MENULIS ESAI BERSAMA TIA SETIADI

Tulisan merupakan rangkuman dari workshop menulis esai sastra yang diadakan oleh Pelangi Sastra Malang dan Kafe Pustaka UM pada 30 Januari 2016.

 

Penulis esai harus tahu di mana ia berdiri, untuk apa, dan bagaimana cara ia menerjemahkan setiap gagasan dalam bentuk kata-kata. Esai bukan hanya kumpulan subjektivitas gagasan yang ‘unik’. Lebih dari itu, esai merupakan perspektif atau cara pandang terhadap persoalan kehidupan. Perspektif tiap-tiap kepala berbeda dan keberbedaan itulah yang akan menuntun ke mana arah sebuah tulisan akan dibawa.

Tia Setiadi, seorang esais, pada Minggu (30/01/2016) lalu memberikan kiat-kiat dalam menulis esai (khususnya esai sastra). Kiat-kiat tersebut terangkum dalam workshop menulis esai sastra yang diadakan atas kerjasama antara Pelangi Sastra Malang dan Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM). Acara yang berlangsung dari pukul 09.30 hingga 12.09 WIB ini mencoba mengurai seluk beluk esai terutama dalam hal kepenulisan.

Esai menjadi perbincangan menarik. Karya tulis yang lebih mirip seperti ulasan ini begitu renyah dibandingkan karya tulis lain, misalnya opini. Opini menuntut tawaran solusi dari permasalahan. Oleh sebab itu dibutuhkan ketajaman analisa suatu permasalahan. Bahasa yang digunakan cenderung ketat, sistematis dengan mencantumkan referensi yang jelas sehingga  menghindari ambiguitas. Sebaliknya, esai tidak menuntut demikian. Esai memiliki bahasa yang lincah seolah-olah ia dapat menari tanpa beban namun sarat akan terobosan baru yang tidak begitu dipaksakan. Untuk itu Tia menegaskan kembali bahwa esai tidak tertarik untuk menggurui pembaca. Dengan demikian, konsekuensi penggunaan bahasa perlu diperhatikan matang-matang. Sebisa mungkin hindari kata-kata ini harus dilakukanseharusnyaharus disadari, kita harus waspada, atau kata himbauan lain yang seolah-olah menjadikan esai sebagai solusi utama untuk menyelesaikan persoalan. Kelincahan bahasa esai dapat terlihat, salah satunya, dari penggunaan rima atau keselarasan bunyi di tiap kalimatnya. Hal ini tentu sah asalkan makna yang diusung tetap utuh dan mampu tertangkap dengan baik oleh pembaca.

Di awal telah dijelaskan pentingnya perspektif yang akan menjadikan pembeda antar esais satu dengan esais lain. Perspektif itu yang pada akhirnya menjadi kekuatan esai yang sejati. Sokongan unsur subjektivitas harus kuat sehingga seringkali teori harus dikesampingkan. Teori dalam esai bukan merupakan unsur utama. Tanpa disadari, banyak penulis yang mengutip teori sana-sini dengan alasan agar tulisan mereka terasa kuat padahal hal tersebut justru memperburuk kualitas esai, sebab teori hanya digunakan untuk memperkuat gagasan penulis, bukan penentu arah tulisan. Oleh sebab itu, seorang esais harus memiliki pengetahuan yang luas, memiliki sudut pandang yang unik, rasa ingin tahu yang tinggi dan yang terpenting adalah memiliki kepekaan terhadap sisi-sisi kehidupan atau permasalahan sekitar.

Untuk mengembangkan kemampuan tersebut (apalagi esais awam) disarankan banyak membaca esai dari Asrul Sani, Iwan Simantupang, Gunawan Muhammad, Putu Wijaya, dan lain sebagainya. Dengan membaca berulang-ulang karya mereka, penulis dapat mengetahui sudut pandang atau keunikan gagasan oleh esais tersebut. Harapannya adalah dapat digunakan sebagai model (gaya tulisan) dalam menulis esai. Pada awalnya memang seperti menjiplak, akan tetapi lama-kelamaan penulis pasti akan menemukan ke-aku-an yang cocok dalam karyanya.

