ESAI – PEREMPUAN DAN PERSAINGAN

0
125

Perempuan dan Persaingan

Oleh Yuli Agustina

Agustinyuli19@gmail.com

 

Perempuan itu makhluk lembut yang paling keras kemauannya

-Mario Teguh-

Perempuan, makhluk Tuhan yang diciptakan dengan 9 nafsu dan 1 akal memiliki sifat yang kontras dengan kaum adam yang diciptakan dengan 1 nafsu dan 9 akal. Dalam hal persaingan, perempuan akan lebih dominan daripada kaum adam. Elizabeth G, dalam artikelnya ‘Woman vs Woman: Competition between woman’ juga menyebut bahwa perempuan lebih tinggi tingkat persaingannya dibanding laki-laki. “…women are very competitive with each other. Much more than men. Woman are constantly trying to out do each other and they often feel threatened by other women-wether it be in the workplace, in social environtment, or where a men is concerned.” Dapat dikatakan pula bahwa perempuan lebih banyak berkompetisi dengan sesamanya, termasuk temannya sendiri.

Banyak fakta yang dapat mendukung gagasan tersebut, dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat bagaimana perempuan bersikap ingin terlihat lebih dibandingkan sesamanya. Contoh sederhana dalam hal berbicara, ketika berkumpul bersama teman-temannya mereka akan menyuguhkan cerita-cerita dengan menggebu-gebu seolah tak mau kalah dengan cerita teman lainnya pertanda apa yang diceritakan adalah lebih baik dari teman-temannya. Dalam hal fashion, jika dalam satu perkumpulan memegang atau memakai barang dengan merk tertentu maka untuk pertemuan-pertemuan berikutnya akan ada perempuan lain yang menggunakan barang dengan merk yang sama atau lebih tinggi branded nya.

Perempuan enggan tersaingi dengan keberadaan perempuan lain, apalagi yang memiliki tanda-tanda lebih hebat darinya. Dibalik kebersamaannya bersama kawan-kawannya, sebagian dari perempuan sebenarnya tidak tulus mendukung satu sama lain, terkadang mencari celah kawan untuk dapat mengetahui kelemahan. Fakta lain adalah dalam hal kecantikan, kadang tanpa disadari perempuan akan rela untuk mengeluarkan uang banyak hanya untuk bermake-up supaya terlihat cantik dan beda dibandingkan kawan-kawannya –meskipun tak menutup kemungkinan bahwa make up telah menjadi kebutuhan dasar wanita untuk menjaga atau merawat kecantikannya.

Kebanyakan perempuan lebih senang dipuji, dianggap paling baik, paling hits, paling trendy, paling cantik, paling pintar, paling perhatian, dan paling-paling lainnya yang membuat mereka melayang-layang. Oleh karena itu, memuji perempuan adalah senjata ampuh untuk meluluhkan hatinya. Tak heran mengapa para penjual fashion branded, ataupun produk-produk kecantikan gampang menjualkan produk-produk perempuan dengan cara mengatakan kepada pembeli bahwa si X, teman anda telah membeli produk yang sama dengan barang ini, otomatis perempuan akan ikut membeli produk yang sama atau yang lebih baik darinya.

Berbagai penelitian telah dilakukan tentang kecenderungan perempuan untuk bersaing dengan sesama perempuan. Sebuah jurnal di tahun 2013 oleh Tracy Vaillancourt mengungkapkan bahwa perempuan lebih senang menyerang perempuan lainnya. Serangan yang dimaksud dapat berbentuk self promotion (promosi diri) dimana dia akan membuat dirinya lebih menarik dan derogation of rivals (penghinaan terhadap musuh) alias jadi menghina atau menjatuhkan cewek lain.

