ESAI – REDINE (RELIGIOUS DISCIPLINE): SEBAGAI PENUMBUH JIWA ANTI KORUPSI MASA DEPAN

0
87

REDINE (RELIGIOUS DISCIPLINE): SEBAGAI PENUMBUH
JIWA ANTI KORUPSI MASA DEPAN

Oleh: Riko Dwiki Pratama
Universitas Negeri Malang (UM)

Membangun Jiwa Anti Korupsi dalam Perspektif Islam
Jika berbicara tentang korupsi, tentu sudah tidak asing ditelinga kita. Korupsi telah terjadi di mana-mana. Korupsi telah menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa Indonesia, seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia menduduki peringkat keenam sebagai negara terkorup dari 159 negara di dunia (Rasyidi, 2015). Istilah “korupsi” dipergunakan sebagai suatu acuan singkat untuk serangkaian tindakan terlarang atau melawan hukum yang luas (Sutedi, 2008). Istilah korupsi mengacu pada berbagai aktifitas atau tindakan secara tersembunyi dan illegal untuk mendapatkan keuntungan demi kepentingan pribadi atau golongan. Dalam perkembangannya terdapat penekanan bahwa korupsi adalah tindakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) atau kedudukan publik untuk kepentingan pribadi. Korupsi adalah peristiwa penyelewengan atau perusakan. Korupsi bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja.
Jika dikaitkan dengan perspektif islam. Menurut (Umam, 2013) islam mempunyai konsep rahmat li al-‘âlamîn, konsep ini adalah salah satu tanda betapa Islam diharapkan menjadi ajaran yang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia dan seluruh alam semesta, tidak hanya bagi orang-orang yang telah menjadi mukmin. Dikaitkan dengan korupsi, Islam dan rahmat li al-‘âlamîn, bahwasanya korupsi adalah perilaku jahiliyah yang harus diselesaikan. Islam mengajarkan bahwa penindasan, kesewenang-wenangangan, dan penyelewengan adalah sikap hidup yang bisa menyakiti manusia lain. Islam tidak menyukai sikap-sikap tidak bertanggung jawab seperti ini, sehingga karenanya Islam memokuskan hampir semua ajarannya untuk pemberantasan sikap-sikap ini (Umam, 2013). Tujuannya adalah agar seluruh umat manusia di dunia bisa hidup dengan baik, bermartabat dan bahagia. Islam adalah jalan keluar dari penindasan, ketidakadilan, dan perasaan tidak bahagia. Indikator-indikator konsep rahmat li al-‘âlamîn ini bekerja adalah sebagai berikut.
Pendidikan
Masyarakat terutama Muslim, terdidik dengan baik. Islam adalah kegiatan pendidikan, jika kegiatan ini dijalankan dengan baik, maka ia akan menghasilkan out-put yang baik. Jika Islam di-lead dengan cara menyimpang, maka ia akan menghasilkan penyimpangan lain yang justru semakin jauh dari cita-cita rahmat li al-‘âlamîn (Umam, 2013). Pendidikan memikul beban amanah yang sangat berat, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba, yang siap menjalankan risalah yang dibebankan kepadanya yakni “khilafah fil ardl” (Rasyidi, 2015). Oleh karena itu pendidikan berarti merupakan suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai: makhluk yang beriman, berfikir, dan berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Pendidikan juga merupakan institusi yang menentukan bagaimana setiap orang berpikir, bersikap, dan berorientasi di masa depan. Jika pendidikan buruk, maka tidak lama kemudian kebudayaan akan ambruk. Pendidikan yang dipugar dari nilai-nilai Islam yang baik akan menjadikan Islam ke depan makin baik. Jadi pendidikan agama Islam adalah “segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam” (Ahmadi, 2001: 20).

Penegakan Keadilan Sosial
Masyarakat yang terdidik secara baik akan semakin mudah mengemban amanat keadilan. Sebaliknya, keadilan akan sulit berlangsung di tengah masyarakat yang tidak terdidik. Tentu saja, tercapainya hidup berkeadilan tidak hanya teori dan pendidikan kognitif semata. “Keadilan adalah pengetahuan dan sekaligus komitmen pelaksanaan (Umam, 2013)”. Keadilan adalah pusat kebajikan sosial (Brighouse, 2004). Ia adalah induk dari segenap pendidikan moral sosial. Keadilan sosial adalah panglima pengelolaan, terutama bagi sebuah pemerintahan yang terdapat pada kota-kota yang terdapat dalam Negara tersebut.
Di dalam al-Qur’an, konsep keadilan bisa ditemui di banyak Surat dan Ayat. Salah satunya, di dalam QS. An-Nahl ayat 90, di mana ayat ini terbilang sangat populer yang hampir selalu disebutkan sebagai penutup khotbah Jumat. Ayat ini berisi penegasan dan perintah penegakkan keadilan dan perbuatan baik. Yaitu berikut ini.

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Dari ayat ini jelas diamanatkan bahwasannya adil dan bijak adalah anti-tesis dari perilaku korupsi. Asas perikeadilan dan kebajikan mampu membuat perilaku menyeleweng tidak terjadi. Adil berarti disiplin menempatkan segalanya di tempat semestinya. Adil, jujur, dan bijaksana adalah paket utuh untuk bisa menjadi ukuran menilai sebuah masyarakat. Masyarakat yang tidak mengedepankan disiplin dalam berkeadilan mustahil akan bisa memberantas korupsi. Karena hakikat penyelewengan adalah ketidakdisiplinan.