Kekuatan esai selanjutnya terletak pada judul dan paragraf pertama. Penulis sebaiknya menghindari kata peranannya, implemetasi (buat judul yang padat dan langsung pada topik utama, misalnya Difabel Jangan DilabelGosip dalam Cerpen Royan Julian). Paragraf pertama harus mampu menggiring pembaca untuk lebih tenggelam dalam esai. Salah satu caranya adalah memasukkan pengalaman pribadi (hal ini yang akan menjadi pembeda). Pengalaman itu merupakan ilustrasi yang konkrit sehingga pembaca mampu tergerak hatinya dan seluruh jiwanya. Membayangkan seolah-olah kejadian tersebut nyata di depan mereka. Kemudian barulah dibahas secara mendetail berdasarkan pandangan pribadi (tambahkan referensi untuk bumbu penyedap). Gagasan yang diutarakan sebaiknya terfokus pada satu persoalan (persoalan dipersempit) kajiannya lah yang diperdalam agar tidak melebar kemana-mana). Apabila dipertanyakan, “Bagaimana esai yang bagus itu?” Jawabnya,

Esai (gagasan) yang bagus terlahir dari karya-karya yang bagus.

Oleh sebab itu, mulai sekarang, biasakan baca buku yang berkualitas dan nikmatilah setiap teguk kesegaran di dalamnya. Selamat menulis esai!

 

—Siti Mahmudah,

anggota aktif UKMP, Jurusan Sastra Indonesia 2012 Universitas Negeri Malang (UM)

Menengok Pendidikan Karakter INDONESIA

Miftakhul Huda

 

“Bangsa kita, sepertinya saat ini kehilangan kearifan lokal yang menjadi karakter budaya bangsa sejak berabad – abad lalu.” Menurut pasal I Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2003, disebutkan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan (pendidikan yang unggul dan profesional), kepribadian dan akhlak mulia (beriman dan bertaqwa).

Menurut Goleman, keberhasilan seseorang dimasyarakat, ternyata 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak disekolah ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak saja, tetapi pada karakter yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, kemampuan berkomunikasi, kreatif, inovatif, problem solving, berpikir kritis, dan entrepreneurship. Pengertian yang dikemukakan oleh Aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan terus menerus dilakukan. Menurut Kemendiknas (2010), karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian  seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Menurut Suyanto (2010), karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan & siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Sementara, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pakerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitif), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Sehingga individu dapat mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Ibnu Miskawaih (932-1030M) misalnya, dalam bukunya yang berjudul  Tahdzib al-Akhlak mengemukakan akan pentingnya akhlak, dimana akhlak ini merupakan”keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu melaksanakannya dalam tindakan-tindakan utama secara spontan”.  Lanjut  Ibnu Miskawaih menyebutkan adanya dua sifat yang menonjol dalam jiwa manusia, yaitu sifat buruk dari jiwa yang pengecut, sombong, dan penipu. Serta sifat jiwa yang cerdas yaitu : adil, pemberani, pemurah, sabar, benar, tawakal, dan kerja keras.

Kita tidak boleh putus asa, jika bangsa ini konsisten dan memiliki tekad yang kuat untuk “mengharusutamakan” pendidikan karakter, tentu bisa direaliasikan. Syaratnya pendidikan karakter harus dilakukan secara komprehensif-integral; tidak hanya melalui pendidikan formal saja, tetapi juga melalui pendidikan informal dan nonformal. Yang terpenting, pendidikan karakter jangan hanya menjadi tanggung jawab parsial dunia pendidikan tetapi menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat, keluarga dan sekolah.

 

Artikel ini pernah di ikutkan lomba UM’s Essay Competition di Forum Studi Sains dan Teknologi (FS2T) FMIPA UM pada tahun 2012, artikel ini menempati posisi ke-33 dari 57 pendaftar


Mengemis = Kemunduran mental sosial

M. Ziyan Takhqiqi Arsyad10)

 

“Kesejahteraan tidak akan lepas dari pandangan masyarakat terhadap sekelumit kelompok sosial”

 

Sikap sosial di masyarakat tidak selalu membawa dampak yang komperhensif. Sikap memberi kepada pengemis kini menjadi stimulan memunculkan lebih banyak tangan-tangan peminta. Seakan-akan niat tulus untuk membantu sesama menjadi salah arah. Munculah konflik antara niat memberi dan pikiran sadar yang tak ingin melatih orang menjadi peminta. Hal tersebut tidak boleh terus dibiarkan agar tercipta kehidupan selaras seperi yang diharapkan.

