DENGAR: Aplikasi Mood Tracker sebagai Upaya Membantu Perempuan dan Anak Penyintas Kekerasan Seksual yang Mengalami Gangguan Kecemasan

DENGAR: Aplikasi Mood Tracker sebagai Upaya Membantu Perempuan  dan Anak Penyintas Kekerasan Seksual yang Mengalami Gangguan  Kecemasan 

Oleh: 

Rayza Ilfie Azkya Ashgarie 

Psikologi / Universitas Negeri Malang 

Sexual Assault atau kekerasan seksual menurut Rose (dalam Chivers Wilson, 2006) adalah segala bentuk kontak seksual tanpa persetujuan yang sifatnya  sukarela dan melanggar rasa otonomi, kontrol, dan penguasaan seseorang atas  tubuh mereka. Beberapa bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan  termasuk namun tidak terbatas pada perkosaan, percobaan perkosaan, pelecehan,  eksploitasi, perbudakan hingga kontrol seksual. 

Saat ini, banyak sekali kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia.  Hal ini diperkuat oleh Catatan Tahunan (CATAHU) milik Komnas Perempuan  yang menyatakan bahwa dalam kurun tiga tahun terakhir ini kekerasan seksual pada  perempuan mencapai angka 822 kasus pada tahun 2019, 962 kasus pada 2020 dalam  ranah publik, dan 3.144 kasus di tahun 2021. Data lain menyebutkan bahwa anak-

anak juga mungkin menjadi korban kekerasan seksual. KemenPPPA selama tiga  tahun berturut-turut mencatat adanya kenaikan jumlah kasus kekerasan seksual  pada anak yakni masing-masing 6.454 kasus, 6.980 kasus, dan 8.730 kasus  (Kompas.com, 2022). Sedangkan per 15 Juni 2022, sudah tercatat 4.466 kasus yang  tercatat pada Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak  (SIMFONI-PPA), situs yang menghitung jumlah kekerasan pada perempuan dan  anak secara realtime

Dampak kekerasan seksual dapat terlihat secara biologis, psikologis hingga  kemampuan bersosialisasi penyintasnya (Chivers-Wilson, 2006). Beberapa  dampaknya menurut Polusny dan Follete (dalam Pilgrim, 2009) ialah korban  kekerasan seksual berpeluang untuk mengalami gangguan makan, cemas, depresi,  penyalahgunaan obat-obatan, somatisasi, dan gangguan kepribadian. Selain itu,  PTSD juga sangat mungkin ditemukan pada penyintas kekerasan seksual (Noviana,  2015). Diantara banyaknya dampak tersebut, kecemasan perlu diperhatikan lebih  lanjut, meski tanpa mengabaikan dampak lainnya. Hal ini sebab gangguan  kecemasan sangat mungkin menjadi pionir gangguan kesehatan mental lainnya.  Pernyataan ini diperkuat oleh beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh Sander  dkk (2021) yang menemukan bahwa kecemasan berkorelasi dengan gangguan  makan yang lebih parah dan Kalin (2020) menemukan bahwa kecemasan dan  depresi sering kali menyertai satu sama lain. Maka, bisa dikatakan bahwa gangguan  kecemasan pada kekerasan seksual sangat memerlukan perhatian khusus karena  jelas dapat sangat mengganggu kehidupan penyintas kekerasan seksual.  Sebagaimana yang dikemukakan oleh Chaudhary dkk (2012) bahwa korban  kekerasan seksual memiliki jumlah hari yang banyak ketika mereka mengalami 

kesulitan berkonsentrasi, kesulitan tidur, nafsu makan yang buruk, sedikit minat  atau kesenangan dalam kegiatan, menyalahkan diri sendiri atas kegagalan  melindungi diri, merasa tertekan, dan memiliki sedikit energi. Tentu hal ini apabila  tidak didekati, didukung dan dibantu untuk mencari bantuan, penyintas kekerasan  seksual rawan memunculkan hasrat untuk mengakhiri hidup. 

Perawatan gangguan kecemasan yang dialami oleh penyintas kekerasan  seksual dapat dilakukan dengan dua pendekatan yakni psikologis (psikoterapi) dan  bantuan obat (farmakoterapi). Dilansir dari Chivers-Wilson (2006), farmakoterapi  adalah terapi menggunakan obat-obatan yang bisa digunakan untuk membantu  penyintas kekerasan seksual dalam menghadapi trauma akibat stres berat yang  dirasakannya dengan tujuan utama mengurangi gejala inti seperti kecemasan.  Sedangkan psikoterapi adalah terapi psikologis yang bertujuan untuk meningkatkan  kualitas hidup penyintas, misalnya melalui Cognitive-Behaviour Therapy (CBT),  sebuah terapi yang berfokus pada kognitif dan sikap. Tentunya, pemberian obat obatan dan terapi hanya bisa dilakukan oleh tenaga ahli yang kompeten. 

