CERPEN – MEI

0
125

MEI

Oleh: Anisa Ayaturrahman

 

Kehampaan yang terjadi pada dirimu bagai pertemuan hujan dengan malam. Dingin, sunyi, tanpa diterangi cahaya bintang. Namun, kehampaan yang aku rasakan barangkali melebihi hal itu. Tak ada percakapan di antara kita. Percakapan itu hanya sebatas hatiku dan hatimu, meski sering kali tak tersampaikan. Aku selalu berbicara padamu, mungkin kau hanya tak mendengarnya.

Aku bangun dari mimpi, tetapi masih belum dalam kesadaran penuh. Seakan segalanya hilang bentuk. Aku memalingkan muka ke waktu lama, kini waktu seakan berjalan mundur mengingatkanku padanya. Namun, tak ada jejak-jejak yang kudapati. Hanyalah samar yang menyelimuti. Tersadar akan lamanya waktu, jauhnya jarak telah memisahkan kita.

Kau mungkin menganggapku gila, ketika aku hanya duduk di kamar atau duduk di depan layar komputer. Mungkin kau sedih melihat keadaanku seperti ini. Yang menanti kabar darimu. Kamu yang menjadi bagian hidupku, telah mengasingkan diri dariku. Kita hidup dalam keterpisahan dan keberjarakan, meskipun kita menyatu.

Hmm… kegilaan macam apa ini, yang membuat diriku terus bercakap-cakap dengan dirimu. Sepertinya, aku ingin memutuskan malam secepat mungkin dan kuganti dengan pagi yang penuh percakapan. Aku harap pagi itu akan datang.

Aku sudah biasa sendiri dan aku harus bisa sendiri, tapi aku tetap manusia biasa yang memiliki keinginan untuk disayangi.

 

**

 

Aku mulai mengelilingi kota dengan motor maticku ini, mengingat kembali tempat-tempat yang dulu kami datangi. Aku melewati cafe yang cukup lama berdiri, mengingat ini adalah cafe yang sering kami datangi sewaktu kami bersama dulu. Pikiranku berjalan mundur saat melewati cafe itu. “Maya sering mengajakku ke sini” gumamku. Tanpa pikir panjang aku memasuki cafe itu. meski tak begitu besar, cafe ini sangat hangat dan nyaman.

 

“Hey, kamu Kai, bukan? Yang dulu sering datang ke cafe saya dengan kekasihmu itu.”

“Kau mengingatku dengan baik, Pak Alan. Oh iya, Pak Alan, aku mau pesan coklat panas dan dua roti bakar rasa coklat dan strawberry.”

“Hoho, kau selalu suka coklat panas, dan aku selalu ingat pesananmu.”

“Coklat panas buatanmu memang paling enak.”

 

Sambil menunggu Pak Alan menyiapkan pesananku, akupun duduk di salah satu meja yang sebenarnya memang sudah menjadi tempat duduk favorit kami dulu. Tempat ini benar-benar mengingatkanku padanya. Daun-daun berguguran menjadi siluet tak diam di depan mataku dan matamu. Terbayang senyum indahmu padaku saat itu. Mata indah itu ikut tersenyum menatapku. Membuatku melupakan waktu kala itu. Pagi telah pulang atau memang pergi dari kita? Waktu ini terasa cepat sekali berlalu. Entah aku butuh berapa lama untuk bisa puas bersamamu. Bahkan seumur hidup takkan cukup bagiku. Seketika lamunanku buyar saat Pak Alan mengantarkan pesananku.

 

“Ini pesanannya, Kai” kata Pak Alan seraya menata pesananku di atas meja.

“Terima kasih, Pak Alan.”

 

Hmm.. coklat panas ini, kamu memang paling benci bila aku memesan ini dulu, aku hanya suka melihat wajah cemberut kamu. Membuatku semakin gemas, rasanya pipimu ikut mengembang saat kau cemberut. Dan kau terpaksa harus meminumnya. Haha.. Aku merindukan momen itu, Maya. Cepatlah pulang, aku merindukanmu. Sangat.

 

Matahari sudah tak nampak, ia membiarkan bulan menggantikan sinarnya. Lalu akupun membayar pesananku dan segera kembali ke rumah. Malam ini udara sangat dingin. Angin dingin ini seperti mendorongku untuk segera kembali ke rumah. Aku harap rumahku tiba-tiba berpindah ke depan mataku agar aku tidak harus merasakan udara yang dingin seakan menusukku hingga tulang.