Pengemis menurut saya merupakan orang yang terlatih menjadi peminta. Sangat disayangkan profesi pengemis utility value terhadap kehidupan sosial sangatlah rendah. Utility value atau nilai guna salah satunya diukur dari seberapa berguna atau apa timbal balik yang diberikan dari suatu perlakuan. Limited utility value menjadi problematika karena pengemis tidak memiliki nilai sosial dan strata sosial yang diakui masyarakat. Siapapun mereka, pengemis ada dan masih menjadi bagian dari masyarakat meskipun mereka kecil dan dikecilkan.

Berhenti pada nilai guna dalam kehidupan sosial, pengemis memiliki sisi kehidupan lain yang mampu menembus suatu strata dalam ukuran ekonomi. Kondisi demikian terjadi jika penghasilan pengemis melebihi rata-rata penghasilan masyarakat di Indonesia, dapat dipersempit Jawa. Menurut dapat survei rata-rata penghasilan masyarakat indonesia antara 2-4 US $, sedangkan pengemis setiap harinya bisa mengumpulkan sekitar 100 ribu atau 10 US $ (Kompas.com). Nilai penghasilan yang segitu besar dapat memenuhi kebutuhan berskala mewah. Jika diukur, terjadi simpangan sekitar 6-8 US $ yaitu 2 kali lipat penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia. Dari ukuran ekomomi pengemis bisa dikatakan makmur.

Pasti ada kondisi keterkejutan masyarakat luas jika tahu penghasilan pengemis bisa mencapai berjuta-juta sebulan. Jika melihat kondisi sosialnya tidak meyakinkan  namun pengemis memiliki kematangan secara ekonomi dan memenuhi kebutuhan materilnya. Disinilah yang tidak boleh dibiarkan jika “manusia” sudah puas dengan kecukupan materi saja. Manusia tidak akan memiliki eksitensi diri jika tidak berkontribusi kepada orang lain. Materialisme dan hilangya eksistensi diri di mata manusia lain, lama-kelamaan dapat membunuh rasa saling membutuhkan sebagai makhluk sosial. Kekhawatiran tersebut mungkin sangat berlebihan untuk masalah pengemis. Yang tidak saya inginkan rasa saling tidak percaya yang nantinya memunculkan sikap saling tidak membutuhkan.

Kunci dari problematika dalam wacana ini yaitu: sikap sosial salah arah, utility value, dan kecukupan material. Rasa sosial akan bangkit jika seseorang peduli pada orang lain atau seseorang melakukan hal untuk kepentingan umum. Di Inggris dikenal kerja sosial untuk hukuman pelanggaran publik, misalnya lalu lintas. Jika kerja sosial diterapkan akan dapat menjaga rasa sosial terhadap pengemis. Jika setiap pengemis diberikan tanggung jawab sosial tertentu. Jika pengemis mau balas budi. Entah mimpi apa itu.

Anggap saja kerja sosial ialah balas budi pengemis kepada orang-orang yang telah mengisi tengadahan tangannya. Misalanya sekelompok pengemis diberikan tanggung jawab membersihkan fasilitas publik terntentu bersama-sama pegawai kebersihan. Atau membantu tugas-tugas publik yang lain. Setidaknya dengan upaya kerja sosial pengemis memiliki kontribusi langsung terhadap masyarakat. Hal tersebut tidak akan membuat pandangan masyarakat terhadap pengemis selalu buram.  Namun, pengelolaan operasional untuk kerja sosial sebagai “suatu gerakan balas budi” apakah suatu hal yang solutif masih perlu dipertimbangkan lagi. Saya hanya tidak ingin melihat “peminta-minta” terus bermental peminta-minta dan nantinya menular dan turun-menurun.

 

“Setiap kelompok manusia pasti dijangkiti patologi sosial tertentu”

 

KDRT dalam Perspektif Gender

 

Oleh Royyan Julian dan Elyda K. Rara

            Perkembangan kehidupan sosial sangat pesat dan kompetitif dan tidak pernah berhenti dari masa ke masa seiring canggihnya teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini. Keharmonisan dan kesejahteraan yang berkeadilan sosial menjadi tujuan (cita-cita) utama yang hendak dicapai dan didambakan oleh setiap anggota keluarga, warga masyarakat dan bangsa, apa pun jenis kelamin, tingkatan, status sosial yang disandangnya. Pencapaian tujuan tersebut sangat bergantung pada kesungguhan upaya dan peran yang dimainkan oleh setiap individu dan kelompok di dalam masyarakat.

