Dimensi Ruang Raya

Dimensi Ruang Raya
Oleh: Amalia Yasrina

Suatu hening di malam sepi, ada sebuah sekat yang membedakan alam sadar manusia dengan dunia kenyataan. Kebanyakan dari sekian miliar dari dunia alam sadar itu meninabobokan setiap insan hingga jatuh terjerembab dalam kehidupan yang fana. Jujur saja, aku cukup realistis memilih dunia bak negeri dongeng itu. Seolah membangun serangkaian cerita paling romantis dengan dirimu yang menunggangi seekor kuda putih. Layaknya seorang raja dengan seorang putri yang tengah menjalin kisah asmara. Sayangnya, selalu berakhir tragis saat dua bola mata saling bertatap dan bertemu.

 “Cih,”

Anehnya, aku masih sama saja dengan kebanyakan manusia. Masuk dengan pilihan pintu berbeda, kemudian terjebak dalam dimensi ruang yang hampir sama. Padahal, aku sendiri tahu, jam di luar sana selalu bergerak tiap detiknya.  Coba bayangkan, berapa miliar denting jam yang sudah kubuang. Tapi kamu tahu `kan alasan aku memilih dunia mimpi itu? Ya, hanya sekadar ingin bertemu denganmu.

Malam masih panjang. Aku mendengar sayup suaramu yang memanggilku di tengah hiruk-pikuk keramaian, di mana orang-orang ramai berdatangan. Mereka menyuguhkan kesenduan dalam upayaku menguatkan diri. Terkadang juga menantikan sebuah cerita kesan terindahmu selama perjalanan di masa terakhir kita. Lagi-lagi aku bergejolak ingin berteriak. Mengapa tak enyah saja mereka dari pandanganku? Apa yang mereka tunggu? Apakah sebuah cerita dari rasa kehilangan? Apa mereka pikir, aku sanggup bersuara jika itu tentangmu?  

Dadaku sudah penuh sesak. Ada sedikit air yang menggenang di kelopak mata. Mungkin akan jatuh sebentar lagi. Aku menghela napas panjang. Kukira akan bisa menahan air itu jatuh. Namun nyatanya tak sanggup lagi. Spontan aku memilih lari meninggalkan orang-orang itu di teras rumah sekencang-kencangnya. Berusaha masuk ke sebuah tempat paling nyaman dan tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku.

Diarrr!!! Aku membanting pintu sekuat tenaga dan menguncinya dengan rapat.

“Raya…?” sebuah sumber suara terdengar memanggilku.

Cukup, aku tidak peduli. Aku bingung harus berpura-pura seperti apa lagi? Di sisi lain, suara mereka semakin kencang, hingga menggedor-gedor pintu kamar, huft.

Tok..tok..tok

“Raya…? Tolong buka, Nak.”

Alih-alih tak tahan mendengar suara itu, aku menutup rapat-rapat kedua telinga. Dadaku bertambah sesak dan banjir air mata pun terjadi. Tolong hentikan! Aku hanya ingin menikmati ruang dimensiku sendiri. Apa kalian tidak dengar??! Kalian tak perlu iba padaku. Aku hanya perlu kepercayaan diriku. A…, a…, aku hanya menginginkan sosokmu untuk hadir. Sosok yang selalu percaya bahwa aku mampu.  

***

“Raya, bangunlah.” Suara hangat itu berlabuh di telingaku.

“A…, Ayah. Apa benar ini Ayah?” tanyaku dengan suara sedikit bergetar.

“Ya, sayang. Ini Ayah.”

Akhirnya, aku melihat lagi senyum lepas itu. Langsung saja, kupeluk erat tubuhnya yang mulai menua. Lantas, tangannya mengusap kepalaku dengan perlahan. Sungguh lembut.

“Ayah, apakah aku boleh bertemu denganmu di sini, kapanpun aku ingin bertemu?”

“Tentu saja, kamu bisa memanggilku kapan saja. Namun, ada yang harus kukatakan sebelum itu.”

“Apa itu?”

“Kamu adalah gadis terhebat Ayah, selamanya akan begitu. Apa kamu ingin berjanji satu hal?”

“Apapun itu, Ayah. Hal terpenting ialah aku bisa menemuimu setiap malam.”

“Berjanjilah, apapun yang terjadi, tetaplah berusaha sekuat tenaga. Jangan menyalahkan keadaan. Kamu mengerti?”

“Iya, Ayah. Raya mengerti,” kataku sembari mengangguk.

***

Setelah mimpi itu hadir, hari-hariku sedikit berubah. Mungkin memang benar, aku menjalani hari tanpa kehadiranmu lagi. Namun, bukan berarti aku tidak sanggup untuk terus melanjutkan hidup. Meskipun berat, aku harus terus mencoba, apapun itu, selagi aku mampu. Lagi pula ada dua wanita yang masih membutuhkan kehadiranku. Satu bidadari terkecilmu dan satu lagi kekasih sepanjang hayatmu. Tunggu aku, aku pasti akan mewujudkan impianmu dan menepati janjiku.

SneakersbeShops® , Shop Online For Luxury, High-End Fashion, Expensive & Authentic Designer Brands | air force purple heart , Giftofvision

Related posts

Leave a Comment