ESAI – “BERAGAMA” SEBAGAI JALAN HIDUP ATAU GAYA HIDUP ?

0
73

“BERAGAMA” SEBAGAI JALAN HIDUP ATAU GAYA HIDUP ?

Oleh : Erwin Lorenzah

Setiap manusia yang lahir di dunia membawa fitrah, bakat, dan insting. Yang dibawa manusia ketika lahir adalah fitrah agama, yaitu unsur ketuhanan. Unsur ketuhanan ini di luar ciptaan akal budi manusia dan merupakan sifat kodrat manusia. Kejadian manusia sebagai makhluk ciptaan Allah telah dilengkapi dengan unsur-unsur kemanusiaan, keadilan, kebajikan, dan sebagainya. Agama (KBBI) adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Banyak agama yang mungkin telah mengorganisir perilaku, kependetaan, definisi tentang apa yang merupakan kepatuhan atau keanggotaan, tempat-tempat suci, dan kitab suci. Praktik agama juga dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan atau pemujaan tuhan, dewa atau dewi, pengorbanan, festival, pesta, trance, inisiasi, jasa penguburan, layanan pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan atau aspek lain dari kebudayaan manusia. Agama juga mungkin mengandung mitologi.

Agama sebagai Jalan hidup

Pada zaman dulu orang yang beragama pasti mempercayai hal – hal yang gaib yang timbul dari agama yang mereka anut. Mereka juga yakin ada unsur supranatural yang dapat membantu pemeluknya dalam menambah “kenyakinannya” dalam beragama. Dengan semua kekuatan itu, agama bisa menjadi solusi masalah sosial di dalam masyarakat. Kondisi itu harus memiliki syarat untuk bisa menjadi andalan dalam solusi yang diharapkan. Karena Fungsi agama sendiri yang memberikan pedoman hidup bagi individu maupun kelompok hingga Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, memberikan tuntunan kebersamaan, Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.

Pentingnya memerhatikan kaitan agama dan cara pandang semakin terasa dalam konteks komunikasi lintas budaya. Penganut agama telah melintasi batas-batas geografis dan budaya untuk bertemu dan hidup bersama. Dengan kata lain, orang tidak lagi hidup tersekat-sekat berdasarkan agama. Sebaliknya, sekat-sekat pemisah antaragama atau antarpemeluk agama telah semakin pudar. Dunia sudah semakin plural dan tidak lagi terkotak-kotak berdasarkan agama, ideologi, ataupun bahkan suku bangsa. Manusia hidup dalam suatu dunia yang sangat globalized, yang di dalamnya manusia mau tidak mau berjumpa dengan orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda-beda. Perjumpaan antaragama ini tentu melibatkan perjumpaan antarcara pandang. Lewat pemahaman yang lebih mendalam tentang isi agama masing-masing, maka orang akan semakin dibantu dalam hal memahami perilaku, sikap dan tindakan yang diambil oleh orang-orang yang ditemui sehari-hari.

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa inti dari berbagai agama adalah  mengatur tata cara berhubungan dengan tuhan, hubungan dengan manusia dan hubungan dengan alam. Ketika orang yang sudah yakin dengan agamanya pasti akan menjaga ketiga hubungan diatas tersebut agar tetap seimbang . Sehingga kehidupan di dunai akan damai dan tentram meskipun berbeda agama dan antar masyarakat pun dapat hidup berdampingan tanpa ada pemusuhan. Dan output dari mereka yang menjalankan agama yang sesuai adalah  bisa menghargai antar umat beragama dan hidup rukun. Sehingga tatanan kehidupan dapat berjalan dengan baik tanpa ada perpecahan karena adanya perbedaan tersebut.

Agama sebagai Gaya hidup

Gejala globalisasi sebenarnya bukan merupakan perkembangan yang
baru dalam masyarakat sebagaimana dirasakan sekarang ini, ia sudah
menggejala dan berjalan puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Dari
semenjak terjadinya perjalanan para pedagang untuk berkeliling dari negaranya
ke seluruh penjuru negara lain sebenarnya proses globalisasi telah dimulai.
Ketika para pedagang Arab melakukan perjalanan perdagangan ke berbagai
negara di Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia, demikian pula ketika orang
Eropa melakukan ekspansi penjelajahan benua yang akhirnya bermuara pada
kolonialisme, maka sesungguhnya proses globalisasi telah berjalan.
Perbedaannya adalah bahwa globalisasi yang terjadi sekarang ini memiliki
intensitas dan kecepatan serta cakupan yang luar biasa.

