ESAI – BANYAK PENCITRAAN SIAPA TAKUT?

0
133

BANYAK PENCITRAAN SIAPA TAKUT?

(Oleh : Ary Kusuma Wardhani)

 

Globalisasi sudah menjadi hal biasa di masa kini sebab berbagai segi kehidupan sudah mulai berubah pesat. Perubahan itu ditandai dari bentuk konvensional menjadi serba digital, semakin cepat, dan instan. Dampak globalisasi telah dirasakan masyarakat Indonesia, hingga November, tahun 2018 yang sudah memasuki penghujung tahun. Bagi sebagian orang waktu begitu cepat berlalu demikian pula dengan keriuhan hidup di dalamnya. Ada kejutan dari Sang Mahacinta—Allah— berupa peristiwa alam hingga peristiwa sosial menggenapkan tahun ini. Peristiwa alam itu yang masih segar di pikiran, gempa Lombok disusul Palu dan Donggala. Sisi positifnya, Allah masih sayang kita dengan sedikit menyentil melalui sapaan alam yang “dingin”.

Alam memberikan sinyal supaya manusia lebih peduli. Cukup dengan hal sederhana, misalnya buang sampah di tempat sampah. Buang sampah di tempat sampah tampaknya lebih cocok untuk masyarakat Indonesia dibandingkan dengan buang sampah pada tempatnya. Hal itu dirasa lebih tepat karena pemaknaan tempatnya sering diasosiasikan dengan dalih bisa di sembarang tempat, sehingga masyarakat kita diharapkan lebih sadar dengan pernyataan bahwa buang sampah ya di tempat sampah.

Secara kebahasaan, kalimat pertama –buang sampah di tempat sampah— merupakan kalimat yang tidak efisien, tetapi efektif. Tidak efisien karena pengulangan kata sampah yang seharusnya bisa diwakilkan dengan klitika “-nya” yang menempel pada kata tempat. Bunyi kalimat itu menjadi kalimat yang biasa kita tahu pada papan-papan atau tempelan tulisan dinding sebagai imbauan—buang sampah pada tempatnya—. Satu hal sederhana seperti itu masih harus didikte, mirisnya sudah jelas tertulis malah enggan dibaca lantas bagaimana pengimplementasian kalimat itu. Bagaimana dengan impelementasi hal yang lebih besar lainnya? Jadi, poin penting di sini adalah kesadaran.

Selain itu, peristiwa sesama manusia juga bisa menyadarkan kita agar kembali pada adab keindonesiaan­nya. Wujud adab Indonesia salah satunya adalah toleransi. Toleransi terhadap pilihan yang menjadi hak masing-masing individu. Contoh peristiwa itu masih panas di masyarakat kita, yakni serangkaian Pilpres tahun 2019 mendatang. Kubu pendukung calon presiden saling me­mengaruh­i hingga terkesan mencari-cari celah kesalah­an yang sebetulnya tidak usah dijadikan sebuah per­masalah­an. Kalau saling menghargai dan menghormati dalam berkompetisi sepertinya hidup di dunia ini bagaikan hidup di surga—damai—.

Kalau saja para politisi negeri ini sadar dengan beberapa sikapnya selama berkampanye yang seharusnya tidak perlu dilakukan apalagi dijadikan teladan. Sikap itu berupa sikap berbahasa politikus yang menarik untuk disimak, seperti penggunaan kata sontoloyo, genderuwo, kecebong, dan kampret yang menjadi simbolisasi tersendiri. Dari sikap berbahasa saja kita dapat menilai bagaimana seyogyanya tampilan seorang pemimipin. Ingat pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” ada lagi dalam bahasa Jawa yang berbunyi, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia, yaitu harga diri seseorang terlihat dari ucapannya, harga diri dari fisik atau penampilan terlihat dari pakaian yang dikenakannya. Jadi, poin kedua adalah kembali pada poin pertama, yaitu kesadaran.

 

Menumbuhkembangkan Kesadaran

Beberapa peristiwa yang telah dijelaskan di atas secara singkat ternyata bermuara pada kesadaran. Kesadaran itu sering­kali mendapat label “sulit” diimplementasikan. Namun, kesadaran sebenarnya sangat mudah ditumbuh­kem­bang­­kan.

