CERPEN – PERASAAN BUKAN PILIHAN

0
295

Perasaan Bukan Pilihan

Oleh Wasilatul Maghfiroh

 

Sederhananya sebuah sakit seperti ini, pernahkah kau ditinggalkan hanya karena kau tak berbakat dalam menerjemahkan perasaan seseorang? Pernahkah kau harus berjalan mundur secara teratur karena kebaikanku yang terlalu lugu untuk menganggap semuanya baik-baik saja? Pernahkah kau dihadapkan dengan sebuah pilihan, namun ketika kau memilih salah satu di antaranya maka kau kehilangan semuanya?

Aku perempuan yang katanya ditakdirkan memiliki kepekaan yang tinggi hanya bisa merutuki kebodohan bahwa aku terlalu erat menggenggam hingga kamu enggan. Aku harus segera berkemas agar potongan hati kita tak lagi tercecer di jalan. Kamu sudah lama berkemas rupanya sampai-sampai kini engkau sudah siap dengan perjalanan hidup yang baru. Segera pergilah! Bukankah kau tahu bahwa seluruh wanita di dunia memiliki kode yang aneh. Tak mengapa aku melepasmu. Pergilah! Sebelum kau mengerti kode itu, karena aku takut kau lupa bahwa aku salah satu yang mempunyai kode perempuan itu.

Akhirnya setelah sekian lama aku tumbuh dengan perasaan berdebar, kini aku harus membunuhnya dengan tak sabar. Aku sempat berpikir tentang kejadian di mana kamu lebih memilih berteman. Aku hanya bisa tesenyum kecut dengan alasan palsumu itu. Jika aku mengingatnya aku tak bisa berkata apa-apa. Jangankan untuk  berkata, “aku sakit hati” berkata, “hai” saja ketika bertemu denganmu lidahku kelu semenjak kejadian saat itu. Aku ingin marah ketika kamu memutuskan ikatan yang sudah susah payah aku jamah. Tapi sekali lagi rasa takutmu mengalahkanmu kembali.

Kamu takut aku terlalu masuk dalam hidupmu, mungkin juga kau takut bahwa aku akan menggantikan posisi sahabatmu. Sepenting itu ternyata arti sahabat bagimu. Entah aku harus merasa beruntung pernah mencintai laki-laki bersolidaritas tinggi atau bahkan menyesal karena pernah mencintai laki-laki bodoh yang tak tahu mana bedanya teman rasa pacar. Bahkan kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa kau sama sekali tak perlu merasa rugi dalam posisi ini, karena tak akan ada yang  bersedia bersaing dengan kawan yang sudah lama berada dalam bagian hidupmu. Aku yang harus mencoba mengubur kuat-kuat rasa tak enak itu. Sekali lagi aku gagal membuatmu mengerti. Kamu hanya mengerti jika kamu memutuskan semua ini maka tak akan ada yang tersakiti.

Keputusanmu awalnya membuatku jatuh terpuruk. Namun, lambat laun aku akan sadar bahwa keputusanmu sangat bijak. Pernah suatu sore aku melihatmu tertawa lepas dengan sahabatmu itu. Kamu selalu tersenyum ketika dia berceloteh riang kepadamu. Sesekali kamu mengelus pipinya yang merah merona karena tersipu waktu kamu memandangnya dengan lekat. Kamu yang terus menggenggam tangannya seakan kau takut ia terlepas. Ah, Ramadhan, maafkan aku yang diam-diam masih memperhatikanmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu saat jauh dariku. Samakah sepertiku? Kalau boleh jujur aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku cemburu. Ketika kita masih bersama waktu aku bercerita kamu selalu saja menimpali dengan cerita baru tentang sahabatmu dengan senyum yang sangat merekah. Aku sekuat hati mencoba tersenyum setulus mungkin agar kau tersipu, namun sering kali gagal.  Justru kamu yang sering membuatku tersipu. Aku sadar aku memang telah merebut banyak hal tentang kebahagiaanmu. Aku terlalu menutup mata jika kamu hanya menganggapku pilihan ketika sahabatmu sedang jauh. Wajah tenangmu sama sekali tak menggambarkan rasa lelah akibat kau menahan rindu. Aku lupa bahwa kau bukan Dilan yang mengatakan rindu itu berat. Berbeda sekali denganku. Lihatlah! Aku harus memakai bedak tebal di sekitar daerah mataku. Aku harus belajar memakai lipstik yang sering digunakan teman-temanku agar aku juga dapat terlihat baik-baik saja dilepas olehmu. Aku harus belajar menutup wajah polosku karena aku masih suka pucat ketika bertatap denganmu.

Bukan perkara siapa yang terlalu jatuh cinta dalam keadaan ini. Bahkan ketika kau membaca tulisan ini kau juga mengerti bahwa perjuanganku untuk memiliki ikatan denganmu tidaklah mudah. Aku diam-diam mengagumimu semenjak kita masih berada dalam masa putih abu-abu. Kamu yang sangat menawan ketika siaga dalam menangani teman-teman yang sakit, kamu yang berwibawa ketika manjadi pemimpin komunitas kesehatan. Entah takdir ini baik atau justru hanya ingin bermain-main, aku yang selepas SMA ingin menepis rasa kagumku yang tak kunjung hilang justru kita dipertemukan di perguruan tinggi yang sama. Saat itu aku sudah memperjelas perasaan abu-abuku. Sebisa mungkin aku mengubah diri menjadi lebih baik, karena orang baik sepertimu pasti akan mendapatkan orang baik pula.