Persoalan gender akhir-akhir ini sedang menjadi wacana publik yang hangat dibicarakan oleh banyak kalangan. Persoalan ini menyangkut tentang kemitraan dan keadilan peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang dalam sepanjang sejarah manusia telah dikonstruksi oleh adat, budaya, dan agama. Dalam hal peran, ini sering terjadi kekaburan dalam kehidupan sehari-hari antara ketimpangan peran kehidupan.

Persepsi masyarakat bahwa perempuan lebih rendah statusnya dari laki-laki ini dapat memicu munculnya diskriminasi jenis kelamin yang dapat menyebabkan perempuan berada pada subordinat dalam kehidupan, memiliki stereotype yang berbeda dengan laki-laki dan sering menjadi obyek kekerasan. Diskriminasi yang diterima perempuan hampir di semua lini kehidupan dan di semua belahan dunia, berakar pada budaya patriarki yang bercokol sangat kuat dan disosialisasikan secara turun-temurun, kemudian menjadi landasan praktik kehidupan di masyarakat.

Keluarga atau rumah tangga adalah sebuah wadah atau wahana yang berfungsi untuk menumbuhkan kasih sayang antarsesama manusia. Di rumah tangga inilah akan muncul generasi-generasi baru sehingga kelestarian umat manusia tetap terjaga. Namun, akan terjadi hal sebaliknya bilamana dalam sebuah rumah tangga terjadi kekerasan. Tentu saja hal seperti ini sangat bertolak belakang dengan salah satu fungsi dan tujuan dibangunnya sebuah rumah tangga, yaitu tempat berlindung.

Bentuk kejahatan seperti ini timbul karena dalam sebuah rumah tangga terdapat hubungan ketidaksetaraan. Jika di dalam sebuah rumah tangga sudah terjadi pemetakan-pemetakan, maka yang muncul hanyalah superioritas dan inferioritas. Yang satu akan menjadi penguasa penuh, sedangkan yang lain hanyalah pelengkap dalam rumah tangga, dan muncullah berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Yang pasti menjadi korbannya adalah perempuan.

Dalam kasus semacam ini, laki-laki menganggap bahwa sudah menjadi haknya mengontrol mitranya yang berada dalam hegemoni kekuasaannya. Istri dipukul karena dinilai tidak mampu atau menolak apa yang dikehendaki suaminya. Perempuan yang tidak terlalu bergantung pada suaminya mungkin tidak akan menerima perlakuan semacam ini walaupun laki-laki pengangguran bisa saja melampiaskan rasa keputusasaannya kepada perempuan.

Kekerasan seksual seringkali juga terjadi dalam rumah tangga dan korbannya lagi-lagi perempuan. Pelecehan seksual dalam keluarga misalnya si suami memaksa si istri untuk berhubungan intim padahal si istri tidak siap dan merasa dalam keadaan tidak sehat, baik secara fisik maupun mental. Hal ini tentu saja menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Lalu terjadilah kehamilan tanpa adanya kesepakatan antara kedua belah pihak. Bentuk kekerasan yang lain adalah kekerasan ekonomi, yakni si suami tidak memberikan nafkah hidup kepada si istri.

Bentuk kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena dalam rumah tangga itu tidak menerapkan prinsip-prinsip perkawinan. Zain mengungkapkanlimaprinsip perkawinan, antara lain:

  1. Kerelaan, bahwa melangsungkan sebuah perkawinan tidak boleh ada unsur paksaan, baik secara fisik maupun psikis dari pihak calon suami dan calon istri.
  2. Kesetaraan, bahwa sebuah perkawinan tidak boleh muncul diskriminasi dan subordinasi di antara pihak karena merasa mengambil sebuah kebijakan, yang akibatnya merugikan pihak lain.
  3. Keadilan, bahwa menjalin sebuah kehidupan rumah tangga diperlukan adanya kesepahaman bahwa antara suami dan istri sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan setara.
  4. Kemaslahatan, bahwa dalam menjalankan sebuah perkawinan yang dituntut adalah bagaimana mewujudkan sebuah kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, yang dapat membawa implikasi positif di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
  5. Pluralisme, bahwa perkawinan dapat dilangsungkan tanpa adanya perbedaan status sosial, budaya, dan agama, selama hal itu dapat mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia, sejahtera, dan aman baik lahir maupun batin.
  6. Demokratis, bahwa sebuah perkawinan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan fungsi-fungsinya, apabila pihak-pihak memahami dengan baik hak dan kewajibannya dalam keluarga.

