Betty

Betty

Oleh Shevi R. A

Andai pun bisa kembali dan mengubah musim panas itu, aku tidak akan melakukannya.”

***

Rasanya baru minggu lalu aku menerima kabar bahwa dia pulang saat hujan badai. Semua tetangga berkunjung ke rumahnya, bertukar sapa setelah sekian lama atau sekadar meminta buah tangan karena dia dikenal sangat dermawan, tapi tidak denganku. Aku tetap berjibaku dengan tepung protein sedang, telur, dan mesin pemanggang. Tidak, tidak sedikit pun aku membencinya. Aku ingin—tapi tidak pernah bisa.

“Tidakkah kamu merindukannya?” tanya tetanggaku kemarin sore.

Aku menjawab tanpa jeda, “Tentu.”

Tetanggaku mengernyit heran. Aku tahu tetanggaku pasti akan bertanya mengapa aku tidak mengunjunginya, tapi sebelum mulut tetanggaku terbuka aku bergegas menarik kain jemuran dan berkata rotiku pasti sudah matang, lalu aku masuk ke rumah dan mengunci semua pintu. Pada saat tertentu, seperti kemarin sore, sisi menjengkelkan tetanggaku bisa saja muncul dan aku tidak bisa menolerir pertanyaannya yang seiring waktu semakin mendesak dan tak tahu malu.

Rumahku selalu dalam keadaan tenang hingga detik jam bisa jelas terdengar. Aku bisa berhari-hari tidak keluar rumah dan tetap merasa hidup, tapi sekarang rasanya rumah membuatku sesak. Lebih tepatnya keadaan tenang di dalam rumahlah yang mengusikku. Ini seperti tenangnya angin sebelum badai dan aku tahu betul badai itu berwujud tatapan mata yang mengintai dari rumah besar di seberang jalan. Dia masih saja mencariku.

“Tapi dia tidak bisa mendekatiku,” sudut bibirku tertarik ke atas, “Tidak sedekat dulu.”

Bel rumahku berbunyi disusul tiga kali ketukan pintu beruntun. Aku melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 08:26 pm. Terlalu larut untuk seorang tetangga, terlalu awal untuk seorang pencuri—dan tentu pencuri tidak akan membunyikan bel atau mengetuk pintu.

Aku mendengus malas, “Besok hari libur, kenapa mereka harus datang semalam ini.”

Aku melangkah ringan, berpikir bahwa keluargaku berada di balik pintu dengan tas besar berisi pakaian untuk menginap selama dua atau tiga hari ke depan. Tapi aku salah. Dia datang. Berdiri di sisi kanan pintu yang dalam pikiranku seharusnya ditempati ayahku.

Dia tersenyum canggung, seperti dulu.

“Ya?” Tanyaku singkat. Berharap kunjungan ganjil ini segera berakhir.

“Seseorang bilang kamu ingin bertemu denganku.”

“Aku?”

Dia mengangguk, “Orang itu juga bilang kamu membuat roti spesial untukku.”

“T-tunggu aku bahkan tidak—”

“Dan aku belum makan sejak siang tadi,” dia memotong ucapanku sedikit keras. Mungkin dia berniat menutupinya, tapi suara perut kelaparan itu masih tertangkap oleh telingaku.

Selang beberapa menit kemudian, aku sibuk mengoleskan kuning telur ke adonan roti yang sudah kubentuk, sementara dia duduk nyaman di ruang makan di sisi kiri dapur. Aku sengaja meminta ayah untuk membangun ruangan itu. Temboknya memiliki bentuk separuh heksagon yang menjorok di sepanjang sisi kiri, dan depan tembok ada lubang berupa jendela kaca berbingkai, sementara di sisi kanan tembok hanya ada foto masa kecilku. Di tengah ruangan itu ada set meja makan bundar yang bisa diisi 4 sampai 5 orang dewasa.

“Kenapa kamu tidak menemuiku minggu lalu?” tanyanya.

Aku menoleh menemukan dia yang tengah memandang halaman samping rumahku atau mungkin dia memandang ayunan di bawah pohon yang dibuatnya beberapa tahun lalu. Aku mengangkat bahu, memilih tidak menjawab pertanyaan itu dan memasukkan roti ke mesin pemanggang.

Mungkin dia tahu aku tidak ingin berbicara apa pun dengannya. Jadi, saat aroma lembut roti yang matang mengisi atmosfer dapur, dia membantuku dalam diam. Dia menuju lemari kaca, mengambil piring panjang yang biasanya kugunakan lalu memindahkan roti dari loyang, sementara aku menyeduh teh dan susu.

