Keadilan untuk Rakyat Jelek

Keadilan untuk Rakyat Jelek
Oleh: Dys

“Maaf ya Mbak.”

Nahas, setelah tatapan penuh cibiran itu hanya kata maaf yang ia dapat. Sedang si pemilik tempat usaha masih duduk memainkan handphone, enggan menatapnya.

“Memang mengajak bercanda Si Bangs*t ini.”

Tentu saja umpatan itu hanya berani ia ucapkan dalam hati, tangannya yang berkeringat meremas amplop coklat kuat. Selaras dengan gemuruh kesal di hatinya.

Gadis itu bernama Elok, ia berdiri memperhatikan tempat itu baik-baik sebelum beranjak pergi.  Andai jika sesuatu buruk terjadi, entah kebakaran ataupun gulung tikar. Ia adalah orang pertama yang akan menggelar pesta.

Bagi Elok, dunia itu tidak adil. Ia yang sejak lahir sudah mengalami ketidakadilan sebagai saksinya. Menurutnya, di dunia ini bukan kerja keras atau kompetisi yang menjadikan penanda keberhasilan seseorang. Tapi tampang baguslah sebagai media pendukung utama.

Tapi sayang seribu sayang.

Menurutnya,  ia terlahir jelek meskipun bernama Elok. Tubuhnya pendek dan bulat, rambutnya bergelombang panjang, dan wajahnya yang penuh jerawat itu dibingkai oleh kacamata super tebal.

Dengan wajah seperti itu, ia sangat kesulitan. Ketidakadilan di mana-mana. Contohnya sekarang, ia yang berniat melamar kerja paruh waktu di sebuah konter pulsa di dekat kampusnya harus menelan kenyataan pahit.

Si pemilik bahkan tidak membuka berkasnya, hanya memandang dirinya dari bawah ke atas lalu menolaknya.

Dunia memang tidak adil pada orang jelek.

“Hahhh ke mana lagi aku…?” keluhnya entah yang ke sekian kali. Kakinya yang sudah lelah ia bawa ke ujung jalan, tempat si penjual kelapa muda.

“Duduk di sana saja Mbak, panas.” Si penjual tersenyum padanya, setidaknya ia tidak melihatnya dengan tatapan tidak enak.

Oh, mungkin karena mereka sama-sama jelek.

Elok tersenyum, memutuskan tetap berdiri di sana menanti pesanannya yang hampir selesai. Respon ramah penjual itu bagaikan moodbooster di harinya yang buruk.

Elok beranggapan bahwa orang jelek itu ada dua golongan. Yang pertama, si jelek yang tidak merasa jelek. Orang sejenis ini biasanya adalah Si Tukang Gosip yang membicarakan seseorang yang bahkan jauh lebih baik darinya. Yang kedua, golongan orang jelek yang sadar diri sepertinya.

“Terima kasih.” ucapnya begitu satu plastik es kelapa muda berpindah ke tangannya.

***

Ia tiba di kos menjelang magrib. Kuliah dari pagi hingga sore, lalu dilanjutkan dengan mencari kerja tambahan karena bapaknya di kampung sakit, jadilah uang yang dikirimkan kurang untuk menghidupinya.

Sembari menunggu azan magrib, ia menyibukkan diri dengan handphone-nya, melihat informasi di grup WhatsApp yang biasanya membagikan info tentang pekerjaan.

“Berpenampilan menarik, berpenampilan menarik.”  Elok menghela nafas kesal. Hampir semua pekerjaan menggunakan penampilan sebagai syarat.

Dibutuhkan seorang penjaga stan minuman Teh Poca. Dengan kualifikasi pendidikan SMA, dan berpenampilan menarik.

“Wah ini sejenis dengan Si Bangs*t siang tadi.” 

“Bilang saja kalau cuma butuh pegawai yang cantik dan ganteng! Itu mencari pegawai apa model?” cibir Elok.

Karena semua informasi tak ada yang masuk dalam kategorinya. Maka ia menutup handphone tersebut. Beranjak berdiri untuk mengambil wudu lalu menunaikan ibadah. Setelah itu ia akan mengerjakan tugas kampusnya sebentar lalu tidur lebih awal. Hari ini sangat melelahkan, ia butuh istirahat lebih banyak.

Pagi harinya ia berangkat ke kampus pukul tujuh, kelas akan dimulai pukul delapan. Satu jam ia habiskan untuk perjalanan dan sarapan di kantin. Ia belum bisa membeli nasi rames kesukaannya seperti biasa. Ia harus hemat, jadilah ia hanya membeli roti dengan harga empat ribu rupiah.

“Elok punya pulpen lagi tidak?” Seseorang mencolek punggungnya pelan. Ia mengalihkan tatapan dari Prof. Rudi ke belakang.

“Punya Wan.”

Wanda, seorang lelaki tertampan di kelas ini atau bisa dikatakan sefakultas. Karena memang ia tampan sekali. Ia tinggi, kulitnya putih bersih, bibirnya merah, dan wajahnya bak artis ibu kota.

Elok heran, dengan wajah seperti itu apa yang dipikirkan orang tuanya dulu ketika memberikan nama? Kenapa di antara semua nama ia diberikan nama Wanda? Itulah yang ia pikirkan selama ini.

Wanda ramah pada semua orang, tapi Elok menjaga jarak dengannya. Bukan bermaksud banyak gaya atau apa, tapi sebenarnya Elok menyimpan sakit hati pada laki-laki itu.

