HALTE PINTAR: INOVASI PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN ANGKA LITERASI MASYARAKAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0

HALTE PINTAR: INOVASI PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN ANGKA LITERASI MASYARAKAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0

OLEH: SAYYIDATI FATIMAH AZ-ZAHROH & NAWAL YAHDILLAH

Pendahuluan

Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah istilah yang pertama kali muncul pada tahun 2011 yang menunjukkan majunya perkembangan zaman, dan baru-baru ini sedang hangat diperbincangkan oleh bangsa Indonesia. Melalui berbagai pidatonya, Jokowi kerap menggemakan revolusi industri 4.0 sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, presiden RI ini dengan tegas mengatakan seperti yang dilansir pada CNN Indonesia (Selasa, 27/11/2018) bahwa, para menteri harus melakukan inovasi untuk menghadapi revousi industri 4.0 (www.CNNIndonesia.com). Jika ditinjau dari sisi historisnya, revolusi industri terjadi pertama kali di Inggris pada tahun 1784 di mana penemuan mesin uap dan mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia. Revolusi yang kedua terjadi pada akhir abad ke-19 di mana mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik digunakan untuk kegiatan produksi secara masal. Penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur mulai tahun 1970 menjadi tanda revolusi industri ketiga. Saat ini, perkembangan pesat dari teknologi sensor, interkoneksi, dan analisis data memunculkan gagasan untuk mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri, sehingga lahirlah revolusi industri 4.0 (Drath dan Horch, 2014). Perbedaan yang mendasar antara revolusi industri 4.0 dengan revolusi industri sebelumnya adalah teknologi yang digunakan. Lifter dan Tschiener (2013) mengatakan, prinsip dasar industri 4.0 adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai dan proses produksi untuk mengendalikan satu sama lain secara mandiri.

Munculnya revolusi industri merupakan sebuah tantangan baru bagi bangsa Indonesia karena menekankan pada penguasaan teknologi, sedangkan masyarakat yang melek teknologi masih sangat minim. Banyaknya anak jalanan, pengemis dan gelandangan adalah beberapa kelompok yang tidak mempunyai pengetahuan tentang teknologi. Bahkan tak sedikit orang awam yang juga tidak memiliki pengetahuan akan hal tersebut dikarenakan berbagai faktor seperti terbatasnya pendidikan, lingkungan ataupun terjebak dalam kemiskinan. Kelompok-kelompok tersebut bisa membuat pembangunan negara terhambat karena kurangnya suplai informasi dan bukan tidak

mungkin akan menghambat langkah revolusi industri. Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga memiliki tingkat literasi yang kurang baik. Berdasarkan The World Most Literate Nation Study, tingkat literasi Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Sedangkan menurut UNESCO tingkat literasi membaca di Indonesia hanya 0,001. Hal ini berarti dari 1000 orang, hanya 1 orang dengan minat baca tinggi. Pepatah mengatakan buku adalah jendela dunia. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikir kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Menurut Kirsch & Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Hal tersebut dapat menjadikan seseorang menjadi literat yang dibutuhkan bangsa agar Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Sehingga literasi dianggap sebagai salah satu cara tepat untuk mengatasi kesenjangan teknologi dan informasi.

Berdasarkan hal-hal diatas, menunjukkan bahwa adanya ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dikarenakan minimnya pengetahuan dan faktor-faktor lain yang membuat masyarakat menjadi tertinggal dari perkembangan teknologi. Oleh karena itu, penulis mencetuskan sebuah gagasan berupa mendirikan halte pintar sebagai bentuk untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi revolusi industri dengan menyediakan layanan baca (buku) dengan mengusung teknologi industri 4.0 dalam pendirian halte. Alasan menggunakan halte sebagai sasaran adalah untuk memanfaatkan waktu ketika penumpang menunggu bis/kendaraan umum, selain itu digagasnya halte pintar ini ditujukan untuk para pengemis dan anak jalanan yang minim akan edukasi. Sehingga halte pintar merupakan sebuah layanan yang ditujukan untuk seluruh masyarakat tanpa adanya pembeda- bedaan dimana masyarakat umum bebas mengaksesnya, dengan tujuan agar masyarakat bisa mengikuti perkembangan zaman yang disebut sebagai revolusi industri 4.0 ini melalui gerakan literasi.


