Bubur Instan Daun Moringa oleifera untuk Mengatasi Malnutrisi Balita di Wilayah 3T

Bubur Instan Daun Moringa oleifera untuk Mengatasi Malnutrisi Balita di Wilayah 3T
Oleh: Leni Samara

Kualitas kesehatan masyarakat Indonesia secara nasional telah meningkat di tengah tantangan pembangunan kesehatan yang semakin kompleks, tantangan tersebut diantaranya semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu, beban ganda penyakit, peningkatan kebutuhan distribusi obat yang bermutu dan terjangkau, jumlah SDM Kesehatan kurang disertai kebutuhan yang tidak merata, adanya potensi masalah kesehatan akibat bencana dan perubahan iklim, serta integrasi pembangunan infrastruktur kesehatan yang melibatkan lintas sektor di lingkungan pemerintah, disparitas status kesehatan antar wilayah cukup besar, terutama di wilayah timur (daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan/DTPK). Hal inilah yang masih menjadi permasalahan di tengah kualitas kesehatan masyarakat Indonesia yang telah meningkat. Masih terdapat kesenjangan yang tinggi pada status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi, antar kawasan, dan antar perkotaan-perdesaan. Kesenjangan tersebut seperti masalah biaya, keterjangkauan pelayanan kesehatan di berbagai daerah, sulitnya akses dan rendahnya mutu pelayanan kesehatan baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan. Salah satu dampak dari kesenjangan tersebut terlihat dari angka kematian balita pada golongan termiskin hampir empat kali lebih tinggi dari golongan terkaya, dan juga angka kematian ini lebih tinggi di daerah perdesaan, di kawasan timur Indonesia, serta pada pada penduduk dengan tingkat pendidikan rendah. Hasil Riskesdas 2018 menyatakan provinsi dengan bayi gizi buruk dan gizi kurang terendah ada di Provinsi Kepulauan Riau (13%) dan tertinggi di Provinsi NTT (29,5%) (Kemenkes, 2020).

Kondisi gizi dari balita dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan harapan hidup yang merupakan salah satu unsur yang digunakan sebagai indikator keberhasilan pembangunan yang diukur dengan Human Development Index (HDI) (Faqihudin, 2010). Kasus gizi buruk atau malnutrisi pada balita ini tidak hanya menyebabkan angka kematian dan kesakitan meningkat, tetapi juga menimbulkan gangguan pada pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berpikir, malnutrisi juga dapat menyebabkan penurunan kecerdasan (IQ) hingga sepuluh persen (Oktavia, dkk., 2017).

Malnutrisi merupakan kondisi tidak seimbangnya persediaan nutrisi dengan kebutuhan energi harian dalam tubuh, baik itu kelebihan maupun kekurangan nutrisi. Kekurangan nutrisi terutama protein dan asam lemak yang bersifat esensial  akan mempengaruhi pertumbuhan, homeostasis, dan kinerja tubuh spesifik. Malnutrisi merupakan penyebab utama tingginya angka mortalitas, morbiditas, pertumbuhan, dan perkembangan kognitif (Adepoju, 2019).

Terhambatnya pertumbuhan bayi karena malnutrisi jangka panjang dapat menyebabkan kondisi kronis yaitu stunting. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang linier karena malnutrisi kronis yang diukur dengan nilai z-skor tinggi badan menurut umur kurang dari -2 (SD) dengan standar WHO (Wulandari, 2021). Pernyataan tersebut sejalan dengan definisi dari (Kemenkes RI, 2018) bahwa Stunting merupakan sebuah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, hal ini menyebabkan adanya gangguan di masa yang akan datang yakni mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Anak stunting mempunyai Intelligence Quotient (IQ) lebih rendah dibandingkan rata – rata IQ anak normal.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, jumlah masalah stunting relatif stagnan dari tahun 2007 hingga 2013, dan lebih dari separuh total provinsi di Indonesia memiliki angka prevalensi di atas rata-rata nasional. Selain itu, dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) diketahui pada tahun 2015 jumlah balita yang terdata mengalami stunting sebesar 29% dan pada tahun 2017 jumlah balita yang mengalami stunting jumlah naik menjadi 29,6% (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan RI, 2017).

Diperkirakan anak penderita stunting di Indonesia yang disebabkan kurang gizi mencapai 8,8 juta anak. Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 tercatat angka kejadian stunting nasional mencapai 35,6%, sedangkan pada 2013 naik menjadi 37,2%. Angka stunting ini di tahun 2018 mengalami penurunan hingga menjadi 30,8%, akan tetapi upaya penurunan stunting masih menjadi prioritas (Balitbangkes, 2013).

Prevalensi stunting di Indonesia apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain berada pada kelompok high prevalence, sama halnya dengan negara berkembang lain yaitu Kamboja dan Myanmar. Dari 556 juta balita di negara berkembang, sekitar 32% bertubuh pendek (Rahayu, 2018). Prevalensi anak pendek di Indonesia bervariasi dari prevalensi menengah sampai tinggi. Hasil Riskesdas 2013 menyatakan bahwa prevalensi tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terendah adalah Kepulauan Riau.

