Bahagia di Kepalamu

Bahagia di Kepalamu

Oleh: Mita Berliana

Dipenghujung siang dia menelponku. Berkata harus menemuinya sepulang magang. Dia berjanji akan mentraktir segelas jus mangga kesukaanku. Dia selalu sukses agar aku tertarik padanya.

Aku datang ke tempat yang dia suruh aku datang. Di sana kulihat dia sudah berpakaian rapi bahkan disetrika. Terlihat jelas dari lipatan-lipatan yang kencang itu. Dari kejauhan, dia ternyata menyadari kehadiranku, maka dia mengangkat bibirnya, tersenyum padaku.

Dia wangi. Rupanya dia mandi dulu sebelum bertemu denganku. Niat sekali, pikirku. Dia masih basa-basi padaku, padahal aku menanti isi kepalanya. To the point pun sebenarnya tidak apa, kalau dia mau, toh aku ini sangat toleran.

Sesuai dengan janjinya, dia membelikanku segelas jus mangga. Dan aku menyedotnya sepanjang obrolan. Menjawab apabila dia bertanya. Mendengarkan apabila dia berbicara. Aku tidak mematikan data seluler handphoneku, tentu notifikasi itu berdatangan, dan beberapa kali bergetar tanda pesan masuk. Sudah tahu begitu, sengaja kuletakkan di samping lenganku di atas meja. Tidak, selama dia bicara atau aku mendengar sama sekali benda itu tak kusentuh. Jika kunonaktifkan handphoneku, kutahu dia akan sedih dan menganggap dirinya telah merampas waktuku untuknya. Jadi kubuat saja senyamannya walaupun tanganku ini gatal ini memencet tombol daya mati.

Dia berkata pertemuan kami akan berakhir sejam kemudian saat aku pertama kali datang. Sungkan karena mengambil jam pulang magangku yang seharusnya kugunakan untuk perjalanan pulang dan leha-leha di rumah. Akan tetapi di menit-menit terakhir justru dia baru mengatakan apa yang kutunggu-tunggu. Ahh dia memang selalu begitu.

“Apa yang membuatmu bahagia?”

Aku tersenyum, “Tidak ada.”

Dia diam sesaat.

“Jika kamu bertanya seperti itu, jawabanku tidak ada. Kebahagiaan cuma ada di kepalamu.” sayangnya tak mudah membuat dia memahami perkataanku.

“Maksudnya?”

Ya kita tidak boleh pernah kesal menghadapi orang-orang macam punya kepala yang telat menangkap sesuatu. Anggap saja dirimu sedang berada dalam ruangan uji kesabaran. Atau apabila dirimu tak mempermasalahkannya, sungguh dirimu adalah titisan malaikat, sepertiku ahahaha.

“Bahagia itu tergantung pikiranmu Nisa. Tergantung bagaimana kamu mengambil sudut pandang.” dia mengernyitkan dahi.

“Kita pernah semotor, aku yang mengendarainya. Motor itu kempes mendadak. Di jalan sepi dan gelap malam itu. Kamu membantuku mendorongnya sampai kita ada di pertigaan jalan besar dan di sana ada tukang tambal ban yang duduk terkantuk-kantuk. Sambil menunggu ban diperbaiki, aku mengeluh-ngeluh, menduga-duga mungkin paku yang disebar oknum atau ulah penggembosan oleh satpam kampus karena kita parkir sampai di luar batas jam penjagaan. Tapi kamu mendengarkanku sambil tersenyum. Padahal harusnya kamu lebih mengeluh daripada aku mengingat itu motormu.”

“Diwaktu yang seharusnya kesusahan itu, kamu malah masih bersuka cita sebab mengingat telah diberi coklat oleh kekasihmu. Sekarang kamu paham?”

Nisa tersenyum dengan mantap, “Iya Ana, aku paham.”

Related posts

Leave a Comment