Ego

Ego

Oleh: Istina

“Eleena!” Aku berteriak di antara kerumunan manusia, berdiri di ambang pintu mobil setelah aku melihatnya dari kaca spion keluar dari salah satu toko roti. Aku menatapnya tak percaya. Segera, setelah aku menutup pintu mobil, aku mengejarnya. Membelah kerumunan yang semakin memadat.

“Eleena!” Aku berteriak sekali lagi. Cukup kencang hingga beberapa orang yang berada di sekitar ikut menoleh tapi wanita itu terus berjalan tak menggubris panggilan indahku. “Eleena!” Sial, dia semakin menjauh.

“Papa,” samar-samar aku mendengar suara anak kecil memanggil dan berlari menghampiriku.

“Papa dari mana? Kenapa pintu mobil tidak terkunci?” Mata hitam polosnya menatapku dengan penuh pertanyaan. “

Papa sedang mengejar seseorang, ya? Tadi di dalam gedung tempat Iyas kursus, Iyas mendengar Papa berteriak seperti memanggil seseorang.”

“Kalau tidak salah, Papa tadi memanggil Eleena.”

“Tapi, Pa, bukannya nama Mama juga Eleena? Iya, kan, Pa?” Aku terlalu asik mengejarnya hingga aku lupa tujuanku saat ini adalah menjemput Iyas dari tempat kursus. Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan putraku. Lalu, mengajaknya pulang.

***

Wanita yang tak menggubris panggilanku tadi bernama Eleena. Aku yakin seratus persen wanita itu adalah Eleena, istriku. Aku bertemu dengan dia di kelas umum saat kuliah. Pertemuan itu singkat tapi meninggalkan suatu kesan padaku. Dia wanita cerdas, berani, keras kepala,  dan ambisius. Memiliki tinggi rata-rata wanita asia, rambut hitam bergelombang, serta mata hitam menawan yang ia turunkan pada Iyas. Pandangan mata yang menusuk seperti elang ketika sedang serius dan mata menyipit ketika sedang tersenyum adalah ciri khas Eleena. Aku dan Eleena berasal dari jurusan yang berbeda. Dia berasal dari jurusan Bioteknologi, sedangkan aku berasal dari jurusan Seni Musik. Setelahnya, kami dipertemukan kembali pada suatu unit kegiatan mahasiswa melukis. Tak kusangka dia telah bergabung lebih awal dari aku walaupun aku lebih dulu masuk ke universitas, sejak saat itu kami menjadi dekat.

Setelah lulus aku dan Eleena hilang kontak. Kami terlalu sibuk dengan mimpi masing-masing. Beberapa tahun kemudian, aku bertemu dengan Eleena lagi di perusahaan tempat aku bekerja sebagai produser musik. Saat itu Eleena bilang padaku dia bekerja di perusahaan musik hanya ingin mengisi waktu libur kerjanya. Eleena bekerja di bagian desain grafis album musik. Penjelasan yang tidak masuk akal pikirku. Aku hanya berfikir alasan tersebut hanya untuk menutupi rasa malu Eleena karena belum diterima kerja di laboratorium impiannya. Iya, aku menghargai ucapannya. dan kami kembali dekat.

Selang dua tahun, Eleena mengundurkan diri dari perusahaan musik dan beralih profesi sebagai ilmuwan. Lebih tepatnya ia berhasil menggapai mimpinya. Kami sadar, kami memiliki kesibukan masing-masing. Kesibukan Eleena sebagai ilmuwan dan kesibukan aku sebagai produser musik tak membuat hubungan kami menjadi renggang. Kami selalu mencuri waktu di sela-sela kesibukan untuk bertemu walau sekadar lewat video call. Saat itu aku berfikir, sebelum semakin banyak kesibukan mengambil waktu kami, aku memutuskan untuk melamar Eleena, dan akhirnya kami menikah.

Kehidupan pernikahan tak semulus yang aku duga. Banyak percikan-percikan muncul di antara kami. Puncaknya setelah kami dikaruniai sepasang anak kembar fraternal, bernama Iyes dan Iyas.

“Kau yang bilang padaku saat itu, ketika kita sudah punya anak, kau akan berhenti bekerja.”

“Aku tahu dan aku sadar ketika mengatakannya.”

“Kau juga sudah bilang padaku saat kau hamil, kau sudah mengajukan surat pengunduran diri. Apa kau berbohong padaku saat itu?”

“Aku tidak berbohong, Joon, aku telah mengajukan surat pengunduran diri dari pekerjaanku dan aku sudah keluar.”

“Tapi mengapa kau menerima ajakan penelitian lagi dari profesormu? Harusnya kau menolak.”

“Aku tidak bisa, Joon.”

“Kenapa?”

“Karena bidang ilmu penelitian beliau adalah bidang ilmu yang aku impikan sejak dulu.”

