Esai – Dampak Rendahnya Kedudukan Nilai Seni pada Suatu Karya Visual, di Mata Masyarakat yang Pragmatis

Dampak Rendahnya Kedudukan Nilai Seni pada Suatu Karya Visual, di Mata Masyarakat yang Pragmatis
Oleh : Dzinu Roinni

“Gausah bagus-bagus kok, simpel aja, kalua besok jadi, bisa?”.
Sebagai seorang mahasiswa dan freelancer design panggilan (pekerja lepas,tidak membuka jasa, namun menerima tawaran) yang bergelut di bidang visual digital dengan sebagian besar klien merupakan teman atau sekedar kenalan, kalimat itu adalah klise yang sudah sangat sering saya dengar. Klien datang dengan harapan projek selesai dengan waktu yang sangat singkat, pekerjaan seolah-olah terlihat sekedar klik kanan, klik kiri, enter, jadi.
Tidak hanya masalah waktu pengerjaan, revisi yang tidak konsisten serta tawar menawar harga masih sangat sering menghantui, seolah-olah pekerjaan seni desain, khususnya freelancer design yang salah satu produk keluarannya adalah karya visual, dianggap sangat mudah sehingga dihargai dengan begitu murah. Masyarakat terlalu menganggap remeh,dan tidak sadar bahwa pekerja seni desain memiliki resiko bunuh diri tertinggi nomer dua di dunia dengan 39,7 kasus per 100 ribu orang pada tahun 2015 (Damarjati, 2019). Hal ini membuktikan bahwa tingkat depresi karena tekanan pekerjaan yang dialami oleh pekerja seni desain sangatlah tinggi.
Selain bayaran yang sesuai dengan keringat, pemberian waktu pengerjaan yang manusiawi sangatlah penting bagi para freelancer design. Bagi saya pribadi,jangka waktu pengerjaan yang panjang mampu memberikan saya keleluasaan untuk bereksperimen dalam menciptakan suatu ide, waktu yang lama juga sangat penting untuk melakukan “trial and error”, sebuah istilah yang sering kali digunakan oleh dosen saya untuk menggambarkan bagaimana seorang seniman dan desainer seharusnya, terus mencoba dan belajar dari kesalahan sebelum menentukan final design suatu karya visual.
Perlu diketahui bahwa karya visual merupakan integrasi dari ide atau gagasan yang mendalam, kemudian diolah menjadi suatu bentuk yang dapat dilihat oleh indra penglihat (mata), tercipta melalui media dan alat, yang mempunyai nilai seni. Karya visual dapat berupa: poster, pamflet, baliho, videografi, animasi, dan lain sebagainya.
Nilai seni merupakan hal yang utama dalam sajian suatu karya visual, seni mempunyai makna indah, tinggi, luar biasa, dengan salah satu tujuan utama adalah membuat orang lain kagum ketika melihatnya. Namun bagaimana jika nilai seni tidak lagi menjadi fokus utama dalam suatu karya visual? Dan itulah yang terjadi di masyarakat Indonesia, dengan sebagian besar masyarakatnya memiliki paradigma yang pragmatis.
Paradigma atau kerangka berpikir pragmatis lebih mengutamakan pada segi kepraktisan dan kegunaan, pragmatis di dalam dunia kreatif yang tentu saja didalamnya menyangkut karya visual, dapat di analogikan seperti sel darah putih pada tubuh, ketika tubuh memproduksi sel darah putih terlalu banyak maka dapat menyebabkan kanker darah (leukemia), dengan kemungkinan terburuknya adalah kematian. Jika nilai praktis terlalu tinggi, denganmengesampingkan nilai seni pada suatu karya visual, maka kreatifitas akan terbunuh, ide, konsep, atau gagasan yang seharusnya mampu memberikan kekuatan nilai seni pada suatu karya visual akan hilang.