Poligami merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan. Mayoritas poligami menjadi semacam eksploitasi terhadap perempuan. Maka, poligami tak ubahnya sebagai pelacuran yang dilegalkan. Dalam tradisi poligami kebanyakan, perempuan akan mengalami gangguan psikologis karena ketidakadilan suami dalam membagi kebutuhan istri. Baik kebutuhan ekonomis, maupun kebutuhan biologis.

Al Maraghi secara tegas menolak poligami yang melanggar prinsip-prinsip utama pernikahan. Yaitu pernikahan yang tidak sesuai dengan pencapaian kehidupan yang bahagia dan rumah tangga yang mewujudkan ketentraman jiwa sang istri. Sebab, kasih sayang dan ketentraman jiwa dalam keluarga adalah syarat utama tercapainya sebuah rumah tangga bahagia. Seseorang tidak boleh berpoligami, kecuali dalam keadaan darurat. Berpoligami harus mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya. Jika tidak, maka poligami tidak lain kecuali sebagai bentuk penindasan terhadap keluarga, termasuk anak-anaknya.

Tidak ubahnya dengan Al Maraghy, Abduh, cendekiawan Mesir juga berpendapat bahwa poligami hanya penegasan ketenteraman jiwa dan tali kasih sayang yang merupakan prasyarat tercapainya keluarga bahagia. Seseorang tidak diperkenankan berpoligami kecuali dalam keadaan darurat. Jika tidak, berarti ia telah menganiaya unit-unit keluarga dalam rumah tangga.

Al Biqa’i, ahli tafsir terkenal pada abad 16, berpendapat bahwa prinsip monogami lebih baik. Satu istri sudah cukup. Oleh karena satu istri saja sudah repot, bagaimana kalau beristri lebih dari satu. Tentu akan lebih susah. Sebab, berlaku adil terhadap istri yang lebih dari satu adalah sesuatu yang sangat sulit. Kalaupun seorang suami bisa berlaku adil secara material, tetapi sangat sulit seorang suami berlaku adil secara bukan materi.

Ada beberapa alasan yang menjadi alat justifikasi seorang suami untuk berpoligami, di antaranya:

    1. Bersembunyi di balik agama. Agamawan ortodoks laki-laki cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan berdasarkan bias kepentingan dirinya serta mengabaikan prinsip keadilan yang merata. Dari itulah agama menjadi tameng bagi para lelaki yang ingin berpoligami.
    2. kelebihan jumlah perempuan atas laki-laki. Menurut Zain dalam bukunya Membangun Keluarga Humanis, pandangan ini tidaklah sepenuhnya benar, karena jika mengacu pada Data Biro Pusat Statistik, yang dimaksudkan dengan kelebihan jumlah perempuan adalah perempuan yang berusia di bawah 12 tahun dan di atas 60 tahun, karena usia perempuan rata-rata lebih panjang daripada usia laki-laki. Logikanya, kalau ingin berpoligami, pilihlah perempuan di bawah umur. Tetapi, menikahi perempuan di bawah umur dalam konteks sekarang dipandang sebagai suatu kejahatan terhadap kemanusiaan (kejahatan pedofilia) karena melanggar HAM. Jadi hanya ada satu pilihan, yakni menikahi perempuan lanjut usia dan ini agaknya dapat mengurangi problem sosial yang ada.
    3. Istri mandul atau memiliki penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Laki-laki pada umumnya membenarkan poligami dengan alasan ingin mendapatkan haknya untuk memperoleh keturunan. Namun, beberapa pertanyaan logis perlu diajukan: bahwa istri mandul berasal dari pihak suami tanpa melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu. Tidak menutup kemungkinan, bisa saja yang mandul dan berpenyakit kronis adalah si suami.

