini hanya untuk peserta Kelas Menulis
2. Peserta diharapkan membawa kabel olor dan laptop yang telah terinstall program Adobe Indesign, apabila belum tersedia dimohon datang lebih awal untuk diinstallkan di UKMP.

📌 For more information:
085649253845 (Rosi Nur Azizah)