Contoh saja, kasus patung yang dikenal dengan nama“Macan Cisewu” milik Komandan Rayon Militer (Koramil) 1123 Cisewu yang sempat viral di media sosial tahun 2017 lalu, berita ini bahkan sempat diliput oleh BBC, media terkenal asal inggris (Pratomo, 2017). Sebagai pengguna aktif Instagram, meme Macan Cisewu sudah seperti camilan bagi saya di masa itu, hadir dimanapun dan kapanpun, ringan, tapi yang jadi masalah adalah rasanya tidak enak karena konteksnya tidak sesuai. Hampir setiap kali saya membuka Instagram pasti menemukan meme Macan Cisewu, bentuk patungnya yang unik, dengan mulut terbuka begitu lebar seperti sedang menertawakan orang di depannya, rahang yang besar, serta mata kecil yang terbelalak, menjadikannya patung dengan wajah paling memeable di tahun 2017. Hanya mem-posting fotonya saja tanpa memberikan caption, Macan Cisewu sudah mampu mengundang tawa, dan tentu hal ini tidak sesuai dengan brand yang seharusnya ia bangun dari instansi yangMacan Cisewu wakili, yakni sekelas Komandan Rayon Militer, bahkan saking malunya komandan koramil Cisewu memerintahkan untuk menutupinya dengan terpal biru kemudian menggantinya dengan patung yang baru.
Patung Macan Cisewu dibuat oleh pensiunan TNI di tahun 2010 dengan maksud memberikan kenang-kenangan kepada Koramil 1123 Cisewu.Anehnya masyarakat sekitar tidak menganggapnya sebagai lelucon sebelum ada yang mengunggah fotonya di media sosial yang kemudian viral itu (Nugraha, 2017). Dalam kasus ini iktikad baik dari seorang pensiunan TNI yang ingin memberikan kenang-kenangan berupa patung kepada pihak koramil memang tidak ada yang salah, namun ketika ditilik dari sudut pandang seni, maka banyak sekali kekeliruan.
Dalam pencarian data, memang saya tidak menemukan detail siapa pembuatnya, apakah benar-benar dibuat oleh pensiunan TNI, atau tukang yang dibayar dengan low budgetsertadeadline yang mencekik. Namun yang jelas saya memiliki hipotesis bahwa pembuat patung tidak melakukan trial and error, jika iya, maka beliau tidak melakukannya dengan benar.Pembuat hanya mencari referensi kemudian langsung mengeksekusinya menjadi sebuah karya visual, bahkan empirisme manusia terhadap bentuk macan sudah pasti menganggapnya benar-benar berbeda. Respon masyarakat sekitar, khususnya anggota TNI angkatan darat Koramil 1123 Cisewu yang biasa-biasa saja terhadap patung Macan Cisewu sebelum viral adalah sebuah masalah, bahwa mereka tidak peduli, yang penting punya patung, dan terpasang di halaman sebagai simbol, ini adalah bentuk pemikiran yang pragmatis, akibatnya mereka harus menanggung malu ketika patung yang harusnya menjadi representasi sebuah satuan TNI yang gagah, garang dan berwibawa ditertawakan oleh masyarakat Indonesia bahkan asing.
“bukankah pelawak juga pekerja seni?” jelas ada yang memiliki argumen seperti itu, bahwa Macan Cisewu berhasil membuat orang lain tertawa maka sudah sama dengan memiliki nilai seni. Jika seperti itu maka tidak ada yang akan protes ketika Dewangga Kanahaya Iskandar, seorang atlet ASEAN Autism Games ditertawakan oleh banyak netizen hanya gara-gara bilang “gak tau males, pengen beli truk” ketika diwawancarari oleh reporter televisi di bulan Maret lalu. Dalam kasus Macan Cisewu dan Dewangga tidak ada unsur kesengajaan untuk membuat orang lain tertawa, sehingga sudah jelas-jelas tidak sesuai konteks, berbeda dengan pelawak yang memang sengaja untuk membuat candaan.
Kasus Macan Cisewu sebagai suatu karya visualadalah bukti rendahnya kedudukan seni di masyarakat yang pragmatis, pensiunan TNI lebih mengutamakan hasil kerja yang cepat dibandingkan dengan unsur seni yang harusnya melekat, pihak koramil 1123 Cisewu pun demikian, merasa ini adalah pemberian dan gratis, sehingga tidak memperdulikan unsur estetiknya, “yang penting punya patung sebagai simbol, yaudah pasang aja” yang penting “macan” agar terlihat garang, ehh tahu-tahu malah jadi bahan candaan.
