IHLI (Internet, Hoaks, Literasi): Tantangan Flood of Information Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

IHLI (Internet, Hoaks, Literasi): Tantangan Flood of Information Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

Oleh: Alina Ni’mah dan Mar’atus Sholeha

Dalam keadaan New Normal saat ini, hampir seluruh kegiatan di masyarakat cenderung menggunakan sarana internet dan media digital sebagai penunjang aktivitas sehari-hari seperti di dunia pekerjaan ataupun pendidikan. Hal itu mempengaruhi kebutuhan informasi masyarakat yang lebih bergantung kepada internet dan media digital untuk melakukan pencarian informasi. Seperti yang diketahui, informasi di dunia digital tentunya sangat beragam, banyak, dan bervariasi, hal tersebut memunculkan suatu fenomena yang sering dikenal sebagai flood of information, atau banjir informasi. Padahal, kita semua tahu bahwa internet memiliki sisi lain yang berhubungan dengan masalah hukum, terutama pada sosial media, contoh nya adalah dengan adanya hoaks, yaitu berita palsu yang sedang marak terjadi. Hal ini dibuktikan pada hasil survey yang dilakukan  Masyarakat Telematika Indonesia tentang Wabah Hoaks Nasional (2017) yang menyatakan bahwa Saluran penyebaran berita Hoaks tertinggi berasal dari Sosial media sebesar 92,40% (Facebook, Twitter, Instagram, Path), aplikasi chatting sebesar 62,80% (Whatsapp, Line, Telegram), dan situs web sebesar 34,90%. Di sisi lain, saat ini Indonesia sedang berbenah dan mengembangkan diri untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai Indonesia Generasi Emas 2045. Menurut Ghifari (2020), Pada masa itu Indonesia akan mengalami fenomena bonus demografi dimana jumlah usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibanding jumlah usia tidak produktif (dibawah 14 tahun atau di atas 65 tahun). Pada masa itu juga, generasi milenial lah yang akan menentukan arah dan roda pembangunan bangsa Indonesia (Asrie, 2020). Jika saat ini saja generasi milenial mudah terkena dan terdampak hoaks, maka harapan untuk mewujudkan Indonesia Generasi Emas 2045 akan mengalami kendala.

Menurut hasil survey  Asosiasi Penyelenggara  Jasa Internet Indonesia (APJII) mengenai Penetrasi dan Profil Perilaku Pengguna Internet Indonesia pada tahun 2017, menyatakan bahwa seiring berjalannya tahun, telah terjadi peningkatan yang signifikan pada presentase jumlah pengguna internet di Indonesia, yang dapat diamati melalui grafik berikut.

Grafik 1. Presentase pertumbuhan pengguna internet dari tahun ke tahun
Sumber: Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017

 Kemudian pada survey APJII 2018, menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2017 sebesar 143,26 juta jiwa (56,68% dari jumlah penduduk) menjadi 171,17 juta jiwa (64,8% dari jumlah penduduk) pada tahun 2018. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah menggunakan internet sebagai media untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka.

Namun nyatanya, besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia tidak mempengaruhi tingkat literasi masyarakat Indonesia. Menurut Library of Congress Subject Heading (LCSH) dalam Septiyantono (2014), Literasi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan dalam memahami, mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan sebuah informasi dalam berbagai bentuk media secara efektif. Salah satu bentuk literasi yang sedang difokuskan yaitu literasi digital, karena perkembangan jumlah media di Indonesia meningkat pesat yang mencapai hampir 43.400, padahal yang terdaftar di Dewan Pers hanya sekitar 243 media. Maka dari itu diperlukan sikap literat digital yang berarti seseorang dapat memiliki kemampuan memproses berbagai informasi dan juga dapat bertanggung jawab atas penggunaan teknologi guna berinteraksi dengan lingkungannya.

Tingkat literasi di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA)  dari tahun 2015 ke 2018 mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2018, tingkat literasi Indonesia dalam kategori membaca berada pada peringkat 6 dari bawah atau peringkat 74 dari 79 negara. Sedangkan pada tahun 2015, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 64 dari 70 negara. Untuk penyebaran hoaks nya sendiri, pada hasil survey yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tentang Wabah Hoaks Nasional di tahun 2017, menunjukkan bahwa presentase masyarakat menerima berita hoaks setiap hari nya sebesar 44,30%. Sedangkan pada tahun 2018, sebuah survey yang dilakukan oleh DailySocial.id menyatakan bahwa sebesar 53,25% masyarakat sering menerima berita hoaks.

