Dimensi Ruang Raya

Dimensi Ruang RayaOleh: Amalia Yasrina Suatu hening di malam sepi, ada sebuah sekat yang membedakan alam sadar manusia dengan dunia kenyataan. Kebanyakan dari sekian miliar dari dunia alam sadar itu meninabobokan setiap insan hingga jatuh terjerembab dalam kehidupan yang fana. Jujur saja, aku cukup realistis memilih dunia bak negeri dongeng itu. Seolah membangun serangkaian cerita paling romantis dengan dirimu yang menunggangi seekor kuda putih. Layaknya seorang raja dengan seorang putri yang tengah menjalin kisah asmara. Sayangnya, selalu berakhir tragis saat dua bola mata saling bertatap dan bertemu.  “Cih,” Anehnya, aku…

SEMPURNA

SEMPURNAOleh: Tajj Sakti mengayunkan badannya dengan sempurna seperti ranting kayu yang tidak berdaya melawan angin kemarau. Bibirnya semencolok wanita muda yang merias diri di hari kedua pernikahan, berwarna merah darah dibubuhi simpul senyum bak pelawak. Kakinya pecicilan diiringi alunan kendang dengan paduan nada tritone. Sejenak ia telah mencicipi surga yang dikarang di pikirannya sendiri. “Sial…, sialan! Sampai kapan aku sial begini.” Ujo kembali mengeluh pada nasib. Tidak berbeda dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya, Ujo terus mengutuk perbuatan nasib kepadanya. Ia telah menjadi manusia yang tidak bersyukur. Menurutnya, namanya adalah padanan…

Dicoba Dulu, Hasilnya Belakangan

Dicoba Dulu, Hasilnya BelakanganOleh: Antonia           Siapa sih yang enggak kangen sama orang yang dicintainya? We all miss them. Enggak ketemu sehari saja rasanya kayak setahun enggak ketemu. Aneh tapi nyata. Kayak aku sekarang yang sedang kangen sama orang yang kucintai, tapi enggak bisa ketemu. Kenapa? Karena dia lagi diskusi sama Tuhan di atas langit. Sangat jauh. Saking jauhnya, hanya angan-anganku yang bisa sampai sana. Pernah aku ngulurin tanganku biar sampai ke atas langit. Tapi yang kudapat cuma angin yang berhembus kencang berampas daun. Kuanggap rasa rinduku ini sudah sampai…

Kisah Pertemananku dengan Sepi

Kisah Pertemananku dengan SepiOleh: Mita Berliana Kala langit biru di sore hari lamat-lamat terhapus oleh hitam malam. Gundah mengetuk pintu kamarku. Dia mengantar Sepi agar bercanda bersamaku, seperti malam-malam sebelumnya. Seandainya Sepi tidak menceritakan kisah yang berulang, tentu aku takkan mengalami kebosanan yang sama. Kadang, sebelum malam turun dan Gundah mengetuk kamar, aku menghubungi teman-temanku yang mau meluangkan waktunya untuk kuajak berbicara, entah tentang utara, selatan, ataupun barat dan timur. Aku senang berbicara dengan mereka, walaupun aku tahu tak selamanya kesenangan ini akan bersamaku. Mereka punya waktu mereka sendiri dan…

KOK, BISA?!

KOK, BISA?!Oleh: Sherry Di suatu sudut kafe. “Jadi, gimana hubunganmu sama dia?” tanya Anggun. Tangannya memainkan sedotan di gelas minumannya. Matanya menatap lawan bicaranya sejenak. “Apanya yang gimana?” jawab Amel ogah-ogahan. Dia menghela napas berat. “Ya, gimana progress-nya? Ada kemajuan, nggak? Bentar lagi kamu kan wisuda? Dia nggak ada rencana melamar kamu, apa gimana gitu?” Anggun sesekali menyesap minumannya. “Entahlah.” Amel menghela nafas lagi, “Hubungan kita sebenernya juga baik-baik aja, tapi nggak tau kenapa berasa kayak berjalan di tempat.” Amel menyeruput minumannya dengan pelan. “Apa nggak kamu aja yang tanya?…