Apa Pun yang Terjadi, Dunia Akan Tetap Berputar

Apa Pun yang Terjadi, Dunia Akan Tetap Berputar
Oleh: iaznmhr

Aku bosan.

Dua kata itu selalu terngiang bebas dalam pikiran. Ketika aku berdiri maupun duduk; ketika aku makan maupun minum; ketika aku berjalan maupun berlari; bahkan ketika aku melamun dan memejam mata, aku tetap merasa bosan. Tidak ada lagi hal yang bisa memantik gelora semangat pada jiwa. Aku bosan.Dunia ini juga membosankan. Tidak ada lagi yang menarik minat dan kesan. Semuanya memuakkan.

“Apa pun yang terjadi, dunia akan tetap berputar,” adalah kata-kata yang selalu kugaungkan di benak. Tak peduli pagi atau malam; tak peduli panas atau hujan; tak peduli sedang bahagia atau dirundung duka, kalimat itu selalu kutoreh dalam sanubari. Lihatlah langit, lihatlah daratan, dan lihatlah sekitar. Bumi tetap bergerak; dia tetap memutari matahari, pun satelitnya tetap mengawani. Tidak peduli siapa aku maupun kamu, atau apa status serta prestasiku dan kamu, kalimat itu nyata adanya; dan akan terus terjadi sampai Tuhan menghentikannya sendiri.

Bagus, lebih baik seperti itu. Alam ini harus tetap bergerak apa pun kejadian yang berlaku. Walau aku ada ataupun tidak, dunia akan—dan harus—tetap berputar. Aku yang menggantung di langit-langit suatu ruang, dengan mulut menganga akibat tali mencekik leher; atau aku yang tenggelam hingga membengkak, dengan merah mewarnai air akibat nadi yang terbuka; atau aku mati bersimbah darah, dengan tengkorak pecah serta tulang-tulang patah menembus kulit, semesta akan tetap bekerja seperti biasa seumpama tak ada yang terjadi. Dunia yang mengesalkan ini akan tetap berputar, dan tak akan berhenti walau satu-dua penghuninya gugur.

Di bawah horizon biru tanpa hiasan, ditemani angin yang berembus lamban, dengan debur ombak menabrak bebatuan, serta sensasi rumput hijau menggelitik pelan. Hal yang membosankan, dan bentala tetap berjalan. Sudah kuputuskan, jagat jemu ini akan kutinggalkan. Selamat tinggal kawan, selamat tinggal lawan. Sampai jumpa—

“Apa kamu yakin dengan ini?”

Aku menoleh. Ada sosok anak kecil tepat di belakangku. Penampilannya sangat menyedihkan. Badannya kecil lagi kurus, rambutnya gelap dengan potongan pendek-kasar dan kusam, pakaiannya lusuh juga compang-camping. Dengan kondisi seperti itu, dia hidup di semesta yang jenuh nan kejam ini. Sangat memilukan, sangat memprihatinkan.

“Apa kamu yakin dengan ini?” dia kembali bertanya sambil mendongak ke arahku. Aku rasakan dua mata kami saling bersirobok walau poninya yang panjang menutup penglihatannya. Belah bibir keringnya bergetar, “Kalau kamu benar melakukannya, mereka akan sedih.”

Aku memilih diam sejenak. Debur ombak di bawah tebing kembali menabrak bebatuan kokoh. Berbarengan dengan semilir angin yang bertiup, aku menghela napas. “Biarlah. Mereka juga akan bangkit seperti tidak ada hal aneh yang berlangsung.”

“Mereka akan terpuruk, mereka yang lain akan bangkit, dan mereka yang lain akan mentertawakanmu.”

“Itu sudah jelas.”

“Apa dunia begitu bengis sampai kau menjadi seperti ini?”

“Iya. Selalu melelapkan pula.”

“Apa benar? Bukannya sangat berwarna?”

“Iya, tetapi monoton.”

“Apa kamu yakin? Apa benar selalu saja sama? Atau rupanya, kamu saja yang tidak berani mencari lebih jauh?”

Aku memilih kembali menatap depan dengan mulut terkunci rapat daripada menjawab pertanyaan anak itu. Gelombang besar lagi-lagi menabrak batuan lereng yang tegap. Bunyi tegas itu mengisi kekosongan di antara kami.

Selang beberapa menit kemudian, sayup-sayup aku mendengar anak itu berkata, “Kalau kamu benar-benar yakin ingin melakukannya, semuanya akan selesai. Tiada apa pun yang akan menemani; tiada warna apa pun yang dapat kamu amati lagi. Semuanya hanya akan ada hitam pekat dan sunyi. Kamu hanya bisa diam menunggu di kebisuan nan gelap seorang diri; menunggu kedatangan orang satu per satu tanpa bisa beraksi. Ajudan-Nya akan turun mengawasi, menginterogasi, dan membalas segala kelakuanmu selama ini tanpa empati. Apa kamu sungguh-sungguh ingin mengakhiri semuanya di sini?”

Belah bibirku segera terbuka ingin membalas ucapannya, tetapi rasa kering pada mulut menghalangi. Tidak ada saliva guna membasahi tenggorok. Angin kencang tiba-tiba bertiup hingga bunyinya dapat kudengar jelas. Percikan ombak besar yang menghantam karang tepat mengenai tubuhku. Di saat itulah aku merasa kecil; tidak berguna terhadap dunia yang sedang berjalan.

