7 June 2020

Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis

Universitas Negeri Malang

Esai – 3M Inklusi Tanpa Diskriminasi

3M INKLUSI TANPA DISKRIMINASI

Rodhwa Baro Hanifah

            Inklusi merupakan sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan lingkungan yang semakin terbuka dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik budaya dan lainnya. Lingkungan inklusi menjadikan semua orang yang tinggal dan beraktivitas dalam suatu lingkungan bersama dapat merasakan aman dan nyaman serta dapat mendapatkan hak dan kewajibannya secara utuh. Indonesia memiliki jumlah penduduk 266,79 juta jiwa dengan jumlah disabilitas mencapai 11,580,117 jiwa (PBB 2018). Disabilitas merupakan individu yang memiliki kemampuan berbeda dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, diantaranya adalah tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, gangguan motorik dan memiliki kelainan lain. Dari beragam disabilitas yang ada di Indonesia, apakah lingkungan inklusi tanpa diskriminasi telah tercipta untuk mereka?

Lingkungan inklusi dapat diciptakan dimanapun, baik dalam lingkungan pendidikan bahkan dalam lingkungan masyarakat. Namun faktanya, lingkungan inklusi yang seharusnya dapat menciptakan rasa aman dan nyaman untuk disabilitas, ternyata masih sangat sedikit tercipta dalam masyarakat. Diskriminasi masih melekat dan bersahabat dengan disabilitas. Dalam aktivitas sehari-hari, fasilitas umum di sekitar kita. Apakah fasilitas tersebut telah sepenuhnya memberikan kemudahan akses bagi kaum disabilitas?. Terdapat banyak fasilitas umum yang sebenarnya sering kita temui namun tidak disadari keberadaannya.

Salah satunya adalah guiding block. Guiding block merupakan ubin khusus yang ditempatkan di trotoar jalan dengan bentuk tonjolan lingkaran atau memanjang yang berfungsi untuk membantu tunanetra dalam berjalan. Fasilitas tersebut telah ada di beberapa kota di Indonesia. Namun sayangnya, banyak masyarakat yang tidak menyadari fungsi dari guiding block. Sehingga, banyak masyarakat yang menyalahgunakan fasilitas tersebut. Banyak masyarakat yang dengan tidak sengaja menggunakan guiding block untuk berjalan. Bahkan pemasangan guiding block juga ditemukan tidak sesuai dengan standar pemasangan. Simbol-simbol dalam guiding block memiliki arti khusus sebagai penunjuk jalan lurus atau berhenti. Pemasangan yang tidak sesuai juga mengindikasikan pemahaman pekerja yang kurang. Sehingga berdampak pada akses disabilitas.

Fasilitas umum lain yang juga luput dari perhatian adalah akses bagi disabilitas yang menggunakan kursi roda. Masih terdapat gedung-gedung yang dibangun tanpa memperhatikan keberadaan disabilitas. Salah satunya adalah fasilitas ramp yang merupakan bidang miring yang dipasang sebagai pengganti tangga. Bidang miring ini memungkinkan pengguna kursi roda dapat lebih mudah terakses ke dalam gedung atau bangunan. Namun, minimnya gedung yang telah menyediakan ramp membuat akses disabilitas masih terkendala.

Tidak hanya fasilitas umum, lingkungan pendidikan juga turut menyumbang diskriminasi terhadap disabilitas. Pendidikan inklusi ditujukan agar disabilitas dapat mendapatkan haknya dalam berpendidikan tanpa harus melihat latar belakang yang dimiliki siswa sehingga dapat belajar bersama dengan siswa lainnya tanpa harus dibedakan. Dari 1,6 juta disabilitas di Indonesia, baru 18 persen yang sudah mendapatkan layanan pendidikan inklusi (Kemendikbud, 2017). Hal ini menunjukkan masih banyak disabilitas yang belum mendapatkan haknya dalam pendidikan.

Pendidikan inklusi di Indonesia tergolong baru yang mulai dikembangkan pada tahun 2000 dan masih terdapat banyak permasalahan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi. Mulai dari tenaga pendidik yang tidak berkompeten terhadap disabilitas, fasilitas pada sekolah inklusi yang belum aksesibel, dan perlakuan siswa non disabilitas yang belum paham dan peduli terhadap siswa disabilitas. Hal ini menunjukkan lingkungan inklusi dalam pendidikan masih jauh dari tujuan adanya lingkungan inklusi tanpa diskriminasi.

