ESAI – TEPA SELIRA DAN TENGGANG RASA DI BUMI NUSANTARA

0
256

TEPA SELIRA DAN TENGGANG RASA DI BUMI NUSANTARA

Oleh : Erwin Lorenzah

Email : erwin_lorenzah@yahoo.co.id

 

Kosakata tepa selira dan tenggang rasa ini mungkin dua kata yang hampir memiliki makna yang sama. Pada masa sekarang sudah jarang terdengar lagi ditelinga kita apalagi bagi para generasi muda saat ini yang masuk pada era milenial. Di mana di era ini anak muda lebih suka untuk belajar dari media elektronik daripada belajar kepada orang yang lebih tua. Dan apa yang terjadi, media elektronik pun malah lebih digunakan untuk bermain game, media sosial dan lain – lain sehingga tidak ada waktu untuk saling bersosial dengan sesama secara langsung.  Jangankan untuk mengimplementasikannya, mendengar kata – kata itu saja masih terasa asing ditelinga mereka.

Menurut KBBI tepa selira yaitu dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain. Tapi apa yang kita rasakan saat ini ? yaitu kurangnya rasa tepa selira, menghormati perbedaan, dan cara menghargai perbedaan dengan cara tenggang rasa yang mulai luntur. Kedua sikap ini memang sangat kita perlukan dinegara kita yang notabene merupakan negara multikulural. Berikut ini adalah kasus Kasus kekerasan agama, yakni persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (7/2) dan baru viral di media sosial pada 9-10 Februari lalu.Sekelompok orang tiba-tiba menggerebek kediaman Mulyanto. Mereka menuding sang biksu sering mengadakan kegiatan ibadah agama Buddha di rumahnya. Yang lebih ekstrem lagi, orang-orang itu menuding ada upaya dari Mulyanto untuk mengajak warga sekitar berpindah agama.

 

Banyaknya suku dan agama

Negara Indonesia adalah salah satu negara multikultur terbesar di dunia, hal ini dapat terlihat dari kondisi sosiokultural maupun geografis Indonesia yang begitu kompleks, beragam, dan luas. “Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok etnis, budaya, agama, dan lain-lain yang masingmasing plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen “aneka ragam” (Kusumohamidjojo, 2000:45). Keberagaman  yang tercermin pada bangsa Indonesia ini diikat dengan sebuah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang mengandung arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan yang menunjukan persatuan dan kesatuan bangsa ini merupakan suatu keunikan tersendiri bagi indonesia yang bersatu dalam keberagaman dalam segala hal yang sudah sepatutnya dilaksanakan secara sadar.

Kondisi indonesia yang beragam ini sangat bergantung bagaimana rakyat membawanya. Keberagaman ini bisa dibawa ada jalur yang menjadikan multikultural sebagai cirikhas indonesia, namun disisi lain dapat memicu perpecahan  dan penyulut konflik bagi rakyat. Sejalan dengan hal tersebut, Geertz (dalam Hardiman, 2002: 4) mengemukakan bahwa Indonesia ini sedemikian kompleksnya, sehingga sulit melukiskan anatominya secara persis. Negeri ini bukan hanya multietnis (Jawa, Batak, Bugis, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya), melainkan juga menjadi arena pengaruh multimental (India, Cina, Belanda, Portugis, Hindhuisme, Buddhisme, Konfusianisme, Islam, Kristen, Kapitalis, dan seterusnya).

Kita sudah dibekali dengan semboyan “bhineka tunggal ika” dimana semboyan itu dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat kita salah satunya dengan mempunyai sikap tepaselira dan tenggan rasa. jika setiap masyarakat kita mempunyai sikap itu maka perbedaan suku, ras maupun agama tidak akan menjadi masalah. Tapi terkadang masih ada suatu suku, ras maupun agama yang dianggap minoritas dan di sana masyarakat yang minoritas akan mendapatkan perlakuan diskriminatif. Dan ini merupakan salah satu tugas bagi kita semua untuk kita semua bahwa kita memang tidak hidup sendiri kita dihadapkan oleh orang yang berbeda – beda latar belakang. Di sanalah sikap tenggang rasa dan toleransi sangat dibutuhkan untuk mecipttakan kehidupan yang damai.