Padahal pada era flood of information ini, seseorang haruslah memiliki keterampilan berliterasi yang memadai untuk terhindar dari kejahatan-kejahatan yang ada pada media elektronik sekarang. Banyaknya berita yang tersebar memiliki tingkat kebenaran atau ke aktualan yang masih di pertanyakan. Masyarakat Indonesia pun sangat sering terprovokasi dengan berita – berita tidak benar tetrsebut. Masyarakat juga cenderung lebih tertarik dengan  berita heboh, dan pada topik-topik yang sedang menjadi bahan perbincangan di lingkungan mereka. Hal ini dapat dibuktikan oleh hasil statistic mengenai Jumlah Temuan Hoax oleh Kementrian komunikasi dan Informatika pada tahun 2019, dimana peningkatan hoaks lebih sering terjadi pada bulan Februari, Maret dan April yaitu seiring dengan jalannya pemilu di tahun 2019. (grafik 2)

Grafik 2. Jumlah Temuan Hoaks Pada Tahun 2019
Sumber: Databoks

Banyaknya berita hoaks pada saat seperti ini juga diperkuat dengan pernyataan dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bahwasannya terdapat 2.020 hoaks yang beredar berkaitan dengan virus corona. (inet.detik.com). Salah satu berita hoaks yang tersebar terkait virus corona, adalah mengenai bawang putih yang disinyalir dapat menjadi vaksin penyembuhan virus corona. Sedangkan faktanya menurut ahli vaksin dari OMNI Hospitals Pulomas, klaim bawang putih dapat menyembuhkan corona dapat dipastikan adalah hoaks atau berita bohong. Berita hoaks tersebut bisa menjadi hal yang berbahaya jika informasi nya beredar secara luas dan dipercaya oleh  masyarakat padahal kenyataannya informasi tersebut salah.

Dari hasil studi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan rendahnya tingkat literasi di Indonesia yang sedemikian rupa, menyebabkan tingkat penyebaran hoaks jauh lebih pesat dan merajalela. Hal ini dikarenakan generasi muda yang mempunyai keahlian mengakses media digital masih belum bisa mengimbangi kemampuan berfikir kritis dalam mengolah informasi. Selain itu, masih mengacu kepada survey Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di tahun 2017, sebanyak 70,20% masyarakat Indonesia setuju bahwa hoaks dapat menghambat pembangunan. Jika hal tersebut terus terjadi serta tidak ada penanganan lebih lanjut, maka bisa dipastikan Generasi Emas Indonesia 2045 akan menjadi sebuah angan-angan semata.

Semakin menurunnya tingkat literasi serta maraknya penyebaran hoaks, menandakan bahwa Indonesia masih harus ekstra berbenah diri guna menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal-hal yang dapat menjadi strategi Indonesia dalam peningkatan literasi, khususnya pada literasi digital yaitu: memberikan sebuah pelatihan terkait penggunaan aplikasi atau perangkat digital itu sendiri; melakukan pelatihan penggunaan perangkat internet yang bijaksana; memberikan sosialisasi mengenai hukum dan etika dalam penggunaan media digital.

Guna mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045, sangat penting bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan literasi mereka, terutama pada literasi digital. Hal ini didasari oleh Flood Of Information  atau banyaknya informasi yang tersebar di media digital dan mempengaruhi tingkat berita hoaks yang semakin tinggi. Dengan mengembangkan sikap kritis dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi, maka Indonesia dapat menekan angka penyebaran hoaks sehingga hal tersebut akan berpengaruh pada pembangunan yang akan dilakukan pada masa Generasi Emas Indonesia 2045.


Daftar Pustaka

 APJII. (2019). Penetrasi & Profil Perilaku Pengguna Internet Indonesia Tahun 2018. Apjii, 51. Retrieved from www.apjii.or.id

Databoks. (2020). Puncak Penyebaran Hoaks Terjadi Menjelang Pilpres, 2020. Retrieved from https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/01/07/jelang-pemilu-hoaks-makin-berseliweran#

Indonesia, A. P. J. I. (2017). Penetrasi & Profil Perilaku Pengguna Internet Indonesia. Apjii, 51. Retrieved from https://apjii.or.id/survei2018s/download/TK5oJYBSyd8iqHA2eCh4FsGELm3ubj

Masyarakat Telematika Indonesia. (2017). Survey 2017: Wabah Hoax Nasional. Retrieved from https://mastel.id/hasil-survey-wabah-hoax-nasional-2017/

Septiyantono, T. (2014). Konsep Dasar Literasi Informasi, 1–77. Retrieved from http://repository.ut.ac.id/4198/1/PUST4314-M1.pdf

Tohir, M. (2019). Hasil PISA Indonesia Tahun 2018 Turun Dibanding Tahun 2015, (December 2019), 11–13. https://doi.org/10.31219/osf.io/pcjvx

Anfaal, Muhammad. Al Ghifari (2020, April 13).  Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia di  Tahun 2045. Diakses dari https://radarsukabumi.com

Asrie, Muktiani (2020, September 7). Bonus Demografi, Peluang atau Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045. Diakses dari https://www.bkkbn.go.id/detailpost/bonus-demografi-peluang-atau-tantangan-

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (2020, Januari 28). [HOAKS] Penyembuhan Virus Corona dengan Bawang Putih. Diakses dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/24029/hoaks-penyembuhan-virus-corona-dengan-bawang-putih/0/laporan_isu_hoaks Haryanto, Agus Tri (2020, Oktober 19). 2.020 Hoax Tentang COVID-19 Muncul di Medsos. Diakses dari https://inet.detik.com/law-and-policy/d-5219173/2020-hoax-tentang-covid-19-muncul-di-medsos?_ga=2.236529608.858209009.1603103747-1141249277.1586766744

Related posts

Leave a Comment