Tanpa sadar aku terisak. Ah … aku benar-benar mengecewakan. Aku benar-benar lemah. Aku benar-benar sudah jatuh.

 “Lalu—” ucapan tersendat. Badanku lemas. Tenagaku habis. Tenggorokanku benar-benar kering. Suaraku benar-benar susah dikeluarkan, “… aku harus bagaimana?”

Anak itu tetap diam melihatku yang sudah terpuruk, membiarkanku menangisi lara dan pilu dari langit. Tidak perlu berbalik untuk tahu bahwa dia ikut hancur setelah menyaksikan punggungku yang kini tidak tegap menghadap semesta. Dia mendekat pelan-pelan selang beberapa sekon, kemudian memelukku dari belakang. Dekapannya terasa penuh kasih, pun gumamannya lirih. Tindakan bocah ini seakan sedang berusaha menghibur bayi tiga tahun yang menangis karena takut.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kau tidak sendirian.” ujarnya lembut. Pelukannya pada tubuhku tidak dia lepas, “Tangisi saja semuanya sekarang. Sesudahnya, kita pikirkan jalan keluar bersama. Kita pikirkan pula hal terbaik apa yang bisa kita lakukan, juga tentang segala hal mengenai hidup ini. Kita lalui putaran dunia ini, serta segala rintangan dunia ini bersama pula dengan sebaik-baiknya bersama.

“Kau boleh takut, tetapi jangan kabur. Prosesmu boleh lambat, tetapi jangan pernah menghentikannya sepihak. Kau masih bisa berdiri di sini setelah itu, sudah membuktikan bahwa kau masih sanggup menantang dunia.” Ucapannya dilanjut setelah melepas peluk. Aku menoleh pelan-pelan. Samar kulihat dua iris cokelat tanah miliknya bersinar optimis juga hangat walau terhalang poni panjang tak terurus. Dia menyungging senyum kecil nan teduh kala kembali berkata, “Apa pun yang terjadi, dunia memang akan tetap berputar; dan apa pun yang terjadi pada kita, kita akan terus berjuang dengan keras kepala menghadapinya.”

 Dia rengkuh dua tanganku dengan hati-hati; menggenggamnya lembut seakan tanganku adalah benda rapuh nan sangat berharga. Senyumnya makin lebar namun tetap bersahabat. Bersamaan dengan itu, angin hangat yang menenangkan menerpa kami berdua. Poni panjang bocah itu tertiup angin, memperlihatkan mukanya secara keseluruhan.

Mentari bersinar terang. Suasana tenang tetapi sepi perlahan-lahan hilang. Warna-warna hangat tetapi hampa samar-samar menjadi putih gading. Sosok bocah di depanku turut memudar bak debu yang terbang. Tepat sebelum semuanya menjadi kosong nan hampa; dan tepat ketika aku masih terperangah memperhatikan pahat mukanya, bocah itu sejenak tertawa, lalu berkata,

“Walau aku kecil dan ringkih, kau akan baik-baik saja. Selama ada aku, kau—juga aku—akan tetap bertahan. Karena aku adalah bagianmu, harapan hidupmu; dan kau adalah wujudku, tubuhku. Kita akan selalu bersama.”

Tidak lama kemudian, suara-suara sekitar hilang terganti dengung mesin; biru langit nan luas terganti putih kotak berbatas tirai; bau asin laut terganti bau antiseptik steril; sepoi hangat terganti sapuan dingin pendingin ruangan; serta suasana bebas tapi sesak tadi terganti kukungan hangat-nyaman-menenangkan. Aku yang sendirian di tebing tadi, kini bersama satu orang di ruang ini.

Orang itu mulai sadar dengan aku yang tengah menatapnya. Raut tegang di mukanya detik itu juga sirna. Segera dia menghampiri; basa-basi bertanya mengenai keadaan dan perasaanku saat ini. Dia izin keluar—pergi menginfokan kondisiku ke kerabat yang menunggu, katanya—tak lama kemudian, meninggalkanku sendirian setelah memastikan keadaanku sekali lagi.

Aku memejam sejenak, mengembus napas, lalu menoleh ke arah jendela di sebelah. Di sana, terhampar langit biru nan cerah, dengan gumpalan-gumpalan putih dan tipisnya bergerak pelan lagi teratur. Sangat tenang, sangat damai; benar-benar (damai) seakan tidak ada apa pun yang terjadi. Benar-benar apa pun yang terjadi, dunia akan tetap berputar.

Aku kembali mengembus napas sambil menutup mata. Dalam gelap nan kosong takterlihat, kurasa sentuhan lembut mengusap rambut. Sambil memperdengarkan senandung pelan dan menenangkan, sentuhan itu turun ke wajah; mengelus pelan lagi penuh hati-hati. Aku membiarkan tindakan itu tetap berlangsung, sebab aku tahu siapa yang melakukannya walau aku menutup mata.

Suara itu bergaung di dalam kepalaku. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Apa pun masalah yang akan terjadi pada dunia yang tetap berputar ini, kita akan tetap bertahan, dan pergi bila sudah waktunya. Kita tinggalkan jejak—apa pun itu wujudnya—pada dunia yang akan tetap berputar ini.”

JuzsportsShops , Achète, vends ou échange les vêtements, chaussures et accessoires que tu ne portes plus ! | nike dunk force wedge , Air Jordan 1 Trainers — Spurn Game

Related posts

Leave a Comment