 

Krisis panutan dan keteladanan

Ketika dunia pendidikan semakin maju, banyak anak yang sudah mengenyam dunia pendidikan dan sudah sekian ribu lulusan sarjana yang dilahirkan dari perguruan tinggi negeri maupun swasta. Tapi rasa tepa selira dan tenggang rasa sudah semakin luntur. Berbeda dengan sekarang,zaman dulu  tepaselira dan tenggang rasa masih sangat kental dan setiap hari bisa kita rasakan khususnya ketika berada dikampung. Ada beberapa hal yang mungkin memicu terjadinya ini yaitu kita dihadapkan oleh krisis panutan dan keteladanan.

Panutan di sini yang dimaksud adalah seseorang yang bisa dianggap sebagai “bapak bangsa” kita. Di sini saya mengambil sebagai contoh adalah  K.H. Abdul Rahman wahid (gus dur). Selain tokoh nasional beliau juga seorang kiyai. Beliau pernah menjadi presiden ke IV RI dan pernah menjadi ketua umum salah satu ormas terbesar di indonesia. Ketika kita berbicara mengenai gus dur pasti tak lepas dengan toleransi, pancasila dan sangat menjunjung tinggi nilai – nilai pancasila.

Saat menjadi presiden, Gus Dur sering kali melontarkan gagasan perihal prinsip – prinsip negara pancasila yang modern dan humanis kerakyatan agar setiap warga memiliki hak hidup secara politik, dan ia juga mengusulkan pencabutan Tap MPRS No. XXXV tahun 1966 yang berkaitan dengan kasus 1965, yang berimplikasi  mendiskualifikasi mantan orang – orang PKI, dan orang – orang yang di PKI- kan oleh penguasa (nur khalik ridwan, 2018 :18). Ini hanya salah satu contoh perjuangan gus dur dalam menjaga toleransi dan persatuan rakyat indonesia. Tapi jika dilihat sekarang banyak para pemimpin / pemuka agama yang begitu intoleran, menganggap golongannya paling benar sendiri, dan  diluar golongannya dianggat sesat.

Hal yang mengancam bangsa indonesia saat ini adalah maraknya paham radikalisme dan  ancaman terorisme. Sudah ada beberapa ormas atau golongan yang ingin mengganggu ideologi pancasila dengan ideologi yang mereka bawa. Jika ini terus dibiarkan maka akan berpotensi memecahbelah rakyat indonesia. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh tjahjo “Jika ada keberadaan kelompok maupun organisasi masyarakat dan golongan yang berpotensi mengganggu ideologi negara, dan memecah belah bangsa maka harus dilawan,” di Universitas Katolik Santho Thomas Sumut, Sabtu (16/9/2017)”. Maka dari itu dimulai dari kita sendiri tanamankan ideologi pancasila ini, jangan hanya menjadi bacaan saja tapi juga harus diamalkan setiap nilai nilai nya dalam kehidupan sehari – hari.

 

 

Referensi

rochmanudin, 2018, kasus intoleransi dan kekerasan beragama, (online), https://www.idntimes.com/news/indonesia/rochmanudin-wijaya/linimasa-kasus-intoleransi-dan-kekerasan-beragama-sepanjang-2/full , diakses pada 12 juli 2018.

Suradji adji, 2016, ancaman radikalisme, (online) https://nasional.kompas.com/read/2016/11/24/08520891/ancaman.radikalisme. Diakses pada tanggal 12 juli 2018.

Ridwan Khalid Nur, 2018, negara bukan – bukan. Jakarta : incisod.

https://kbbi.web.id/tepa%20salira.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here