Inklusi tanpa diskriminasi di Indonesia merupakan tugas bagi seluruh warga Indonesia. Lingkungan inklusi tidak mungkin tercipta tanpa adanya campur tangan dan kerjasama dari semua pihak lapisan masyarakat. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan lingkungan inklusi adalah 3M. 3M merupakan sebuah upaya yang dapat dilakukan dengan cara:

1. Menciptakan
2. Menyadarkan
3. Mensosialisasikan

3M diatas merupakan sebuah upaya yang dapat tercipta dengan dimulainya kesadaran dalam diri sendiri terumata pada diri seseorang yang telah benar-benar mengetahui apa dan siapa itu disabilitas. Sehingga 3M yang pertama adalah menciptakan. Kenapa menciptakan? Ya, lingkungan inklusi tidak mungkin terbentuk apabila tidak terdapat kesadaran dalam diri masyarakat untuk memulai menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi semua pihak terkhusus untuk disabilitas.

Menciptakan dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana dan mudah yaitu dengan menciptakan rasa peka dan peduli dengan keberadaan disabilitas. Rasa peka dan peduli merupakan suatu hal yang sifatnya sangat sentimentil. Tidak semua orang dapat peka dan peduli dengan keberadaan disabilitas. Sehingga, menciptakan merupakan suatu tahapan pertama yang sangat penting dilakukan untuk membantu terwujudnya lingkungan inklusi. Lingkungan inklusi tanpa diskriminasi sangat sulit terbentuk jika kepedulian kita terhadap sesama masih sangat minim.

Diawali dengan menciptakan, yang membuat masyarakat dapat lebih peduli terhadap disabilitas. Dengan menciptakan, dapat memberikan dampak pada 3M yang kedua yaitu menyadarkan. Jika telah tumbuh dalam diri masing-masing individu untuk lebih peka dan peduli terhadap sesama terkhusus terhadap disabilitas maka hal tersebut dapat menyadarkan lebih banyak masyarakat untuk lebih peduli dan peka terhadap disabilitas. Jika telah tercipta dan tersadarnya masyarakat akan pentingnya lingkungan inklusi. Maka 3M yang ketiga adalah mensosialisasikan. Mensosialisasikan mengenai disabilitas dan juga pentingnya lingkungan inklusi akan memberikan pemahaman masyarakat untuk lebih memahami dan mengenal apa dan siapa itu disabilitas. Dengan mengenal dan memahami diharapkan masyarakat dapat menciptakan lingkungan inklusi dan membantu disabilitas untuk dapat mendapatkan hak serta kewajibannya.

Segala sesuatu tentunya harus dimulai dari kesadaran dalam diri seseorang. Diskriminasi akan tetap ada jika masyarakat tidak peka dan peduli. Peka dan peduli pun masih kurang jika masyarakat tidak memahami tentang apa dan siapa itu disablitas. Sehingga melalui 3M diharapkan masyarakat yang telah memahami disabilitas dapat lebih dahulu menciptakan lingkungan inklusi yang selanjutnya dapat menyadarkan lebih banyak masyarakat tentang disabilitas dan lingkungan inklusi. Harapannya, masyarakat dapat mengetahui tentang keberadaan disabilitas sehingga masyarakat dapat lebih peka dan peduli terhadap disabilitas. Setelah tercipta dan tersadarnya masyarakat maka hal yang sangat penting dilakukan adalah sosialisasi. Dengan sosialisasi maka pengetahuan masyarakat mengenai disabilitas akan lebih banyak sehingga, dapat turut serta membantu mewujudkan terciptanya lingkungan inklusi tanpa diskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Sumber:
Efendi, Mohammad. 2008. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara.
Alim, Raden Ajeng Sri Rizjil. 2014. Kepedulian Masyarakat terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. http://repository.upi.edu/13124/2/S diakses pada tanggal 30 Juli 2018.
Kementrian Pendidikan Nasional. 2012. Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Siswa.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Sekolah Inklusi dan Pembangunan SLB Dukung Pendidikan Inklusif