SEMPURNA

SEMPURNAOleh: Tajj Sakti mengayunkan badannya dengan sempurna seperti ranting kayu yang tidak berdaya melawan angin kemarau. Bibirnya semencolok wanita muda yang merias diri di hari kedua pernikahan, berwarna merah darah dibubuhi simpul senyum bak pelawak. Kakinya pecicilan diiringi alunan kendang dengan paduan nada tritone. Sejenak ia telah mencicipi surga yang dikarang di pikirannya sendiri. “Sial…, sialan! Sampai kapan aku sial begini.” Ujo kembali mengeluh pada nasib. Tidak berbeda dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya, Ujo terus mengutuk perbuatan nasib kepadanya. Ia telah menjadi manusia yang tidak bersyukur. Menurutnya, namanya adalah padanan…