Esai – Cegah Pencemaran Air untuk Selamatkan Generasi Masa Depan

Cegah Pencemaran Air Untuk Selamatkan Generasi Masa Depan

 

Chusnul Chotimah

 

Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Manusia membutuhkan air untuk minum dan memudahkan aktivitasnya.  Perlu diketahui bahwa tubuh manusia terdiri atas 85% air sehingga akan mengalami dehidrasi apabila kekurangan air. Hewan membutuhkan air untuk minum, ada juga yang membutuhkan air untuk habitat hidupnya. Sedangkan tumbuhan, juga membutuhkan air untuk berfotosintesis dan tempat hidup. Air yang tersedia di bumi, mencapai 1/3 dari jumlah luas daratan. Hal tersebut tampaknya memang mudah ketika makhluk hidup membutuhkan air. Ia hanya perlu menuju ke tempat-tempat air itu berada. Tempat-tempat air yang ada di bumi selain laut antara lain, sungai, pantai, dan sumber mata air.

Namun, pernahkah kita menyadari jika persediaan air yang ada di bumi itu semuanya bersih dan layak untuk dikonsumsi? Tentu saja tidak. Ada banyak hal yang menyebabkan pencemaran air, salah satunya yaitu karena ulah tangan manusia. Manusia melakukan kegiatan yang menjadi penyebab terjadinya pencemaran air. Diantaranya, pembuangan limbah industri ke sungai ataupun laut tanpa melalui proses filtrasi, penebangan pohon, dan membuang sampah di sungai (Artikelsiana: 2015).

Pembuangan limbah industri ke sungai ataupun ke laut tanpa melalui filtrasi dapat memberikan dampak yang fatal. Saat ini, banyak para pemilik pabrik yang dengan sesuka hatinya mendirikan pabrik-pabrik tanpa memikirkan bagaimana membuang limbah sebagaimana mestinya. Padahal, pemerintah sudah menganjurkan untuk mengolah limbah dengan benar ketika meminta perizinan untuk membangun pabrik di suatu wilayah. Ada banyak dari para pemilik pabrik yang berpikir jika limbah hanya dibuang ke sungai atau ke laut dan selesailah tugas mereka. Menurut orang-orang yang membuang limbah secara ilegal tersebut, mengatur limbah yang akan dibuang dengan memfiltrasi hanya akan menambah biaya dalam proses kegiatan produksi dikarenakan alat yang digunakan untuk filtrasi bukanlah alat yang murah. Meskipun biayanya murah, tetap saja akan membuat pengeluaran lebih banyak. Belum lagi jika biaya produksi yang dikeluarkan sangat banyak. Sedangkan, perolehan keuntungan masih sedikit. Itupun masih belum terhitung biaya yang akan hilang ketika mengalami kerugian. Selain itu, waktu dalam proses filtrasi limbah membutuhkan waktu tidak sebentar, ada lajur prosesnya. Hal ini akan menghambat kinerja karyawan di pabrik. Jika harus menambah karyawan, maka akan menambah biaya lagi. Sehingga, pembuangan limbah dengan proses filtrasi hanya akan membuang waktu dan biaya.

Tanpa mereka sadari, dalam limbah yang dibuang terdapat banyak zat yang akan mencemari air. Zat pencemar tersebut terbagi menjadi zat organik dan zat anorganik. Akan tetapi, dampak yang timbul dari zat anorganik lebih berbahaya. Zat anorganik itu diantaranya Arsen (As), Kadmium (Cd),Timbal (Pb),  dan Merkuri (Hg) (The Indonesian Public Health Portal: 2016). Arsen (As) memiliki sifat yang sangat toksik. Arsen sering digunakan untuk racun tikus. Apabila terkonsumsi oleh manusia maka akan menimbulkan anoreksia, kolik, mual, diare atau konstipasi, iceterus, pendarahan pada ginjal, dan kanker kulit. Kadmium (Cd) sangat beracun bagi manusia. Jika dikonsumsi akan menyebabkan gejala gastrointestinal, dan penyakit ginjal. Sedangkan Timbal (Pb) juga memiliki sifat yang sangat beracun. Saat ini Timbal digunakan untuk meningkatkan oktan dengan cara mencampurkannya dengan bensin. Penggunaan timbal dahulu sebagai konstituen di dalam cat, dan materai. Dampak yang ditimbulkan dari keracunan Pb akan muncul gejala antara lain rasa logam di mulut, garis hitam pada gusi, gangguan GI, anorexia, muntah-muntag, klik, enchepalitis. Pada tingkat keracunan berikutnya menyebabkan stupor, koma, dan kematian.

 

Berikutnya di sekitar kita tentu tidak asing lagi dengan illegal logging atau penebangan pohon secara ilegal. Namun, di sini bukan hanya secara ilegal, tapi juga secara besar-besaran. Apabila hal ini terjadi, maka daerah resapan air akan berkurang. Sehingga, akan membuat air hujan yang turun hanya mengalir tanpa dapat diserap oleh tanah. Kemudian, air yang turun dengan intensitas yang tinggi akan menyebabkan banjir yang akan merusak lingkungan. Selain itu, apabila jumlah pepohonan berkurang, maka kandungan Karbondioksida (CO2) di udara akan meningkat. Jika bertemu dengan Karbon Monoksida (CO) akan membentuk asam karbonat atau H2CO3. Yang menjadi kandungan dalam hujan asam. Hujan asam ini akan merusak tanaman.