Negara-negara berkembang kasus stunting karena malnutrisi sering terjadi terutama pada daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Di Indonesia sendiri daerah 3T merupakan daerah yang kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional dengan rata-rata status ekonomi yang relatif rendah. Kebutuhan gizi dan pemenuhan pangan masih menjadi suatu masalah yang strategis pada wilayah 3T (Senewe, 2004). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020, jumlah daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) yang ditetapkan pada tahun 2020-2024 sebanyak 62 wilayah yang tersebar di beberapa provinsi (Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua, dan Papua Barat).

Kasus malnutrisi di Indonesia umumnya disebabkan oleh rendahnya daya beli masyarakat terhadap bahan pangan yang memiliki nutrisi tinggi yang disebabkan oleh faktor ekonomi. Opsi bahan pangan bernutrisi tinggi yang memiliki harga beli terjangkau ini adalah daun kelor. Kelor dapat dijadikan bahan pangan kaya nutrisi bagi balita yang mengalami malnutrisi karena kandungan gizi makro dan mikronya. M. oleifera ini berpotensi sebagai sumber utama beberapa zat gizi serta elemen therapeutic, termasuk antibiotik, dan memacu perkembangan sistem kekebalan tubuh. Tanaman ini juga dapat tumbuh dengan mudah pada semua jenis tanah di negara beriklim tropis dengan toleransi terhadap kekeringan hingga 6 bulan (Rahayu & Nurindahsari, 2018).

Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung, vitamin C, protein, zat besi dan kalsium. Daun kelor mengandung gizi yang melimpah, per 100 mg, daun ini mengandung vitamin A (6.80 mg) empat kali lebih banyak dibanding wortel, vitamin C (220 mg) tujuh kali lebih banyak dibanding jeruk, vitamin B 423 mg, kalsium empat kali lebih banyak dari susu tanpa laktosa yaitu 440 mg, kalium tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pisang yaitu 259 mg, besi (0.7 mg) dua puluh lima kali lebih banyak dibanding bayam dan protein (2711.8 mg) dua kali lebih banyak dibanding yoghurt (Krisnadi, 2015).

Kelor dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan, salah satunya yaitu bubur. Pengolahan bubur kelor cenderung sederhana dan murah, berikut merupakan cara pembuatan bubur berbahan daun kelor, antara lain sebagai berikut:

  • Pertama, siapkan bahan-bahan berupa 200 gr beras, 1 genggam daun kelor, garam, dan kaldu bubuk.
  • Selanjutnya nasi dimasak hingga lembek, lalu ditambahkan air berulang kali seperti pembuatan bubur pada umumnya
  • Masukkan daun kelor dan masak sebentar hingga daun matang
  • Tambahkan garam serta kaldu bubuk secukupnya, diaduk, kemudian tes rasa, jika rasa sudah sesuai bubur siap dihidangkan.

Olahan bubur kelor praktis dan ekonomis sehingga diharapkan dapat menjadi alternatif bahan pangan bernutrisi untuk mengatasi masalah gizi buruk pada balita yang masih terjadi di daerah 3T.

Daftar Rujukan:

Adepoju, A. A., & Allen, S. (2019). Malnutrition in developing countries: nutrition disorders, a leading cause of ill health in the world today. Paediatrics and Child Health, 29(9), 394-400.

Balitbangkes (2013). Riset Kesehatan Dasar.

Faqihudin, M. (2010). Human Development Index (HDI) Salah Satu Indikator Yang Populer Untuk Mengukur Kinerja Pembangunan Manusia. Cermin, (047).

Kementrian Kesehatan. 2020. Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2020.

Krisnadi, A. D. (2015). Kelor super nutrisi. Blora: Pusat Informasi dan Pengembangan Tanaman Kelor Indonesia.

Oktavia, S., Widajanti, L., & Aruben, R. (2017). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Buruk pada Balita di Kota Semarang Tahun 2017 (Studi di Rumah Pemulihan Gizi Banyumanik Kota Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 5(3), 186-192.

Rahayu A, Yulidasari F, Putri AO, Anggraini L. 2018. Study Guide Stunting dan Upaya Pencegahannya (Bagi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat). Yogyakarta: CV. Mine.

Rahayu, T. B., & Nurindahsari, Y. A. W. (2018). Peningkatan status gizi balita melalui pemberian daun kelor (Moringa oleifera).

Senewe, F. P., Surkesnas, T. T., & Sandjaja, S. (2011). Status Gizi Balita Di Daerah Tertinggal Tahun 2004 (Kajian Data Skrt 2004).

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan RI. (2017). 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting).

Wulandari, E. (2021). Profil Balita Stunting Di Wilayah Puskesmas Mapilli Desa Ugi Baru Kec. Mapilli Kab. Polman. Jurnal Penelitian Kebidanan, 2(1), 22-28.

Related posts

Leave a Comment