Sebuah Pamit yang Pahit

Sebuah Pamit yang PahitOleh: Ind Bumbung asap dan limbah gas rutin menggelapkan langit cerah, membakar semangat kaum muda-mudi untuk berkeliling stadion di pagi hari sembari menghirup udara segar. Sebagian besar mengalir bersama angin dan mengganggu pemuda-pemudi di wilayah sebelah; kaum tua dan lansia apalagi, hanya termenung menatap langit yang cerahnya tak dapat disapa lagi. Sebagian kecil resap di perawakan pepohonan. Sebagian lagi difiltrasi, katanya. Entahlah, udara, air dan segenap tanah seakan bukan milik kita lagi. Mereka dioptimalkan, lebih tepatnya dijadikan alat barter untuk mendinginkan ego kaum yang sedang kehausan, kelaparan…

Sebuah Tangga di Utara

Sebuah Tangga di UtaraOleh: Lian Malam itu hujan baru saja turun, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang begitu kuat. Keadaan sangat senyap karena orang-orang tidak berniat keluar rumah sama sekali, memlih untuk tetap tinggal di dalam ruangan dengan lapisan selimut tebal. Namun, hal ini tidak berlaku untuk Satria Pamujiono. Pemuda yang biasa dipanggil Mas Tri oleh tetangga sekitar rumahnya, masih terduduk tenang di teras rumah, menatap rintik kecil hujan yang masih sedikit turun dari balik genteng rumahnya yang berlubang. Padahal jarum jam sudah berada tepat di angka sebelas, tetapi Tri…

Catatan Penulis

Catatan PenulisOleh: Diki Mahpudi Cerita ini ditemukan dalam bahasa yang hanya bisa dipahami penemunya. Lalu ia terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan upaya sebisanya karena keterbatasan kosakata yang dimiliki. Di malam yang sunyi ia berjalan dengan sangsi. Mengikuti kunang-kunang bercahaya terang. Kala itu langit terbelah, dan membuyarkan ia punya konsentrasi kepada apa yang ia ikuti. Kunang-kunang terang itu hilang. Sebuah botol kaca jatuh menimpa kepala. Keduanya tidak pecah, tapi memberi benjolan di jidatnya. Ia mengaduh dan mengutuk, lalu mengambil botol itu. Hampir ia membuangnya dengan penuh amarah, ia menyadari ada…

Love is Hurt?

Love is Hurt?Oleh: Nafisah “Akh… “ Suara rintihan itu semakin jelas terdengar di telingaku. Aku bersembunyi di balik tembok beton yang tak jauh dari sumber suara, menetralkan degup jantungku untuk kembali normal. Langkah kakiku sengaja kupelankan agar tidak ada orang yang tahu akan keberadaanku. Aku berusaha mengintip dari balik tembok beton, siapakah gerangan yang tengah merintih kesakitan di malam hari seperti ini? Deg! Aku melihat Cala tengah meringis kesakitan, ia tengah bersandar di balik meja kayu sembari memegangi kakinya yang sudah berlumuran darah. Sesegera mungkin aku mendekatinya dan ia nampak…

Apa Pun yang Terjadi, Dunia Akan Tetap Berputar

Apa Pun yang Terjadi, Dunia Akan Tetap BerputarOleh: iaznmhr Aku bosan. Dua kata itu selalu terngiang bebas dalam pikiran. Ketika aku berdiri maupun duduk; ketika aku makan maupun minum; ketika aku berjalan maupun berlari; bahkan ketika aku melamun dan memejam mata, aku tetap merasa bosan. Tidak ada lagi hal yang bisa memantik gelora semangat pada jiwa. Aku bosan.Dunia ini juga membosankan. Tidak ada lagi yang menarik minat dan kesan. Semuanya memuakkan. “Apa pun yang terjadi, dunia akan tetap berputar,” adalah kata-kata yang selalu kugaungkan di benak. Tak peduli pagi atau…