Ekuilibrium

Ekuilibrium
Oleh: Rizkita Kuscahyani

Jemari mungilnya menggenggam erat jempolku dengan kuat. Sayangnya, genggamannya mulai merenggang dibasahi oleh titik-titik air yang meluncur dari mataku sebelah kiri sebagai pertanda kesedihan. Di hadapan nisan anak tunggalku, aku berjanji akan mengawal setiap tugas perkembangan kedua anaknya.

Akibat pemabuk yang bergentayangan di jalan raya, putriku Anne dan suaminya Genta, menjemput ajalnya di saat Hanifah berumur 15 bulan dan seragam merah putih khas sekolah dasar membalut tubuh Margaret. Kedua cucuku itu adalah harapan, semangat, dan tekadku yang kuat dalam tiap jejak langkahku.

***

“Nek, Hanifah berangkat ya sama Kak Maret,” pamit Hanifah padaku.

Aku memang tak merasakan waktu yang rasanya berlalu begitu cepat. Aku telah merawat dan mendidik mereka berdua. Hanifah akhirnya berhasil menapaki bangku SMP, dan Margaret memasuki gerbang perkuliahan yang telah lama ia idamkan.

Rezeki warisan dari Anne dan Genta serta penghasilan dari toko rotiku kurasa cukup untuk memberi mereka langkah-langkah kehidupan, dibantu Mbok Ika yang lihai dalam kerumahtanggaan.

“Ibuk, kok saya perhatikan Non Hanifah yang udah ABG itu kok jarang akrab lagi ya sama Non Maret, padahal dulu Non Maret di umur yang sama seperti Non Hanifah selalu akrab dengan Hanifah kecil,” ujar Mbok Ika.

“Iya Mbok, sebenarnya saya merasa gagal melihat Hanifah yang sering membantah saya, menjauhi Maret juga dan nilai di sekolahnya anjlok semua. Saya malu Mbok sama Anne dan Genta,” balasku.

Mbok Ika tak hanya memenuhi tugasnya membantuku, menasihatiku juga penting baginya sebagai pengiring peran utamanya.

Keesokan sorenya, aku mendapati Maret yang diam-diam mengeluarkan tetes demi tetes air matanya. Aku hanya dapat mengamatinya dari jauh karena aku tahu betul bahwa cucuku yang satu ini jika menangis hanya ingin diberikan ruang kesendirian. Aku pun menanyakannya pada Mbok Ika.

“Tadi Non Hanifah dan Non Maret sempat bertengkar, Non Maret minta diantar ke toko baju murah dan hanya Non Hanifah yang mengetahui alamatnya, tapi Non Hanifah malah cuek dan Non Maret beranjak menuju kamarnya,” jelas Mbok Ika secara detail.

Aku hanya bisa mengusap dagu secara perlahan sambil memikirkan kalimat apa yang akan kurangkai untuk membasuh perlahan luka di hatinya yang menganga. Dengan ketukanku yang seperti biasa, Margaret mempersilakanku masuk dengan mata yang telah bebas dari bekas-bekas air mengalir.

“Mar, kamu pasti pernah mengamati laron-laron yang mengelilingi sebuah cahaya. Adik kamu tersayang adalah cahaya, yang tanpanya laron tak akan berkumpul. Analogi itu yang selalu nenek gunakan untuk menggambarkan diri Hanifah. Kasihan dia yang terjebak menjadi sebuah cahaya yang menyebabkan ia tak punya waktu me time dan kurang mengerti dirinya sendiri karena tenaganya ia habiskan untuk menjadi sebuah cahaya bagi teman-temannya,” penjelasanku itu membuat lengkungan di bibir Maret tampak indah dan aku pun melanjutkan, “Nenek bangga padamu Mar, bisa sekuat ini menghadapi dirimu sendiri dan orang lain, jadilah seperti ini untuk besok dan selamanya ya, hingga kelak kamu berada di posisi nenek.”

Mata lebar yang disertai dengan senyuman manis Margaret semakin menguatkanku di tengah sikap Hanifah yang tidak menentu. Ia tak perlu kubenci karena di nadinya mengalir darahku juga meskipun hanya sekian persen. Ini adalah tugasku untuk mengawal Hanifah menjadi yang lebih baik.

***

Margaret, cucuku sekarang telah diboyong suaminya ke Kalimantan dan tinggallah aku sendirian bersama Hanifah dan Mbok Ika yang tubuhnya mulai aus dan tergerogoti usia.

“Nek, Hanifah rindu Kak Maret, setiap hari aku harus menatap bantal dan guling kosong yang dulunya menjadi kesayangan Kak Maret,” ujar Hanifah.

Sekarang barulah Hanifah menyadari betapa berharganya kehadiran Maret di sisinya. Loyalitasnya yang tinggi pada sobatnya jauh melampaui pada keluarganya membuat ia tak sadar bahwa kehidupan tak hanya berkutat pada satu hal saja hingga mengabaikan kehadiran hal lain dalam hidupnya. Aku pun memerintahkan Hanifah menuju ruanganku.

Aku menyodorkan buku harian Margaret padanya, “Setiap kata-katanya menyiratkan kepedihan atas kesendiriannya semenjak kamu memikirkan teman-temanmu di atas segalanya,”

Hanifah membaca halaman pertama dan ia terduduk lesu karena rasa bersalahnya terlalu dalam hingga menyebabkan kehancuran pada kesendiriannya sekarang.

“Oke, Nenek akan beranjak dan akan memberimu sebuah teori di perkuliahan Nenek dulu. Kamu boleh memandangku sebagai suatu benda bergerak berumur enam puluh tahun yang tidak berguna, tapi pikiran Nenek masih berjalan dan inilah dia sebuah ekuilibrium,” ujarku.

Dengan kepastian bahwa Hanifah pasti diselubungi tanda tanya, aku langsung melanjutkan, “Ekuilibrium atau kata lainnya keseimbangan pasar adalah suatu keadaan permintaan dan penawaran pasar dalam kondisi seimbang, atau bahasa sederhananya, jual dan beli di pasar dalam keadaan seimbang jadi tidak ada yang mendominasi dan keadaan itulah yang baik, ketika kurang atau lebih dari titik ekuilibrium, pastilah dilakukan upaya untuk mengarahkan menuju titik ekuilibrium ini,” jelasku.

“Nenek ngapain sih ceramah ekonomi ke aku? Aku ini bukan anak ekonomi seperti Nenek dan Kak Maret.”

“Hidup itu harus seimbang Nif, seperti ekuilibrium. Tak kurang tak lebih. Dan untuk mencapai keseimbangan memang dibutuhkan pengorbanan. Hidupmu bukan soal kawanmu saja. Lihatlah kamu punya kehidupan di keluarga, sekolah, dan masyarakat yang harus diseimbangkan porsinya,” balasku.

Hanifah memelukku dan mengucapkan terima kasih. Aku tak berharap padanya, tetapi harapanku kubaringkan dalam doaku pada Tuhan agar Hanifah berubah menjadi lebih baik dari versinya sendiri.

Related posts

Leave a Comment