AKU DAN KUCINGKU

AKU DAN KUCINGKU
Oleh: Antonia

“Jadi, kamu lebih milih dia daripada aku?” Dia terdiam

“Kamu tega ya sama aku. Aku udah ngasih segalanya ke kamu, kamu malah lebih nyaman sama dia.” Kali ini dia mengeluarkan suara manja dan sorot matanya ke orang lain. Tak bukan orang yang telah membuatnya nyaman

“Baik jika itu keputusanmu. She, bawa dia. Kayaknya dia udah nggak betah sama aku.” Ucapku sedih.

Kucingku, Timo, lebih memilih hidup bersama adikku, Sherlina, daripada aku yang sudah merawatnya sejak kecil. Timo aku temukan di pasar dalam keadaan kurus dan kedinginan. Aku rawat dia selama tiga tahun hingga gemuk dan sehat. Hingga dia cukup berani untuk berkelahi dengan kucing jantan lainnya demi seekor kucing betina. Pernah ia pulang dalam keadaan sakit parah karena kakinya terinfeksi luka cakar dari lawannya. Setelah sehat, ia kembali berkelahi dengan kucing jantan lainnya dan pulang dalam keadaan lapar. Mbuh wes sekarepmu cing. Ia tak banyak bicara, tetapi jika adikku datang, ia akan cerewet dan terus mengikutinya. Aku sadar ia sudah berpaling dariku selama enam bulan ini tapi perasaanku terus mengelak. Halah, paling cuma gimmick doang, batinku. Eh ternyata, beneran nyaman dong sama adikku. Setiap malam ia selalu mengeong mencari adikku, karena sudah tak tahan dengan kecerewetannya, akhirnya kuputuskan untuk memberikan Timo kepada Sherlina. Sherlina sangat senang sekali hingga ia selalu memfoto Timo dan dikirim ke status WhatsApp-nya.

Tak apa-apa guys. Meskipun kehilangan Timo, aku masih mempunyai pacar yang cantik, namanya Jana. Aku sudah berpacaran dengan dia selama empat tahun, sejak tahun pertama kuliah sampai aku kerja sekarang. Menurutku, Jana sangat mirip dengan Gigi Hadid, tetapi bedanya rambut Jana berwarna ungu-merah. Ia sangat suka mewarnai rambutnya dan sering berkreasi dengan warna-warna baru. Tak apa-apa, penting dia senang. Setelah Timo dan Sherlina pergi dari kosku, aku segera mengabari Jana.

Jana: Jadi, Si Timo sudah sama Sherlina? Kapan ngambilnya? 😞

Jonas: Iya, tadi siang. Apa ya, agak berat melepaskan Timo ke Sherlina. Tapi gimana lagi, ia gak betah sama aku

Jana: Gapapa Sayang, daripada kamu kesusahan ngurus Timo, biar Sherlina aja yang ngurus. Kamu sesekali jenguk Timo di rumah biar kangennya hilang

Jonas: Udah nggak kangen Timo, aku kangen kamu nih

Jana: Iya, kan hari minggu nanti meet up yang hehehe. Sabar ya

Jonas: Suabar pake banget ini mah 😌

Ya, aku dengan Jana sedang menjalani LDR. Dia bekerja di Bandung, aku di Jogja. Sudah empat bulan kita tidak bertemu namun karena kasus Covid-19 sudah mereda, kami memutuskan untuk bertemu di Jogja. Sekalian liburan, katanya. Pernah aku sekali mengunjunginya ke Bandung namun itu tak berjalan dengan baik. Aku berniat surprise, tetapi kosnya malah kosong. Akhirnya aku ngemper di depan kosnya dan ternyata seharian dia bermain dengan temannya. Kesel? Iya. Benci? Tidak. Aku tetap tersenyum dan besoknya dia mengajakku jalan-jalan. Kalau kalian bertanya bagaimana kehidupan pasangan kekasih yang LDR, ya biasa aja sih. I mean, nggak semuanya itu berat. Aku nggak bakal ngasih ceramah ke kalian bagaimana tips buat hubungan langgeng saat LDR. Cuma, usahakan selalu percaya dan berkomunikasi terus dengan pasangan 😉.

**

Minggu, 19 Januari 2020

          Oke, this is the day. Aku berniat akan menumpahkan semua rasa rinduku kepada Jana hari ini. Setelah menjemputnya dari stasiun, aku mengantarnya ke hotel tempat dia menginap. Lalu, aku pergi makan siang bersamanya di sebuah kafe gelato terkenal di Jogja.

          “Oh my gosh. I always love this gelato. Menurutku ya, di Bandung nggak ada yang seenak ini.” Kata Jana.

          “Mungkin waktu makan nggak sama aku. Makanya nggak enak.” Jawabku

          “Heh mana mungkin rasanya beda. Rasa rindumu gak semanis rasa gelato ini huh!”

          “Mungkin aja. Kalo kamu kangen sama orang, apapun yang kamu makan pasti rasanya enak. Percaya deh.”

          “Iya iya percaya aku tuh.”

          Setelah kenyang makan gelato, kita menuju daerah Malioboro untuk sekadar jalan-jalan. Namun, akibat suasana akhir pekan, jalannya sangat rame dan macet. Terpaksa kita berjalan dengan pelan-pelan, meski begitu kita sangat menikmatinya.

          “Lihat deh pasangan itu, keknya mesra banget.” ucap Jana

          “Iya kek kita.”

          “Emang kita mesra ya?” tanya Jana.

          “Ya mesra dong. Nyempetin bertemu di tengah waktu kesibukan, jarang berantem juga.”

          “Iya sekalinya berantem kamu ngilang.”

