CERPEN – ASAS RINDU

0
37

Asas Rindu

Oleh: Anisa Ayaturrahman

 

Awan menggantung kelabu. Derasnya aliran sungai terdengar jelas di telingaku. Gunung terjal berbatu, air dingin hijau dan biru. Itulah desaku. Dengan keindahannya yang menyatu. Membuat teduh hati seluruh insan yang tinggal damai bersatu padu satu suku. Desa yang berada di atas Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, walau kota yang kecil tetapi di sini jauh dari bising dan kerasnya hidup di perkotaan seperti yang kalian tahu.

Aku bahagia. Hanya itu yang aku rasakan sekarang. Hidup tentram tanpa tekanan, bersahabat dengan alam. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini, hidup di desaku bersama orang-orang tercinta.

Aku bangun dari mimpi, tetapi masih belum dalam kesadaran penuh. Seakan segalanya hilang bentuk. Aku memalingkan muka ke waktu lama, kini waktu seakan berjalan mundur mengingatkanku akan kenyataan hidup yang kujalani saat ini. Namun, tak ada jejak-jejak yang kudapati. Hanyalah samar yang menyelimuti. Tersadar akan lamanya waktu aku tinggal di sini seorang diri.

Aku sudah pergi jauh dari rumah, tinggalkan kebahagiaan. Jauh dari orang-orang tercinta. Di sini aku terlantar, terasing, terabaikan dan sengsara. Hanya tangisku yang tak bisa lepas karena kesadaranku akan kenyataan. Hanya keringatku saksi perjalanan. Diteriknya panas yang menyengat jiwa, masih kusimpan bahagiaku di kemudian senja. Meski kini seringnya sedih bercampur susah karena kecewa. Keadaan bukan kesalahan, ini hanya sekedar pelajaran. Siapa yang siap dialah yang akan tahan. Siapa yang menyerah tentu ujungnya susah. Nyatanya ini memang jalanku. Jalan awal yang kubangun. Sebuah pondasi mimpiku. Semua adalah jalan yang kupilih demi sebuah harapan. Inilah yang kunamakan pilihan.

Aku dikelilingi tumpukan buku, debu, koran-koran, kursi, meja kayu, almari, serta jendela-jendela kamar yang kubiarkan menganga. Kau mungkin menganggapku gila, ketika aku hanya duduk di kamar atau duduk di depan layar komputer. Mungkin mereka yang kutinggalkan sekarang, sedih melihat keadaanku seperti ini. Aku hanya ingin mengubah nasibku. Walau harus terpisah dari mereka yang menyayangiku. Bertahan, membanting tulang, mengadu nasib di perkotaan. Aku yang menjadi bagian hidup dari keluargaku, telah mengasingkan diri dari mereka. Banyak orang yang bilang, takdir itu sangatlah kejam. Namun, inilah kehidupan.

Kehidupan hanyalah sebuah ilusi. Kini, ia hilang entah kemana. Dan sekarang, tak ada lagi yang bisa aku andalkan, tempat menggantung nasib, harapan, semua itu adalah yang membuat ketenangan. Namun, ketenangan dari mana? Ini hanyalah ketenangan yang buruk. Jiwaku seakan tak pernah ada di tubuhku.

Waktu sudah berjalan, dan ia tidak berjalan mundur, ia akan tetap maju, seberapa keraspun usaha manusia untuk membuatnya berjalan mundur kembali. Waktu yang bahkan tak jelas apa bentuknya bisa menghancurkan banyak hal yang menurut manusia sangat berharga. Ia juga bisa menghancurkan apa yang manusia punya. Hanya karena waktu, seseorang yang harusnya bisa bahagia malah tersiksa.

 

Hmm … kegilaan macam apa ini, yang membuat diriku terus bercakap-cakap seperti orang gila yang sesungguhnya. Sepertinya, aku ingin memutuskan malam secepat mungkin dan kuganti dengan pagi yang penuh percakapan hangat dengan mereka. Aku harap pagi itu akan datang. Aku merindukan kotaku, kota Probolinggo. Aku hampir tak tahan dengan kehidupan di sini.

 

Dunia ini mungkin sudah dikuasai orang-orang gila. Bagaimana tidak? Lihat saja kehidupanku sekarang. Mungkin dengan gila orang bisa main gila, membunuh, merusak, mengutuk, mencuri, menyiksa, dan makan hak orang lain tanpa dikenakan hukuman, kecuali kalau hukum sudah ikut gila. Alhamdulillah, puji syukur aku dan keluargaku hidup dan dibesarkan di desa tepatnya di kota Probolinggo, kotaku tercinta, sehingga tidak ikut-ikutan gila seperti mereka itu.

 

Mereka sungguh tak pernah peduli dengan kita. Mereka tak mementingkan adat mereka lagi, budaya barat sudah memengaruhinya. Teringat kembali kehidupan kami di desa. Aku merindukan adat desaku. Lalu kerindangan, kerukunan, damai, tentram hidup bagai di surga tentu aku rindu. Upacara Kasodo di desaku memperlihatkan kentalnya kebudayaan, tradisi, dan kepercayaan nenek moyang kami yang sudah mendahului melakukan ini jauh sebelum aku dilahirkan. Tugasku hanyalah mempertahankannya agar tak hilang. Ini lebih baik, aku benar-benar tidak nyaman dengan kehidupanku. Aku melihat kematian yang bernyawa di kota ini. Haruskah aku nikmati senja tanpa warna lagi?

 

Pagi telah pulang atau memang pergi dari kita? Pertanyaan tanpa jawaban yang hanya menggantung dalam ruang hampa. Ini pagi yang demikian padam, dari waktu yang liar, langkah semakin mengajak mereka menikmati senja pada tepi-tepi bibir yang enggan mengucap doa.

Segala sisi kepedihan serta keras-terjalnya sebuah perjuangan yang tak kenal menyerah telah memunculkan inspirasi bagi siapa saja, tak terkecuali bagiku. Sudah saatnya aku mengemas rindu. Sebab, waktu semakin tua, laut hampir menutup daratan, langit menutup hujan dan kenangan yang tak pernah lagi bisa dihalang. Aku akan kembali pada desa yang telah lama aku tinggal. Dengarlah, malam ini aku akan bercerita pada lampu-lampu yang menyala di sepanjang rumah-rumah tua. Aku akan pulang ke rumah, ke kotaku tercinta tanpa tanda sesal. Meninggalkan kehidupan yang sepertinya baru akan dimulai. Aku tidak menyerah, hanya saja aku butuh waktu sejenak untukku beristirahat. Menikmati masa kecil bahagiaku dulu. Berlari riang di pinggir danau, kulihat burung menari dan bernyanyi di atas perahu. Hmm, ada indah di hatiku. Mengingat semua itu, seakan ada gelembung kecil menghangatkan hati dan pikiranku. Aku tak sabar untuk cepat sampai di kampungkku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here