 

“Aku pulang..”

“Hei, kamu dari mana saja? Cepatlah mandi lalu istirahat, besok kau harus kembali bekerja. Jaga kondisimu, Nak.”

“Iya, Ma, akan kulakukan, sekarang aku hanya ingin kembali ke kamarku.”

 

Ah, aku selalu suka kamarku, di mana aku bisa bebas melepaskan pikiranku. Lalu aku melemparkan tubuh lelahku ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar dan bayangan itu kembali datang. Malam ini begitu kelam kurasa. Terlalu pekat seperti hatiku yang sedang kelabu. Kesedihan yang tak kunjung usai selalu menyelimuti. Teringat akan kenangan yang dulu pernah membuatku bahagia. Tapi kini semua hanya tinggal kenangan. Tak ada lagi canda tawa.

Mungkin sejak hari ini, senyumku takkan terlihat lagi. Sekarang aku hanya sendiri lewati hari tanpamu. Terbiasa melewati hari bersamamu dulu, aku tak bisa melupakanmu. Ku yakini bahwa kamu adalah memori yang tak akan pernah bisa aku lupakan.

Aku rindu kamu, Maya. Sedang apa kamu di sana? Aku selalu menunggu kamu datang. Aku benar-benar iri dengan orang yang ada di dekatmu, ia selalu bisa bersamamu, melihat senyum kamu, dan bisa membuatmu tertawa. Sedang aku di sini hanya bisa mengingatmu. Ya tuhan, jaga dia untukku.

 

‘Hnngg…’ komputerku yang aku kira sudah mati itu kembali menampakkan tanda-tanda kehidupan. Maya menjawab emailku. Akhirnya …

 

Hai Kai, apa kabar kamu di sana? Aku sedang banyak tugas kuliah di sini, maaf aku tidak bisa menelepon kamu selalu. Tapi kamu harus tahu aku di sini selalu merindukanmu, akupun tak sabar menunggu hari di mana kita bisa bersama. Jika nanti ada waktu untuk bertemu kamu, aku tidak akan membuangnya percuma. Aku janji aku akan pulang menemuimu. Aku mencintaimu, Kai.

 

Aku tersenyum haru melihat apa yang sudah terjadi di depan mataku. Rasa rindu yang aku punya sangatlah besar terhadapmu, namun aku tetap sabar menunggu kamu, Maya. Aku harap kamu pulang sebelum hari istimewa kita datang. Aku berniat untuk meminangmu. Jarak dengan angkuhnya menghalau kita, Sayang, sedangkan ruang-ruang terasa semakin luas saja. Aku telah menepiskan segala perih dalam sunyi yang amat dalam, sunyi yang amat lekat sejak kenangan merampas pikiran hingga pandangan mendadak samar. Seketika pula semua terasa gelap.

**

 

Setelah menghitung bulan purnama sejak malam itu, bulan yang kunantipun telah datang. Mei, mengajarkanku mengingat apa yang aku coba lupakan. Menuliskan jelas kenangan kami di bulan ini, jejak yang hendak aku hapus dari ingatanku. Namun, Aku menunggumu dengan sabar. Bahkan kamu satu-satunya orang yang membuang waktu dan hatiku, sementara ada mereka yang menantiku. Tetapi, penantianku takkan terulang kembali setelah aku menikahimu, Maya.

Aku mulai membuka blackberry milikku, kulihat di sana terdapat sebuah pesan undangan reuni party SMA-ku. “Aku sungguh merindukan teman-teman lamaku”

 

*saat di pesta reuni*

 

Sangat bahagia, baru saja aku keluar dari mobil di parkiran, aku bertemu Joshie

“Hai, bro!” teriak Joshie dari belakang.

“Hai!! Apa kabar?” ucapku sambil memegang pundaknya.

Kami berdua masuk dan bertemu dengan Ari dan Gino, disusul dengan Mytha.

“Hai, Kai!! Kamu sudah tahu kabar?” ucap Mytha.

“Kabar apa, Myt?” tanyaku balik.

“Maya–”

“Punya pacar?” ucapku kaget.

“Dia masih menunggu kamu kaya orang bego” ucap Ira yang tiba-tiba datang.