Kesadaran di sini akan diibaratkan sebagai tanaman. Ada tiga cara mudah merealisasikan­nya diantara­nya, yaitu 1) pembibitan, 2) perawatan, 3) panen.  Pertama, pembibitan yang diartikan bahwa semua harus diawali dari diri sendiri sebelum mengajak atau menyuruh orang lain. Jadi, mempersiapkan bibit niat dari diri sendiri agar selalu bersikap sadar diri. Kedua, perawatan yang dimaknai sebagai kesadar­an yang su­dah disiapkan akan disirami, dipupuk, dan dibersihkan da­ri hama, serangga, serta rumput liar yang mana semua i­tu a­dalah merawat kesadaran untuk menanam berbagai ke­baik­an­­ diri sendiri dan lingkungan sekitar. Ketiga, masa pa­­nen yang dimaknai dengan visualisasi hasil tanaman yang te­lah ber­kembang dari hasil perawatan kesadaran bisa berupa karakter diri. Oleh ka­rena itu, dapat di­simpul­­kan kesadaran menghasilkan karakter diri. Karakter itu muncul sebagai citra diri.

Membahas soal citra diri, setiap orang pasti menginginkan dirinya dipandang orang lain sesuai dengan harapannya. Harapan citra atau gambar mengenai dirinya dengan menggiring persepsi orang lain agar seirama dengan persepsi kita. Namun, seringkali terjadi orang lain tidak mudah memahami diri kita. Maka, tidak jarang orang sekarang mengatakan, “Halah! Pencitraan.” Hal itu banyak terjadi di lingkungan saya. Salah satunya ketika ada hal baik yang ditunjukkan seseorang, tetapi banyak teman malah mencibirnya sebagai bentuk pencitraan.

 

Pencitraan Itu Sah

            Pencitraan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti proses, cara membentuk citra mental pri­badi atau gambaran sesuatu. Dapat disimpulkan bahwa pencitraan merupakan penggambaran diri seseorang yang ingin ditunjukkan agar orang lain dapat memahami sesuai dengan apa yang digambarkan. Maka, posisi pencitraan di sini adalah netral. Netral bisa terkontaminasi menjadi baik atau malah menjadi buruk. Hal itu bergantung orang yang menggunakan pencitraan itu.

Mesti diingat bahwa manusia bukan makhluk sempurna karena manusia mana pun pasti memiliki dua sisi, baik dan buruk. Kesempurnaan mutlak hanya milik Allah. Maka, masih perlukah kita menghakimi perbuatan atau perilaku seseorang sebagai wujud pencitraan. Sejatinya, disadari atau tidak, kita melakukan pencitraan setiap harinya. Semua yang kita lakukan pasti ingin mendapat sambutan yang baik, berhasil, dan tanpa celah kesalahan apapun. Kembali lagi, kita adalah manusia biasa. Maka, pencitraan adalah hak setiap insan yang menginginkan orang lain agar tidak salah dalam menafsirkan dirinya. Tenang saja teman, selama tujuan pencitraan itu baik, kalian tidak perlu cemas atau gelisah. Terlebih jika pencitraan orang lain yang tidak bisa kalian lakukan, carilah pencitraan sesuai kemampuan kalian. Bentuklah citra diri kalian sebaik-baiknya. Percayalah, pncitraan itu sah. Yang tidak sah itu penghakiman dari orang lain atas diri kita.

***

Teringat kutipan status instagram saya yang bisa di-follow juga di @wardhaniary yang tertulis “Belajar menerima diri sendiri, berdamai dan memaafkan masa lalu, terus memperbaiki diri, meski di sana-sini banyak yang mencaci. Inilah diri saya dengan segala kelemahan dan kekuatan yang diberikan Allah. Dengan sadar saya tak bisa membuat semua orang bisa menerima dan suka terhadap apa yang saya perbuat, tapi saya mulai dari diri sendiri untuk selalu bisa menerima orang lain dengan segala kondisinya. Saya sadar manusia diciptakan Allah dengan berbagai perbedaan supaya kita saling mengenal dan bersaudara tanpa memandang apapun. Perbedaan membuat hidup lebih berwarna, jadi beragam rasa. Menurut saya, ketika satu hal dari seseorang itu dihakimi oleh orang lain, maka sama saja kita sedang menghakimi Allah. Karena apa? Kita sesama manusia ciptaan Allah, kenapa masih mencela satu sama lain? Bukankah lebih baik kita saling menyayangi?” Eh, saya jadi pencitraan deh. Hehehe

Kesimpulannya, semua peristiwa yang telah terjadi di kehidupan ini akan tersimpan menjadi memori tersendiri bagi diri kita untuk berkontemplasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here