Kami duduk di ruang makan dalam diam. Kerutan halus timbul di keningnya saat dia menatap secangkir teh dan seteko kecil susu lalu beralih menatap dua piring kecil beserta dua pasang pisau dan garpu yang dibawanya. Dia menatapku, sebelum menghela nafas lalu mulai memotong roti. 

Aku menuangkan susu ke dalam cangkir teh dan mengaduknya. Dia mengangsurkan salah satu piring kecil padaku dan aku menyerahkan secangkir teh itu. Senyumnya terkulum, dengan tenang dia minum dan makan dan minum lagi.

“Kamu enggak makan?” aku menggeleng dan memindahkan rotiku yang masih utuh ke piringnya, “Aku sudah kenyang. Makanlah.”

Sepersekian detik dia menatapku, sebelum kembali menghabiskan roti dalam diam.

Dia mungkin bertanya-tanya mengapa aku mengizinkannya masuk ke rumahku, membuatkannya roti dan teh, bahkan menemaninya makan jika pada akhirnya aku masih membangun tembok untuknya. Tapi aku pun demikian, aku juga mempertanyakan hal yang sama. Mengapa aku seperti ini?

“Aku tidak bisa dimaafkan, ya?”

Tanpa jeda dan tanpa menatapnya, aku menjawab, “Jika benar demikian, kamu sudah mati setelah minum atau makan barusan.”

Dia tertawa renyah dan sudut bibirku sedikit tertarik ke atas.

“Kamu masih marah denganku.”

Itu sebuah pernyataan dan aku tidak menyangkalnya, jadi aku hanya diam menatapnya.

“Sudah lama, Betty. Apa yang bisa kulakukan agar rasa marahmu hilang?” tanyanya sedikit memohon.

“Tidak ada.”

***

Rasanya liburan musim panas tahun ini akan sedikit berbeda, entah kenapa, mungkin itu hanya perasaanku saja. Dari yang kutahu sebagian besar teman sekelasku akan menghabiskan waktu di daerah barat, Inez adalah salah satunya. Inez memintaku untuk ikut dengannya, bahkan dia berjanji kami akan tinggal di penginapan milik sang paman yang letaknya lebih dekat dengan pantai, tapi aku menolaknya.

“Ayah memintaku pulang, maaf.”

Wajah Inez yang tertekuk membuatku memeluknya. Aku tahu dia selalu bersemangat jika musim panas tiba dan menghabiskan musim panas bersamaku adalah salah satu ambisinya dalam persahabatan kami. Sayangnya ambisi itu hanya terwujud satu kali di tahun pertama, sementara di tahun kedua Inez jatuh sakit, sehingga bukannya jalan-jalan atau berjemur di pantai, kami justru melakukan catwalk di sepanjang lorong rumah sakit setiap sore hari saat tak banyak perawat yang berjaga. 

“Manfaatkan musim panas ini sebaik mungkin. Anak laki-laki dari kelas fisika, ingat!” aku berbisik. Masih dengan berpelukan, Inez mengangguk dan tertawa geli.

Aku tidak tahu siapa nama anak laki-laki itu, tapi mata Inez selalu bercahaya jika bercerita tentangnya. Seperti saat aku bercerita tentang—

“Bagaimana dengan James?” tanya Inez.

Aku melepas pelukan kami dan sudut bibirku tertarik ke atas, “Aku sudah bilang padanya aku akan pulang ke ayah, dia tidak keberatan. Lagi pula, dia bilang akan melanjutkan kursusnya, jadi kurasa dia akan sibuk musim panas ini.”

“Dia tidak ikut yang lain?”

Aku menggeleng. Sepersekian detik Inez menatapku ragu, sebelum akhirnya hanya mengangkat bahu dan kembali mengulang komentar buruknya tentang sikap James yang cenderung plin-plan, kali ini Inez menyoroti kursus otomotif yang dijalani James sesuai suasana hatinya; kadang datang, kadang absen. Aku hanya bisa tertawa. Sikap plin-plan James memang memuakkan, tapi dia selalu punya cara tersendiri agar orang lain tetap menerimanya, termasuk pemilik kursus itu.

Aku tidak tahu sihir apa yang James punya, tapi aku yakin sihir itu tidak akan memengaruhi Inez. Jika padaku mungkin saja sihir itu akan bekerja, tapi aku selalu punya Inez yang akan menjadi penawarnya. 

Perasaanku benar adanya; musim panas tahun ini memang berlalu dengan berbeda. Ayah membawa keluarga kami ke berbagai tempat menarik yang tak pernah kutahu sebelumnya, seminggu sekali aku mengunjungi toko roti Bibi Merry dan selalu pulang dengan bercak adonan roti di bajuku, lalu di akhir musim panas Inez memberitahuku bahwa dia sudah pergi kencan dengan laki-laki dari kelas fisika. 