Halte di Indonesia Saat Ini

Halte adalah perhentian kereta api, trem, atau bus (biasanya mempunyai ruang tunggu yang beratap, tetapi lebih kecil dari pada stasiun) (Wikipedia.com). Sedangkan halte pada pembahasan ini adalah tempat singgah sementara bagi bus/angkutan umum untuk menunggu penumpang. Bila digambarkan halte adalah sebuah tempat terbuka yang memiliki tempat duduk yang digunakan calon penumpang dalam menunggu bus yang akan dinaiki.

Gambar 1. Halte Bus di Jambi
Gambar 2. Pojok Baca di Halte Trans Jogja

Sampai saat ini, tercatat 1.289 halte yang ada di Jakarta. Sehingga apabila dipukul rata bahwa setiap kota memiliki jumlah halte sekian, maka akan ada sekitar 120 ribu halte di Indonesia. Namun banyaknya halte di Indonesia tidak akan bisa membuat kesejahteraan rakyat meningkat apabila tidak dikelola dengan baik dan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Pasalnya dari 1.289 halte di Jakarta, 130 di antaranya mengalami kerusakan. Penyebabnya bermacam-macam. Dari usianya yang sudah tua dan perlu perbaikan, hingga akibat ulah manusia yang melakukan perusakan (www.indopos.co.id). Selain di Jakarta, halte bus di Makassar juga punya cerita. Halte bus ini malah digunakan PKL untuk berjualan, bukan digunakan sebagaimana mestinya (makassar.tribunnews.com). Meskipun banyak berita yang memberitahukan sisi negatif dari halte di Indonesia, namun beberapa upaya juga telah dilakukan pemerintah dalam memberikan nilai tambah dari halte, seperti menambahkan tanaman hias (pekanbaru.tribunnews.com) dan menyediakan buku bacaan di halte (www.goriau.com). Ide menyediakan buku bacaan di dalam halte adalah hal sangat cemerlang, karena calon penumpang bisa membaca sambil menunggu bus/kendaraanya. Namun hal ini memberikan resiko terjadinya buku hilang dalam jumlah yang besar. Karena semua orang bisa masuk ke dalam halte dan membaca buku, sedangkan tidak ada penjaga di dalam halte sehingga orang bisa masuk atau keluar sembarangan dengan membawa buku yang berada di dalam halte. Sehingga fasilitas yang semestinya disediakan oleh pemerintah, akhirnya tidak dapat dinikmati oleh semua orang hanya karena kejahilan beberapa orang.


Konsep Halte Pintar

Halte Pintar adalah sebuah halte yang mirip halte pada umumnya, ditujukan sebagai tempat pemberhentian bus/kendaraan umum dan tempat menunggu bagi calon penumpang yang akan menaiki bus/kendaraan umum, tetapi bedanya halte pintar berbentuk seperti rumah transparan (tembus pandang) yang menyediakan layanan baca dengan disediakannya buku dan kontruksi halte baca yang mengusung revolusi industri 4.0.

Untuk mengatasi tragedi hilangnya buku yang disediakan pada halte, maka halte pintar dilengkapi oleh sensor dan pintu otomatis yang akan membuka jika pengunjung terdeteksi tidak membawa buku yang disediakan di halte. Sensor dipasang disetiap buku yang ada di dalam halte. Sehingga sensor dari buku tersebut akan mengirimkan sinyal/perintah untuk buka/tutup pintu. Maka dengan diterapkannya hal ini, otomatis pengunjung yang keluar dari halte pintar tidak akan membawa buku dan hal ini mampu mencegah hilangnya buku.

Adapun sensor yang dipasang pada lantai halte pintar adalah sebagai berikut.

  • Sensor Optik

Sensor ini akan memancarkan tirai infra merah yang berupa cahaya yang tidak tampak oleh mata pada jarak jangkauan tertentu. Sensor ini akan bereaksi jika seseorang atau sesuatu menghalangi cahaya infra erah yang dipancarkan. Jika seseorang memasuki area yang disinari dengan cahaya ini, maka pancaran cahaya akan terganggu dan menjadi tidak utuh.Hal ini yang menyebabkan program perintah menutup pintu terganggu. Terganggunya program menutup pintu akan menyebabkan pintu otomatis terbuka.

