ESAI – 73 Tahun Indonesia Merdeka: Benarkah Indonesia Benar-benar Merdeka?

0
110

73 Tahun Indonesia Merdeka: Benarkah Indonesia Benar-benar Merdeka?
Oleh: Yuli Agustina
Agustinyuli19@gmail.com

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
(H. Mutahar-Hari Merdeka)

Merdeka!! Agustus merupakan bulan dimana bangsa Indonesia menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan. Di setiap wilayah di seluruh penjuru Indonesia ramai-ramai merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia dengan berbagai macam acara, ada lomba gerak jalan, karnaval, lomba panjat pinang, sepakbola, lari, dan lain-lain. Pemerintah dari berbagai elemen memasang umbul-umbul maupun spanduk untuk menyemarakkan kata-kata “merdeka”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb), berdiri sendiri, tidak terikat, serta tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Merdeka adalah terbebas dari segala macam belenggu, aturan, dan kekuasaan. Merdeka merupakan sebuah rasa kebebasan bagi makhluk hidup untuk mendapatkan hak dalam berbuat sesuai kehendaknya. Dalam sebuah negara, merdeka berarti terbebas dari belenggu, kekuasaan, dan aturan penjajah .
Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. Teks proklamasi kemerdekaan resmi dibacakan oleh Ir. Soekarno di depan rumah Ir. Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB. Pada saat itu, upacara dilakukan sangat sederhana. Peristiwa bersejarah yang telah mengubah nasib Indonesia itu hanya berlangsung singkat, yaitu sekitar 1 jam. Meskipun sangat sederhana upacara yang dilakukan itu berjalan dengan penuh khidmat dan menjadi tonggak perubahan yang luar biasa bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gema lonceng kemerdekaan terdengar ke seluruh pelosok nusantara dan menyebar ke seantero dunia.
“Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita”, Ir. Soekarno
Apakah benar saat ini kita telah merdeka? Telah mampu menyusun negara kita? Bahkan tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air dan bangsa kita?
Memang benar negara Indonesia saat ini merdeka dari penjajahan fisik. Saat ini kita tidak lagi merasakan penindasan, kekerasan, maupun kerja paksa seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Belanda, Portugis, serta Jepang kepada Indonesia. Namun pada kenyataannya, meskipun bukan penjajahan secara fisik, Indonesia sebenarnya masih terjajah oleh pihak asing. Penjajahan dilakukan kepada Indonesia melalui berbagai cara meskipun mungkin kita kurang menyadarinya. Saat ini sumber daya alam Indonesia menjadi incaran negara-negara asing untuk menjajah Indonesia secara perlahan. Menurut laporan BIN (Badan Intelejen Negara) tahun 2016, setidaknya ada 76 undang-undang dan puluhan rancangan undang-undang yang mengakomodir kepentingan asing. Hal ini dipertegas oleh temuan dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang menyatakan bahwa perusahaan asing menguasai 70% pertambangan migas, 75% tambang batu bara, bauksit, nikel, dan timah. Asing juga menguasai 85% tambang tembaga dan emas serta 50 % perkebunan sawit.
Di bidang lain, ekonomi contohnya, kita juga terjajah. Saat ini produk-produk ekonomi asing sudah membanjiri pasar-pasar di Indonesia. Konsumen pun lebih memilih menggunakan produk asing dibandingkan produk dalam negeri. Bukan karena kita tidak mencintai produk dalam negeri, namun pada kenyataannya ekonomi asing yang masuk ke Indonesia mampu menawarkan harga yang murah sehingga masyarakat Indonesia lebih tergiur untuk mengkonsumsinya. Banyak pula anggapan masyarakat Indonesia bahwa produk asing lebih berkualitas dibandingkan produk dalam negeri. Padahal jika kita kaji lebih lanjut sebenarnya produk dalam negeripun memiliki kualitas baik yang juga setara dengan produk asing.
