Jika Pandemi Usai

Jika Pandemi Usai

Oleh: Ahmad Syaihuddin Tri Harjono

“Bruumm..” Jalu menarik gas motornya setelah ia berpamitan dengan ibunya. Motor matic hitam yang dikendarainya mengangkut barang-barang dan makanan yang telah disiapkan ibunya beberapa jam yang lalu. Nasi, daging, sayur, serta camilan dibungkus dalam kresek hitam dan ditaruhnya di depan. Sementara barang-barang seperti pakaian dan buku-buku diletakkan di kardus di bawah makanan, ada juga yang di dalam jok. Jalu sangat bersemangat karena hari ini akhirnya ia bisa kembali ke tanah rantauan Kota Malang setelah berbulan-bulan berada di rumah akibat adanya pandemi.

Kini pandemi sudah hilang. Orang-orang sudah tidak lagi diharuskan memakai masker. Tidak ada lagi social distancing. Jalanan sudah ramai lalu lalang kendaraan. Kafe-kafe mulai dipenuhi orang-orang nongkrong. Tempat wisata sudah mulai antre dikunjungi para wisatawan. Jalu tidak bisa menjelaskan betapa bahagianya ia saat ini, dapat kembali ke tanah rantau untuk memulai kuliah secara normal, tanpa terhalang sinyal yang sering putus-putus. Ia bisa membayangkan betapa menyenangkannya nanti saat nongkrong di kantin kampus, belajar bareng di kelas, hingga main uno di sekret ukm. Ah, seru sekali pasti.

Beberapa waktu kemudian, tak terasa akhirnya Jalu sampai juga di depan kosnya. Ia mematikan motor dan memasukkannya dalam garasi. Barang-barang bawaannya diturunkan satu persatu. Tak ada yang tertinggal. Kini saatnya ia masuk ke kamar. Dipilahnya deretan kunci yang terpasang jadi satu dengan kunci motor. Nah ini dia. Ia memilih kunci kecil berwarna perak dengan gagang bergerigi. Dimasukkannya ke dalam gembok pintu kamar dan membukanya. Ia melangkahkan kaki masuk sembari tangannya menyalakan lampu.

Jalu mengamati sebuah kemeja berwarna aneh tergantung pada sebuah hanger di tembok kamarnya. Baju siapa ini? Ia mengambilnya, tangannya terasa aneh. Ah, sial, jamur. Jamur itu sudah menyelimuti seluruh kemeja itu. Tangannya segera melepaskannya sehingga baju itu jatuh ke lantai. Jalu berlutut di lantai dan membukanya pelan-pelan, melihatnya dengan cermat tulisan yang mulai terlihat ngeblur di balik kerah baju itu. “KUSHIN”. Tulisan itu membuatnya terkejut. Astaga, ini kemeja putihku satu-satunya.

Jalu langsung kembali berdiri, memegang gagang pintu lemari bajunya, hendak mengecek keadaan bajunya yang ada dalam lemari hitam satu pintu itu. Dibukanya pintu lemari agak memaksa, karena lumayan susah. Dan akhirnya, pintu lemari hitam itu terbuka.

“Aaaaa…,” Jalu meloncat kaget dan lari keluar kamar karena puluhan kecoa tiba-tiba keluar dari lemari dan beterbangan di kamar. Kecoa itu kini sudah menguasai kamarnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia segera meminta bantuan tentangga kamarnya yang sama-sama berada di lantai 1.

Jalu mengetuk pintu. “Maaaasss.. Maaaaaassss..” pintu tiba-tiba terbuka. Lampunya mati. Terdengar suara kaleng jatuh. Ia segera mencari saklar untuk menyalakan lampu. Setelah lampu nyala, Jalu melihat puluhan tikus yang tengah tertangkap basah sedang menggerogoti kasur lantai tetangga kamarnya dan baju-bajunya yang berserakan. Tikus-tikus itu langsung lari mendatangi Jalu. Sontak Jalu langsung lari kebirit-birit. Sialnya, tikus-tikus keparat itu tampaknya malah mengejar Jalu hingga keluar kos. Jalu berlari sekuat tenaga. Namun, tampaknya ia tidak bisa berlari secepat biasanya.

Saat tengah berusaha lari menjauh dari kejaran tikus, Jalu mendengar suara ibunya yang sedang teriak memanggil, “Jaluaaa.. Woy Jaluaaaa”. Berkali-kali suara itu mengganggu telinga Jalu. Sampai akhirnya ia tersandung sesuatu dan terjatuh. “JALUUUU…!!” teriakan kencang itu akhirnya membuyarkan segalanya. Jalu terbangun dalam sebuah ruang tamu dengan kursi panjang menghadap meja kosong. Ternyata ia baru saja ketiduran dan bermimpi sudah kembali ke perantauan. Hufft, Cuma mimpi ternyata. “Jaluuu!!” teriakan itu membuyarkan lamunannya yang masih setengah sadar. “Iya buuuu,” Jalu beranjak dari kursi dan menuju ke dapur menghampiri ibunya. “Cepet beliin LPG, gasnya habis. Nih uangnya, jangan lupa pake masker,” perintah ibunya pada Jalu. “Baiklah,” jawab Jalu pasrah. Kini ia kembali ke kehidupan nyatanya. Di rumah, bantu orang tua. Pandemi yang sudah hilang ternyata hanya ada dalam mimpi. Dalam kehidupan nyata orang-orang masih pada memakai masker,

Related posts

Leave a Comment