Aku kembali saat sepanjang jalan dipenuhi daun kecokelatan, pun dengan ayunan di halaman samping rumahku. Sudut bibirku tertarik ke atas. Musim gugur tidak pernah gagal membuatku terpukau. Aku menoleh ke rumah besar di seberang jalan, jendela kanan di lantai dua masih gelap.

“Belum terlalu sore, mungkin dia masih keluar.” 

Aku mengirim pesan pada Inez dan James bahwa aku sudah kembali, tapi hanya Inez yang membalasku. Inez bilang kami harus bertemu di tempat biasa besok.

Keesokan harinya, di kafe di samping gedung klub bulu tangkis, aku merasa banyak pasang mata yang mengikutiku sembari berbicara dengan nada pelan. Aku mengenali wajah mereka, sebagian besar satu sekolah denganku dan sisanya beberapa alumni yang menjadi anggota klub bulu tangkis.

Pandangan mata dan bisikan mereka mendorongku menjauh ke sudut belakang kafe yang cukup sepi. Aku bercermin di jendela kaca dan menyadari tidak ada yang salah dengan penampilanku hari ini. Bahkan aku tidak makan makanan pedas sejak kemarin, jadi sudah pasti tidak ada biji cabai di gigiku. Tapi mengapa mereka bersikap seperti itu?

Tiga menit kemudian, Inez datang dan langsung memelukku.

“Aku merindukanmu!”

“Aku juga, Inez. Tapi katakan apa yang salah denganku?” tanyaku sembari berputar di depannya. “Apa ada kertas dengan tulisan aneh di punggungku? Atau ada permen karet yang tersangkut di rambutku?”

“Kamu menawan, sungguh,” Inez menelengkan kepalanya dan tersenyum puas. “Mutiara dan akar ternyata perpaduan yang cantik. Aku suka hiasan rambutmu!”

“Lalu kenapa semua menatap dan berbisik ke arahku?”

Senyum di wajah Inez menghilang. Dia memintaku duduk lalu memesan minuman untuk kami berdua. Inez berkata ada suatu hal yang harus kutahu, tapi dia tak bisa memberitahuku sebelum minuman kami datang. 

“Apa suatu hal ini serius?” Inez mengiyakan.

“Apa ini berita buruk?” Lagi, Inez mengiyakan.

Aku baru membuka mulut, tapi minuman kami datang. Tepat setelah pelayan kafe pergi, Inez menatapku lekat dan itu berhasil membuatku merasa sedikit takut. Berita buruk apa yang bisa membuat hampir seisi sekolah menggosipkan diriku?

“Betty, berjanjilah padaku,” jari kelingking Inez terulur. “Apapun kebenaran yang akan kukatakan, kamu tidak akan membenciku dan aku akan tetap menjadi sahabatmu. Selamanya kita bersahabat.”

Pinky promise mungkin kekanakan di usia kami sekarang, tapi kami sudah dan selalu melakukannya sejak dulu. Kapan pun suatu hal dinilai akan mengacaukan persahabatan kami, salah satu dari kami akan meminta janji sebelum berkata jujur. Aku pernah melakukannya di tahun kedua, saat aku absen mengunjungi Inez di rumah sakit dengan alasan aku pusing, padahal hari itu James memintaku datang ke pertandingan voli.

Tanpa ragu aku mengangguk. Kutautkan jari kelingkingku dan berkata, “Selamanya kita bersahabat.”

Kami saling pandang; aku cemas dan Inez ragu.

Sudut bibirku tertarik ke atas, “Tak apa, Inez. Katakan saja!”

Dengan itu Inez mulai bercerita tentang suatu bagian dari musim panas yang tidak kuketahui. Sudut bibirku tidak lagi membentuk senyum dan mataku perih. Inez memegang tangan kananku, sementara tangan kiriku mencengkeram kuat pinggiran meja seolah itu bisa mengurangi rasa sakit di dadaku. Tapi tidak, rasa sakit itu semakin terasa saat kusadari bahwa tatapan dan bisikan yang sebelumnya ditujukan padaku adalah bentuk rasa kasihan. Mereka mengasihaniku untuk kesalahan orang yang telah menyakitiku.

Menutup ceritanya, Inez mendekatkan gelas minumanku dan berkata, “Aku ingin memberitahumu saat itu juga, tapi aku tahu itu bukan tindakan yang tepat.”

Aku minum dalam diam. Aku tahu Inez suka bergosip, tapi Inez bukan seorang pembohong dan akan sangat keterlaluan jika semua hal yang diceritakannya hanya rumor belaka.

“Kamu boleh menangis, Betty.” Inez mengusap tangan kiriku yang masih mencengkeram meja. “Jangan tahan lukamu.”

“Apa kamu bisa menginap di rumahku?” tanyaku dengan suara bergetar.