Salah satu alasan saya sebagai mahasiswa, pekerja, serta penikmat karya seni desain lebih mendewakan hasil karya-karya visual barat yang terus menghadirkan inovasi-novasi dalam karya visual dengan tetap meninggikan nila seni ditengah kapitalisme yang semakin masif adalah,karena rendahnya kedudukan nilai seni pada karya visual di Indonesia,selain dari penikmatnya atau pengguna jasanya yakni masyarakat umum, tidak lain akibat dari desainernya sendiri.Lihat saja baliho-baliho dijalan, surat-surat undangan pernikahan, banner-banner acara di kampung, serta pamflet-pamflet instansi yang tersebar dimasyarakat, masih sangat sedikit yang bisa disebut sebagai sebuah karya visual. Banyaknya percetakan yang membuka jasa desain, serta masyarakat yang baru belajar software layaknya coreldraw maupun photoshop namun sudah berani mengatakan bahwa mereka ahli dalam mendesain, adalah masalah baru dalam industri kreatif, mereka yang tidak terlalu mengerti apa itu nilai seni, tidak terlalu memperdulikan komposisi, baik warna, arah, space, yang itu semua baru saya ketahui ketika mengenyam bangku kuliah, dan paling parahnya, mereka memasang tarif yang begitu murah untuk jasa desain, sehingga bisa bertahan di kerasnya persaingan kerja.
“Yaudahlah biarin yang murah buat masyarakat-masyarakat yang gapunya duit banyak untuk nyewa desainer professional”.
Kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar, “ingat” aturan dibuat bukanhanya untuk satu orang atau golongan tertentu, aturan haruslah sesuatu yang bersifat universal, serta memberikan maslahat pada keseluruhan masyarakat, baik sekarang maupun di masa mendatang. Aturan yang tidak tertulis ini, yang harusnya dimiliki dan dipahami oleh setiap pekerja seni desain khususnya freelancer design, bahwa Ketika praktis, murah dan yang penting cepat jadi, lebih diutamakan daripada nilai seni,maka kualitas karya visual akan terus menurun, diiringi dengan harga yang semakin murah, sehingga berimbas pada status sosial pekerja seni desain itu sendiri yang akan dianggap “rendahan”. Belum lagi kita harus dihadapkan dengan pasar dunia yang terus berkembang, sedangkan standar kompetisi dalam negeri terus-terusan menurun.
Dampak buruk yang dialami oleh koramil 1123 Cisewu sebagai pengguna jasa, serta dampak yang akan dirasakan oleh pekerja seni desain adalah bentuk dari rendahnya kedudukan seni dalam pusaran masyarakat yang berparadigma pragmatis. Dunia kini sudah dihebohkan dengan teknologi yang terus-terusan berkembang, sudah berapa banyak aplikasi edit foto yang orang awam tanpa keahlian khusus pun mampu menyamai editan para desainer grafis, dari foto biasa, bisa jadi gambar kartun, dari foto biasa, bisa diubah usianya jadi lebih tua maupun muda, hanya dengan satu aplikasi, tinggal klik-klik jadi. Dan puncaknya adalah di sempurnakannya AI (artificial intelligence) dimasa mendatang, dimana semua pekerjaan manusia dapat dikerjakan oleh robot cerdas. Maka ketika waktunya tiba harusnya industri kreatiflah yang mampu berdikari jika, nilai seni tetap dihadirkan disetiap karya yang dibuat, karena AI tidak mengerti tentang kepekaan estetik, AI tidak mengerti tentang kepekaan lingkunagan,AI tidak mampu berkehendak bebas yang merupakan salahsatu prinsip berpikir kreatif, dan itu sendiri sangat jarang dimiliki oleh masyarakat yang berparadigma pragmatis.

DAFTAR RUJUKAN

Damarjati, D. 2019. Pekerjaan-pekerjaan Paling Rentan Bunuh Diri, (Online), (https://news.detik.com/berita/d-4391777/pekerjaan-pekerjaan-paling-rentan-bunuh-diri), diakses 02 Juli 2019.
Pratomo, Y. 2017. Unyunya Patung Macan Cisewu Jadi Perhatian Media Internasional, (Online), (https://www.merdeka.com/dunia/unyunya-patung-macan-cisewu-jadi-perhatian-media-internasional.html), diakses 02 Juli 2019.
Nugraha, I. 2017. Cerita di Balik Patung Harimau Lucu di Cisewu, (Online), (https://regional.kompas.com/read/2017/03/20/06191521/cerita.di.balik.patung.harimau.lucu.di.cisewu), diakses 02 Juli 2019.

Related posts

One Thought to “Esai – Dampak Rendahnya Kedudukan Nilai Seni pada Suatu Karya Visual, di Mata Masyarakat yang Pragmatis”

  1. Thanks for sharing your info. I truly appreciate your efforts and I am waiting for your next write ups thank
    you once again.

Leave a Comment