BLENDED LEARNING PENUNJANG PROGRAM MERDEKA BELAJAR: EFEKTIFKAH?

BLENDED LEARNING PENUNJANG PROGRAM MERDEKA BELAJAR: EFEKTIFKAH?
Oleh : Reni Anggraini

Segala sektor dalam suatu negeri tidak akan terlepas dari permasalahan, tak terkecuali bidang pendidikan. Sampai sekarang masih ada berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia yang masih belum terselesaikan. Usaha pemerintah dalam memperbaiki sistem pendidikan serta meningkatkan kualitas pendidikan masih terus diupayakan. Hal ini karena upaya-upaya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia masih dirasa belum menyeluruh. Dapat dilihat dari potret proses kegiatan belajar mengajar yang bisa dikatakan masih “jadul”, seperti: sebagian guru lebih banyak menggunakan metode ceramah di kelas yang dapat membuat siswa jenuh, siswa menjadi objek dalam belajar sehingga kreativitas siswa tidak berkembang, siswa disibukkan dengan berbagai tugas yang diberikan guru, sumber belajar yang digunakan di kelas masih sangat terbatas, dll. Potret tersebut banyak membebani siswa dan akhirnya membelenggu kemerdekaan siswa dalam belajar.

Berawal dari berbagai masalah pendidikan di Indonesia,Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim mencetuskan konsep “Pendidikan Merdeka Belajar”. Pendidikan merdeka belajar ini merupakan jawaban terhadap kebutuhan sistem pendidikan di Indonesia. Merdeka belajar merupakan kemerdekaan berpikir, yang mana kemerdekaan berpikir ini ditentukan oleh guru sehingga kunci utama dalam menunjang sistem pendidikan yang baru ini adalah guru (Kemendikbud, 2019). Merdeka belajar versi  Mendikbud  dapat  diartikan  sebagai  implementasi  kurikulum  dalam proses pembelajaran haruslah menyenangkan hal ini dapat dicapai melalui berpikir kritis  dan inovatif guru dalam merancang pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang berlangsung menyenangkan dapat menumbuhkan sikap positif murid dalam merespon pembelajaran (Robby, 2020).

Konsep dari merdeka belajar adalah tawaran dalam merekonstruksi sistem pendidikan nasional dan mengembalikan sistem pendidikan nasional kepada esensi undang-undang dengan memberi kebebasan kepada sekolah, guru, siswa untuk bebas berinovasi yang mana inovasi ini dimulai dari guru sebagai penggerak pendidikan nasional (Sherly, Dharma and Sihombing, 2020). Penataan ulang sistem pendidikan ini dalam rangka menyongsong perubahan dan kemajuan bangsa yang dapat menyesuaikan dengan perubahan zaman dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan cara mengembalikan hakikat dari pendidikan yang sebenarnya yaitu pendidikan untuk memanusiakan manusia atau dapat diartikan pendidikan yang membebaskan.

Seorang guru perlu didorong untuk menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif yang memungkinkan siswa belajar lebih merdeka sesuai kemampuan dan potensinya (Istiq’faroh, 2020). Terlebih model pembelajaran yang memanfaatkan perkembangan teknologi, dengan ini  akan tercipta PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) dan memungkinkan siswa untuk belajar mandiri. Dalam mewujudkan hal ini tentunya guru harus memiliki kemampuan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Ada banyak model-model pembelajaran inovatif, salah satunya model pembelajaran blended learning. Blended Learning merupakan metode pembelajaran yang digunakan dalam sistem pendidikan merdeka belajar.  Menurut (Yamin and Syahrir, 2020) blended learning merupakan sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, serta menawarkan berbagai pilihan media yang  dapat dimanfaatkan guru dalam menunjang proses pembelajaran. Blended learning juga sebuah kombinasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online.

Blended learning memberikan peluang pada siswa untuk melakukan pembelajaran secara mandiri yang disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing siswa (Harahap, 2019). Kombinasi pembelajaran antara tatap muka dan pembelajaran online tentunya akan memberikan pengalaman belajar baru yang lebih interaktif. Proses belajar juga akan lebih menyenangkan dan tidak monoton, karena menggunakan metode dan media pembelajaran yang lebih variatif. Blended learning dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kelas dan tujuan pembelajaran. Penerapan blended learning dengan tepat dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, proses pembelajaran juga lebih berpusat pada siswa dan peran guru yang semula sebagai “pemberi ceramah” akan berubah menjadi seorang fasilitator, pendamping, pembimbing, sekaligus partner bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya.

Merdeka belajar dengan model blended learning juga dapat dilakukan secara Self-Paced Learning, yaitu mengkombinasikan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran mandiri yang tidak terbatas waktu, tempat, dan akses bahan belajar (Eyoni Maisa, 2020). Sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan dimana saja secara online. Materi yang bersifat konseptual atau pemahaman dapat disajikan dalam bentuk teks maupun multimedia, sedangkan materi yang bersifat prosedural atau membutuhkan praktik di laboratorium dapat disajikan dalam bentuk animasi atau simulasi berbasis komputer. Melalui blended learning ini, akses pendidikan, efisiensi serta kualitas pembelajaran dan pengajaran dapat meningkat.

Pada akhirnya model pembelajaran inovatif dengan blended learning dapat menjadi alternatif yang bisa diterapkan guru dalam pembelajaran dan dapat memungkinkan siswa merdeka dalam belajar. Penerapan blended learning memberikan kebebasan siswa dalam belajar, siswa dapat belajar di kelas secara biasa, secara online maupun secara mandiri, siswa juga bebas mencari sumber bahan dan informasi untuk menyelesaikan tugas kelas. Oleh  sebab itu, diharapkan seluruh pelaksana pendidikan dapat menerapkan konsep merdeka belajar dengan memanfaatkan model pembelajaran blended learning sehingga dapat menjadikan guru dan siswa mengeksplorasi kreativitas dan berinovasi.

Daftar Pustaka

Eyoni Maisa (2020) ‘ “Merdeka Belajar” Melalui Model Pembelajaran Blended Learning‘ diakses pada https://lpmpdki.kemdikbud.go.id/merdeka-belajar-melalui-model-pembelajaran-blended-learning/ 10 April 2021

Harahap, L. A. (2019) ‘Konsep Pembelajaran Blended Learning Di Sekolah Dasar: Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Di Desa Terpencil’.

Istiq’faroh, N. (2020) ‘Relevansi Filosofi Ki Hajar Dewantara Sebagai Dasar Kebijakan Pendidikan Nasional Merdeka Belajar Di Indonesia’, Lintang Songo: Jurnal Pendidikan, 3(2), pp. 1–10.

Kemendikbud. (2019). “Merdeka Belajar: Pokok-Pokok Kebijakan Merdeka Belajar”. Jakarta: Makalah Rapat Koordinasi Kepala Dinas Pendidikan Seluruh Indonesia

Robby, F. (2020) ‘Hardiknas 2020 Merdeka Belajar Di Tengah Covid-19’.

Sherly, S., Dharma, E. and Sihombing, H. B. (2020) ‘Merdeka belajar: kajian literatur’, in UrbanGreen Conference Proceeding Library, pp. 183–190.

Yamin, M. and Syahrir, S. (2020) ‘Pembangunan pendidikan merdeka belajar (telaah metode pembelajaran)’, Jurnal Ilmiah Mandala Education, 6(1).

Related posts

Leave a Comment