Istilah “patriarki” mulai digunakan di seluruh dunia untuk menggambarkan dominasi laki-laki atas perempuan dan anak-anak di dalam keluarga dan ini berlanjut kepada dominasi laki-laki dalam semua lingkup kemasyarakatan lainnya. “Patriarki” adalah konsep bahwa laki-laki memegang kekuasaan atas semua peran penting dalam masyarakat―dalam pemerintahan, militer, pendidikan, industri, bisnis, perawatan kesehatan, iklan, agama―dan bahwa pada dasarnya perempuan tercerabut dari akses terhadap kekuasaan itu. Ini tidak lantas berarti bahwa perempuan sama sekali tak punya kekuasaan, atau sama sekali tak punya hak, pengaruh dan sumber daya; agaknya, keseimbangan kekuasaan justru menguntungkan laki-laki. (Mosse, 2002 : 64-65)

Lalu, Mosse melanjutkan, jadi, budaya patriarki merupakan salah satu faktor terjadinya kekerasan dalam rumah tangga karena laki-laki superior sedangkan perempuan berada dalam posisi inferior. Yang superior menjadi subjek, sedangkan yang inferior menjadi objek. Oleh karena itu, suami bisa melakukan tindakan apa pun kepada si istri, karena hal itu sudah menjadi nilai budaya dalam masyarakat.

Berbicara soal patriarki, tidaklah lengkap bila tidak berbicara tentang agama. Sebab, hampir seluruh agama-agama besar di dunia mengajarkan budaya patriarki. Dari itulah muncul anggapan bahwa kekerasan dalam rumah tangga sudah menjadi legalitas dalam ajaran agama. Bahkan beberapa teks suci agama mengizinkan memukul, mencambuk, atau melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan.

Agama merupakan batu fondasi ketidaksejajaran gender. Menurut sebagian besar tradisi agama di dunia yang telah mengakar, perempuan mendapat peran sekunder dan subordinat. Menurut Mosse, sebagian besar tradisi agama, dalam tiga dasawarsa terakhir, menarik sarjana feminis yang berpendapat bahwa bukan teks agama yang menjadi sebab masalah melainkan penafsirannya. Kaum feminis Kristen, Yahudi, dan Islam meneliti kembali ayat suci mereka dan tiba pada kesimpulan bahwa agamanya menawarkan kemungkinan pembebasan dan perbaikan dalam posisi perempuan, tetapi tradisi dan sejarah telah menumbangkan potensi ini dan menggunakan agama untuk menekan perempuan.

 

Rujukan

Ch., Mufidah. 2004. Paradigma Gender.Malang: Bayumedia Publishing.

Graddol, David. 1989. Gender Voices. Alih bahasa: M. Muhith. 2003. Pasuruan: Pedati.

Irianto, Sulistyowati. 2001. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita di Indonesia.Jakarta: Yayasan OborIndonesia.

Mosse, Julia Cleves. 1993. Half The World, Half a Chance. Alih bahasa: Harlian Silawati. 1996. Gender & Pembangunan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zain, Muhammad. 2005. Membangun Keluarga Humanis. Jakarta: Grahacipta.

Konstruksi Kodrat dan Peran Adam Hawa dalam Alkitab

 

Oleh Royyan Julian

            Yang tertulis pada sebuah buku (kitab) adalah potret dari keberadaan kondisi dari sosio-politiko-kultural masyarakat yang hidup pada masa itu. Saya meyakini bahwa sebuah kitab merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sesuai konteks masyarakat yang mengodifikasikannya. Begitu pula yang terjadi pada kitab suci agama apa pun. Entah itu Alkitab (Nasrani/Yahudi), Al-Quran (Islam), Weda (Hindu), atau kitab suci dari agama lainnya merupakan produk budaya yang berasal dari ilham suci (holy inspiration) yang melingkupi para penulis/nabi yang terwahyukan.

Perempuan (saya yakin dari tradisi manapun) mayoritas menempati kedudukan subordinatif dari laki-laki. Perempuan menjadi komplementer, inferior (hingga tidak jarang mengalami marginalisasi) dan nampaknya inilah yang bernama patriarki yang merupakan penyebab munculnya gerakan emansipatoris. Namun, pada tulisan ini, saya tidak akan membahas masalah emansipasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama merupakan salah satu faktor munculnya reduksi peran unggul perempuan. Hal ini dibuktikan dengan teks-teks suci (kitab suci) yang di dalamnya memuat segala macam tentang perempuan, bahkan kodratnya sebagai manusia. Pada tulisan ini, saya akan mencoba sedikit mengulas kodrat dan peran perempuan dari perspektif Alkitab (kitab Kejadian/Genesis). Bisa dikatakan bahwa interpretasi saya di sini murni subjektivitas saya. Saya akan mencoba menafsirkan ayat-ayat dalam Alkitab tersebut secara tekstual.

