Khianat Janji

Khianat Janji Oleh: M. Ma’ruf Muzaki Bahkan kau tak mengerti Di kamarku mimpi mengurung diri Tertidur angan-angan yang terlalu tinggi Kata motivasi hanya jadi candu sepi Di sini, mimpi dan mati terasa sengit Hidup seolah sangkar kutukan nasib Membunuh jati diri di perantauan Menyangsikan luka di masa depan Jejak kaki berkhianat pada janji Dan kini, aku mati tertikam bayang sendiri

Mimpi yang Kosong

Mimpi yang Kosong Oleh: Shinta Angin malang mengusik bulan ini Petang datang membayang Diikuti ironi nestapa yang kembali bergelut Pada keberuntungan yang enggan berdamai Jiwa kembali dituntun jadi sekeras batu Hidup kembali dituntun macam air yang mengalir Dan, Mimpi akan terbang kembali Bersama pasukan burung mungil itu, Pupus Diriku hanyalah selembar daun yang mengalir mengikuti sungai kehidupan Kemanakah kau akan membawaku? Melintasi samudera seberang, Atau harus mati tertimbun derasnya dirimu? Di penghujung akhir bulan ini, Sampaikan mimpiku pada Tuhan Bersama pasukan burung mungil itu, Hingga aku tak bisa melihatnya lagi…

Aku Manusia Bodoh

Aku Manusia Bodoh Oleh: Cahya Pejamkan Pejamkan mata kalian Merenung Merenunglah tentang kehidupan Kita ini apa Bukankah hanya setetes air terus berkembang hingga sekarang Pernahkah kalian berfikir Kita tak punya apa-apa Bahkan lahir pun kita telanjang Karena pertolongan-Nya kita bisa hidup Dan kini kalian tak menyadari kebesaran-Nya Menganggap karena usaha keras kalian sendiri Sadar Sadar Sadarlah

KEINDAHAN ADA PADA MATA PEMILIKNYA

KEINDAHAN ADA PADA MATA PEMILIKNYA Oleh: Tajjudin Aulia A. Betapa kita bahagia dengan sengaja Dan dengan segala derita yang telah ditempa Sejak pertamakali sinar matanya menggerus canggungku Hingga saat ini deru nafasnya selimuti dingin sikapku Seperti ungkapan dari buku Margaret Hamilton: Keindahan ada pada mata pemiliknya Meski banyak mata menjadi pemilik keindahannya Namun, aku ikut bertaruh untuk menjadi mata Mata yang mengilhami keindahanya Dan menjadi pemiliknya Betapa kita bahagia dengan selamanya Dan dengan segala cerita yang telah temani masa

Kehidupan

Kehidupan Oleh: Sari Tajamnya waktu mengikis lembaran demi lembaran Yang tersusun rapi oleh kuasa tuhan Indah tak terkira Sedih tak teragak Menjelma menjadi sebuah cengkraman Bersama banyak pengharapan Besar seperti gajah Kecil seperti semut Bebas seperti burung Liar seperti singa Menghendaki butir-butir debu berperan di dalamnya Terperangkap dimensi ruang tak berhaluan Menyelami hingga batas penghabisan