CERPEN – BAPAK MENGEMISLAH

1
267

“Bapak, Mengemislah”

Oleh: Wasilatul Maghfiroh

 

Saya tidak habis pikir dengan pemikiran anak jaman sekarang. Banyak yang bilang kalau orang tua jaman sekarang terlalu kolot, terlalu memaksakan kehendak. Rupanya mereka tidak tahu kalau orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Dinasihati satu kali bantahan bisa ratusan kali. Anak zaman sekarang terlalu keras kepala, mereka belum tahu kerasnya hidup di dunia yang harus serba pelit. Semakin kita pelit, semakin pandai kita berkelit dalam hidup yang semakin hari membuat semua orang menjadi edan.

“Desa kita sudah terlalu kaya, buat apa bapak susah-susah menyisihkan sebagian uang dari hasil sawah hanya untuk beramal kepada jajaran petinggi di kampusmu itu. Hasil sawah kita tidak seberapa, hanya mampu untuk menyandang kehidupan kita untuk  dua tahun kedepan itupun kalau para tikus-tikus sawah tidak dengan lapar merebut hasil panen kita. Lalu sekarang, Bapak juga harus memeberi makan gedung-gedung yang tinggi menjulang itu?”

“Bapak tidak akan tahu apa yang akan kudapatkan setelah aku berhasil menikmati gedung yang menjulang itu, bisa jadi aku bisa membangunkan rumah yang tak kalah megah seperti gedung perkuliahan itu”.

“Kamu juga tidak akan tahu bagaimana lusuhnya hidup kita setelah anak perempuan dari desa merantau ke kota yang katanya besar tapi kecil akal”.

Marwa langsung pergi ke kamarnya dengan menghentakkan kakinya sekeras mungkin, dia pikir dengan cara itu saya bisa luluh dengan menuruti keinginannnya yang sangat melanggar aturan di desa kami. Desa yang sangat menjaga tradisi serta norma-norma yang sangat dijaga teguh. Jika ia jadi merantau ke kota besar bisa-bisa hilang semua cekokan kebaikan yang sudah ibunya berikan semenjak ia dalam kandungan. Sayapun bisa jadi memenggal kepala saya sendiri karena seorang kepala desa membiarkan anak gadisnya menjual tata norma yang telah melekat dalam darah dagingnya sendiri kepada lingkungan barunya,

“Pak, tidak selalu orang-orang yang merantau itu bisa lupa dimana asal ia berada. Kalaupun lupa itu memang celakanya. Aku merantau bukan hanya sekedar ingin menjadi orang yang berpendidikan, aku ingin mengubah pola pikir orang-orang desa kita yang menganggap bahwa wanita itu tidak perlu bermimpi setinggi langit, wanita dari desa itu cukup mengetahui baca tulis, yang terpenting itu pandai bersih-bersih rumah, memasak lalu menurut apapun yang dikatakan suami. Marwa itu perempuan pak, bukan pembantu dikeluarga baru yang hanya bermodalkan mahar untuk membayar Marwa. Bapak pun menikahkan Marwa bukan menukaran Marwa dengan sawah yang dimiliki oleh orang tua pemuda yang hendak meminang Marwa nanti. Padahal anak lelaki mereka tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.”

Aku mulai hilang kendali, aku tampar wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang ibunya itu. ada sedikit rasa sesak ketika tangan besarku menampar pipi yang dari kecil selalu ku belai dengan rasa yang teramat sayang. Tapi kupikir sekali-kali tidak masalah. Terkadang anak yang pemikirannya sudah mulai terkontaminasi oleh nikmatnya kehidupan di masa depan sudah mulai melupakan batasan perlu disadarkan dengan cara yang berbeda.

