ESAI – HAKIKAT SUATU ILMU

0
297

Hakikat Suatu Ilmu

Oleh: Yuli Agustina

Belajarlah, karena sesungguhnya ilmu itu adalah penghias bagi pemiliknya, kelebihan, dan pertanda segala hal yang terpuji

(Syi’ir Muhammad Bin Hasan Bin Abdullah)

 

Ilmu. Satu kata yang sangat familiar di telinga manusia. Satu kata yang sarat akan berbagai makna. Terkadang kata ini dikaitkan dengan sosok-sosok terpelajar. Siswa, mahasiswa, guru, dan dosen adalah agen utama yang menjadi rujukan terbesar yang berhubugan dengan ilmu. Apa tujuan sekolah? Apa tujuan kuliah? Apa tujuan mondok? Jawaban sama yang akan didapat dari pertanyaan ini adalah “untuk menuntut ilmu”.

Secara etimologi ilmu berasal dari kata “ilm” (Bahasa Arab), science (Bahasa Inggris) atau scientia (Bahasa Latin) yang mengandung kata kerja scire yang berarti tahu atau mengetahui. Lalu apa perbedaan ilmu dengan pengetahuan? Pengetahuan yang merupakan padan kata dari knowledge merupakan kumpulan fakta – fakta, sedangkan ilmu adalah pengetahuan ilmiah/sistematis.  Kumpulan fakta – fakta tersebut merupakan bahan dasar dari suatu ilmu, sehingga pengetahuan belum dapat dikatakan sebagai ilmu, namun ilmu pasti merupakan pengetahuan.         

Pada dasarnya, ilmu adalah suatu sifat yang dengannya sesuatu yang disebutkan menjadi jelas bagi orang yang memilikinya. (Syekh Az-Zarnuji, 2015)

Seorang dokter akan menjadi hebat di lingkungan masyarakat karena ia punya ilmu. Dosen akan dihormati oleh para mahasiswa karena ilmu. Seseorang akan disegani oleh orang lain juga karena ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin tinggi pula derajat orang tersebut di lingkungan masyarakat, bahkan di sisi Tuhan. Ilmu itu sangat mulia. Ilmu bagaikan permata yang menghiasi pemiliknya..

            Seseorang akan disegani karena ilmunya, bukan karena kekuatannya. Gajah adalah makhluk yang kuat. Ia akan mampu mengalahkan lawannya dengan kekuatannya, sedangkan manusia adalah makhluk yang lemah yang mudah terkalahkan. Bahkan jika dibandingkan kekuatan gajah, manusia tidak akan ada apa-apanya. Namun apakah gajah lebih disegani daripada manusia? Apakah seseorang akan lebih memulyakan gajah daripada manusia? Jawabannya jelas tidak. Manusia akan lebih disegani karena manusia adalah makhluk yang berilmu. Jadi jelas bahwa seseorang akan disegani bukan karena kekuatannya, tapi karena ilmunya.

            Ilmu dapat diumpamakan sebagai hewan liar, bila tidak dijaga dengan baik maka ilmu akan kabur melarikan diri. Contoh nyata, mengapa kita lupa tentang materi yang telah kita pelajari di sekolah dasar atau sekolah menengah? Karena kita kita tidak menjaga ilmu itu dengan baik-baik. Bila ilmu itu dijaga baik-baik maka ilmu itu akan jinak, dan jika sudah jinak maka ia akan datang kapanpun dan dimanapun pemilik ilmu itu mau.

            Ilmu yang bermanfaat dan berkah adalah ilmu yang akan senantiasa membawa pemiliknya kepada suatu kebaikan-kebaikan. Manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia yang lain (HR. Thabrani dan Daruquthni). Kebermanfaatan ilmu dapat kita lihat jika kita mampu mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Berusaha untuk selalu bermanfaat dalam kebaikan, sekecil apapun itu. Ilmu yang diamalkan tidak akan hilang. Ilmu yang diamalkan justru akan terus bertambah. Tidak ada alasan satupun bagi kita untuk pelit dalam berbagi ilmu. Dan jadilah untuk senantiasa menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah di lautan faedah (Syekh Az-Zurnuji).

            Menurut Syekh Az-Zurnuji dalam kitabnya Ta’limul Muta’allim, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa menghantarkan pemiliknya pada ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Ilmu manfaat tidak mungkin bisa didapatkan kecuali dengan 6 syarat yang harus dilengkapi oleh pencarinya. 6 syarat tersebut adalah:

  1. Cerdas, artinya kemampuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi walaupun dalam mencai ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu maka sudah memenuhi syarat pertama ini. Akal kita laksana pedang, semakin sering diasah dan dipergunakan, maka pedang akan semakin mengkilat dan tajam,namun bila hanya didiamkan maka akan tumpul dan karatan. Begitupun dengan akal kita.
  2. Semangat, artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan. Mencari ilmu tanpa kesemangatan dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa.
  3. Sabar, artinya tabah dalam menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu. Manusia hidup tidak mungkin terlepas dari cobaan dan ujian. Sebagai manusia yang baik, kita hanya perlu menyadari bahwa skenario Tuhan lebih indah dari segalanya. Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Maka hendaknya sebagai pencari ilmu, jangan mengeluh dengan banyaknya tugas karena itu adalah sebuah proses dalam mendapatkan ilmu, dan sabar adalah kunci untuk menjalaninya.
  4. Biaya, artinya seorang pencari ilmu harus rela mengeluarkan biaya. Dalam keadaan ini bukan berarti hanya orang kaya yang berhak mencari ilmu, semua berhak mendapatkan ilmu. Biaya disini maksudnya adalah bahwa memang hakikatnya biaya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok pelajar. Perlu diingat, bahwa biaya digunakan untuk kebutuhan, bukan untuk pemenuhan keinginan.
  5. Petunjuk guru, artinya seseorang yang belajar harus dengan bimbingan guru. Guru adalah orang tua kedua setelah ayah dan ibu kita. Mencari ridho guru sangat diperlukan untuk mendapatkan berkah dari ilmu yang kita peroleh. Tidak akan sukses seseorang tanpa ada ridho dari guru, sang perantara ilmu.
  6. Lama, artinya belajar untuk mendapatkan suatu ilmu memerlukan sebuah proses. Lama bukan berarti mencari ilmu tanpa target. Seseorang yang belajar harus memiliki target dan selalu berusaha untuk melunasi target-target yang telah dibuatnya. Karena sukses adalah proses, maka jangan lelah dalam berproses.

Bila gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan sejarah. Manusia bukanlah gajah yang tidak berakal, begitupun gajah bukanlah manusia yang tidak bergading. Yang berharga dari gajah adalah kekuatan fisik, sedangkan yang berharga dari manusia adalah kekuatan pekerti dan ilmunya. Ilmu akan selalu hidup sepanjang hayat meskipun manusia telah tiada. Jadi jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu. 

 

 

 

 

  • Ilmu adalah sebaik-baiknya permata –
  • Tiada yang lebih nikmat dari lezatnya ilmu jika kita mampu mengamalkannya –

Bismillah, Semangat 😊        

 

 

Daftar Rujukan

Pramithasari. 2012. Filsafat Ilmu dan Bahasa. Online (https://www.google.co.id/amp/s/pramithasari27.wordpress.com/2012/11/26/filsafat-ilmu-dan-bahasa/amp/) diakses 23 Oktober 2017.

Zarnuji. 2015. Terjemah Ta’limul Muta’alim. Kediri: Mukjizat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here