Perawatan dan/atau pengobatan yang dilakukan oleh tenaga ahli seperti  psikolog dan psikiater biasanya akan disertai dengan meminta klien mengamati  dirinya sendiri. Hal ini karena pastinya penyintas tidak setiap saat bersama dengan  psikolog atau psikiaternya. Akan tetapi, biasanya akan sulit bagi orang dengan  gangguan kecemasan untuk menuliskannya di secarik kertas ataupun berbagi  kepada orang lain. Oleh karena itu, aplikasi mood tracker yang bisa diisi sendiri  oleh penyintas agar menjadi wadah baginya menuangkan perasaannya bisa menjadi  alternatif. 

Mood tracker adalah pelacak suasana hati yang bertujuan untuk mengamati  bagaimana suasana hati seseorang dalam kesehariannya. Menurut penelitian yang  dilakukan oleh Schueller (2021), menggunakan aplikasi pelacak suasana hati  memfasilitasi kesadaran diri (self-awareness) dan membantu pengisinya melihat  kembali pengalaman emosi atau suasana hati sebelumnya untuk memahami apa  yang terjadi. Hal ini dapat bermanfaat bagi penyintas kekerasan seksual yang  mengalami kecemasan karena ia dapat merincikan apa yang dirasakannya sehingga  mempermudah proses pemulihan dan diharapkan dapat membantunya ketika tidak  sedang bersama psikolog atau psikiaternya melalui isi konten yang positif seperti  afirmasi. Dipandang dari deskripsi ini, maka bisa dikatakan bahwa aplikasi mood  tracker dapat membantu masyarakat menghadapi era society 5.0 yang mana  menurut Fukuyama (dalam Sugiono, 2020) tujuan era society 5.0 adalah  membangun masyarakat yang manusia-sentris hingga membuat setiap orang dapat  menikmati hidup yang berkualitas, yang memaknai bahwa termasuk pula penyintas  kekerasan seksual. 

DENGAR adalah sebuah aplikasi yang dapat membantu perempuan dan  anak penyintas kekerasan seksual yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh  penyintas serta dapat dikoneksikan dengan kerabat atau orang terpercaya dari  penyintas untuk mendeteksi suasana hati yang dialami oleh penyintas. DENGAR 

digunakan sebagai nama aplikasi untuk memaknai bahwa penyintas kekerasan  seksual ingin didengar kisahnya tanpa penghakiman, didengar perasaannya tanpa  diremehkan, dan dibantu serta didukung. 

Untuk dapat menggunakan aplikasi DENGAR ini, pengguna perlu  mendaftarkan diri terlebih dahulu. Layaknya aplikasi biasanya, ada data yang harus  diisi, seperti nama, email, nomor handphone, password, dan identitas orang yang  akan dikoneksikan dengan penyintas. 

Aplikasi ini secara umum akan berisi catatan harian, rekam rasa, lihat ini,  suara ini, dan dengar aku. Kelima fitur ini disediakan untuk memberikan wadah  bagi penyintas mencurahkan perasaannya dan sebagai pemantauan dari pihak yang  dipercayai oleh penyintas. Pada fitur pertama, catatan harian, ialah fitur yang bisa  diisi oleh penyintas secara bebas. Akan ada pilihan untuk menulis ataupun mencoret  bebas yang disertai dengan bermacam-macam warna, dengan tujuan untuk  membebaskan penyintas bercerita. Selanjutnya, ada fitur rekam rasa, fitur yang  pengisiannya bisa dilakukan dengan memilih yang manakah suasana hati penyintas  pada rentang waktu tertentu. Rekam rasa akan menyediakan beragam jenis emosi  sehingga penyintas dapat melakukan tracking sejak pagi hingga malam, karena  biasanya akan berbeda setiap waktunya. Fitur rekam rasa juga dapat merespon  penyintas apabila terdeteksi seharian penuh atau sudah banyak waktu yang diisi  dengan emosi yang mengarah pada kecemasan. Respon yang dimaksud seperti  pertanyaan terbuka ataupun konten positif, tujuannya agar lebih interaktif untuk  meyakinkan penyintas bahwa apapun yang terjadi, ia akan didengarkan. Sedangkan  fitur lihat ini dan suara ini adalah fitur konten positif yang akan disediakan dalam  aplikasi DENGAR. Lihat ini berisikan afirmasi positif, quotes, dan artikel positif.  Suara ini berisikan podcast ataupun audio musik penenang bagi penyintas. 

Terakhir, fitur dengar aku. Ini adalah fitur yang bersifat sebagai permintaan  pertolongan secara langsung dari penyintas ketika gangguan kecemasannya  kembali dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aplikasi ini akan berdering keras baik  pada ponsel penyintas dan pada ponsel pihak yang dikoneksikan apabila penyintas  menekan tombol dengar aku agar membantu menenangkan penyintas kekerasan  seksual. Tombol dengar aku dari aplikasi ini juga bisa dinyalakan untuk aktif ketika  layar terkunci, sehingga penyintas tidak perlu membuka aplikasi untuk menekan  tombol dan meminta bantuan darurat. 