“Ya ampun kalian.”

Aku dan teman-temanku hanya tertawa melihat mereka berdua, sesaat pandangan mereka tertuju pada seseorang di belakangku.

Saat aku membalikkan badan, orang itu tidak terlihat karena ada bouquet bunga yang sangat besar menutupi badan kecilnya itu.

Aku mengambinya dan saat aku melihat di belakangnya adalah Maya.

Mataku terdiam, melihat dia dengan gaun putih dan kerudung yang selalu menambah cantik wajahnya. Dia terlihat begitu … Anggun.

Ya Tuhan, my sweetie Maya.

Aku berpelukan melepas rindu dengannya. Kami berkumpul bersama di acara reuni ini, dan tertawa bersama. Tak lama kemudian, aku berlutut di hadapan Maya. Ada perasaan aneh yang kurasa, ini tidak biasa terjadi padaku. jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat. Aku berniat untuk menikahinya.

**

Aku bahagia. Hanya itu yang aku rasakan sekarang. Hatiku deg-degan menunggu nanti di mana aku dan Maya akan mengikat janji suci bersama. Maya masih berias di kamar, dan aku harus menunggu calon istriku dengan gaun putih dan hijab di kepalanya yang akan membuatku selalu jatuh hati padanya. Meskipun tanpa gaun itu, calon istriku ini tetap menawan. Semua sudah beres. Aku sudah berdandan meskipun sebenarnya aku tidak suka didandani. Namun setelah melihat prakaryanya di wajahku, aku harus akui bahwa pekerjaannya sangat bagus.

Jas hitam sudah melekat sempurna di tubuhku, dengan kopiah hitam yang aku kenakan di kepala. Bahkan aku terlihat sangat tampan di depan cermin. Aku bisa tebak, Maya akan semakin jatuh hati padaku.

‘Tok! Tok!’

Pintu terbuka, mama sudah menampakkan dirinya. “Ayo cepat, pestanya akan dimulai.”

Aku tersemyum dan mengangguk, “Aku akan keluar.”

**

Maya. Calon istriku ini tampak cantik dengan balutan gaun putih yang menutupi tubuhnya yang mungil itu. Aku sedikit risih melihat penampilannya hari ini yang begitu menawan dan memikat perhatian. Aku tidak mau calon istriku menjadi pusat perhatian para lelaki mata keranjang. Aku tidak suka.

Ia tersenyum padaku. Senyuman hangat hingga menyentuh hatiku yang membeku. Mencairkannya hingga aku merasa hidup di dunia untuk kedua kalinya. Kami duduk berdampingan menghadap penghulu yang akan mengikat janji suci kami.

**

Ini adalah bulan ke 2 setelah acara pernikahanku dengan Maya. Hari ini aku dan Maya hendak mendatangi pesta pernikahan temanku, Aldhy. Ia cepat sekali menyusul kami untuk menikah juga.

Suasana di dalam gedung tempat resepsinya sudah penuh dengan para tamu. Kuperhatikan dekorasinya didominasi dengan warna biru lembut, serta dihiasi dengan bunga lili dan mawar putih di mana-mana. Aku mengarahkan lagi pandanganku ke sekeliling ruangan. Ternyata banyak sekali teman-temanku yang datang.

Sesaat kemudian, aku sudah banyak bersalaman dan asik berbicara dengan teman-temanku. Aku pun sempat berbincang dengan seorang wanita dari masa laluku, Laras. Maya dengan setia mengikutiku. Dia sesekali terlibat pembicaraan ringan dengan teman-temanku. Aku lega karena sepertinya dia nyaman berada di acara ini. Aku sempat menjelaskan sedikit tentang wanita tadi yang berbincang bersama kami. Maya pun mengangguk mengerti.

“Loh, Kai??!” Tiba-tiba kudengar seseorang memanggil namaku. Sebelum aku sempat mengantisipasi siapa yang sedang memanggilku, sebuah kecupan di pipi kiri dan kananku berhasil didaratkan. Sesaat kemudian barulah aku melihatnya.

“Iya … Zahra.” Kataku datar menahan emosi. Berani sekali dia!

Aku melirik ke arah Maya. Ia tampak sangat tenang. Ia seakan tidak melihat apapun. Ia seakan tidak melihat ada seorang wanita berpakaian sexy yang mencium kedua pipi suaminya. Kulihat Maya tersenyum ke arah Zahra. Senyumnya bukan senyum sinis, senyuman tulus. ‘Luar biasa!’ Kataku sinis dari dalam hati. Ada apa dengan istriku?

