Menjadi Introvert

Menjadi IntrovertOleh: M. Ma’ruf Muzaqi Aku akan menikmati kesepianDengan belajar cara mengabaikanTetapi, ada samudra di kepalakuDan nama mereka hanyut di laut pikirkuWaktu adalah gurun pasir kematianBadai pasir melahirkan anak-anak kesedihanLangit menumpahkan ribuan panah kecemasanMembanjiri kita dengan hujan ̶ air mata yang ditekanDi hari penuh haru, angin mengamati bulu kuduk untuk waktu yang dikutuk Tanganku pernah sebebas suaraYang bergetar melintasi gendang-gendang telingaSebelum terpaksa lelap pada mata uang yang matiTetapi, bahkan Tuhan sendiri yang mengurungMembatasi puisi kitaMengurangi bahasa kitaMenenangkan kita Begini berita hari ini:Hati-hati!Angka kematian di langit tiba-tiba meningkatBegitupun dengan kebutuhan sandang,…

Senyap yang Terpincang-pincang

Senyap yang Terpincang-pincangOleh: Indri Cermin yang kupandangi,menjelma gerimisAku terheran, lantas bertanyaKenapa kau begitu deras?Gerimis itu diam tanpa membebani pelanginya Cermin yang melekat di tembok hitam,beradu peran dengan aliran sungaiAku bergidik, lalu bertanyaKenapa kau begitu liar hingga mengalir tanpa kendali?Aliran sungai itu membisu lantas lenyap dipeluk angin Cermin dengan tepi tajam itumenyerupai sebilah pisau dapurAku tak mengerti, lantas bertanyaKenapa kau menderaskan warna merah di ruang hitam milikmu?Pisau itu tak mengindahkan kilatan putih, dia berkarat dan melukai Cermin tunggal tak beranak itu,akan selamanya membisudia bukan gerimisdia bukan aliran sungaidan dia bukan sebilah…

Khianat Janji

Khianat Janji Oleh: M. Ma’ruf Muzaki Bahkan kau tak mengerti Di kamarku mimpi mengurung diri Tertidur angan-angan yang terlalu tinggi Kata motivasi hanya jadi candu sepi Di sini, mimpi dan mati terasa sengit Hidup seolah sangkar kutukan nasib Membunuh jati diri di perantauan Menyangsikan luka di masa depan Jejak kaki berkhianat pada janji Dan kini, aku mati tertikam bayang sendiri

Mimpi yang Kosong

Mimpi yang Kosong Oleh: Shinta Angin malang mengusik bulan ini Petang datang membayang Diikuti ironi nestapa yang kembali bergelut Pada keberuntungan yang enggan berdamai Jiwa kembali dituntun jadi sekeras batu Hidup kembali dituntun macam air yang mengalir Dan, Mimpi akan terbang kembali Bersama pasukan burung mungil itu, Pupus Diriku hanyalah selembar daun yang mengalir mengikuti sungai kehidupan Kemanakah kau akan membawaku? Melintasi samudera seberang, Atau harus mati tertimbun derasnya dirimu? Di penghujung akhir bulan ini, Sampaikan mimpiku pada Tuhan Bersama pasukan burung mungil itu, Hingga aku tak bisa melihatnya lagi…

Aku Manusia Bodoh

Aku Manusia Bodoh Oleh: Cahya Pejamkan Pejamkan mata kalian Merenung Merenunglah tentang kehidupan Kita ini apa Bukankah hanya setetes air terus berkembang hingga sekarang Pernahkah kalian berfikir Kita tak punya apa-apa Bahkan lahir pun kita telanjang Karena pertolongan-Nya kita bisa hidup Dan kini kalian tak menyadari kebesaran-Nya Menganggap karena usaha keras kalian sendiri Sadar Sadar Sadarlah