  • Sensor Gerakan

Sensor ini akan memancarkan radar gelombang mikro. Hampir sama seperti pada sensor optic, jika seseorang atau sesuatu berada dalam jangkauan radar maka sensor akan bereaksi membuka pintu otomatis.

  • Sensor Tekanan

Sensor tekanan biasanya diletakkan di bawah keset yang berada di depan pintu. Sensor ini akan bereaksi terhadap tekanan berat objek benda di atasnya. Dan jika sensor telah menerima batasan minimal berat yang diperlukan untuk membuka pintu, maka pintu otomatis terbuka.

Gambar 3. Sensor Optik
Gambar 4. Sensor Tekanan

Penutup

Halte Pintar adalah sebuah inovasi pelayanan kesejahteraan sosial sebagai upaya untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia dalam menghadapi revolusi industri melalui budaya literasi. Hal yang membedakan halte pintar dengan halte lainnya yaitu di dalam halte pintar disediakan buku yang bebas dibaca oleh masyarakat dan kontruksi halte pintar yang mengusung revolusi industri 4.0 karena dilengkapi sensor pendeteksi. Sensor tersebut diletakkan di setiap buku yang berada di halte pintar dan di bawah lantai halte. Tujuan dari diberikannya sensor adalah agar pengunjung tidak membawa buku keluar dari halte pintar, sehingga buku tetap aman, tidak hilang, dan bisa dinikmati oleh semua orang. Dengan adanya halte pintar ini, pengetahuan masyarakat akan bertambah dengan disediakannya buku bacaan yang bisa dibaca oleh semua orang, sehingga dengan begitu masyarakat akan semakin paham mengenai perkembangan zaman dan siap mengahadapi revolusi industri 4.0.


Daftar Pustaka

130 Halte Bus Rusak. [online]. https://indopos.co.id/read/2019/01/08/161028/13 halte-bus-rusak. [diakses 31 Januari 2019]

CNN Indonesia. 2018. Hadapi Revolusi Industri 4.0, Jokowi Ingin Menteri Berinovasi. [online]. (diupdate 27 November 2018). https://m.cnnindonesia.com [diakses 31 Januari 2019]

Drath, R., & Horch, A. (2014). Industrie 4.0: Hit or hype? [industry forum]. IEEE indutrial electronics magazine, 8(2), pp. 56-58.

Fadhilah, U. 2018. Indonesia Dilanda Kedangkalan Literasi. [online]. (diupdate 20 April 2018). www.republika.co.id [diakses 31 Januari 2019]

https://www.kompasiana.com/frncscnvt/5c1542ec677ffb3b533d6105/pisa-dan- literasi-indonesia [dikses 31 Januari 2019]

Kirsch, Irwin S., Ann Jungeblut, Lynn Jenkins, & Andrew Kolstad., 1993. Adult Literacy in America. Washington, D.C.: National Center for Educational Statistics.

Kirsch, IrwinS. ; Jungeblut, Ann. 1986. Literacy : Profile of America’s Young Adult. [online]. https://www.ets.org [diakses 31 Januari 2019]

Liffler, M., & Tschiesner, A. (2013). The Interest of Things and the Future of Manufacturing. McKinsey & Company.

Novita F. 2018. Pisa dan Literasi Indonesia. [online]. (diupdate16 Desember 2018). Sanovra Jr. [online] FOTO:Halte Dekat Balaikota Makassar jadi Tempat Jualan PKL. http://makassar.tribunnews.com/2019/01/28/foto-halte-dekat-balaikota-

makassar-jadi-tempat-jualan-pkl. [diakses 31 Januari 2019]

The World Most Literate Nation Study. 2019. Rank Breakdown. [online]. (diupdate 31 Januari 2019). www.ccsu.edu [diakses 31 Januari 2019]

TheoRizky.     [online].     FOTO:     Halte    Bus     TMP     Dipercantik     dengan    Pot Bunga.http://pekanbaru.tribunnews.com/2019/01/07/foto-halte-bus-tmp- dipercantik-dengan-pot-bunga. [diakses 31 Januari 2019]

Wikipedia.Tempat perhentian bus.    [online]. https://id.m.wikipedia.org [diakses 31 Januari 2019]

Related posts

Leave a Comment