Mengapa ia tampak baik-baik saja? Biasanya jika ada pria yang di perlakukan seperti itu oleh wanita lain, istri mungkin akan curiga, marah, dan mungkin akan … cemburu. Tapi mengapa Maya tidak? Entahlah memikirkan itu membuatku jengkel.

Aku sangat mengenal Maya sejak kami SMA, dia adalah tipe wanita yang sangat tidak bisa melihatku bersama wanita lain. Tetapi mengapa dengan malam ini? Wanita tadi itu berlalu sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku melirik Maya. Menebak-nebak reaksinya.

“Zahra itu…..” kataku cepat. Aku tak mau Maya berpikir macam-macam terhadapku. “Dulu dia teman dekatku. Sifatnya memang seperti itu. Menurut teman-temanku, sudah lama dia tertarik padaku, namun kami tak pernah punya hubungan apa-apa.”

“Aku percaya kamu.” kata Maya. Dia kelihatan baik-baik saja. Jika aku tahu reaksinya akan seperti itu, aku tak akan susah-susah menjelaskannya.

Apakah perasaannya padaku sudah berubah? Tiba-tiba ada seorang wanita lagi yang menghampiri kami. Wanita itu tak asing bagiku dan aku mencoba untuk mengingatnya. Wanita itu, aku mengenalnya. Ia seperti … Katya?

“Hai, Kai? Ku dengar kamu sudah menikah?” tanya wanita itu.

Aku tak menjawab. Aku memandang Maya dan memintanya mendekat. Ia mendekati kami berdua. Hendak menyalami wanita itu.

“Kamu … Maya?” tanyanya terkejut mencoba mengenali Maya.

“Istriku.” aku berkata datar.

Maya tampak gugup hendak menyalami Katya. Namun dengan cepat ia menepisnya.

“Dasar! Kamu yang merusak hubunganku dengan Kai!” bentak Katya. Aku terkejut mendengarnya.

“Berhenti.” kataku pada Katya.

“Apa menariknya dia?” lanjut Katya tanpa menggubris perkataanku. Ia melihat Maya dari kepala sampai kaki.

“Apa yang kamu lihat dari wanita ini, Kai?” dia kemudian mengamati perut Maya.

“Hmm? Apa benar aku tak salah lihat? Dia sedang … hamil?” Ia berhenti sesaat dan memandang Maya sinis. “Apa kamu tertarik pada tubuhnya saja? Apa dia menggodamu dulu?”

Aku terlalu terkejut untuk mengatakan apapun.

“Jaga mulutmu.” Kataku sambil berdiri. Aku tak berteriak. Nadaku tetap sama datarnya seperti tadi.

“Tunggu aku ingat-ingat lagi. Siapa ya yang dulu pernah menghianatiku dengan pria lain?”

Ku lihat wajah Katya memerah.

“Sekarang kamu tahu dengan jelas siapa yang merusak hubungan kita di sini?” tegasku padanya.

Aku memegang tangan Maya setengah menariknya keluar dari gedung ini. Dalam perjalanan pulang kami sama-sama diam. Aku marah, namun aku juga tahu Maya tak baik-baik saja sekarang.

Setelah sampai di rumah, Maya mendahuluiku masuk tanpa menungguku atau berkata sepatah katapun padaku. Aku melihatnya ke kamar, ia menghadapkan wajahnya membelakangiku. Menarik selimut hingga menutupi sampai dada dan menutup mata.

**

 

Aku sengaja pulang sore dari kantorku hari ini dan membawa pekerjaanku ke rumah. Biar saja aku mengerjakan pekerjaanku di rumah. Asalkan aku bisa mengawasi Maya dari dekat. Apa lagi dengan kejadian tadi waktu kami di pesta itu bertemu mantan kekasihku, Katya.

Wanita itu tinggal lumayan jauh dari kota kami di Cirebon, karena itu aku sudah lama tak bertemu dengannya. Kemarin aku memang marah padanya, yang mengatakan istriku sebagai perusak hubungan kami. Jadi setelah menyindir wanita itu, aku lebih memilih langsung membawa Maya pulang ke rumah. Aku tahu ia sedih.

