7 June 2020

Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis

Universitas Negeri Malang

Esai – Perempuan: Dituntut Cantik & Serba Bisa

Perempuan: Dituntut Cantik & Serba Bisa

Oleh: Yunita Puji Lestari

Perempuan?

Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata “Perempuan”? Makhluk moody-an, menganggap dirinya selalu benar, suka bergalau ria, cerewet, ribet karena dandannya lama, banyak talenta, dan masih banyak lagi. Perempuan pertama di bumi ini adalah Siti Hawa. Siti Hawa atau disebut dengan Ummul Basyar yang berarti “Ibu Umat Manusia” diciptakan oleh Allah setelah diciptakannya Nabi Adam A.S. Perempuan sering dikatakan bahwa mereka bengkok seperti tulang rusuk, jika diluruskan dengan keras maka akan patah dan jika tidak diluruskan maka ia akan bengkok selamanya. Perempuan memiliki hati yang lembut dan sensitif, mereka adalah perasa yang baik. Memiliki insting yang kuat, terutama bagi seorang ibu terhadap anaknya. Bahkan ilmuan pun sepakat jika ikatan batin antara anak dan ibu adalah yang terkuat. Banyak sudut pandang yang membahas tentang makhluk moody-an ini, berawal dari perjuangannya pada masa penjajahan hingga di masa yang serba canggih seperti saat ini.

Pada setiap bidang kehidupan, tentu tak pernah terlepas dari peran perempuan, mulai dari dunia kuliner hingga dunia militer. Siapa yang tak mengenal Nyi Ageng yang mengatur strategi dan taktik untuk mengusir penjajah dari Kulonprogo atau Dewi Sartika dan R.A. Kartini yang memperjuangkan emansipasi wanita dan pejuang perempuan lainnya. Jika di masa kini, kita mengenal banyak influencer perempuan dari berbagai kalangan, sebut saja Gita Savitri Devi, Najwa Shihab, Merry Riana atau Kartini Indonesia yang berpengaruh dalam pemerintahan seperti Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, serta Tri Rismaharini. Dari balik itu semua, perempuan memikul beban moril besar di masyarakat. Kalangan masyarakat terkadang masih menganggap jika perempuan kodratnya harus bisa masak, harus bisa bersolek diri, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan sebagainya.

Perempuan Harus Cantik

Dilansir dari liputan6.com 84% perempuan Indonesia tidak percaya diri dengan kecantikannya. Seringnya membandingkan diri dengan orang lain baik secara langsung ataupun melalui media sosial membuat rasa percaya diri menjadi menciut. Belum lagi ditambah dengan komentar yang kurang menyenangkan dari masyarakat terkait penampilan. Riset yang dilakukan Dove dalam Indonesia Beauty Confidence Report 2017 yang dilansir dari liputan6.com, 38% perempuan Indonesia suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Cantik memiliki definisi yang fleksibel, tergantung bagaimana seseorang melihatnya. Belum tentu orang A sependapat dengan orang B terkait kecantikan si C. Cantik bukan hanya wajahnya yang molek, akan tetapi seseorang juga perlu memiliki inner beauty. Seperti yang dikatakan oleh Meutia Hatta tokoh perempuan Indonesia, kecantikan dari seseorang akan terpancar melalui hal yang ia lakukan, bukan hanya penampilan fisik saja. Artinya, seorang wanita juga memerlukan kecantikan hatinya.

