Kamu Tidak Akan Menemukan Apapun

Kamu Tidak Akan Menemukan Apapun

Oleh: Widhi Hidayat

Kejutan kecil dari seloki, di tengah pandemi kami bagikan keseruan canda dan tawa. Di atas bale dengan bambu yang berbaris dengan rapi, tempat tunggu cuci motor yang ramai ketika siang hari dan sunyi di malam hari, menjelma menjadi sebuah tempat cengkrama yang biasa dilakukan.

Beberapa kawan memilih untuk duduk dengan melingkar, ditemani minuman khas kota kelahiran (yang dibeli tadi siang), meskipun rasa dan aroma tidak seperti biasanya, seloki akan tetap berputar meskipun pelan. Tanpa disuruh pria paruh baya menghampiri kami, “Saya bukan pemabuk, tapi peminum” ungkapnya. Itu jelas berbeda, katanya berusaha untuk meyakinkan.

Pria asal Pulau Lombok (yang saya lupa namanya) menceritakan aktivitas minumnya tadi siang. Singkatnya dia bercerita dua botol telah dia habiskan, kemudian beli lagi dua botol, lalu habis, kemudian beli lagi dua botol, habis lagi, dan akhirnya beli tiga botol sebagai penanda bahwa aktivitas ini akan berhenti sampai tiga botol yang baru ia beli telah habis.

Di tengah dirinya minum, arah bicara kawan minumnya telah menunjukkan obrolan yang berbeda, setelah mencerna dan berusaha mencari tahu benang merahnya. Dirinya menceritakan kepada kami bahwa teman minumnya adalah sopir angkot kota. “Mungkin masih dengan kondisi lelah dan juga terbawa suasana menjadikan dirinya berbeda”, jelasnya kepada kami.

Rasa penasaran tidak cukup dari sana saja, pria yang sejak 1990 mengadu nasib di Pulau Jawa mencoba menerawang teman minumnya itu. Sambil tetap menunggu giliran dirinya minum, tak jarang ia memainkan asap dari tembakau. Masih dengan keadaan yang seperti sebelumnya, dia tetap tenang untuk menyimpulkan arah bicara yang ia dengarkan.

Nada tinggi keluar dari mulut kawan minumnya, seperti orang yang tidak memiliki rasa takut kepada siapa pun. Arah bicarannya kawan minumnya semakin tidak bisa dikontrol, terus saja membanggakan dan masih berusaha mengungulkan dirinya.

“Kamu enak punya uang banyak tanpa kerja keras, tinggal minta uang ibumu. Hahaha,” ungkap kawan minum I.

Mendengar hal tersebut adalah pandangan subjektif dalam dirinya, kawan minum II pria asal Lombok tersebut tindakannya semakin di luar dugaan. Teman II berusaha mengetik nomor kemudian mencoba menelfon dan mencoba membuktikan kebenaran data deskriptif.

“Halo buk, apakah aku pernah meminta uangmu?” kata kawan II dalam telfon.

Tanpa aba-aba pria asal Lombok bersama pemilik cuci motor menghentikan aktivitas minum tersebut, itu dilakukan sebagai upaya agar tidak terjadi hal yang lebih seru. Mendengarkan cerita yang barusan saya dengar memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang absurd. Jadi kenapa orang ketika minum cenderung kepribadian ketika sadar dan setengah sadar berubah? Dan tentu saja, pertanyaan yang lahir di kepala saja, dijawab oleh saya sendiri.

Seseorang mungkin belum punya cukup keberanian untuk mengatakan ataupun melakukan tindakan yang selama ini dipendam, dan hasilnya ketika ungkapan dan tindakan tersebut dipendam. Secara konsisten terus ditekan supaya orang lain tidak mendengar atau mengetahui akhirnya meledak.

Miras yang semestinya tidak memiliki latar belakang kriminal, akhirnya ikut serta disalahkan, yang paling parah adalah miras masuk ke dalam bukti tindak kriminal. Bagi pria asal Lombok, pemilik cuci motor, dan saya merasa terzalimi mendengar kalimat tersebut, pasalnya kami sebagai peminum yang baik dan lucu tidak pernah melakukan aktivitas seperti itu, apalagi memperkosa wanita dengan alasan mabuk, alasan 2000 tahun yang lalu, tapi masih relevan digunakan untuk saat ini.

“Dasar pengrusak citra peminum,” cibir pemilik cucian.

Ternyata dua botol yang malam ini kami teguk secara sistematis dan terstruktur adalah sisa minuman yang tadi siang. Pria asal Lombok itu yang sudah malang melintang berselancar ke bulan dan berenang di antara bintang mencoba mengubah kutipan dari orang Afganistan, “Hari pertama minum bersama adalah teman, hari kedua adalah saudara, hari ketiga adalah keluarga dan hari berikutnya kita berkumpul di alam baka.”

Related posts

Leave a Comment