CARLI (Culture of Agmented Reality): Media Pembelajaran sebagai Upaya Pengenalan budaya daerah ke anak-anak

CARLI (Culture of Agmented Reality): Media Pembelajaran sebagai Upaya Pengenalan budaya daerah ke anak-anak
Oleh: Rista Anggraini

Budaya merupakan aset warisan yang diberikan leluhur dari generasi ke generasi. Budaya ada karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tidak terpisahkan. Susilawati dalam Thariq (2020) mengemukakan bahwa budaya adalah keterpaduan pengetahuan, kepercayaan dan tingkah perilaku manusia yang sangat menggantungkan pada kemampuan mereka dalam belajar dan memberikannya kepada generasi penerusnya tentang pengetahuan yang dimilikinya. Budaya diartikan sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang yang hingga saat ini masih eksis keberadaannya. Budaya yang ada di Indonesia memiliki berbagai ragam yang tidak hanya sebagai aset kekayaan yang dimiliki Negara, akan tetapi juga berpotensi dapat memunculkan permasalahan apabila tidak disikapi dengan sebaik mungkin. Oleh karenanya, sebagai generasi penerus bangsa wajib menjaga, mempertahankan dan melestarikan eksistensi budaya yang dimilikinya.

Peran generasi muda sangat penting dalam usaha melestarikan warisan budaya nenek moyangnya, tidak hanya mengetahui dan menghargai warisan yang luar biasa itu, akan tetapi juga harus berperan aktif melestarikan dan menjaganya supaya generasi seterusnya bisa bisa menikmati keindahan warisan budayanya (Barkah, 2018). Nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan yang terdapat dalam suatu budaya juga perlu dipertahankan oleh generasi penerus bangsa. Generasi penerus bangsa yang dibekali pemahaman terhadap nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan diharapkan mampu mempertahankan budaya yang sudah ada. Namun seringkali sebagian besar masyarakat khususnya anak-anak kurang mengetahui nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan terhdapat suatu budaya, seperti halnya pada bangunan candi. Meskipun di Indonesia terkenal dengan peninggalannya, banyak masyarakat dan pelajar yang kurang mengetahui nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan candi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya yaitu dalam hal literasi (Hasanah, 2018). Literasi menjadi permasalah yang seringkali dialami anak-anak, karena dalam buku hanya terdapat tulisan dan sedikit gambar. Akibatnya anak-anak cepat merasa bosan ketika mempelajarinya.

Melestarikan suatu budaya dari leluhur bukan suatu hal mudah terutama di era globalisasi. Dimana kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang luas diberbagai dunia (Rustan, 2010). Perkembangan ini membawa berbagai dampak dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam bidang teknologi. Berbagai teknologi dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam beraktivitas di kehidupan sehari-hari. Seperti halnya dalam penggunaan teknologi Rugmented Reality. Augmented reality merupakan penggabungan dunia nyata dan virtual, yang bersifat interaktif secara real time dan merupakan animasi 3D (Mursyidah, 2017). Penggunaan teknologi ini memudahkan anak-anak dalam mempelajari pembelajaran sejarah khususnya pada bangunan candi. Selain itu dengan penggunaan teknologi ini memudahkan anak-anak dalam memahami nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan candi. Oleh karena itu berdasarkan fakta-fakta yang dipaparkan diperlukan suatu gagasan media untuk memudahkan anak-anak dalam memahami nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan candi yaitu CARLI (Culture of Agmented Reality). Dengan adanya inovasi ini diharapkan tingkat literasi pada peserta didik semakin meningkat, sehingga pelestarian budaya (candi) bisa dipelajari dengan lebih mudah, serta dapat menanamkan rasa cintaannya terhadap bangsa dan Negara dengan berbagai bukti peninggalan sejarah yang tersebar luas di Indonesia.

CARLI (Culture of Agmented Reality) merupakan media pembelajaran berbasis Agmented Reality untuk memudahkan anak-anak dala memahami nilai, bentuk, fungsi, dan keberadaan candi seperti bangunan asli candi. Cara penggunaan media ini anak-anak harus melakukan scaning pada kartu, kemudian akan muncul bangunan candi dalam bentuk 3D. selain itu juga mencul suara yang menjelaskan tentang candi tersebut. Selain belajar anak-anak bisa mengenal budayanya sendiri yang dimulai sejak dini

Daftar Pustaka

Thariq, Z. Z. A., Rista Anggraini., Surrotul Hasanah. 2020. EthnoIPS: Inovasi Materi Pembelajaran IPS Berbantu Unsur Budaya. Social Science Education Journal, 7 (1) 98-113.

Barkah, M. A. 2018 Pemanfaatan Augmented Reality (AR) sebagai Media Pembelajaran Interaktif Pengenalan Candi-Candi di Malang Raya Berbasis Mobile Android.

Hasanah, Uswatun, dkk. 2018. Penyuluhan Family Literacy untuk Meningkatkan Literasi Budaya pada Masyarakat Wilayah Candi Batujaya Karawang. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. 15; 2.

Rustam, Edhy. 2010. Budaya Leluhur dalam Memperkukuh Tatanan Masyarakat di Era Globalisasi. 79-87.

Mursyidah., Ramadhona. 2017. Aplikasi Augmented Reality Pengenalan Rumah Adat dan Benda Bersejarah Aceh. Jurnal Infomedia 2:2.

Related posts

Leave a Comment