Redupnya Sang Matahari

Redupnya Sang MatahariOleh: Nadya Wulandari Perlahan tapi pasti jemari itu piawai menaburkan kelopak bebungaan dari wadah ke atas pusara dengan rata. Setelah dirasanya cukup, telapak tangan itu berganti menyiramkan air di atasnya. Pria itu, adalah Arthit. Pria dua puluh enam tahun itu tersenyum tipis seraya mengusap pelan nisan di hadapannya. Ia berjongkok seraya tangan kirinya menggandeng lengan kecil. Ya, ia datang bersama sang putra. Dilihatnya bocah itu memperhatikan sekeliling tanpa sekalipun memfokuskan pandangan. Ia mungusap surai bocah itu lalu berkata, “Win….” Tetap, yang dipanggil seakan tidak mendengar. “Win….” ulang Arthit…