Proses globalisasi yang berlangsung pada saat ini telah menemukan bentuknya dan menyentuh pada dimensi yang lebih luas, tidak hanya semata-mata untuk kepentingan ekonomi tetapi hingga menyentuh masalah-masalah sosial kemasyarakatan..  Kemajuan teknologi memang berpengaruh pada  semua aspek termasuk dalam aspek beragama. Pengaruh globalisasi yang semakin mendunia juga merambat ke bidang agama. Tidak dapat dipungkiri nilai-nilai agama kini mengalami kepudaran. Munculnya pemikiran-pemikiran baru yang liberal dan cenderung merusak kaidah agama membuat masyarakat bingung dan akhirnya justru terjerumus ke dalam sudut-sudut yang mengkotak-kotakkan agama.

Hadirnya paham sekulerisme juga menambah keterbatasan agama dalam mengatur kehidupan manusia. Sekulerisme adalah sebuah paham yang memisahkan antara urusan dunia dengan urusan agama. Jadi, dalam urusan duniawi tidak boleh dicampur dengan agama, padahal seharusnya kita selalu menyatukan keduanya secara seiringan sehingga tercipta kehidupan yang selaras.Globalisasi datang dibarengi dengan dengan sistem kapitalisme. Pemikiran ini berasal dari barat yang nantinya dapat menghapus otoritas agama. Lunturnya nilai – nilai keagamaan sangat terlihat jelas dalam masyarakat saat ini, terutama pada kalangan remaja. Budaya freesex, minum – minuman keras, boros, sudah menjadi hal yang biasa. Kemunduran dalam bidang agama lainnya juga dirasakan oleh berbagai agama. Misalnya ketika penentuan hari raya. Dan itu pun nantinya juga akan timbul perdebatan.

Dari kedua penjelasan diatas mengenai penghayatan dalam beragama dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa sekarang manusia belum bisa menghayati agama yang sejatinya agama. Banyak faktor yang mana itu bisa melalaikan manusia. Mungkin karena di era sekarang semua dimudahkan dalam berbagai aspek, tanpa ada filter dari pemerintah maupun keluarga sendiri dan yang bisa membentengi  pengaruh negatef di era globalisasi ini adalah diri kita sendiri. Pada masa sekarang manusia beragama sampai pada jasmani saja tapi untuk rohani nya masih kurang sesuai.

Misalnya Kekerasan atas nama agama adalah bukti bahwa telah terjadi konstruksi
dan memampatnya ideologi keagamaan yang masuk dalam diri pemeluk agama
yang disertai dengan fanatisme sempit. Hal itulah yang meletupkan kekerasan atas nama agama.
banyak orang yang sering pergi melaksanakan ibadah (baca : umroh / haji) tapi ketika outputnya dimasyarakat juga kurang sesuai. Para pejabat negara kita katanya beragama saat dilantik pun juga sudah disumpah dan mereka juga masih sering melakukan korupsi. Seharusnya harus ada sinkronisasi antara input ( baca : beribadah) beragama dengan outputnya dengan masyarakat karena sejatinnya agama adalah sebagai sumber pedoman hidup bagi penganutnya sekaligus mengatur hubungan antar sesama dan hubungan antar tuhan-Nya.  

Daftar pustaka

Sabrina, aulia. 2010. Dampak globalilasasi dalam moral dan beragama https://sabrinadeauliapsycholova.wordpress.com/dampak-globalisasi-dalam-moral-dan-beragama/ diakses pada 10 maret 2018.

Sucipto. 2013. Umrah sebagai Gaya Hidup, Eksistensi Diri dan Komoditas  Industri: Menyaksikan Perubahan Keagamaan Warga Kota. Kontekstualita, Vol. 28, No. 1, 2013. Yogyakarta : mahasiswa  Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Muktar. 2013. AGAMA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI (Sebuah Pendekatan Multikultural). lampung : STAIN Jurai Siwo Metro.

Solehan. 2015. Manusia dan agama. Islamuna Volume 2 Nomor 2. Madura : mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here