ESAI – MITIGASI BENCANA BERBASIS KEARIFAN LOKAL

0
258

MITIGASI BENCANA BERBASIS KEARIFAN LOKAL: ”Festival Brantas” sebagai Upaya Pelestarian Mata Air di Kota Batu

Oleh: Chusnul Chotimah

Mitigasi bencana memiliki definisi serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat umum ataupun instansi tertentu dalam upaya mengurangi resiko yang ditimbulkan akibat bencana alam. Mitigasi bencana dilakukan untuk mengurangi jumlah korban bencana, baik manusia maupun harta benda pada saat bencana alam.Mitigasi bencana memiliki tujuan sebagai upaya mengurangi dampak yang ditimbulkan, khususnya bagi penduduk di lokasi terjadinya bencana. Selain itu, sebagai landasan (pedoman) ketika akan melakukan pembangunan di daerah tertentu, dan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak/resiko yang ditimbulkan dari terjadinya bencana, sehingga masyarakat dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan aman. Instansi yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan mitigasi bencana adalah BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) ditingkat nasional, nantinya menaungi BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) ditingkat provinsi yang tersebar di seluruh kabupaten/kota bahkan juga ditingkat kelurahan.
Adapun beberapa kegiatan mitigasi bencana diantaranya: pengenalan dan pemantauan bencana; perencanaan partisipatif penanggulangan bencana; pengembangan budaya sadar bencana; penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulangan bencana; identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bahaya; pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam; pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi; dan pengawasan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup. Jika didasarkan pada siklus waktunya, kegiatan penanganan bencana terbagi menjadi empat kategori, meliputi: kegiatan sebelum bencana terjadi (mitigasi), kegiatan saat bencana terjadi (perlindungan dan evakuasi), kegiatan tepat setelah bencana terjadi (pencarian dan penyelamatan, baik korban maupun harta benda), dan kegiatan pasca bencana (pemulihan/penyembuhan terhadap kondisi fisik dan psikologis korban bencana, dan perbaikan/rehabilitasi fasilitas umum dan tempat tinggal akibat kerusakan dari bencana yang terjadi). Berikut adalah contoh mitigasi bencana banjir:
Sebelum banjir: a). penataan daerah aliran sungai, b). pembangunan sistem pemantauan dan peringatan banjir, c). tidak membangun bangunan di bantaran sungai, d). membuang sampah pada tempatnya, e). pengerukan sungai, dan
f). penghijauan di hulu sungai.
Saat banjir: a). matikan listrik, b). mengungsi ke daerah yang aman, c). jangan berjalan dekat saluran air, dan d). hubungi instansi yang berhubungan dengan penanggulangan bencana.
Setelah banjir: a). bersihkan rumah, b). siapkan air bersih untuk menghindari diare, c). waspada terhadap binatang berbusa atau penyebar penyakit yang mungkin ada, dan d). selalu waspada terhadap banjir susulan.

Adanya tindakan mitigasi bencana, masyarakat diharapkan dapat menjalin kerja sama yang baik bersama pemerintah setempat maupun instansi yang berkaitan dengan pelaksanaan mitigasi bencana. Agar nantinya ketika bencana alam terjadi, dampak yang terjadi dapat diminimalisir. Sehingga, kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu besar.

Kearifan Lokal
Kearifan lokal (local wisdom) merupakan pemikiran yang muncul dan berkembang secara terus-menerus dalam suatu masyarakat yang berwujud adat istiadat, tata aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari. Kearifan lokal dapat diturunkan dengan salah satu cara, yakni dari mulut ke mulut. Sehingga, dapat dilestarikan lintas generasi. Kearifan lokal yang ada pada tiap daerah berbeda-beda, sehingga inilah yang membuat keunikan tersendiri. Kearifan lokal mempunyai ciri dapat bertahan terhadap adanya budaya dari luar, memiliki kemampuan untuk mengakomodasi unsur-unsur yang ada pada budaya luar, mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli, mempunyai kemampuan mengendalikan, dan mampu memberi arah pada perkembangan budaya (biosend.id, 2015).

Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal
Jika disimpulkan dari definisi mitigasi bencana dan kearifan lokal, maka mitigasi bencana berbasis kearifan lokal dapat dimaknai sebagai upaya dalam mengurangi dampak dari terjadinya bencana, dan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran bencana bagi masyarakat dengan menggunakan sarana budaya (kearifan lokal) yang dapat dilakukan secara terus-menerus. Sehingga, dalam penyampaiannya dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, pelaksanaan dari mitigasi bencana yang berbasis kearifan lokal ini akan memiliki keunikan tersendiri, tergantung di daerah mana kearifan lokal tersebut berada.

Kondisi Geografis Kota Batu
Kondisi geografis Indonesia rawan akan terjadinya bencana, karena adanya pertemuan antara lempeng-lempeng tektonik, dan berada pada jalur gempa. Lempeng-lempeng tersebut yakni Lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. Posisi berikutnya, pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik.Dimana sisinya berupa pegunungan vulkanik yang sudah tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa, sehingga memiliki potensi bahkan tergolong wilayah rawan bencana, seperti gunung meletus, tsunami, banjir, gempa bumi, dan tanah longsor.
Kota Batu sendiri terletak diantara 1220 17’ sampai dengan 1220 57’ Bujur Timur dan 70 44’ sampai dengan 80 26’ Lintang Selatan. Pada ketinggian rata-rata 871 m di atas permukaan laut. Wilayah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, wilayah selatan berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, wilayah barat dan timur berbatasan dengan Kabupaten Malang. Dikelilingi oleh beberapa gunung, antara lain: Gunung Anjasmoro (2277 m), Gunung Arjuno (3339), Gunung Banyak, Gunung Kawi (2651 m), Gunung Panderman (2040 m), dan Gunung Welirang (2156 m).Layaknya daerah pegunungan lainnya, Kota Batu memiliki tanah yang subur, dan udara yang sejuk. Selain itu, juga memiliki panorama yang cukup indah.
Kondisi wilayah tersebut membuat Kota Batu memiliki 111 mata air yang tersebar di tiga kecamatan, yakni sebanyak 57 titik di Kecamatan Bumiaji, 32 titik di Kecamatan Batu, dan sebanyak 22 titik di Kecamatan Junrejo. Kondisi geografis Kota Batu pada saat ini, bukan berarti tak lantas memiliki kemungkinan terjadi bencana yang sangat kecil. Bencana yang mungkin terjadi di Kota Batu adalah banjir dan tanah longsor, namun juga terdapat kemungkinan terkena dampak dari letusan gunung berapi yang berada tak jauh dari Kota Batu. Seperti, pada saat letusan Gunung Kelud tahun 2014. Sebagian besar wilayah di Kota Batu tertutupi oleh abu vulkanik. Hal ini membuktikan bahwa daerah yang tampaknya memiliki wilayah yang penuh dengan kesuburan akan minim akan terjadinya bencana alam.

