ESAI – Implementasi Model Pembelajaran Outdoor Learning dan  Discovery Learning dalam Pembelajaran IPA Guna Membentuk Siswa yang Cerdas dan Berkarakter

0
383

Implementasi Model Pembelajaran Outdoor Learning dan  Discovery Learning dalam Pembelajaran IPA Guna Membentuk Siswa yang Cerdas dan Berkarakter

Oleh Amalia Rahmadani

 

Pendidikan di Indonesia tentunya berkembang dari masa ke masa. Saat ini, pemerintah sedang fokus dalam revolusi karakter (dikenal dengan revolusi mental) generasi bangsa Indonesia melalui pendidikan. Cita-cita mulia tersebut tertuang dalam nawacita yang dikumandangkan oleh presiden RI, Joko Widodo. Nawacita merupakan konsep besar untuk memajukan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Untuk mewujudkannya, diperlukan kerja nyata dari segala lapisan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pembangungan fondasi dan dilanjutkan dengan upaya percepatan di berbagai bidang (Kominfo, tanpa tahun). Dikutip dari Kompas.com (diakses 10 Oktober 2017), presiden RI melalui nawacitanya ingin melakukan revolusi mental bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Untuk mewujudkan nawacita revolusi karakter tersebut, pemerintah mengeluarkan Perpres No. 87 tahun 2017 tentang PPK (Penguatan Pendidikan Karakter).

Pemerintah menggaungkan revolusi mental di setiap satuan pendidikan bukan tanpa alasan. Menurut, Dr. Arie Budhiman pada Semnas Pendidikan IPA ke-2 tahun 2017 yang diadakan oleh Prodi Pendidikan IPA UM, urgensi revolusi mental yang diimplementasikan pada anak-anak usia sekolah adalah untuk menghadapi kondisi degradasi akhlak, moral, dan budi pekerti dalam era global. Tanpa kita sadari ternyata globalisasi telah merusak karakter bangsa. Anak-anak usia sekolah yang dibekali gadget dan koneksi internet dapat menyalahgunakan teknologi yang ada. Mereka bisa mengakses konten yang seharusnya tidak ditonton, seperti kekerasan, pornografi, dan bullying. Konten tersebut dapat merusak akhlak, moral, dan budi pekerti generasi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dengan segala kekhawatiran akan masa depan bangsa,  pemerintah Indonesia dengan sekuat tenaga memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan.

Kurikulum Pendidikan IPA tidak terlewatkan dalam menjadi sasaran penerapan pendidikan karakter. Hal tersebut terwujud dalam Kurikulum 2013 Pendidikan IPA.  Kurikulum 2013 Pendidikan IPA dilaksanakan berbasis keterpaduan. Pembelajaran IPA di SMP dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science. Integrative science mempunyai makna memadukan berbagai aspek yaitu dominan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kurikulum 2013 Pendidikan IPA menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran (Susilowati, 2014). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kurikulum 2013 Pendidikan IPA dibuat tidak hanya untuk mencerdaskan siswa, tetapi juga untuk membangun karakter siswa.

Untuk membentuk siswa yang cerdas dan berkarakter melalui pembelajaran IPA, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah guru harus terlebih dahulu meningkatkan penjiwaan siswa dalam belajar IPA. Menurut Sharin bin Hashim, M.Ed dalam Semnas Pendidikan IPA ke-2 tahun 2017 yang diadakan oleh Prodi Pendidikan IPA UM, untuk meningkatkan penjiwaan siswa dalam belajar IPA, guru dapat melakukan model pembelajaran outdoor learning. Dengan pembelajaran outdoor, siswa akan memperhatikan alam sekitar (fenomena yang nyata). Dengan memperhatikan fenomena secara nyata, siswa akan memperoleh pengetahuan tentang fenomena yang terjadi tersebut. Wheatley (Hamzah dalam Sutisna, 2013) mengajukan dua prinsip utama bahwa pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa dan fungsi kognitif bersifat adaptif serta membantu pengorganisasian pengalaman nyata yang dimiliki anak. Pembelajaran outdoor membantu anak untuk berpikir kritis tentang fenomena ataupun keadaan yang terjadi di sekitarnya, sehingga anak mampu mengaitkan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Dengan demikian, model pembelajaran outdoor learning dapat membentuk siswa yang cerdas melalui proses kontruksi gagasan dari pengalaman dan membentuk karakter siswa seperti, keuletan, kejujuran, dan kemandirian.