          “Ngilang? Enggaklah. Kapan aku ngilang?”

          “Waktu pas aku curhat soal masalah kerjaanku, kamu cuma diem aja. Aku marah dong, orang lagi ada masalah kok malah didiemin. Aku marah ke kamu, eh malah kamunya ngilang.”

          “Iya itu maksudnya biar kamu tenang. Ada waktu buat sendiri dan aku nggak ganggu kamu.” Jawabku

          “Loh enggak, yang. Aku ke kamu karena mau minta saran. Saran. I was told you that I need a help, tapi kamunya malah ngeremehin masalahku dan diem. Itu namanya tenang?”

          “Kamu malah marah-marah lo pas aku ngasih saran.” Sergahku.

          “Jelaslah marah-marah. Orang kamu ngasih saran ada ketawanya. Kayak nggak ikhlas mau bantu aku.”

          “Aku ikhlas, Yang, tapi kamu tau sendiri lah aku orangnya begitu.”

          “Kayak gimana emangnya? Selalu ngeremehin orang lain? Nyalahin orang lain? Atau nggak peduli sama pasangannya?”

What? Aku peduli sama kamu. Kapan aku nggak peduli sama kamu tu? Kapan aku ngeremehin kamu? Kapan aku nyalahin kamu? Kapan?”

          “Oh kamu nggak inget ya. Kamu ngeremehin aku saat mau daftar kerja ke tempat kerjaku sekarang. Kamu bilang, ‘Kamu nggak bakal cocok di sana. Di sana orang-orangnya kreatif semua, kamu? Kebanyakan imajinasi dan fantasi.’ Lalu, kamu nyalahin aku saat kamu mendadak main ke Bandung tanpa pemberitahuan. Kamu silent treatment ke aku dan aku terpaksa nge-cancel dateng ke acara 7 hari meninggalnya temenku. Kamu nggak peduli sama aku saat aku lagi stress karena masalah keluarga. Kamu malah milih hangout sama temenmu, alih-alih bantuin aku saat di masalah itu.” Ucap Jana

          “Halah, Yang, itu dulu kan, tapi sekarang…,”

          “Tuh kan, kamu ngeremehin masalah ini. Sudah kubilang kan, kamu gampang banget ngeremehin orang lain. Udahlah, aku kesal sama kamu. Capek sama kamu. Kenapa selama ini aku selalu ngalah ke kamu, tapi kamu makin seenaknya ke aku? Kenapa? Aku mau pulang ke hotel saja.” ucap Jana.

          Ia langsung berdiri dan menyetop ojek online yang sedang mangkal di sana. Aku segera mengejarnya, tapi dia langsung mendorongku.

“Jangan ganggu aku lagi.” Kata Jana. Aku terdiam sebentar dan melihatnya menjauh dari Malioboro.

          Aku langsung menuju ke mobilku dan menuju ke hotel tempat Jana menginap. Hatiku berdegup sangat kencang, karena baru pertama kali ini Jana marah terhadapku. I mean, benar-benar marah. Biasanya dia hanya kesal sementara waktu dan kembali ceria. Aku juga memikirkan perkataan Jana yang menuduhku sebagai orang yang gampang ngeremehin sesuatu, nyalahin orang lain dan nggak peduli dengan orang lain. Aku bukannya nyalahin, tapi saat itu aku sudah capek-capek ke sana dan dia malah ingin pergi ke temannya. Ya aku nggak papa dong marah, karena dia nggak bisa nyediain waktu buat aku. Bener kan guys? Harusnya dia ngeluangin waktu buat aku karena sudah jauh-jauh ke sana. Dia memang masih anak kecil, batinku. Lalu, saat ia punya masalah dengan keluarganya, apa aku harus selalu mengecek dia setiap saat? Dia udah besar, kenapa masih harus ditemeni? Sangat childish sekali dia ya, Tuhan.

          Sesampainya di hotel, aku melihat dia mendorong kopernya ke lobby. Aku langsung menghampirinya.

“Kamu mau ke mana? Keretamu masih besok siang.” Ucapku sambil memegang tangannya. Ia langsung melepaskan peganganku dan berkata, “Nggak usah ngurusin aku lagi. Aku udah nggak mau hubungan sama kamu. Aku capek dan bener-bener pengen istirahat. Kamu nggak berubah sejak kuliah dulu. Percuma aku ngerawat kamu biar jadi orang yang lebih baik, tapi kamunya nggak peduli.”

          “Kenapa kamu susah payah ngubah aku Jan? Aku nggak minta kamu ngubah aku. Aku cuma minta…,”

          “Kamu tau nggak sih kalo temen-temenmu ngejauhin kamu, karena kamu orangnya egois dan seenaknya sendiri? Mereka lagi susah kamunya ngilang. Mereka lagi seneng-seneng, eh malah datang, minta jatah. Kamu nggak mau ngalah sama mereka dalam hal apapun. Cuma aku yang mau sama kamu Nas. Kamunya malah gini ke aku. Udah, aku mau kita putus. Aku mau istirahat, mau fokus ke pekerjaanku. Keputusanku udah final.” Ucap Jana.

          Aku terdiam mendengarkan ucapannya. Benarkah yang ia katakan? tanyaku. Pada saat itu, ada taksi online yang datang di depan hotel dan Jana langsung menuju ke taksi tersebut. Aku tetap terdiam sambil melihatnya ia pergi.

          “Mungkin saja, Timo pergi darimu karena kamu terlalu egois. Sadarlah.” Ucap Jana saat masuk ke taksi. Asal dia tahu, ucapannya tadi sangat keterlaluan.

***

Related posts

Leave a Comment