ESAI – Konstruksi Gender dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

0
89

Konstruksi Gender dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Oleh Amalia Rahmadani

amalia.rahmadani@gmail.com

            Istilah gender menjelaskan bahwa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang  terkonstruksi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut Puspitawati (2013),  kata “gender‟ dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status dan tanggungjawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari bentukan (konstruksi) sosial budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa gender menyangkut aturan sosial yang merujuk pada perbedaan laki-laki dan perempuan.

Konstruksi gender pada masyarakat Indonesia lebih cenderung menyudutkan perempuan, sehingga perempuan menjadi pihak yang termarginalkan. Perempuan sering dianggap sebagai sosok yang lemah lembut, tidak berdaya, mudah perasa, tidak pintar, dan penakut, sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, lebih pintar, dan pemberani. Dengan pemikiran yang seperti itulah dapat membuat perempuan terkungkung dalam sistem patriarki.

Rueda dalam Wardani (2009) mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab penindasan terhadap perempuan. Masyarakat yang menganut sistem patriarki akan cenderung meletakkan laki-laki pada posisi dan kekuasaan yang dominan dibandingkan  perempuan. Perempuan hanya memiliki ruang terbatas dan hanya bisa melakukan pekerjaan domestik.

Ideologi patriarki dapat dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dari patriarki. Keluarga akan membentuk konstruksi gender yang sesuai dengan kehidupan masyarakat khas Indonesia. Millet dalam Wardani (2009) menjelaskan bahwa orang tua akan mengajarkan bagaimana anak mereka bersikap sesuai dengan jenis kelamin anak. Menurut Millet dalam Wardani (2009), ideologi patriarki disosialisasikan ke dalam tiga kategori. Pertama, temperament, merupakan komponen psikologi yang meliputi pengelompokan kepribadian seseorang berdasar pada kebutuhan dan nilai-nilai kelompok yang dominan. Hal itu memberikan kategori stereotype kepada laki-laki dan perempuan; seperti kuat, cerdas, agresif, efektif merupakan sifat yang melekat pada laki-laki, sedangkan tunduk (submissive), bodoh (ignorant), baik (virtuous), dan tidak efektif merupakan sifat yang melekat pada perempuan. Kedua, sex role, merupakan komponen sosiologis yang mengelaborasi tingkah laku kedua jenis kelamin. Hal ini membedakan gesture dan sikap pada setiap jenis kelamin. Sehingga terjadi pelekatan stereotype pada perempuan sebagai pekerja domestik (domestic service) dan laki-laki sebagai pencari nafkah. Ketiga, status yang merupakan komponen politis dimana laki-laki memiliki status superior dan perempuan inferior. Dengan demikan, anak perempuan akan diajari menjadi perempuan yang lemah lembut, harus bisa mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga, tidak boleh banyak berperan, dan tidak akan menjadi masalah bila perempuan tidak menuntut ilmu setingginya-tingginya.

Sistem patriarki yang terkonstruksi dalam masyarakat Indonesia akibat dari konstruksi gender dapat menjadikan perempuan Indonesia terpenjara dalam ketidakbebasan. Kebebasan berekspresi, mengemukakan pendapat, menjadi mandiri, kuat, dan menuntut ilmu akan terbatasi. Jika demikian, perempuan Indonesia jelas akan mengalami kemunduran karena tidak mampu mengembangkan potensi dirinya. Padahal, kebebasan mengembangkan potensi diri merupakan hak baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Fakta di lapangan yang dapat kita lihat, perempuan akan dicemooh bila menuntut ilmu hingga S3 saat belum berkeluarga, akan tetapi laki-laki akan dianggap lebih keren apabila sudah S3 kemudian memutuskan untuk menikah. Perempuan akan menjadi bahan pembicaraan bila mementingkan karier sebelum menikah, sedangkan laki-laki akan dianggap lebih mapan apabila mementingkan karier sebelum menikah. Perempuan akan menjadi bahan pembicaraan apabila memiliki gaji yang lebih besar daripada suami, sedangkan laki-laki dianggap sah-sah saja apabila memiliki gaji yang lebih besar daripada istri. Dari paparan di atas terlihat bahwa masyarakat akan memberi feedback yang berbeda kepada jenis kelamin yang berbeda, meskipun keduanya melakukan hal yang sama. Hal ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa masyarakat Indonesia benar-benar tenggelam dalam konstruksi gender yang menyudutkan perempuan.

Perempuan Indonesia sejatinya tidak dapat hidup bebas di negara yang merdeka ini akibat konstruksi gender yang ada. Banyak suara-suara, ide-ide, dan kemandirian mereka yang harus disapu bersih demi memuaskan nafsu pengkonstruksian gender dalam masyarakat Indonesia. Namun, tidak sedikit pula perempuan Indonesia yang berani menyuarakan pendapatnya agar sesama perempuan Indonesia bisa bebas melakukan apa saja demi mengembangkan potensi dirinya.

 

Sumber:

Puspitawati, H. 2013. Konsep, Teori, dan Analisis Gender. Karya Ilmiah, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia,  Institut Pertanian Bogor. (online)

http://ikk.fema.ipb.ac.id/v2/images/karyailmiah/gender.pdf

Wardani, Eka Harisma. 2009. Belenggu-Belenggu Patriarki: Sebuah Pemikiran Feminisme Psikoanalisis Toni Morrison Dalam The Bluest Eye. Undergraduate thesis, University of Diponegoro. (online) http://eprints.undip.ac.id/17725/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here