Selain itu, untuk membentuk siswa yang cerdas dan berkarakter, guru dapat mengimplementasikan model pembelajaran Discovery Learning. Pengertian model pembelajaran Discovery Learning menurut Sund sebagaimana dikutip oleh Roestiyah dalam Ardiyanto (2014),  menjelaskan bahwa model pembelajaran Discovery Learning  adalah proses mental dalam belajar siswa dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Model pembelajaran Discovery Learning menekankan pada aspek kognitif siswa dimana siswa menemukan dan mengkonstruksi gagasan. Teori pembelajaran yang mendukung model pembelajaran Discovery Learning adalah teori yang diusung oleh Jerome Bruner. Teori Bruner merupakan salah satu teori yang mengarah pada model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh yang dikenal dengan belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap bahwa penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia (Dahar dalam Sri, 2012). Dengan demikian, manusia berusaha sendiri untuk mencari pengetahuan baru melalui pengetahuan yang menyertainya, sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.

Pengetahuan bermakna digagas oleh Ausubel dengan teori pembelajaran bermakna. Ausubel mengatakan bahwa ada dua jenis belajar, yaitu belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna adalah suatu proses dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar akan bermakna bila siswa mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Majalah Ilmiah Warta Dharmawangsa, Edisi 36, April 2013). Maka, dengan model pembelajaran Discovery Learning siswa mampu menghubungkan konsep-konsep yang sudah diketahui dengan keadaan yang terjadi. Di samping itu, Menurut Dr. Munzil, M.Si dalam Semnas IPA ke-2 tahun 2017 yang diadakan oleh Prodi Pendidikan IPA UM, bahwa karakter siswa dapat dibangun melalui model pembelajaran Discovery Learning. Dengan model pembelajaran tersebut, siswa akan mampu meneladani sikap ilmuwan, seperti kerja keras, jujur, kreatif, ulet, dan dapat menjadi problem solver dalam setiap masalah yang muncul.

 

Daftar Rujukan:

Suswilowati. 2014. Pembelajaran IPA pada Kurikulum 2013. Makalah. Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (online, diakses pada 10 Oktober 2017) http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/susilowati-spdsi-mpdsi/penguatan-content-knowledge-keintegrasian-materi-ipa-dalam-implementasi-kurikulum-2013.pdf , diakses pada 10 Oktober 2017

Sri, Wahyuningsih. 2012. Pengembangan Majalah Berbahasa Jawa Sebagai Peningkatan Proses Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Jawa untuk Peserta Didik SMA/SMK Kelas X. S1 thesis, UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA. (online, diakses pada 10 Oktober 2017) http://eprints.uny.ac.id/9923/2/BAB%202%20-%2005205241007.pdf

Sutisna, Yaya. 2013. Penerapan Pendekatan Konstrutivisme untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA di Sekolah: Penelitian Tindakan Kelas Pokok Bahasan Tumbuhan Hijau di Kelas V MI Al-Huda I Kec. Serangpanjang Kab. Subang Tahun Ajaran 2012 – 2013. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia. (online, diakses pada 10 Oktober 2017) http://repository.upi.edu/6013/5/s_pwk_0810522_chapter2.pdf

Ardiyanto, Febri Erik. 2014. Implementasi Metode Discovery Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Studi Kasus Pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Boyolali Tahun Pelajaran 2013/2014). Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. (online, diakses pada 10 Oktober 2017) http://eprints.ums.ac.id/30524/39/NASKAH_PUBLIKASI.pdf

http://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/.Nawa.Cita.9.Agenda.Prioritas.Jokowi-JK (diakses pada 10 Oktober 2017)

https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/KSP%202%20Tahun%20Jokowi%20JK.pdf (diakses pada 10 Oktober 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here