Yang terakhir yakni membuang sampah di sungai. Tentu merupakan hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang membuang sampah di sungai berpendapat bahwa sampah yang dibuangnya akan mudah terbawa arus air, sehingga sampah yang dibuang tidak meninggalkan sisa. Jika merenung lebih dalam lagi, sampah yang dibuang memang tidak akan meninggalkan sisa, begitu pula dengan zat-zat yang ada pada sampah tersebut juga akan berpindah. Namun, jika sampah yang menumpuk dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan pengendapan. Nantinya  dari pengendapan itu, zat-zat yang mengurangi kualitas air akan menyebar pada air yang mengalir maupun tidak. Hal ini tentu membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia. Dan bagi hewan, apabila termakan sampah-sampah itu, hewan lama kelamaan akan mati dengan di dalam sistem pencernaannya penuh dengan sampah. Apabila hewan tersebut dapat dikonsumsi oleh manusia, maka akan mengganggu kesehatan manusia.

Dalam permasalahan pencemaran air, solusi yang dapat digunakan antara lain dengan penggunaan sistem filtrasi bagi limbah industri, reboisasi, dan juga tidak membuang sampah ke sungai (Fatma: 2018). Sistem filtrasi bertujuan untuk memisahkan padatan tersuspensi dari dalam air yang diolah. Pada penerapannya sistem filtrasi digunakan untuk menghilangkan sisa padatan tersuspensi yang tidak terendapkan proses sedimentasi (Said: 2017). Sehingga, zat-zat dalam limbah yang berbahaya akan berkurang ketika dibuang ke laut ataupun sungai. Dengan begitu limbah tidak akan mencemari air dengan membawa zat berbahaya. Namun, kualitas airlah yang akan berkurang.

Solusi kedua yang dapat digunakan adalah reboisasi. Selain mengurangi hujan asam, juga akan membuat mata air tidak kering. Sehingga air yang ada tidak akan kotor lagi dan memiliki kualitas yang layak dikonsumsi. Dalam proses fotosintesis pada tumbuhan, hasil yang dapat dikonsumsi oleh manusia maupun hewan tidak akan mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan.

Sedangkan, untuk solusi terakhir, yakni tidak membuang sampah sembarangan. Dapat mengurangi zat yang tidak layak bagi kesehatan yang terkandung dalam air sungai. Hewan yang hidup di airpun akan hidup dengan baik dalam habitatnya. Dan tidak akan mengganggu ekosistem. Keuntungan yang diperoleh apabila di daerah aliran sungai ataupun pada hilir sungai akan dapat menggunakan air yang masih layak untuk dikonsumsi maupun dipakai.

Waspada terhadap pencemaran air sangatlah perlu. Hal ini dikarenakan di zaman teknologi yang canggih akan banyak penemuan-penemuan yang memungkinkan adanya pencemaran air. Dan belum tentu penemu tersebut akan mempertimbangkan cara apa yang akan ia gunakan untuk menanggulangi limbah dari penemuannya. Maka perlu adanya pertimbangan sebelum membuat suatu penemuan. Baik dari segi bahan, kebermanfaatan, dan dampak bagi lingkungan. Dari segi bahan, apakah bahan tersebut ramah lingkungan, apakah dapat didaur ulang. Dari segi kebermanfaatan, bagaimana manfaat penemuan tersebut bagi peneliti maupun masyarakat. Dan dari segi dampak bagi lingkungan, penemuan yang dihasilkan akan memunculkan dampak seperti apakah bagi lingkungan sekitarnya. Apakah akan mengganggu keseimbangan ekosistem atau tidak.

Air yang ada di bumi perlu dijaga. Pernahkah Anda berpikir sejenak jika di masa depan tidak ada air? Atau ada air tapi tidak memiliki kualitas yang layak? Yang akan membuat generasi di masa depan serba kewalahan. Mereka kekurangan air, bahkan ada yang mati karena tidak ada air. Mereka tidak dapat tumbuh optimal. Kurus, kering, bahkan ada beberapa organ tubuh yang tidak dapat berfungsi dengan baik.

Hal itu akan benar-benar terjadi karena keegoisan manusia di zaman sebelumnya. Mereka begitu mudahnya menikmati air yang bersih untuk memenuhi kebutuhan. Berfoya-foya dengan uang dari penjualan air. Mereka tidak menyadari jika ada tempat-tempat yang mengalami kekeringan begitu lama. Dan orang-orang yang hidup di daerah kekeringan itu juga akan memiliki generasi di masa depan. Apabila terlalu mengeksploitasinya sejak saat ini, bahkan sampai mengakibatkan pencemaran. Generasi di masa depan tidak akan dapat menggunakan lagi air sebagai mana mestinya.

 

 

Artikelsiana. (2015). Dampak Pencemaran Air | Artikelsiana. (online), http://artikelsiana.id/2015/03/dampak-pencemaran-air-dampak-air.html  Diakses pada 10 Maret 2019.

Said, Nusa Idaman.2017.Teknologi Pengolahan Air Limbah.Jakarta: Penerbit Erlangga.

The Indonesian Public Health Portal. (2016). Macan, Jenis, dan karakteristik Zat pencemar pada air. (online), http://www.indonesian-publichealth.com/komponen-pencemaran-air/   Diakses pada 10 Maret 2019.

Fatma, D. (2018). 12 Cara Mencegah Pencemaran Air – IlmuGeografi.com. (online),  https://ilmugeografi.com/bencana-alam/cara-mencegah-pencemaran-air  Diakses pada 10 Maret 2019.

 

Related posts

Leave a Comment