Bahagia di Kepalamu

Bahagia di Kepalamu Oleh: Mita Berliana Dipenghujung siang dia menelponku. Berkata harus menemuinya sepulang magang. Dia berjanji akan mentraktir segelas jus mangga kesukaanku. Dia selalu sukses agar aku tertarik padanya. Aku datang ke tempat yang dia suruh aku datang. Di sana kulihat dia sudah berpakaian rapi bahkan disetrika. Terlihat jelas dari lipatan-lipatan yang kencang itu. Dari kejauhan, dia ternyata menyadari kehadiranku, maka dia mengangkat bibirnya, tersenyum padaku. Dia wangi. Rupanya dia mandi dulu sebelum bertemu denganku. Niat sekali, pikirku. Dia masih basa-basi padaku, padahal aku menanti isi kepalanya. To the…

Khianat Janji

Khianat Janji Oleh: M. Ma’ruf Muzaki Bahkan kau tak mengerti Di kamarku mimpi mengurung diri Tertidur angan-angan yang terlalu tinggi Kata motivasi hanya jadi candu sepi Di sini, mimpi dan mati terasa sengit Hidup seolah sangkar kutukan nasib Membunuh jati diri di perantauan Menyangsikan luka di masa depan Jejak kaki berkhianat pada janji Dan kini, aku mati tertikam bayang sendiri

Kamu Tidak Akan Menemukan Apapun

Kamu Tidak Akan Menemukan Apapun Oleh: Widhi Hidayat Kejutan kecil dari seloki, di tengah pandemi kami bagikan keseruan canda dan tawa. Di atas bale dengan bambu yang berbaris dengan rapi, tempat tunggu cuci motor yang ramai ketika siang hari dan sunyi di malam hari, menjelma menjadi sebuah tempat cengkrama yang biasa dilakukan. Beberapa kawan memilih untuk duduk dengan melingkar, ditemani minuman khas kota kelahiran (yang dibeli tadi siang), meskipun rasa dan aroma tidak seperti biasanya, seloki akan tetap berputar meskipun pelan. Tanpa disuruh pria paruh baya menghampiri kami, “Saya bukan…

Mimpi yang Kosong

Mimpi yang Kosong Oleh: Shinta Angin malang mengusik bulan ini Petang datang membayang Diikuti ironi nestapa yang kembali bergelut Pada keberuntungan yang enggan berdamai Jiwa kembali dituntun jadi sekeras batu Hidup kembali dituntun macam air yang mengalir Dan, Mimpi akan terbang kembali Bersama pasukan burung mungil itu, Pupus Diriku hanyalah selembar daun yang mengalir mengikuti sungai kehidupan Kemanakah kau akan membawaku? Melintasi samudera seberang, Atau harus mati tertimbun derasnya dirimu? Di penghujung akhir bulan ini, Sampaikan mimpiku pada Tuhan Bersama pasukan burung mungil itu, Hingga aku tak bisa melihatnya lagi…

Jika Pandemi Usai

Jika Pandemi Usai Oleh: Ahmad Syaihuddin Tri Harjono “Bruumm..” Jalu menarik gas motornya setelah ia berpamitan dengan ibunya. Motor matic hitam yang dikendarainya mengangkut barang-barang dan makanan yang telah disiapkan ibunya beberapa jam yang lalu. Nasi, daging, sayur, serta camilan dibungkus dalam kresek hitam dan ditaruhnya di depan. Sementara barang-barang seperti pakaian dan buku-buku diletakkan di kardus di bawah makanan, ada juga yang di dalam jok. Jalu sangat bersemangat karena hari ini akhirnya ia bisa kembali ke tanah rantauan Kota Malang setelah berbulan-bulan berada di rumah akibat adanya pandemi. Kini…