Dulu saat awal menjadi mahasiswa baru, ia mengikuti akun Instagram Wanda yang memiliki sepuluh ribu pengikut, niat hati mengakrabkan diri pada teman, jadi ia berkata;

“Wanda, aku sudah follow kamu.”

“Oh iya? Apa nama akunmu?” Laki-laki yang memang ramah itu hampir membuat Elok jatuh hati dengan senyumannya.

“ItsmeElok ini bukan?”

Elok mengangguk. Tapi setelahnya ia menyesal membahas akun Instagram dengan lelaki itu. Wanda yang saat itu fokus pada handphone mencari akunnya untuk diikuti balik, lalu setelah ketemu ia berceletuk.

Celetukan pelan yang Elok yakin laki-laki itu sudah lupa. Tapi ia tidak pernah melupakannya bahkan hingga saat ini.

“Wah kok beda dengan aslinya, pakai efek apa nih?” ucapnya saat itu, pelan. Mungkin ditujukan pada diri sendiri. Tapi sayangnya, sakit hati Elok hingga kini.

Wanda tidak tau saja bahwa alasan ia menghapus semua foto di Instagram dan tak pernah berani berfoto lagi adalah karena ucapannya. Tapi kembali pada kenyataan, ia tampan dan apa yang terjadi padanya tidak akan berpengaruh pada Wanda.

Setelah memberikan pulpen, ia kembali fokus pada penjelasan Professor di depan. Setidaknya, setelah segala kekurangan yang ia miliki, ia masih punya otak encer yang membawanya selalu mendapat nilai A. Tapi sekali lagi, nilai itu masih belum bisa mengangkat derajatnya.

***

Saat menunggu pergantian jam, Elok membuka bukunya kembali, mengulang kembali penjelasan dari Profesor, sambil melengkapi buku catatan. Di sebelahnya ada seorang gadis cantik salah seorang temannya.

Mildy, ia sangat cantik sampai-sampai ia duduk bersebelahan saja enggan. Bukan Mildy yang enggan, tapi dirinya. Apalagi dengan tatapan penuh atensi dari orang-orang yang lewat membuatnya semakin ingin menyembunyikan wajah.

Niat awal, Elok hanya akan fokus pada kegiatannya. Namun seruan-seruan kagum dari mulut Mildy mengalihkan perhatiannya.

“Mil kamu sedang apa?”

Mildy menoleh kearahnya, sembari menunjukkan handphone. “Ini Lok, lagi lihat video Beauty Vlogger di YouTube. Videonya bagus, sampai penontonnya puluhan juta. Pasti duitnya banyak.”

Duit banyak….

Memang segampang itu cari duit? Iseng ia mengetikkan nama orang yang sedang dilihat Mildy itu di pencarian. Dan ia ternganga begitu melihat penghasilan Vlogger tersebut dari membuat video.

Ia tertarik….

“Mildy, memangnya buat video seperti itu bisa dapat uang?”

“Bisalah, tergantung konten videonya apa, kalau menarik dan penontonnya banyak, pasti dapat uang banyak juga.”

Elok mengangguk-angguk mengerti. Kini di otaknya terpikir, apa yang harus ia lakukan untuk membuat video yang bagus? Bersolek seperti video yang dilihat Mildy? Ah lupa, ia jelek. Siapa yang mau menontonnya.

Semalaman ia berpikir, merelakan kuota internetnya habis untuk menelusuri video demi video di YouTube. Mencari inspirasi. Dari video mempermalukan diri sendiri, membuka aib hingga prank menyebalkan yang sayangnya menggaet banyak penonton. Kini ia memutuskan, akan membuat video film-film pendek. Memanfaatkan bakatnya di bidang menulis naskah.

Keesokan harinya setelah kuliah, ia memiliki kegiatan baru, yaitu mencari orang-orang yang mau bergabung dengan YouTubenya. Kelas demi kelas ia datangi, bahkan sampai fakultas lain pun ia terjang. Hasil akhirnya setelah seminggu mencari massa, ia hanya mendapat lima orang. Dua dari temannya sendiri yang ia paksa, dan tiga dari mahasiswa yang bosan dan menuruti saja ajakannya.

Angan-angan memang tak selalu berjalan mulus, film pertama mereka gagal total. Bahkan dalam kurun waktu seminggu jumlah penonton tak bisa mencapai angka 100. Kini film kedua mereka buat, ketiga, keempat, hingga kelima. Hasilnya sama.

Hingga di suatu saat entah film yang ke berapa, jumlah penonton meningkat hingga sepuluh kali lipat di hari pertama pengunggahan. Komentar positif memenuhi kolom. Elok bersorak riang, ia dan kelima temannya tanpa malu menari kegirangan di depan bangunan fakultas.

Mulai saat itu, saluran YouTube mereka kian meningkat. Orang-orang mulai banyak mengenal mereka. Komentarnya pun beragam. Terkesan, takjub, dan lain sebagainya. Baru kali ini Elok merasakan perasaan dihargai seperti ini. Berbicara tentang komentar, yang negatif pun juga ada seperti

“Jelek-jelek begini ternyata bisa buat film bagus juga.”

Tak apa, Elok tak akan lagi memasukkannya ke hati, toh memang dirinya jelek. Yang penting adalah apa yang ia hasilkan. Ia tak akan iri lagi pada semua orang cantik dan tampan di luar sana. Karena, prestasi dan karya tidak memandang seperti apa rupamu. Stop insecure, mari bangun percaya diri dan menghasilkan hal yang luar biasa.

Related posts

Leave a Comment