Akhir-akhir ini, sejak dia mengandung, dia lebih cepat menangis. Bahkan Kemarin sebelum ke pesta pernikahan Aldhy saja ia sempat menangis. Aku tak pandai menghibur atau mengucapkan kata-kata rayuan. Bahkan sekarangpun aku tak bisa lagi sekedar menenangkannya dengan memeluknya lama, ia akan langsung mual-mual. Mungkin bagi orang lain aku masih terkesan tak peduli, namun aku harap Maya mengerti.

Ketika aku sampai, aku lihat Maya sedang duduk di samping kamar. Matanya bengkak. Pasti dia habis menangis. Ya ampun, dia kan gak boleh stres.

“Lagi apa?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Lagi baca.” Ia tak menoleh ke arahku. Ia hanya menunjuk sebuah buku yang di pegangnya.

“Kamu marah?” tanyaku langsung.

Ia menggeleng.

“Kamu nangis?”

Maya diam saja. Hmm, dia kebiasaan, memikirkan masalah hingga berlarut-larut. Lama kami hanya duduk dalam diam. Dia kembali menatap bukunya yang aku tahu tidak sedang dibacanya. Aku menatap langit-langit kamar, berpikir keras kata-kata apa yang sebaiknya kuucapkan untuk menghiburnya.

Lama sesudahnya ia berkata, “Apa Katya benar-benar pernah ada di hatimu?”

Aku menoleh ke arahnya. Berhati-hati pada arah pembicaraannya. “Iya.” kataku singkat. “Dulu.”

“Dia cantik.” katanya.

Aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraan ini.

“Laras juga cantik. Wanita yang bernama Zahra yang kita temui di pesta itu juga sangat cantik.”

Aku memilih diam mendengarkan pembicaraannya.

“Aku tak punya apapun yang bisa aku banggakan sebagai istri kamu.” tatanya lagi. Ia mengatakannya sambil menunduk. “Benar kata Katya. Aku wanita yang tak pantas untukmu, aku tak menarik, aku mungkin tak pantas menjadi istrimu. Kamu seharusnya berbahagia dengan Katya, bukan denganku.”

Aku heran mendengarnya. Belum sempat aku menjawab apa-apa, ia langsung berkata. “Kamu bisa memilih wanita mana saja di luar sana untuk menjadi istri kamu. Tapi mengapa kamu memilihku? Mengapa dengan bodohnya kamu menungguku dan menepati janjimu?”

Aku berpikir sesaat sebelum menjawab sejujurnya. “Aku memilihmu karena aku tahu kamu tak akan melukaiku, meninggalkanku seperti halnya Katya. Aku memilihmu karena aku tahu kamu mencintaiku sejak dulu.”

“Hanya karena aku mencintai kamu kan, Kai?” dia menoleh ke arahku. Kulihat kedua pipinya sudah basah dengan air mata.

“Banyak di luar sana yang juga merelakan apapun demi kamu, memberikan cintanya bahkan hidupnya padamu. Lalu bedanya aku sama mereka apa?” isaknya.

“Kamu berbeda.”

“Ya. Bedanya aku tak tahu malu walaupun aku mendapatkanmu karena merusak hubungan orang lain.”

“Jangan bicara yang tidak-tidak, May.” Kataku jengkel. Aku tak mau ini berlanjut seperti sinetron TV.

Demi Tuhan, ia sedang hamil dan tidak boleh stres, dan alasannya menangis saat ini menurutku sangat tak masuk akal. Ia menangis hanya karena kata Katya dia PHO?

Arrggghhh!! Buat apa mendengar pendapat wanita itu!

Tadi sepertinya mendengar perkataanku membuat emosinya semakin terpancing.

“Mungkin sudah saatnya kamu mencari orang yang sepadan dengan kamu, Kai..” ia terisak sebentar sebelum melanjutkan. “Mungkin sudah saatnya kamu mencari seseorang yang bisa membuatmu bahagia.” isaknya lagi.

“Apa maksudmu?!” bentakku.

“Maaf jika selama ini aku mengekangmu. Jika kamu ingin mencari yang lebih baik dariku, aku tak apa-apa.”

“Berhenti.” Aku marah. Aku tak peduli dengan perubahan hormonnya.

Aku tahu wanita hamil akan menjadi cepat tersinggung, mudah menangis dan sebagainya, namun kata-katanya tadi itu melukaiku.

