ESAI – TRAVEL PHOTOGRAPHY, DARI HOBI HINGGA PEKERJAAN

1
169

Travel Photography, dari Hobi hingga Pekerjaan

Oleh : Agnes Oktaviantina

                          Hobi adalah segala macam bentuk aktivitas yang setiap orang lakukan berulang-ulang di waktu senggang dan bukan merupakan pekerjaan utama. Untuk memilikinya, tidak perlu merencanakan terlebih dahulu hobi apakah yang akan kita gemari. Bagaimana dengan mencuci baju? Saya suka mencuci baju, apakah aktivitas tersebut termasuk hobi saya? Tentu saja bukan. Kata kuncinya ada pada “waktu senggang” dan “bukan pekerjaan utama”. Jadi, pekerjaan utama seperti pergi ke sekolah, membersihkan rumah, atau mencuci baju bukan termasuk hobi meskipun kita gemar mengerjakannya. Lalu seperti apa saja sih hobi itu? Ada banyak hobi dari yang sederhana hingga yang membutuhkan banyak biaya untuk menekuninya. Membaca buku, menggambar, menyanyi, memasak dan yang lainnya merupakan hobi yang sederhana. Adapun hobi yang membutuhkan banyak biaya seperti fotografi, menyelam, atau travelling juga banyak digemari para remaja jaman sekarang.

Salah satu hobi yang menjadi trend saat ini adalah fotografi. Travel Photography, salah satu pengembangan ilmu fotografi yang mendokumentasikan segala momen keindahan alam yang berada di tempat obyek wisata, serta segala aktifitas kegiatan masyarakat lokal dengan warna kehidupan kultur dan budayanya (dikutip dari https://direktori-wisata.com). Menekuni dunia fotografi biasanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bagaimana tidak, seorang fotografer tentunya harus memiliki kamera untuk memotret. Beberapa dari mereka rela menghabiskan banyak biaya untuk mengotak-atik kamera yang dimikikinya seperti mengganti lensa untuk hasil foto yang maksimal. Menjadi seorang travel photographer juga membutuhkan dana lebih dari fotografer biasa karena harus pergi ke tempat wisata yang akan dituju. Namun, travel photographer juga dapat mencari tempat-tempat gratis bernuansa alam yang bagus seperti bukit atau kebun. Selain mengerjakan hobinya, seorang travel photographer mendapat menenangkan pikirannya dengan menikmati pemandangan yang indah karena sejatinya ia memiliki dua hobi yang dikerjakan sekaligus yaitu travelling dan fotografi. Dengan eksisnya pengguna media sosial jaman sekarang, tempat-tempat indah yang cocok untuk dijadikan spot foto semakin ramai dikunjungi. Tidak sedikit wisatawan yang memakai jasa fotografi untuk mengabadikan momen liburan mereka. Dengan demikian, fotografer travel memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menawarkan open trip atau private trip kepada wisatawan. Banyak juga sepasang pria-wanita menggunakan jasa travel photography untuk pelaksanaan pre-wedding. Banyak dari pasangan tersebut memilih pelaksanaan pre-wedding mereka di tempat outdoor. Meskipun biaya menekuni hobi fotografi termasuk besar, pemasukan yang mereka dapatkan juga sebanding dengan skill yang dimiliki dan biaya yang dikeluarkan. Hasil jepretan travel photographer biasanya dibeli oleh perusahaan terkait dunia fotografi dan wisata dengan harga tinggi. Barry kusuma, misalnya, seorang travel photographer handal yang mendapatkan omset ratusan juta untuk hasil jepretannya yang luar biasa bagus.  Fotografer yang belum bergabung dengan perusahaan biasanya mengikuti kontes fotografi untuk memamerkankan karya mereka.

Memiliki hobi yang dibayar memang sangat menyenangkan, bukan? Namun seorang  travel photographer terkadang juga menuai kritikan dari pecinta alam. Apa yang dilakukannya dianggap hanya mencari popularitas saja dengan membagikan jepretan alam di media sosial tanpa benar-benar mencintai alam tersebut. Baltimore Grotto, organisasi di bidang penjelajahan, penelitian dan perlindungan gua mengatakan, “take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time” yang artinya kita tidak boleh mengambil apapun dari alam kecuali gambar alam tersebut, tidak boleh meninggalkan apapun kecuali jejak, tidak boleh membunuh apapun kecuali waktu (https://googleweblight.com). Jadi, seorang travel photographer sangat boleh memamerkan karyanya di media sosial jika tidak ada yang dirugikan. Dengan adanya open trip, mereka juga dianggap menjadi salah satu penyebab alam tercemar. Bagaimana tidak, jepretan yang mereka bagikan di media sosial mengundang banyak wisatawan yang terkadang bertingkah merugikan alam seperti membuang sampah sembarangan di tempat wisata alam terbuka. Tentunya bukan menjadi kesalahan sang fotografer, tetapi bagaimana tiap individu itu sendiri menjaga sikap. Dengan adanya travel photographer, malahan kita dapat mengetahui betapa indah alam semesta khususnya di Indonesia. Seorang fotografer sendiri memiliki kode etik fotografi salah satunya yaitu tidak merugikan subjek atau objek yang difoto.

Lalu bagaimana sih cara menjadi travel photographer? Ebbie Vebri Adrian, seorang  travel photographer yang menghabiskan 9 tahun keliling Indonesia, dalam acara talk show di salah satu stasiun televise, ia mengatakan bahwa ia belajar fotografi secara otodidak dan tidak pernah mengikuti kursus fotografi. Tidak ada yang tidak bisa kita pelajari jika kita memiliki niat. Belajar dan menekuni adalah salah satu kunci untuk memiliki skill yang luar biasa. Sudah menjadi travel photographer tapi belum memiliki sponsorship untuk bekerjasama? Seorang Barry Kusuma yang sudah menjadi fotografer handal ini juga mengalami jungkir balik di dunia fotografi. Ia mengatakan bahwa salah satu hal terpenting adalah konsisten menjalani apa yang kita tekuni dan membuat apa yang bisa kita karyakan, setelah itu biarlah orang yang menilai dan menghargai karya kita. Memiliki hobi yang mendarah daging memang bukan lagi membicarakan tentang biaya, tetapi seberapa konsisten kita menekuni passion tersebut. Beberapa fotografer juga menolak karyanya dibeli meski dengan harga ratusan juta karena passion yang mereka miliki tidak bisa ditukar dengan angka.

Travel photography adalah sebuah hobi, passion  dan bahkan pekerjaan. Menjadi seorang travel photographer harus memahami kode etik fotografi agar karya yang dibuat semakin banyak dihargai masyarakat. Hal terpenting dalam fotografi travel adalah tidak merugikan subjek atau objek yang difoto.

 

Referensi:

https://googleweblight.com

https://direktori-wisata.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here