Solusi yang muncul setelah perdebatan panjang adalah kami memutuskan untuk berpisah. Aku tekankan kami hanya berpisah bukan ‘berpisah’, serta membagi 2 hak asuh anak kami. Iyas ikut denganku tinggal di Kota S, sedangkan Iyes ikut dengan Eleena tinggal di Kota X ketika mereka berusia 3 tahun. Saling bertukar cerita hanya melalui panggilan video call. Sedikit egois, tapi itu hanya satu-satunya solusi yang kami dapatkan.

***

“Pa..” panggil Iyas.

“Iya, ada apa anakku?” Jawabku sambil sibuk menggoreng ayam, makanan kesukaan Iyas.

“Mama dan Iyes sampai di Kota S kapan?”

“Entahlah, Papa juga kurang tahu.”

“Tapi kemarin Iyes bilang kalau mereka berangkat dari Kota X ke Kota S semalam, jadi harusnya mereka sudah sampai di Kota S sejak tadi siang, Pa,” ucapnya dengan raut wajah serius. Dia sungguh sangat mirip dengan Eleena.

“Kamu semakin hari semakin pandai menganalisis, anak siapa, sih, kamu?” ucapku sambil tersenyum gemas.

“Anak Papa dan Mama,” ucap Iyas dengan nada bangganya.

***

Malam ketika alunan musik yang dikeluarkan gandaran digantikan oleh gesekan kedua sayap jangkrik, aku memikirkan perkataan Iyas. Jika mereka ikut penerbangan cepat dari Kota X, mereka harusnya sampai di Kota S sejak tadi siang. Jika itu benar, sore hari ketika aku menjemput Iyas pulang kursus, wanita yang keluar dari toko roti itu adalah Eleena.

Lantas aku bangun secara perlahan agar mimpi Iyas tidak terusik oleh gerakanku, mengambil telepon genggam dan menghubungi Eleena.

Halo,” ucap Eleena dengan suara parau.

“Kamu belum tidur? Apa kamu sakit?” tanyaku cemas.

Tidak, aku tidak sakit. Aku baru selesai mengerjakan laporan.

“Iyes sudah tidur?”

Iya, Iyes sudah tidur 3 jam yang lalu.

Lenggang sejenak, hanya suara nafas kami yang mengisi saluran satelit telepon.

“Kamu di mana sekarang?” ucapku tanpa basa-basi.

Dari seberang sana aku mendengar dia menghembuskan napas berat.

Kamu sudah tahu, ya?” Aku membayangkan saat ini Eleena pasti tersenyum simpul.

“Tolong katakan yang sejujurnya, aku berjanji tidak akan marah,” ucapku sambil meremas bantal sofa ruang tamu.

Aku sudah di Kota S. Tadi setelah pesawat landing, Iyes mengalami mabuk udara jadi kami singgah sejenak di salah satu hotel di dekat tempat Iyas kursus.

“Kenapa kau tidak menghubungiku Eleena?”

Aku dan Iyes berencana ingin memberikan kejutan padamu dan Iyas, tapi sepertinya gagal. Aku tadi mendengarmu memanggilku ketika aku keluar dari salah satu toko roti di sana tapi aku sengaja tidak menggubris panggilanmu. Maaf.

Aku mengehela napas sejenak, memijat pelipisku  Lalu, melanjutkan berbincang, “Sudahlah itu tidak terlalu penting sekarang. Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?” tanyaku penuh selidik.

Joon, aku menyerah. Aku menyerah menjadi sosok pendampingmu, tapi aku tidak akan menyerah menjadi sosok ibu untuk Iyes dan Iyas,” aku mendengar intonasi Eleena seperti menahan tangis. “Maaf, aku tahu ini terdengar egois, tapi aku tidak bisa terus seperti ini.

“Eleena…”

Apa kau ingat perjanjian pernikahan kita? Jika aku tidak sanggup memenuhi janjiku, maka kau akan…

“Melepaskanmu, begitu, kan?” sambungku, “Aku tidak bisa.”

Kau harus bisa, Joon. Lepaskan aku, aku tidak bisa menepati janjiku untuk berhenti bekerja dan biarkan kehidupan kita kembali menjadi normal.

“Dan membiarkan anak-anak tumbuh tanpa sosok ibu?”

Joon, aku lelah. Aku dan Iyes akan pulang ke apartemen kita besok pagi. Aku harus segera tidur. Semua berkas-berkas sudah aku siapkan. Kita lanjutkan pembicaraan ini besok. Selamat tidur, Joon.

Eleena memutuskan telepon sepihak. Aku membiarkan ponselku tergeletak di atas karpet bulu, sedangkan aku sudah berada di balkon apartemen. Menghirup udara malam sambil melihat gemerlap lentera yang menyala. Aku memejamkan mataku dan berpikir sepertinya kami akan benar-benar ‘berpisah’.

~

Related posts

Leave a Comment