Perempuan Harus Bisa Masak

Kalimat “Perempuan itu harus bisa masak biar disayang mertua!” sepertinya tak asing di telinga kita khususnya bagi kaum perempuan. Kalimat tersebut seakan-akan menjadi syarat wajib yang harus dikuasai oleh seorang perempuan ketika ia akan menikah. Namun tak sedikit pula yang tidak setuju akan hal tersebut, Bahkan banyak laki-laki yang menjabat sebagai kepala koki, yang artinya hebat dalam hal memasak. The Guardian dalam tirto.id menyebutkan bahwa data Office of National Statistics menyatakan 250.000 koki profesional yang berada di Inggris, hanya terdapat kurang dari 46.000 atau 18,5% koki perempuan. Sedangkan data dari Indonesia Chef Association (ICA) sampai akhir 2016, sebanyak 2.200 anggota asosiasi yang bekerja pada bidang permasakan ataupun usaha di bidang makanan 80% adalah laki-laki. Meskipun begitu bukan berarti seorang perempuan tidak perlu belajar untuk masak. Usaha minimal yang harus dilakukan adalah bisa memasak nasi atau hanya sekedar merebus mie instan, maksimalnya mampu membahagiakan pasangan.

Dilansir dari wolipop.detik.com, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat 1 dari 5 responden mengatakan jika kemampuan memasak yang mumpuni merupakan suatu daya tarik seperti halnya penampilan fisik.

Perempuan Harus Bisa Mendidik Anak

Ibu sebagai orang yang mengandung anaknya selama 9 bulan, memiliki kedekatan batin yang spesial dengan anaknya. Seorang ibu merupakan role model bagi anak-anaknya, seperti firman Allah dalam surah Al-Furqan ayat 74 ” Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi golongan orang-orang yang bertaqwa”. Menurut Ainin Nadhifa (2014) dalam skripsinya, ibu merupakan seorang perempuan yang diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk mengandung, melahirkan, menyusui, serta berperan aktif dalam mendidik, membimbing, menjadi teladan bagi anak-anaknya agar menciptakan generasi pemimpin yang dapat membina umat. Disebutkan juga oleh Ainin Nadhifa (2014) bahwa sifat keibuan disebut sebagai peradaban bersifat moril. Hal ini berarti melalui tangan seorang ibu dihasilkan produk manusia susila yang mampu membedakan baik dan buruk, serta mengemban tugas moril untuk melaksanakan kemanusiaan.

Tugas untuk mendidik anak bukan hanya semata-mata dilakukan oleh seorang ibu saja, melainkan tanggung jawab dari sepasang orang tua. Dijelaskan bahwa orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Bukan hanya soal mendidik anak, peran perempuan dalam suatu rumah tangga memiliki kedudukan yang penting. Perempuan dalam rumah tangga memegang tanggung jawab dalam memanajemen urusan keluarga, mengatur sirkulasi keuangan dan lain sebagainya. Menurut Roslina Verauli, S.Psi seorang psikolog anak dan keluarga menyatakan bahwa peran ibu 2/3 lebih banyak daripada ayah. Dikatakan juga bahwa ibu berperan sebagai emotion work dan mental work. Sebagai emotion work perempuan menjadi pusat emosi yang menentukan positif atau negatifnya suatu keluarga. Sedangkan sebagai mental work mencangkup tugas-tugas rumah tangga, keuangan, dan kesehatan gizi keluarga.

Terlepas dari hal di atas, dalam membina rumah tangga tentunya perempuan juga dibantu oleh seorang laki-laki yang menjadi pemimpinnya. Perempuan juga memiliki hak untuk menentukan pilihanya. Mereka memiliki hak untuk berkarir dalam dunia pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.

Berbicara mengenai keharusan perempuan, banyak hal yang menjadi fokus pembicaraan. Segala gerak-geriknya seakan-akan menjadi bahan yang bisa untuk dikritik, kesalahan tak seberapa besar di masyarakat bisa menjadi perbincangan berbulan-bulan. Beban moril yang ditanggung seorang perempuan tentu tidaklah ringan, jangan sampai terdengar kesan merendahkan, menyakiti atau bahkan menambah berat beban yang dipikul seoraang perempuan. Dahulu dikenal adanya budaya patriarki, yaitu sistem sosial dimana laki-laki memegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, hak sosial, otoritas moral serta penguasaan properti. Jika dalam domain keluarga ayah memiliki otoritas terhadap keluarganya, masihkan budaya patriarki di abad 21 ini?