Festival Brantas sebagai Upaya Melestarikan Mata Air
Di Kota Batu terdapat festival yang cukup unik yang memiliki nama “Festival Brantas.” Hal ini dikarenakan salah satutempat festival ini diadakan di daerah sungai brantas yang tersebar di beberapa tempat di Kota Batu. “Festival Brantas” merupakan festival yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Batu dengan kegiatan yang ditujukan untuk menarik wisatawan ke Kota Batu yang menampilkan beragam kebudayaan lokal masing-masing daerah. Selain itu juga, menampilkan hal-hal yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan, contohnya menampilkan kreasi produk sebagai salah satu tempat meningkatkan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) dan promosi produk unggulan yang berwawasan lingkungan.
Dilihat secara sekilas mungkin tak ada bedanya dengan festival-festival lainnya, hanya saja yang berbeda yaitu upaya untuk mengajak pengunjung festival lebih mencintai lingkungan. Kurang lebih pada tahun 2017, “Festival Brantas” mengadakan konser di aliran sungai brantas Coban Talun. Jika kita dapat menginterpretasikan, secara tidak langsung festival ini mengajak kita untuk menjaga kelestarian mata air.Tidak hanya mengadakan festival, tetapi juga mengadakan kegiatan bersih-bersih kali brantas.
Adanya festival ini mengingatkan kita, bahwasanya kita bertempat tinggal di daerah yang kaya akan air. Sangat disayangkan apabila kita tidak dapat menjaganya dengan baik, maka di masa depan kekayaan yang ada saat ini hanyalah akan menjadi dongen belaka. Generasi di masa yang akan datang, tidak akan dapat merasakan sejuknya udara, dan tidak dapat merasakan betapa segarnya air yang dapat kita minum saat ini.Dilansir dari situs WALHI Jatim (dalam tirto.id), dari jumlah 111 sumber mata air di Kota Batu mengalami kemerosotan, dan penurunan kualitas. Pemetaan terbaru antara tahun 2012 dan 2014, jumlah titik mata air yang tersisa di Kecamatan Bumiajisebanyak 28 titik, di Kecamatan Batu tersisa sebanyak 15 titik, dan di Kecamatan Junrejo hanya tersisa 15 titik.
Terlepas dari salah satu upaya pelestarian mata air, tanpa kita sadari apabila tidak bisa menjaga kelestarian mata air dan pepohonan yang hijau. Sesungguhnya, malah akan mendatangkan bencana yang sering terjadi. Memungkinkan jika dampak yang ditimbulkan akan lebih besar. Bencana yang dimaksud adalah banjir dan longsor. Mengingat kondisi beberapa wilayah di Kota Batu memiliki posisi kemiringan yang memungkinkan arus air banjir dapat berjalan dengan cepat, apabila tanpa adanya penghalang. Banjir tersebut juga tidak menutup kemungkinan juga mengakibatkan longsor. Seperti yang terjadi pada tahun 2004, banjir bandang terjadi di Kota Batu akibat adanya penebangan pohon di daerah Sumber Brantas. Sehingga, air yang datang akibat hujan deras tidak dapat dibendung lagi.
Jika kita mau berkaca dari peristiwa tersebut, adanya “Festival Brantas” akan menyadarkan kita betapa pentingnya untuk menjaga mata air dengan membersihkan sungai, dan reboisasi. Dimana jika kita tidak dapat menjaganya dengan baik, akan timbul bencana yang diakibatkan oleh kecerobohan kita sendiri. Sadar bahwa wilayah yang kita tinggali saat ini dapat terjadi bencana sewaktu-waktu, bisa membuat kita lebih waspada dan lebih tanggap ketika terjadi bencana alam.
Adanya dukungan lebih dari pemerintah untuk “Festival Brantas” sangat diperlukan, agar kegiatan tersebut menarik minat masyarakat. Selain itu, dalam festival ini sebaiknya BPBD juga mengisi sosialisasi materi berkaitan dengan mitigasi bencana. Sehingga, selain sebagai pengunjung festival, masyarakat juga memperoleh ilmu baru berkaitan dengan daerah mana saja yang rawan bencana, dan apa saja yang dapat dilakukan sebelum, pada saat dan setelah terjadinya bencana. Dimana jarang sekali dilaksanakan sosialisasi seperti itu, meskipun ada, tidak banyak masyarakat yang dapat berpartisipasi secara langsung, melainkan hanya perwakilan saja.
Sosialisasi yang diadakan dapat menumbuhkan masyarakat yang sadar bencana sehingga tidak akan bertindak sewenang-wenang dalam melakukan pemanfaatan sumber daya alam. Kegiatan eksploitasi secara besar-besaran tidak akan terjadi, dan keseimbangan ekosistem akan berjalan dengan baik. Masyarakat juga tidak akan tergesa-gesa ketika terjadi bencana, mereka akan tahu apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dengan begitu, bencana yang terjadi tidak akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

DAFTAR RUJUKAN

bpbd.karanganyarkab.go.id/?=603.

http://bappeda.jatimprov.go.id/bappeda/wp-content/uploads/potensi-kab-kota-2013/kota-batu-2013.pdf.

http://eprints.umm.ac.id/35955/3/jiptummpp-gdl-irawansatr-48429-3-babiip-f.pdf.

http://m.malangtimes.com/baca/26813/20180419/193442/festival-brantas-sambut-wisatawan-kota-batu/

http://website.batukota.go.id/statis-14-geografis-kota-batu.

http://www.biosend.id/2015/11/pengertian-kearifan-budaya-lokal.html?m=1.

https://tirto.id/warga-sumber-mata-air-kota-batu-melawan-pembangunan-hotel-crSi.

https://www.bnpb.go.id/home/potensi.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here