ESAI – NGOPI

0
85

Ngopi (antara tradisi dan lifestyle)

Oleh Ryandini Dwi P

 

Menurut kamus besar bahasa indonesia, ngopi sendiri diartikan sebagai afiks yang tidak berbentuk suku kata dan yang ditambahkan atau dileburkan pada dasar. Penambahan kata n mebuat kopi yang seharusnya diartikan kata benda menjadi kata sifat. Namun, secara umum pengertian ngopi adalah sebuah aktivitas meminum kopi yang dilakukan oleh seseorang untuk menikmati  secangkir kopi.

Namun pada saat ini, ngopi menjadi sebuah aktivitas bagi banyak orang yang dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang mereka guna melepas kepenatan dari kegiatan rutinitas seharian. Apalagi kaum muda saat ini, ngopi menjadi aktivitas wajib yang harus dilakukan. Meski hanya sekedar duduk dan berkumpul dengan teman.

Aktivitas ngopi di indonesia kini telah manjadi fenomena unik untuk dikaji lebih dalam, ngopi sendiri sudah ada sejak dahulu. Lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai  tradisi. Setiap daerah di indonesia memiliki tradisi ngopi. Misalnya saja Masyarakat Aceh sangat senang meminum kopi. Daerah mereka pun sangat terkenal dengan kopi kelas dunia yaitu Aceh Gayo, masyarakat Aceh akan melakukan obrolan ringan ditemani oleh secangkir kopi dan ditambah dengan beberapa gorengan untuk menambah kehangatan suasana obrolan. Selain itu, Di Yogyakarta, masyarakatnya mengenal istilah kopi joss, yaitu kopi tubruk yang dimasukkan sebuah arang yang masih menyala. Kombinasi dari kopi tubruk dan arang yang masih menyala ini memberi sensasi rasa unik . Oleh masyarakat Yogyakarta, berkumpul dengan ditemani secangkir kopi joss diibaratkan mengumpulkan kembali balung tulang yang hilang atau dalam artian lain menjaga hubungan kekerabatan. Di Madura, tradisi minum kopi akan terlihat ketika menghidangkan kopi kepada tamu yang datang. Tidak peduli banyak sedikitnya tamu, asalkan terdapat kopi untuk disajikan, maka cukup untuk memulai silaturahim. Menurut masyarakat Madura, kopi lebih berarti dari nasi, makanan ringan, ataupun susu. Dari kopi ini juga terjalin hubungan silaturahim.

Namun , di era abad 21 ini. Ngopi, menjadi salah satu life style yang sering kita dijumpai. Khusunya dikalangan remaja . Kopi menjadi satu-satunya ikon yang paling menarik untuk dibicarakan. Menurut jurnal Pergeseran Budaya Ngopi Di Kalangan Generasi Muda Di Kota Tanjungpinang, “Ngopi yang sekarang sebagai gaya hidup tidak hanya terletak pada tempat dimana generasi muda ini nongkrong atau ngopi tetapi juga terletak pada menu atau varian kopi yang harganya cenderung lebih mahal dari kedai-kedai kopi biasa. Berdasarkan wawancara dengan pemilik Kedai Kopi Batman, dalam sehari bisa terdapat kurang lebih 30 generasi muda dan dalam seminggu bisa mengunjungi 2-3 kali”. Artinya, ngopi sekarang bukan terletak pada bagaimana menjalin silutrahmi saja, namun sebgai ajang untuk memamerkan finansial .  Semakin terkenal tempat dan semakin mahal kopi maupun makanan yang dipesan, itu artinya akan mempengaruhi pola pikir yang semakin merasa mampu.

Sealin itu, di era milenial ini sudah banyak warung kopi,kedai, dan restoran yang menghadirkan aktivitas ngopi dengan sensasi yang berbeda. Ditambah, kecanggihan teknologi yang sudah meraja lela. Wifi merupakan salah satu objek pendukung paling kuat mengapa remaja merasa betah untuk berlama-lama larut dalam aktivitas ngopi. Secara tidak langsung aktivitas ngopi yang sudah disalah gunakan akan menjadi suatu kebiasaan yang buruk. Para remaja akan menghabiskan waktunya untuk aktivitas ini.

padahal ,menurut bkkbn pada tahun 2020-2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) . Dimana bonus demografi sendiri diartikan sebagai keadaan di mana usia produktif akan lebih banyak dibandingkan dengan usia tidak produktif. Artinya menurut data dari bkkbn diatas, remajalah yang mendapatkan bonus terbesar. Remaja sebagai tumpuan indonesia tuk yang lebih maju. Disini diharapkan peran remaja dalam meningkatkan produktifitas untuk terus  mengasah kemampuan diri, mengembangkan inovasi-inovasi serta tudak bergantung pada yang sudah ada.

Namun , Bila di bandingkan dengan realita yang ada pada saat ini,sangatlah krusial. Para remaja masih membuang-buang waktunya untuk aktivitas yang tidak produktif. Seperti aktivitas ngopi yang hanya sekedar berkumpul, serta memainkan gadget .  maka dari itu, Aktivitas ngopi harus diimbangi dengan produktifitas yang tinggi.  jika tidak, Bonus demografi itu akan sia-sia. Indonesia akan menjadi negara yang tertinggal diantara negara lainnya.

Bung karno pernah  mengatakan “ beri aku  10 pemuda maka akan kugocangkan dunia”. Cita-cita indonesia sangatlah bergantung pada para pemudanya.semakin berkualitas pemuda indonesia maka akan semakin berkualitas pula bangsa indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here