Menciptakan Kemaslahatan
Prinsip yang ketiga ini adalah prinsip pengobatan sosial di dalam Islam. Penyembuhan sosial berarti membangun sesuatu yang lebih baik dari kondisi semula yang sakit dan terpuruk. Penciptaan kemaslahatan adalah menginvensi dan menginovasi situasi seimbang di tengah-tengah masyarakat sehingga masyarakat bisa hidup dalam iklim yang mendukung untuk kebaikan. Umam (2013), menyatakan bahwa kemaslahatan tidak bisa dicapai tanpa anggota masyarakat dari orang-orang yang terdidik di dalamnya dan mustahil terjadi tanpa orang-orang yang punya kedisiplinan dalam berkeadilan. Kemaslahatan bukan perkara mudah yang bisa direalisir dengan mudah, ia adalah hasil kerja keras untuk mendidik dan mendisiplinkan diri dan lingkungan.

REDINE (Religious Discipline): Sebagai Penumbuh Jiwa Anti Korupsi
Penulis memaknai REDINE (Religious Discipline) yakni disiplin dan tertib dalam beragama. Maksudnya adalah menerapkan ilmu agama sesuai dengan semestinya. Agama pasti mengajarkan akan kebaikan, maka jika seseorang menjalankan agama dengan displin maka akan baik pula. Agama yang dibahas adalah Agama Islam, namun bukan Agama Islam yang radikal. Akan tetapi Agama yang saling toleransi sesuai dari nilai-nilai dalam Pancasila Bangsa Indonesia atau budaya Bangsa Indonesia.
Menurut Atmodiwirio (2000: 235), bahwasanya “disiplin adalah suatu sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib. Disiplin adalah suatu mental yang tercermin dalam perbuatan, tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan-peraturan, dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan pemerintah atau etik, norma, dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tertentu”. Pada intinya disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih. Islam mengajarkan kita agar benar-benar memperhatikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kedisplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Maka jika dikaitkan dengan urusan duniawi, menurut Penulis orang yang disiplin menerapkan agama dengan sebaik-baiknya. Orang disiplin tersebut akan menerapkan ilmu agama denga baik pula, contohnya orang tersebut akan jujur, tanggung jawab, tidak berbohong dalam urusan apapun karena orang yang disiplin dalam menerapkan agama akan takut jika melakukan hal-hal yang tidak disiplin. Hubungannya dengan korupsi, orang yang disiplin beragama akan takut melakukan korupsi, baik itu korupsi dalam skala kecil maupun besar, karena mengerti akibatnya jika melakukan hal yang tidak baik seperti korupsi. Orang yang korupsi adalah kebanyakan orang yang jabatannya tinggi namun tidak mengerti dalam hal ilmu agama. Oleh sebab itu penting sekali menjalankan kedisiplinan dalam agama.
Fachrudin (1989: 108), menegaskan bahwa tujuan dasar diadakan disiplin adalah, sebagai berikut.
Membantu anak didik untuk menjadi matang pribadinya dan mengembangkan diri dari sifat-sifat ketergantungan ketidak bertanggung jawaban menjadi bertanggung jawab.
Membantu anak mengatasi dan mencegah timbulnya problem disiplin dan menciptakan situasi yang favorebel bagi kegiatan belajar mengajar di mana mereka mentaati peraturan yang ditetapkan.
Untuk menanamkan kedisiplinan pada anak dapat di usahakan dengan jalan, berikut ini.
Dengan Pembiasaan. Anak dibiasakan melakukan sesuatu dengan baik, tertib, dan teratur, misalnya, berpakaian rapi, keluar masuk kelas harus hormat pada guru, harus memberi salam dan lain sebagainya.
Dengan Contoh dan Teladan. Dengan tauladan yang baik atau uswatun hasanah, karena murid akan mengikuti apa yang mereka lihat pada guru, jadi guru sebagai panutan murid untuk itu guru harus memberi contoh yang baik.
Dengan Penyadaran. Kewajiban bagi para guru untuk memberikan penjelasan-penjelasan, alasan-alasan yang masuk akal atau dapat diterima oleh anak. Sehingga dengan demikian timbul kesadaran anak tentang adanya perintah-perintah yang harus dikerjakan dan larangan-larangan yang harus ditinggalkan.
Dengan Pengawasan atau Kontrol. Bahwa kepatuhan anak terhadap peraturan atau tata tertib mengenai juga naik turun, dimana hal tersebut disebabkan oleh adanya situasi tertentu yang mempengaruhi terhadap anak, adanya anak yang menyeleweng atau tidak mematuhi peraturan maka perlu adanya pengawasan atau kontrol yang intensif terhadap situasi yang tidak diinginkan akibatnya akan merugikan keseluruhan (Anshari, 1983).

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa, jika seseorang dalam suatu instansi melaksanakan kedisiplinan dengan baik secara terus menerus, maka tingkat korupsi dalam instansi tersebut akan rendah. Disiplin ditulisan ini maknanya adalah luas, seperti yang telah dijelaskan di atas. Maka sangat penting sekali memperhatikan REDINE (Religious Discipline), karena dapat menumbuhkan jiwa anti korupsi di masa depan.

DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi. 2001. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media.
Anshari, Hafi. 1983. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Atmodiwirio, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Ardadizya Jaya.
Brighouse, Harry. 2004. Justice. Cambridge: Polity Press.
Fachrudin, Soekarto Indra. 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: Tim Publikasi FIB IKIP Malang.
Rasyidi. 2015. Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pendidikan Agama Islam. Jurnal Tamaddun Ummah. (1), (1): 1 ̶ 13.
Sutedi, Adrian. 2008. Aspek Hukum Pengadaan Barang dan Jasa dan Berbagai Permaslahannya. Jakarta: Sinar Grafika.
Umam, M. H. 2013. Pandangan Islam Tentang Korupsi. Jurnal Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam. (3), (2): 462 ̶ 482.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here