Perbedaan aplikasi DENGAR dengan aplikasi mood tracker lainnya adalah  adanya pengkoneksian akun antara pengguna (dalam hal ini penyintas) dengan  orang terpercayanya sehingga apabila suatu waktu memerlukan bantuan darurat  secara langsung, pengguna dapat segera memperolehnya. Dengan aplikasi yang  mempunyai fitur unggul, diharapkan dapat mendorong masyarakat yang sadar akan  kekerasan seksual dan membantu penyintas sehingga setiap manusia dapat  menikmati hidup yang berkualitas. 

Manusia perlu memiliki kendali penuh atas dirinya. Akan tetapi, hal tersebut  tentunya sulit bagi mereka yang pernah mengalami peristiwa traumatis yang 

mengancam jiwa seperti kekerasan seksual. Salah satu dampak dari kekerasan  seksual yang perlu diperhatikan lebih -tanpa mengabaikan dampak lain- adalah  mengalami gangguan kecemasan. Kecemasan bisa datang kapan saja. Oleh karena  itu, aplikasi DENGAR bertujuan agar kerabat dekat dari penyintas dapat memantau  kondisi penyintas sehingga dapat memberikan pertolongan secepat mungkin ketika  penyintas mulai tidak baik-baik saja. Selain itu, aplikasi DENGAR juga bisa  membantu tracking suasana hati sehingga dapat mengarahkan penyintas pada  bantuan yang sesuai. 

Selain itu, pengadaan aplikasi ini dinilai akan cocok dan diperlukan untuk  menghadapi era society 5.0 karena eksistensinya dapat mempersiapkan masyarakat  untuk lebih peduli terhadap isu kekerasan seksual dengan lebih sigap sehingga  dapat membantu penyintas agar memiliki hidup yang lebih berkualitas. Oleh karena  itu, sebagai generasi muda yang telah menyadarinya, patut untuk menyebarkan  kesadaran ini kepada khalayak dengan memanfaatkan pendekatan yang lebih baik  yakni melalui pengadaan aplikasi pada ponsel, karena sebagaimana diketahui  bahwa ponsel sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat.

DAFTAR REFERENSI 

Chivers-Wilson K. A. 2006. Sexual Assault and Posttraumatic Stress  Disorder: A Review of the Biological, Psychological and Sociological Factors and  Treatments. McGill Journal of Medicine. 9(2):111–118. 

Choudhary, E., Smith, M., dan Bossarte, R. M. 2011. Depression, Anxiety,  and Symptom Profiles Among Female and Male Victims of Sexual Violence.  American Journal of Men’s Health. 6(1):28–36. 

Fauzia, M. 2022. KemenPPA : 797 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Sepanjang  Januari 2022. URL: https://nasional.kompas.com/read/2022/03/04/17062911/kemenpppa-797- anak-jadi-korban-kekerasan-seksual-sepanjang-januari-2022?page=all#. Diakses tanggal 15 Juni  2022. 

Kalin, N. H. 2020. The Critical Relationship Between Anxiety and  Depression. American Journal of Psychiatry. 177(5):365–367. 

Komnas Perempuan. 2021. CATAHU 2021: Catatan Tahunan Kekerasan  Terhadap Perempuan Tahun 2020. Perempuan Dalam Himpitan Pandemi:  Lonjakan Kekerasan Seksual, Kekerasan Siber, Perkawinan Anak dan  Keterbatasan Penanganan di Tengah COVID-19. Komnas Perempuan. Jakarta 

Komnas Perempuan. 2022. Lembar Fakta dan Poin Kunci Catatan Tahunan  Komnas Perempuan Tahun 2022. Bayang-bayang Stagnansi: Daya Pencegahan  dan Penanganan Berbanding Peningkatan Jumlah, Ragam dan Kompleksitas  Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan. Komnas Perempuan. Jakarta. 

Noviana, P. (2015). Kekerasan seksual terhadap anak: dampak dan  penanganannya. Sosio Informa. 1 (1):13–28. 

Nixon, R. D., Resick, P. A., & Griffin, M. G. 2004. Panic following trauma:  the etiology of acute posttraumatic arousal. Journal of anxiety disorders. 18(2):93– 210. 

Pilgrim, D. 2009. SAGE key concepts: Key concepts in mental health. Edisi  Kedua. SAGE Publications. Los Angeles. 

Sander, J., Moessner, M., & Bauer, S. 2021. Depression, Anxiety and Eating  Disorder-Related Impairment: Moderators in Female Adolescents and Young  Adults. International journal of environmental research and public health. 18(5):  2779. 

Schueller, S. M., Neary, M., Lai, J., & Epstein, D. A. 2021. Understanding  People’s Use of and Perspectives on Mood-Tracking Apps: Interview Study. JMIR  mental health. 8(8):e29368. 

SIMFONI-PPA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan  Anak. 2022. Jenis Kekerasan yang Dialami Korban. URL:  https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan. Diakses tanggal 15 Juni 2022. 

Sugiono, S. 2020. Industri Konten Digital Dalam Perspektif Society 5.0  (Digital Content Industry in Society 5.0 Perspective). JURNAL IPTEKKOM  (Jurnal Ilmu Pengetahuan & Teknologi Informasi). 22(2):175-191

Related posts

Leave a Comment