“Bapak sudah menerima lawaran Anwar yang ingin  segera mempersuntingmu. Dengan hidup bersama dia kamu tidak harus bersusah payah mengenyam bangku sekolah yang menghabiskan biaya puluhan juta dengan iming-iming bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan lalu menghasilkan uang yang berlimpah. Jika kamu menikah dengannya hidupmu sudah terjamin. Kamu hanya perlu bersolek sedikit agar suamimu itu tak lekas bosan denganmu. Kamu juga tak perlu khawatir jikalau kamu akan dijadikan pembantu seperti apa yang kamu pikirkan. Dia itu punya sawah yang berlimpah, dia juga berhasil membangun sekolah di desa kita. Kalau hanya untuk menyewa pembantu rumah tangga dia tidak akan jatuh miskin seperti kebanyakan keluarga lainnya.”

“Pak ini bukan masalah makan apa aku nanti, bukan masalah kaya atau miskin aku nanti. Ini masalah pengetahuan yang tidak akan dimiliki oleh teman-temanku yang setelah lulus SMP menikah. Siti temanku, lusa kemarin baru bercerai dengan suaminya. Bukankah bapak sendiri tahu kalau suaminya adalah pemilik sawah terluas di desanya. Diapun juga mempunyai toko yang tak pernah sepi pembeli. Dia juga selalu bersolek meski dirinya sudah sangat cantik tanpa riasan apapun. Dia juga pandai memasak masakannya pun sudah seperti rasa masakan restoran, dia juga perempuan yang sangat bersih serta cekatan dalam melakukan pekerjaan rumah. Lalu mengapa Siti bercerai? Teman-teman di desaku sudah menikah, perawan di desa ini hanya tersisa aku dan beberapa anak tetangga yang masih menempuh pendidikan di pesantren. Aku tidak menikah karena Ibu dulu mengijinkanku untuk sekolah di pusat kota kita untuk bersekolah SMA. Sedangkan yang berada  di pesantren, orang tua mereka sering kali membawa lelaki sebagai hadiah ketika mereka sudah tuntas dalam menjalankan kehidupan pesantren.”

Marwa lagi-lagi berteriak ketika mengatakan semuanya kepadaku. Ini belum seberapa imbasnya akibat ia berpendidikan lebih tinggi dari pada gadis desa yang memiliki sopan santun meski hanya bermodal duduk di bangku SD. Akupun hampir naik pitam karena pemikirannya.

“Bapak tidak mau tahu apapun alasanmu Marwa. Bulan depan kau harus menikah dengan Anwar. Bapak sudah menyiapakan resepsi pernikahan yang begitu meriah untukmu. Disana akan ada penyanyi terkenal yang akan menghibur tamu undanganmu, juga akan ada kereta kuda yang dihias sebegitu megah untuk membawamu mengelilingi seluruh desa kita. Semua orang akan tahu bahwa Marwa anak bapak menikah dengan lelaki yang sangat tepat dan semua orang akan tahu bahwa kamu adalah wanita paling bahagia  di hari pernikahan itu. Akan bapak buat pernikahanmu adalah pernikahan terbesar yang ada di desa kita.”

Marwa tidak menjawab perkataanku, akupun meyakini bahwa sekarang ia mulai memikirkan konsep pernikahan yang di idamkan oleh semua penduduk di desa ini.

“Apa dengan pernikahan seperti itu, pernikahanku bisa tak seperti ibu dan bapak? Apa kelak anakku hanya akan memanggil satu orang lelaki yang ia sebut dengan bapak? Apa aku tidak akan ditinggalkan ketika tubuhku sudah mulai melar, bodohku sudah bersarang dalam otakku, serta keberanian yang sudah hilang dalam tuturku?”

“Maksudmu apa kau membawa-bawa ibu dan bapak dalam masalah ini. Jelas ibumu bahagia ketika bapak nikahi, bapak tak pernah memperlakukannya seperti pembantu, bapak juga sanggup menghidupinya tanpa kekurangan apapun, bahkan bapak juga mampu menyekolahkanmu tanpa harus mengemis untuk bekerja di ladang sawah seseorang.”