Aku diam-diam terus mengamatimu dari kejauhan. Aku tak berani bertegur sapa denganmu. Aku hanya bisa diam sembari mempelajari keadaan. Aku tak bisa berbuat seperti kebanyakan yang dilakukan orang-orang ketika jatuh cinta. Merayu? Aku takut bukannya kau tersipu malah kamu terganggu. Menyatakan cinta sesungguhnya? Aku perempuan yang kodratnya hanya untuk bersabar. Aku hanya dapat menunggu hingga jarak dan waktu bersedia mendekatkan. Hingga waktu itu pun tiba saat kamu berada dalam satu komunitas kemanusiaan denganku. Seiring berjalan waktu kita dekat lalu entah bagaimana caranya kamu tiba-tiba mengatakan bahwa kau menyukaiku dan kita memutuskan untuk membuat ikatan yang pada akhirnya menjerat kita terlebih hatimu.

“Bagaimana kalau kita berteman saja, Na?” ucapnya dengan kepala tertunduk.

“Berteman bagaimana maksudmu?”

“Kita ubah ikatan kita menjadi pertemanan saja agar kita lebih bebas dan tidak ada yang tersakiti satu sama lain.”

“Kita bebas? Atau kamu yang ingin bebas sendiri?”

“Aku tak mau membuat keputusan yang salah lagi, aku sadar bahwa aku dibutakan oleh cinta sampai-sampai sahabatku merasa aku berubah. Aku tak mau itu terjadi.”

“Cinta buta? Kamu tidak buta tapi aku yang buta, Ram. Benar ini keputusan yang salah jadi pergilah, Ram! Jangan membuat sahabatmu kehilangan sama sepertiku juga.” ucapku dengan sedatar mungkin agar aku tak terlihat lemah.

“Kamu pasti mendapatkan yang lebih baik daripada aku, Na. Maaf sudah membuatmu kecewa dan terima kasih sudah mengajariku tentang perbedaan rasa sayang sebagai sahabat atau bukan.”

Aku akan mendapatkan yang lebih baik, Ram. Sekarang aku mengerti mengapa ketika seorang perempuan dan laki-laki ketika bersahabat banyak yang kalah oleh perasaan cinta, yang kalah ialah yang jatuh cinta terlebih dahulu, karena dalam persahabatan perasaan nyaman, cinta, dan cemburu terlihat abu-abu. Tak akan ada yang bisa menyalahkan dalam sebuah perasaan cemburu kepada sahabat. Semua perasaan mereka yang lebih dari sekedar sahabat ditutupi oleh alibi “status persahabatan”.

Rasanya memang menyakitkan ketika kita dilepaskan dan sudah terbuang dari pilihan. Namun, bagaimana sakitnya hidup harus tetap berjalan bukan? Aku terlalu sibuk memperbaiki diri di depan matamu. Hingga aku lupa bahwa aku juga memperburuk diri dengan keadaan rapuh seperti ini di depan matamu. Aku butuh waktu untuk melupakan hingga aku harus berdamai dengan ikatan yang benar-benar terputus. Tak ada yang salah memang ketika seseorang yang pernah berdebar pada perasaan kemudian harus terpisah karena suatu alasan harus bersikap layaknya orang tak kenal. Bukan karena masih cinta atau saling menyalahkan. Namun, memang di sudut hati yang paling absurd bernama kenangan terkadang seakan menjadi radius tersendiri untuk membentengi diri kita dengan pencipta kenangan.

Sebenarnya terlepas darimu bukanlah perkara yang mudah. Aku harus mengubur dalam-dalam. Menangis diam-diam. Aku tahu rasanya mendapatkan sesuatu agar ikhlas melepaskan untuk orang lain. Kamu memang benar kita adalah sebuah kesalahan. Aku takkan mengingat rasa sakitnya. Percuma, jodoh sudah ditentukan dalam hati masing-masing orang. Seberapa lama kamu tertawa dengan orang lain, aku akan menunggu tawanya reda. Jika bukan, sederhana kita hanya perlu mengingat jika kita mempunyai sekelumit masa lalu, saling merasakan dalam diam, kamu diam dengan perasaan lepasmu dan aku diam dengan perasaan rumitku. Kita pernah menjalankan sekelumit waktu di mana kamu memutuskan untuk mengatakan bahwa sudah waktunya kita bersekat. Kita sudah terlalu lama jauh dan terdiam. Suatu saat nanti dalam kisah ini kamu harus tahu bahwa terkadang laki-laki harus lebih merasa karena pada hal terentu wanita tidak bisa bersuara.

 

Teruntuk Kamu yang Tengah Kalah oleh Keadaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here