ESAI – KEKERASAN SIMBOLIK

Kekerasan Simbolik

Oleh : Intan Permatasari

Kehidupan manusia tidaklah selalu berjalan dengan sempurna, terdapat beberapa sisi kehidupan yang tidak sesuai salah satunya yaitu kekerasan. Banyak unsur kekerasan yang bisa berdampak kepada keseharian masyarakat, salah satunya yaitu kekerasan simbolik. Sesuai dengan namanya kekerasan simbolik jelas bukan kekerasan fisik. Namun, sebuah kekerasan yang tidak terlihat serta mengandung bias yang bisa dipaksakan kepada pihak lain sebagai sesuatu yang benar, maka dari itu kekerasan sering kali tidak disadari terjadi kepada masyarakat. Banyak faktor yang bisa memicu kekerasan simbolik seperti mekanisme komunikasi, media televisi dan media sosial.

Hutabarat (2008), menyatakan bahwa kekerasan simbolik adalah mekanisme komunikasi yang ditandai dengan relasi kekuasaan yang timpang dan hegemonik di mana pihak yang satu memandang diri lebih superior entah dari segi moral, ras, etnis, agama ataupun jenis kelamin dan usia. Dari sini dapat diketahui bahwa kekerasan simbolik juga bisa terjadi karena mekanisme komunikasi yang tidak seimbang antara kedua belah pihak. Contohnya yaitu warna kulit pada suatu ras tertentu yang dipandang secara negatif termasuk kedalam kekerasan simbolik. Orang yang memiliki warna kulit tertentu akan dipandang lebih rendah oleh orang yang memiliki warna kulit lainnya.

Televisi juga menjadi penyebab seseorang terindikasi terkena kekerasan simbolik, Berdasarkan data resmi Infografis TIK Rumah Tangga dan Individu dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tahun 2016 menyatakan bah­wa 87,7% rumah tangga memiliki TV. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa konsumsi masyarakat terhadap televisi sangatlah tinggi. Selain berfungsi sebagai hiburan dan memberikan informasi positif, televisi juga menampilkan adegan kekerasan dan konten negatif lainnya. Berbagai tayangan dapat ditonton oleh masyarakat mulai dari tayangan berita, sinetron hingga kartun.

Tayangan berita masih menjadi prioritas utama dalam mendapatkan informasi cenderung menjadi tidak netral. Beberapa informasi yang disampaikan seringkali merupakan sebuah pendapat. Sebagai penonton akan cenderung menerima informasi secara langsung tanpa mengetahui kebenaran dan ini bisa mengindikasikan adanya kekerasan simbolik. Contohnya ketika anak-anak berfikir bahwa gunung merupakan tempat yang sangat berbahaya setelah melihat berita bencana alam yang terjadi di sekitar pegunungan.

Adegan perkelahian pada sinetron dan aksi laga juga dapat menimbulkan kekerasan simbolik apabila mereka menirukan aksi tersebut. Dulu, ketika santer terlihat tayangan televisi smackdown banyak anak kecil diperbolehkan melihat aksi tersebut sehingga dapat memicu beberapa anak menirukannya. Saktia (liputan 6) pada tahun 2006 menyatakan, bahwa anak kecil berusia 3 tahun meninggal karena di smackdown oleh temannya yang diduga anak tersebut meniru aksi laga yang berada di televisi. Kejadian ini sangat memprihatinkan dan berakibat fatal dengan meninggalnya seorang bocah akibat temannya yang menirukan aksi laga. Anak secara tidak langsung menginternalisasi apa yang dilihat lalu mempraktekkannya, dari sini terindikasi anak tersebut mengalami kekerasan simbolik.

Tayangan kartun juga bisa mengindikasikan seseorang terkena kekerasan simbolik. Contohnya ketika seseorang melihat kartun dengan bahasa melayu kemudian meniru dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lain ketika anak melihat tayangan mencuri pada kartun, dan ketika bermain mereka menirukannya dengan berpura-pura menjadi perampok. Secara tidak sadar anak-anak terindikasi terkena kekerasan simbolik melalui tayangan kartun karena bersikap tidak sesuai dengan nilai yang ada pada masyarakat.

Selain televisi, media sosial juga dapat mengindikasikan terjadinya kekerasan simbolik. Hal ini bisa terjadi kepada semua kalangan, terutama anak-anak yang bebas bermain gawai tanpa pengawasan orang tua. Di media sosial hampir sama dengan tayangan televisi, kekerasan bisa timbul setelah menonton tayangan maupun gambar yang tersedia. Contohnya ketika di instagram, terdapat tayangan seorang laki-laki yang berlagak menjadi seorang perempuan, orang yang melihat kemudian menirukan. Orang yang menirukan secara tidak sadar terindikasi kekerasan simbolik, karena terjadi perubahan perilaku dan bertindak tidak sesuai dengan kodratnya sebagai laki-laki.

Berbagai macam kekerasan simbolik bisa terjadi, hal ini didasarkan pada masyarakat yang kurang sadar maupun telah sadar akan kekerasan simbolik tetapi masih lebih banyak yang tidak memahaminya. Kekerasan akan sangat berbahaya terutama jika diterima oleh kalangan anak-anak, karena mereka mudah menginternalisasi berbagai hal termasuk keburukan. Banyak perubahan yang masih tampak baik-baik saja akibat kekerasan simbolik seperti perilaku, bahasa dan tindakan kesehariannya. Jika dibiarkan dan tidak disadari sejak dini akan berakibat fatal dan terjadi perubahan perilaku serta sikap yang lebih tidak sesuai dengan norma yang ada.

Kesadaran dari berbagai pihak untuk meminimalisir dampak buruk dari kekerasan simbolik sangat diperlukan. Hal pertama yang harus dilakukan yaitu mengerti apa itu kekeseasan simbolik sehingga bisa dilakukan pencegahan. Langkah kecil yang dapat dilakukan orangtua yaitu memberikan pengawasan kepada anak ketika menonton televisi dan pada saat menggunakan gawai, karena anak lebih cepat menginternalisasi informasi dan terkena kekerasan simbolik. Berbagai hal bisa dilakukan seperti sosialisasi secara berkala mengenai kekerasan simbolik sejak dini yang bisa terjadi dari berbagai aspek kehidupan. Sosialisasi bisa dilakukan pada lingkungan sekolah dan juga rumah agar anak-anak serta orangtua bisa mengetahui dan menyadari sejak dini apa itu kekerasan simbolik dan bagaimana dampak serta cara mengatasinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hutabarat, Raini MP. 2008. Tentang Kekerasan Simbolik. (Online). (https://yakomapgi.wordpress.com/2008/01/07/tentang-kekerasan-simbolik/), diakses pada 17 Agustus 2018.

Kominfo. 2016. (https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/20170210-Indikator-TIK-2016-BalitbangSDM-Kominfo.pdf), diakses pada 7 Agustus 2018.

Saktia, Eko dan Noor Ramadhan. 2006. Bocah Tewas Akibat Smackdown. (Online), (https://www.liputan6.com/news/read/134237/lagi-bocah-tewas-akibat-ismack-downi), diakses pada 17 Agustus 2018.

 

 

Related posts

Leave a Comment