“Ibu meninggalkanku tanpa sempat tahu seperti apa rasanya kebebasan. Ibu dulu menikah dengan bapak setelah tamat SD. Apa bapak pernah memikirkan apakah Ibu punya cita-cita? Apakah ibu punya rencana yang indah di kehidupannya pada masa yang akan datang? Apakah bapak sekalipun pernah menanyakan cintakah ibu kepada bapak pada awal pernikahan kalian?”

“Tutup nulutmu Marwa, ibumu tidak mempunyai cita-cita, sekalipun  ia punya cita-cita, seorang perempuan memang di takdirkan hanya untuk melayani suami, serta bergelut di dapur untuk menghidupi suami dan anaknya melalui keterampilan memasaknya. Jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi jika ujungnya hanya di dapur dan dirumah suami, cari uang itu susah Marwa. Negara kita pelit akan harga murah untuk masa depan. Kalau uang bapak hanya dihabiskan untuk biaya sekolahmu, mau makan apa kita di masa depan. Toh, kamu sekolah tujuannya hanya untuk mencari makan untuk menyambung hidup.”

Setelah perdebatan sengit itu Marwa akhirnya menyetujui untuk kunikahkan dengan Anwar. Ia menyetujui dengan raut yang tak bias kugambarkan. Ia sempat mendiamkanku selama beberapa bulan. Tapi, saya tak akan ambil pusing, Marwa tetaplah putriku yang paling menurut. Ia akan melakukan apa saja yang akan kuminta. Pernikahan berjalan seperti yang kuinginkan. Banyak tetangga yang memujiku karena telah berhasil menikahkan putri semata wayangku dengan orang yang paling kaya di desa ini. Marwa pun tidak banyak membantah lagi, ia tampak cantik dengan riasan pengantinnya. Andai saja ibunya masih ada. Aku akan dipuji sepanjang hidupnya.

Selama 2 tahun setelah menikah, Marwa pun tak pernah lagi berkunjung ke rumah. Tapi aku tak mempermasalahkan itu semua, kurasa ia benar-benar bahagia menikah dengan pria pilihanku. Mungkin ia disana benar-benar diperlakukan dengan  bahagia sampai ia lupa bahwa disini masih ada bapaknya yang sedang menunggunya. Ia juga telah memberiku dua orang cucu. Salwa dan Adam namanya. Marwa memang Ibu yang baik, dia dirumah dengan telaten merawat suami serta kedua anaknya. Akupun tidak pernah merasa bersalah waktu dulu aku melarangnya untuk merantau berkuliah. Marwaku sudah bahagia dengan masa depannya. Masa tuaku kuhabiskan untung beraladang di lahan yang diberikan menantuku ketika ia berhasil meminang Marwa dahulu.

Jika aku mengingat perkataan Marwa bahwa dulu Aminah menikah denganku pada awalnya tidak bahagia atau bahkan aku yang telah merenggut kebahagiaannya seakan sesak beban dikepalaku. Tapi aku tetap yakin bahwa Aminah bahagia menikah denganku karena ia nyatanya mau melahirkan Marwa untuk kebahagiaan kami.

3 tahun kemudian.

“Ibu mengapa pergi kung? Apa Salwa dan Adam terlalu nakal sampai Ibu pergi. Ayah juga tidak pernah pulang lagi semenjak Ayah sering memarahi Ibu.” Ucap dua anak ecil itu dengan wajah sendunya.

Bibirku kelu. Kedua anak ini diantarkan pulang oleh supir taksi Anwar dengan membawa ransel besar yang berisikan baju-bajunya. Marwaku sudah tiada, ia meninggal tanpa sebab, jenazahnya ditemukan sudah terbujur kaku didalam kamarnya yang sudah berserakan pecahan kaca. Suaminya pun entah dimana hingga kedua anaknya diantarkan kerumahku. Adam menyerahkan secarik kertas yang sudah lusuh kepadaku, meskipun aku sudah tua aku masih bersyukur masih memiliki kemampuan membaca yang cukup baik karena aku dulunya adalah mantan kepala desa.