Penelitian yang dilakukan oleh Ade Irma Sakina dan Dessy Hasanah Siti, mahasiswa Universitas Padjadjaran (2017), praktik budaya ini masih berlangsung hingga saat ini pada aktivitas domestik, politik, ekonomi, dan budaya. Adanya budaya ini menyebabkan masalah sosial seperti KDRT, pelecehan seksual, pernikahan dini, dan stigma mengenai perceraian. Contoh sederhana dari budaya patriarki ini dialami oleh penulis artikel dalam web magdalene.co, Farrah Aulia Azliani (2018), ketika ia menaiki ojek daring dan mencoba menyampaikan pendapatnya mengenai jalur yang akan dilewati, pengemudi tersebut membantah dan memerintahkan Farrah untuk diam dan menurut saja, hingga kejadian tersebut mengundang perdebatan antara keduanya.

Ketika perempuan tak mampu lagi berperan dalam lapangan produksi, budaya patriarki akan semakin menampakkan diri. Pembelajaran sejak dini untuk saling menghargai hak dan kewajiban perlu ditanamkan. Peran media sosial dalam substansi penilaian terhadap perempuanpun penting ditingkatkan. Adanya kesetaraan gender untuk lebih menghargai perempuan, membuktikan bahwa perempuan juga memiliki hak yang seharusnya ia miliki tanpa melalaikan kewajibannya.

Catatan :Esai ini dimuat dalam Buku INKISH VOLUME 6.0 Diterbitkan atas Kerjasama UKM Penulis Universitas Negeri Malang dan Penerbit Kuncup

DAFTAR RUJUKAN

Al-Quran surah Al-Furqan ayat 72

Azliani, Farrah Aulia. 2018.3 Alasan Utama Budaya Patriarki Masih Melekat-di    Masyarakat.Online ( https://magdalene.co/story/3-alasan-utama-budaya-patriarki-masih-melekat-di-masyarakat), diakses pada 26 Juni 2019.

Chaerunnisa. 2017. Pusat Emosi dalam Keluarga Kendalinya di Ibu. Online (https://www.suara.com/health/2017/12/13/080959/pusat-emosi-dalam-keluarga-kendalinya-di-ibu), diakses pada 26 Juni 2019.

Hestianingsih. 2016. Survei Menunjukkan Jago Masak Buat Wanita Terlihat Cantik. Online (https://wolipop.detik.com/love/d-3146120/survei-menunjukkan-jago-masak-buat-wanita-terlihat-cantik), diakses 26 Juni 2019.

Kirnandita, Patresia. 2017. Kenapa Koki Pria Mendominasi Dapur-Dapur Hotel Daripada Perempuan.Online (https://tirto.id/kenapa-koki-pria-mendominasi-dapur-dapur-hotel-daripada-perempuan-cBpF), diakses pada 26 Juni 2019.

Maulana, Yoyok Prisma. 2017. Ikatan Batin Anak Perempuan dengan Ibu Ternyata Lebih Kuat Ketimbang Ayah. Online (https://intisari.grid.id/read/03105616/ikatan-batin-anak-perempuan-dengan-ibu-ternyata-lebih-kuat-ketimbang-dengan-ayah-kok-bisa-ya?page=all), dirujuk 25 Juni 2019.

Nadhifa, Ainin. 2014. Peran Ibu dalam Mendidik Anak Menurut Al-Quran (Kajian Para Musafir Terhadap Q.S Al-Ahqaf (46):15-18). Skripsi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Sakina, Ade Irma & Dessy Hasanah Siti. 2017. Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia. Jurnal Social Work 7(1), 2339 -0042.

Wikipedia. 2017. Budaya Patriarki. Online (https://id.wikipedia.org/wiki/Patriarki), dikses 26 Juni 2019.