Tanpa jeda, Inez mengangguk.

Begitu tiba di rumah, pertahananku runtuh. Aku menangis di bahu Inez sepanjang sore, sepanjang malam hingga terlelap dan bangun dengan wajah sembab. Di pagi hari, aku kembali menangis. Aku juga membanting gawaiku saat pesan dari James masuk; kemarin gawainya tidak bisa menyala sama sekali dan dia akan ke rumahku siang nanti. 

“Aku tidak akan membiarkannya. Tidak akan, Betty” Inez memelukku. “Aku akan membunuh dia, jika kamu memintanya.”

***

Rasanya sudah lama kami duduk diam di ruang makan, tapi tidak ada sedikit pun niat untuk beranjak di wajahnya. Pun denganku, entah kenapa keheningan yang memekakkan telinga ini justru mengunci tubuhku dengan nyaman. Badai ini ternyata tak seburuk yang kubayangkan.

“Empat tahun lalu,” kepalanya menunduk, “Hal terburuk yang pernah kulakukan, kulakukan padamu.”

Kami saling berpandangan. Rasa bersalah dan penyesalan di matanya kian menumpuk sejak terakhir kali aku melihatnya di acara ulang tahunku. Saat itu, dia tiba-tiba datang setelah Inez mengusirnya dari rumahku tiga bulan sebelumnya. Di halaman samping tak jauh dari ayunan, dia menjelaskan semuanya dan meminta maaf. Tapi bahkan tanpa Inez di sampingku, sihirnya tetap tidak bisa memengaruhiku. Saat itu, aku masih terluka, sangat.

“Masih sama, Betty. Yang ingin kulakukan sekarang adalah menebusnya untukmu,” ucapnya sedikit memohon. “Tolong jangan tolak aku kali ini.”

Aku hanya menatapnya, cukup lama—tapi tak cukup untuk menyurutkan niatnya.

“Andaipun bisa kembali dan mengubah musim panas itu, aku tidak akan melakukannya,” Aku menghela nafas, “Pun denganmu. Kamu akan tetap pergi dengan perempuan itu entah bagaimana caranya.”

Dia membuka mulutnya, tapi tak ada satu pun kata yang bisa diucapkannya. Karena dia tahu semua yang terjadi saat musim panas itu kesalahannya—kebodohannya.

“Inez pasti masih memengaruhimu,” gumamnya.

“Apa?” nadaku sedikit meninggi. “Inez hanya memberitahuku semuanya dan aku sangat bersyukur dia melakukannya.”

“Dia menambahkan garam di lukamu, Betty. Dia ingin kamu pergi dariku, sejak dulu—”

“James!”

“—Jika tidak kamu pasti sudah memaafkanku.”

“Aku memaafkanmu!”

Dia menatapku dengan keterkejutan yang kentara. Selama ini dia salah mengartikan tembok yang kubangun di antara kami. Bahkan setelah empat tahun lamanya, dia tidak bisa membaca tanda dariku. Dia selalu lemah dalam membaca dan aku melupakannya.

“Aku sudah memaafkanmu, James,” mataku perih. Aku membuang pandangan ke halaman samping. “Tapi itu menyakitiku, masih.”

“Maaf,” ucapnya seperti menelan bongkahan batu tajam.

Ada jeda yang menyakitkan sebelum dia memberanikan diri meraih tanganku. Aku menoleh menemukan gelombang rasa bersalah dan penyesalan tanpa akhir di matanya. 

“Saat itu aku baru 17 tahun, aku tidak tahu apa pun—”

“Itu bukan alasan.”

“Tapi aku tahu aku merindukanmu, Betty. Aku sudah sangat bodoh. A-aku—”

Aku menggeleng; memintanya berhenti bicara.

“Dulu dan sekarang. Aku tahu semuanya, James. Aku tahu, kamu akan kembali padaku.”

“Dan aku sungguh kembali, Betty.”

Dia tersenyum dan sudut bibirku sedikit tertarik ke atas.

***

Rasanya waktu bermusuhan denganku—dengan kami. Aku tahu, aku mengutuk dia dalam waktu yang lama, tapi selalu mencari bayangannya di mana pun aku berada. Dia memberitahu, aku seperti selalu ingin meninggalkannya, tapi aku tidak pergi ke mana pun. Semua kekacauan itu bukan mauku, juga bukan maunya. Aku pernah membaca, “Timing seems to be the invariable third party in all of our relationships” dan istilah “The right person at the wrong time” muncul karenanya. Tapi sekarang kami tahu, seseorang yang tepat tidak akan menyerah—tidak akan lekang oleh waktu.

Timeless, seperti kita,” ucapnya.

Aku mengangguk, “Begitulah.” 

T A M A T –

Related posts

Leave a Comment