“Mungkin sebaiknya kita cer-“

“Berhenti!!” teriakku marah. Sangat marah.

Dengan kesal aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan keluar kamar dan langsung membanting pintu kamar sekeras yang ku bisa.

 

**

 

Sudah seminggu ini aku mendiamkan Maya. Harusnya dia tahu kata-katanya keterlaluan seminggu yang lalu. Ia hendak mengatakan cerai jika saja aku tak memintanya berhenti. Aku memang marah sekali waktu itu, dan masih marah hingga sekarang.

Aku selalu pulang larut malam dan tidak tidur lagi satu kamar dengan Maya. Tiap malamnya aku pulang dan tidur di kamar lain. Dan hari ini aku baru pulang dari Bar malam dalam keadaan mabuk. Akupun tak kembali ke kamarku, aku ke kamar Maya. Maya pun tampak terkejut saat melihatku membuka kamarnya. Kami berdua bertatapan lama sebelum aku masuk ke kamarnya. Aku setengah berlari ke arahnya dan memeluknya.

“Jangan marah padaku.” bisikku pelan sambil memeluknya erat. ”Aku tak bisa.”

“Aku tak marah.” katanya. Lalu Maya mendekatkan kepalanya di dadaku, “Kukira kamu yang marah”

“Tentu saja aku marah.” kataku tiba-tiba. “Aku marah dan terluka.”

Mendengar itu Maya melepaskan pelukannya dan mendorong tubuhku ke atas untuk menatap wajahku.

Ia terlihat kaget sekali saat melihat ada air mata di pelupuhku.

“Aku minta maaf.” katanya sambil membelai rambutku.

“Kenapa kamu ingin kita berpisah?” bisikku dengan suara bergetar.

“Aku kira kamu tidak bahagia bersamaku.”

“Jangan sok tahu.” kataku. Tanganku melingkari pinggang Maya. “Aku bahagia bersamamu dan calon anak kita.”

“Aku … minta maaf.”

Aku mendekatkan bibirku di telinganya. “I Love You..” bisikku lirih. Aku semakin merapatkan kepalaku di dadanya. “Aku butuh keyakinan diriku bahwa semua masih baik-baik saja, bahwa tak ada yang berubah di antara kita. Katakan padaku, May..”

“Aku mencintaimu …” katanya sungguh-sungguh. “Aku mencintaimu”

Aku diam sesaat kemudian berkata. “Berjanjilah tak akan lagi mengatakan untuk berpisah …”

Ia sudah hendak mengucapkan janjinya sebelum aku kembali berkata. “Kau tak tahu … tapi kata-kata itu begitu membuatku terluka.”

“Maaf, Sayang.” kataku. “Aku janji.”

“Dan jangan banding-bandingkan dirimu dengan wanita lain!” kataku jengkel.  jangan mendiamkanku lama-lama, jangan bete’  lagi denganku, jangan menangis lagi di depanku.” kataku lagi dan lagi. “Aku tak suka!”

Maya hanya diam saja.

“Apa menurutmu mereka sanggup mencintaiku bertahun-tahun sepertimu?” tanyaku pada Maya. “Apa menurutmu mereka sanggup bertahan dengan sikapku? Apa ada wanita lain yang sabar menghadapiku?” aku membuang napas dengan kasar. “Tidak May, tidak ada. Hanya kamu yang bisa.”

“Maaf …” desahnya pelan. “Maafff …” entah mengapa kurasa setelah ia mendengarkan kata-kataku tadi membuatnya merasa sedih.

Air matanya perlahan-lahan turun ke pipi mulusnya.

“Sudah ku bilang, jangan pergi dari hidupku.” Aku berkata dengan marah.

“Apa kamu tidak mengerti perasaanku? Mengapa membuatku menderita dengan mengatakan ingin berpisah?” kataku melanjutkan. “Atau … apa kamu sedang menyukai seseorang?!”

Ia berusaha mengatur suaranya sebelum menjawab. “Aku tak pernah mencintai seorang pun selain kamu …”

Detik demi detik kemudian berjalan dengan lambat. Kami saling menatap dalam diam. Kami tak lagi malu berbagi tangis kami. Kami tak lagi malu menunjukkan sisi terlemah kami pada satu sama lain.

 

The end.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here