Bila kita membaca Alkitab, terutama pasal 2 dan 3, yakni tentang munculnya perempuan pertama (Hawa), maka kita akan menemukan sebuah budaya patriarki yang kuat dalam teks-teks tersebut. Sebenarnya pada adegan-adegan ketika Adam merasa sepi karena sendiri dalam kemewahan taman surgawi, saya merasa senang karena di situ, Tuhan akan menciptakan makhluk yang disebut “penolong” bagi laki-laki (Adam). Betapa mulianya sebutan itu: penolong. Namun, selanjutnya saya agak kecewa karena ternyata, “penolong” tersebut diciptakan dari bagian Adam, yaitu tulang rusuk.

Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawanya kepada manusia itu. lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab dia diambil dari laki-laki.” (Kejadian 2 : 21—23)

Saya kira, dengan diciptkannnya Hawa dari rusuk Adam, hal ini menunjukkan bahwa perempuan lebih inferior daripada laki-laki. Mengapa Tuhan tidak menjadikan saja Hawa sebagaimana Adam, yakni dari debu? Dari inilah, sejak awal, Alkitab seolah-olah mengodratkan bahwa perempuan adalah makhluk kedua, bukan yang utama, bukan yang substansial.

Pada awal mereka (Adam dan Hawa) didudukkan di surga, Tuhan telah mewanti-wanti mereka agar tidak mendekati pohon pengetahuan agar manusia tidak mati (ternyata Tuhan berbohong kepada manusia karena Tuhan takut mereka akan menjadi mahatahu seperti Tuhan ketika makan buah itu sehingga Tuhan punya saingan). Tetapi, ular adalah binatang licik yang tinggal di surga. Maka, ular membisikkan godaan kepada perempuan (lagi-lagi perempuan yang menjadi tipu daya) agar memakan buah itu. Ular berkata kepada perempuan:

“Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3 : 4—6)

Maka terbujuklah Hawa untuk makan buah itu dan ia juga mengajak Adam memakannya. Benar apa yang telah diwanti-wanti, mereka tahu, mata mereka menjadi terbuka bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Lantas, mereka menutupi aurat mereka dengan daun-daun ara. Uniknya (maksud saya, yang lebih menyebalkan lagi), ketika Tuhan menanyakan apakah meraka makan buah dari pohon terlarang, Adam berkata dengan mengambinghitamkan Hawa: “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3 : 12)

Padahal, Adam juga terbujuk tetapi ia cuci tangan dan ingin menanggungkan dosa-dosanya kepada Hawa. Tampaknya memang begitulah watak laki-laki (bodoh) yang acapkali menyalahkan perempuan. Misal, ketika tidak dikarunia anak, maka perempuan yang disalahkan (padahal bisa saja yang mandul adalah laki-laki), ketika perempuan yang mengenakan baju mini, maka perempuan yang disalahkan karena membangkitkan birahi laki-laki, padahal yang tergoda adalah laki-laki.

Akibat perbuatan dosa itu, Tuhan mengutuk mereka.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu ketika mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon, yang telah kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu….” (Kejadian 3 : 16—17)

Perhatikan kata-kata yang saya cetak tebal. Pertama, “mengandung” dan “melahirkan” merupakan kodrat perempuan yang merupakan kutukan dari Tuhan karena membangkang perintahnya. Kedua, “berkuasa atasmu”. Di sini seakan-akan sudah menjadi kodrat bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Laki-laki superior daripada perempuan. Ketiga, “mencari rezekimu”. Lagi-lagi hal yang merupakan ranah publik (mencari rezeki/nafkah atau bekerja) adalah laki-laki—sedangkan perempuan ranah domestik karena melahirkan?

Dari apa yang telah saya paparkan tersebut, nampaknya pandangan Alkitab tentang kodrat dan peran perempuan dan laki-laki sangat mempengaruhi pandangan orang-orang bahwa secara umum kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Hawa adalah tulang rusuk Adam dan pandangan mengenai tulang rusuk ini juga dipercayai umat muslim meskipun di Al-Quran tidak pernah ada ayat yang menjelaskan bahwa Hawa dijadikan dari tulang rusuk Adam.