Bapak, Marwa mencintaimu.

Cita-citaku dokter semenjak kecil. Aku terpaksa harus mengubur cita-citaku karena aku harus menuruti kemauan bapak untuk menikah dengan pria yang diyakininya mampu menghidupiku dengan sempurna. Aku harus menikah selepas SMA tanpa harus memikirkan keinginanku untuk menempuh pendidikan yang aku impikan. Aku tidak akan mengeluh perkara cita-cita dokter yang tidak bisa ku raih. Aku percaya aku dapat menjadi dokter yang baik untuk kedua anakku.

Aku memang tidak diperlakukan layaknya pembantu oleh suamiku. Namun, aku juga tidak diperlakukan selayaknya istri yang seharusnya berada di samping bukan melulu dibelakang. Bukan perkara posisi Pak yang ingin kusampaikan kepadamu. Ini tentang kehidupan anakku kedepannya.

Kau tahu setelah menikah hidupku rasanya hambar. Aku seperti orang bodoh ketika suamiku sedang berada dalam masalah dan aku hanya bisa diam tanpa tahu harus apa aku. Suamiku jengah pak memiliki istri yang bisanya hanya menerima apapun yang dia beri. Sewaktu-waktu dia mengumpatku dengan  perkataan kasar. Katanya aku hanyalah orang yang menumpang menitipkan masa depan kepadanya. Sakit Pak dihina seperti itu. Aku jadi teringat bapak yang selalu memikirkan masa depanku lalu dihina bahwa bapak hanya menikahkanku dengannya hanya untuk menjamin masa depanku.

Pak, andai saja waktu itu bapak mengijinkanku untuk merantau ke kota yang kata bapak sangat berbahaya itu. Setidaknya aku sudah biasa terlatih dengan kerasnya hidup, aku sudah terlatih bagaimana cara mengatasi masalah yang sedang kualami. Namun, sekarang aku tidak bisa berbuat apa apa pak. Aku tidak mempunyai nyali setiap kali suamiku marah tanpa sebab. Bersolek, memasak, membereskan rumah sudah kulakukan dengan baik. Tapi nihil hasilnya pak, tetap saja ia hanya memandangku sebagai barang yang ketika ia butuhkan ia akan memujaku dengan sangat menawan. Tapi jika tidak, dia hanya akan menganggapku sebagai penunggu rumah megahnya tersebut.

Pak, aku juga merasa berdosa karena aku telah melahirkan dua malaikat dari darah yang minim ilmu ini. Aku takut anakku juga akan terkena imbas dari kebodohanku ini. Pak, suamiku akhir-akhir ini sudah jarang pulang kerumah. Setiap kali pulang aku selalu mencium bau wangi yang berbeda pada bekas baju yang ia kenakan. Aku tidak berani mengeluarkan suara pak, aku takut suami yang bapak pilihkan untukku akan marah lalu meninggalkanku. Aku tidak ingin bapak menyesali apa yang sudah terjadi.

Pak, anakku harus hidup lebih bahagia dariku bukan? Tolong nanti ketika bapak bertemu dengan menantu kesayangan bapak, katakanlah padanya untuk menyekolahkan Adam dan Salwa jauh lebih tinggi dari seorang ilmuan sekalipun. Setidaknya dengan itu kedua anaknya tidak akan bernasib sama dengan ibunya. Andai saja aku membangkang bapak waktu itu, aku takkan menyuruh bapak untuk mengemis kepada menantumu sendiri agar menyekolahkan anakku. Aku tidak punya apa-apa Pak untuk mencegah bapak mengemis seperti ini. Untuk kali ini mengemislah kepada menantumu pak demi sekolah cucumu.

 

 

 

1 COMMENT

  1. hello my name gustav iam new in here
    need sharing with all friend ^^
    I want to be friends with everyone

    waah nice design for your project, good luck thanks for share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here