Impor berlebihan juga menjadi bukti belum merdekanya negara Indonesia tercinta. Semakin lama semakin banyak kebutuhan Indonesia yang harus dipenuhi dengan cara impor. Berdasarkan data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik, tahun 2018 ini tepatnya sampai bulan Maret nilai impor Indonesia mencapai US$ 14,49 miliar atau naik 2,13 persen dibanding Februari 2018, demikian pula jika dibandingkan Maret 2017 meningkat 9,07 persen. Pasar-pasar dalam negeri belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan ekonomi Indonesia, jadi impor menjadi solusi yang diambil negara untuk memenuhi kebutuhan. Pengusaha-pengusaha Indonesia juga semakin dimanjakan dengan impor bahan dari luar negeri karena alasan bahan baku yang lebih murah. Hal ini menjadikan para pengusaha ketergantungan dan tidak dapat mandiri. Ikatan seperti ini semakin sulit untuk dilepaskan dan menjadikan Indonesia perlahan-lahan akan terus terjajah.
Masalah baru dan sangat sering dijumpai pasca reformasi sampai saat ini adalah masalah korupsi. Seolah-olah tak kunjung selesai, masalah korupsi justru mengakar dan membudaya di Indonesia. Dampaknya, kemiskinan dan kelaparan terjadi dimana-mana akibat dari harta yang dikorupsi oleh pihak-pihak yang tidak berhak memakannya. Menurut data Bank Dunia, ada sekitar 13,3 % masyarakat Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan. Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut nilai kerugian negara yang timbul akibat korupsi meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2017 saja terdapat 576 kasus korupsi dengan jumlah tersangka kasus mencapai 1.298 orang dan kerugian mencapai Rp. 6,5 triliun serta suap Rp. 211 miliar.
Indonesia juga terkenal sebagai negara yang kaya akan budayanya. Terdapat beragam suku, adat, agama, dan bahasa. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya barat dengan mudahnya masuk dan mempengaruhi mindset para generasi muda. Banyak dari generasi muda saat ini yang lebih mengenal budaya barat daripada budayanya sendiri, Indonesia. Hal itu sangat berdampak buruk terhadap kelestarian budaya di Indonesia. Secara perlahan Indonesia semakin terjajah karena terkikis oleh adanya budaya barat. Kita tidak dapat mengatakan negara kita baik-baik saja jika geneasi mudanya saja tidak mengenal bahkan melupakan jati dirinya sendiri.
Tidak seharusnya masyarakat Indonesia diam saja dengan berbagai polemik penjajahan baru yang menyerang Indonesia saat ini. Masyarakat harus cerdas. Sumber daya manusia yang ada di Indonesia harus benar-benar dikembangkan agar Indonesia tidak terus menerus dijajah. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia banyak melahirkan generasi-generasi cerdas dan berbakat namun karena sistem yang dilakukan di Indonesia, banyak dari mereka yang tidak dihargai atau disia-siakan bakatnya sehingga luar negeri menjadi tempat pelarian mereka untuk lebih mengembangkan ilmu dan kecerdasannya. Contoh saja mantan presiden kita Bapak BJ Habibi yang jenius justru tidak dapat mengembangkan ilmunya di Indonesia sehingga Jerman menjadi tempatnya dalam menyalurkan kejeniusannya. Seharusnya putra bangsa yang seperti itulah yang harus lebih diperhatikan oleh negara agar kelak dapat memajukan bangsa ini. Belajar di luar negeri tidak masalah, namun harus ada perjanjian untuk kembali lagi ke Indonesia mengajarkan apa yang didapatkannya selama belajar di luar negeri dan diberikan apresiasi atau penghargaan yang baik atas prestasi yang telah diraihnya.
73 tahun sudah Indonesia merdeka secara Undang-undang, namun faktanya kita belum benar-benar merasakan kemerdekaan sesungguhnya. Tugas kita saat ini adalah mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan Indonesia. Sebagai generasi muda, di tangan kitalah nasib Indonesia kedepannya. Sekali merdeka, tetap merdeka.

Daftar Pustaka

Astriyani, Ati. 2013. Penjajahan Era Modern. Online
(atyastiani16.blogspot.co.id/2013/11/penjajahan-era modern.html?m=1)
diakses tanggal 12 agustus 2017
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Online (Kbbi.web.id) diakses tanggal 11 Agustus
2017
Rahayu, Srikandi. 2014. Seputar Pengertian kemerdekaan. Online
(googleweblight.com/?lite_url=http://seputarpengertian.blogspot.com/2014/08/seputar-pengertian-kemerdekaan.html?m%3D1&ei=HJbqXh_s&lc) diakses tanggal 12 agustus 2017.
ICW: Kerugian Negara Akibat Korupsi Meningkat. (Online) REPUBLIKA.CO.ID
(09 Agustus 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here