Contoh sederhana promosi diri yang sering dilakukan perempuan adalah dengan mengumbar kebaikan-kebaikan, kecantikan-kecantikan, ataupun sering nge-vlog di media sosial. Hasil pengamatan penulis, dari total kontak whatsapp yang telah dimiliki, dalam setiap hari perempuanlah yang lebih mendominasi whatsapp story. Jarang sekali kaum adam membuat story. Perempuan lebih sering memperlihatkan apa yang dikerjakan, apa yang dipikirkan, apa yang dihasilkan kepada khalayak sosial. Secara tidak langsung mereka ingin khalayak umum melihat kesehariannya, membuat penilaian positif tentangnya, dan akan sangat bahagia jika postingan positifnya di comment orang lain kemudian comment positif tersebut di screenshoot dan digunakan kembali untuk story berikutnya. Begitulah cara mereka ingin selalu terlihat baik di hadapan banyak orang, meskipun tak menutup kemungkinan pula story-story whatsapp yang dibuat adalah ajang mereka berkreasi, berkarya melalui fasilitas yang ada.

Faktor-faktor persaingan antar perempuan

  1. Bersaing demi mendapatkan hati kaum adam

Sudah menjadi sifat alamiah baik kaum perempuan maupun kaum adam untuk terlihat lebih baik oleh lawan jenisnya. Namun permasalahan dan usaha untuk menarik perhatian lawan jenis lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Seorang Psikolog, Noam Shpancer, menjelaskan karena cewek menganggap bahwa mendapat pujian dari cowok sebagai sumber kekuatan, nilai, pencapaian, dan identitas mereka, sehingga mengundang cewek untuk menyerang atau bersaing dengan cewek lain demi mendapatkan pujian itu. Dari sisi biologis, John Maner seorang psikolog dari Florida State University, mengungkapkan bahwa perempuan dapat mencium atau mendeteksi adanya persaingan mereka ketika sedang mengalami masa subur. Berdasarkan penemuan tentang hormon testosteron, dapat disimpulkan bahwa perempuan yang sedang mengalami ovulasi bisa lebih antagonis dan kompetitif.

  1. Kurang perhatian

Cara perempuan menarik perhatian orang lain dapat dilakukan dengan cara mengedepankan penampilan. Perempuan lebih mementingkan penampilan dibandingkan cowok yang lebih apa adanya. Sejalan dengan pendapat seorang psikolog, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si.,  perempuan punya need of affection (butuh perhatian) yang lebih tinggi daripada kaum adam. Kebutuhan akan perhatian dan kekhawatiran akan bagaimana pandangan orang lain terhadapnya sangatlah besar. Oleh karena itu perempuan berusaha tampil sempurna dan ketika merasa ada yang lebih daripadanya yang lebih mampu menarik perhatian orang lain, dia akan segera merasa tersaingi.

  1. Kurang percaya diri

Keinginan untuk terlihat lebih di segala hal, dengan segala cara dilakukan tanpa memperhatikan bahwa setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Sebenarnya adalah hal yang wajar bagi setiap orang untuk ingin terlihat lebih baik dari orang lain. Namun apabila kita telah mengetahui kualitas diri, mencintai diri sendiri, percaya akan setiap emampuan yang kita miliki, maka persaingan berlebihan tidak akan terjadi.

  1. Kurang bersyukur

Ketika kita telah mampu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, maka seberapapun hasilnya akan serasa nikmat. Prosespun tak akan berat, dan persainganpun tak akan menjadi fokus utama dalam menggapai hal yang diinginkan.

Dalam kehidupan, persaingan adalah hal yang wajar. Kita lahir ke dunia inipun telah melewati berbagai persaingan. Namun dalam menjalani kehidupan, notabene perempuan yang identik dengan kelemahlembutan, kasih sayang, marilah saling mendukung untuk kebaikan bukan untuk bersaing dan saling menjatuhkan demi reputasi diri. Mari hilangkan kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, coba mencintai diri sendiri, dan berteman dengan orang-orang yang positif. Jadikan perempuan lain sebagai partner yang saling mengingatkan bukan diam-diam menjatuhkan. Seperti kata najwa Shihab “We have to fix each other crown” perempuan perlu memikirkan agar perempuan lain sama ‘berdaya’-nya. Tak perlu menganggap remeh perempuan lain dan merasa lebih hebat. Alangkah baiknya jika semua perempuan mampu menjadi figur perempuan cerdas, keren, dan humble.

“Be a girl with mind, a woman with attitude, and a lady with class”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here