Kebenaran

Kebenaran
Oleh: Anna D

Siang ini, cuaca sangat cerah dan sinar matahari sedang terik-teriknya. Namun, hal itu tidak menjadi halangan bagi sekelompok orang atau lebih tepatnya sekelompok mahasiswa yang saat ini berbaris rapi di lapangan. Mereka adalah pengurus dari UKM Mapala yang sedang rapat untuk membicarakan diklat UKM Mapala bagi mahasiswa baru. Ya, namanya juga UKM Mapala, rapat sambil dijemur di lapangan sudah menjadi hal biasa. Tiba-tiba semua mahasiswa itu kompak menolehkan kepalanya ke sumber suara derap langkah seseorang yang terdengar tergesa. Dia adalah Lala. Mahasiswa dari Jurusan Seni dan Desain, serta salah satu pengurus UKM Mapala.

“Maaf semuanya. Tadi kelasku ada kuliah mendadak dan tidak bisa kutinggal.” Ujar Lala dengan napas yang masih tidak beraturan.

No problem, La. Kita juga baru aja mulai.”

“Apakah ini sikap yang pantas untuk seorang calon ketua UKM Mapala? Memang harusnya lo mengundurkan diri.”

Ya, berbeda dengan rekan perempuannya yang pengertian akan keterlambatannya, memang laki-laki yang satu ini tidak pernah akur dengan Lala. Namanya San. Dia mahasiswa dari Jurusan Akuntansi. Dia pintar, tampan dan kaya. Tidak salah dia dijuluki sebagai salah satu most wanted di kampus. Sama seperti Lala, dia juga mencalonkan diri untuk menjadi ketua UKM Mapala.

“Ya maaf aja. Gue ini juga harus bertanggung jawab untuk tetap mendahulukan prioritas. Nggak kaya lo yang ternyata diam-diam bolos kelas buat ke toko komik.” Wajah San seketika pucat, tetapi dia bisa menyembunyikannya dari yang lain.

“Lo sendiri, jangan kira gue nggak tahu kalau lo juga sering bolos kelas untuk ke suatu tempat entah di mana itu hingga larut malam.” Seperti biasa seorang San tidak mau dirinya kalah.

“Oh, begitukah?”

“Sudah cukup! Kalian ini sekarang sudah semester 3 tapi masih saja suka mendebatkan hal yang tidak penting. Kalau kalian seperti ini terus, saya tidak akan menyerahkan posisi ketua UKM Mapala ke kalian. Biar sekalian kosong saja seperti otak kalian!” Ucap ketua UKM Mapala saat ini dengan nada ngegas. Beginilah jika ketua UKM Mapala kalau sedang marah, pasti membuat semua orang tidak berkutik, tak terkecuali Lala dan San, meskipun mereka masih saling melemparkan tatapan tajam.

“Oke. Kita lanjutkan rapat kita hari ini.” Bagas, ketua UKM Mapala akhirnya bisa melanjutkan sesi rapat dengan semua anggota UKM setelah terjadi sedikit baku hantam.

***

“Ish! Apes banget gue hari ini perasaan! Gara-gara lo sih!” Gerutu Lala sambil menyapu dengan tidak ikhlas. Yap, mereka-Lala dan San-dihukum menyapu lantai gedung UKM Mapala, karena ‘keributan kecil’ yang mereka buat tadi.

“Udah diem deh lo, nggak usah berisik! Cepet selesain!”

“Ya, bantuin dong! Lo dari tadi cuma mulutnya aja yang gerak, badan nggak.” Memang kalau dilihat-lihat yang kerja dari tadi cuma Lala, sedangkan San dengan berdosanya enak-enak rebahan di kursi.

“Gue tuh lagi merhatiin kerjaan lo bener apa nggak. Gue kan pengen punya istri idaman.” Ucap San dengan santainya.

“Ngomong lagi, muka lo ikutan gue sapu.”

“Cie, salting. Ngaca dulu sana! Muka lo sekarang nggak ada bedanya sama tomat. Cuma kalau lo tomat busuk. Hahahahaha.” Pada akhirnya si sapu mendarat mulus di mukanya San.

“Aduh, sakit woi! Kita ini belum nikah. Kok lo udah KDRT sih.”

“Siapa juga yang mau nikah sama lo, gue aja jijik deket-deket sama lo.” Sudut bibir San tertarik membentuk seringai kecil. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke Lala.

“Masa? Yakin nggak suka sama gue yang ganteng ini?” Seringai di wajahnya semakin lebar saat melihat Lala yang terdiam.

“Kan diam. Pasti lo deg…,”

“Lala!” Ucapan San terpotong karena seseorang memanggil Lala. Keduanya lantas menolehkan kepala ke sumber suara.

“Oh, Hai, Jun. Kok lo ke sini? Harusnya gue aja yang nyamperin.” Jun yang dimaksud oleh Lala adalah Junia. Dia adalah sahabat sejak SMP. Junia ini juga teman sekelasnya San, karena dia juga mengambil jurusan Akuntansi.

“Aku memang sengaja ke sini. Sekalian mau ngomongin sesuatu dengan San.” Senyum terbit di wajah Junia kala dia menyebut nama San. San hanya merotasikan matanya. Dia sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan Junia kepadanya. Namun, sepertinya ini juga bentuk usiran halus untuk Lala.

“Oh, kalau begitu aku tunggu di gazebo depan ya, Jun.” Mungkin Lala merasa jika dia tidak diperkenankan mendengar pembicaraan dua sejoli itu.

“Mungkin aku akan sedikit lama. Kau bisa duluan saja, La. Aku tidak apa-apa.” Tolak Junia secara halus. Bahkan mungkin saking halusnya pantat bayi saja kalah.

“Kau hanya akan membicarakan tugas kelompok kan? Aku rasa hanya butuh beberapa menit. Jadi, biarkan Lala menunggu di sini.” Sahut San dengan nada yang terdengar sedikit protes dan menekan kata ‘di sini’.

“Oke. Aku baru ingat kalau aku harus menemui Bu Santi untuk konsultasi tugas. Kalau begitu aku pergi. Dadah, Jun.” Tidak ingin berlama-lama di sana, Lala segera pamit keluar karena dia tahu…, Junia menyukai San. Memang sudah menjadi rahasia umum jika Junia menaruh hati pada salah satu most wanted kampus mereka sejak OSPEK. Bisa dibilang Junia adalah salah satu dari banyaknya orang yang terjerat akan pesona seorang San, tapi mungkin dia sedikit lebih beruntung dari yang lain karena Junia punya kartu akses. Yap, siapa lagi kalau bukan Lala. Junia akan lebih mudah mendekati San karena selain mereka satu kelas, Junia bisa menemuinya seperti ini dengan kedok ingin menemui Lala.

“Oke. Sekarang bicaralah, lalu pergi.” San menyela Junia yang baru saja akan membuka mulut. Membuat raut wajah Junia yang awalnya cerah menjadi murung.

“Sebegitu tidak sukanya kah kau padaku, San? Padahal aku hanya ingin dekat denganmu. Apa itu salah? Lala bisa dengan mudah dekat denganmu. Kenapa aku tidak?” Junia mulai mengutarakan perasaannya. Tidak hanya sekali dua kali Junia ditolak secara terang-terangan seperti ini. Namun, entah mengapa dia tetap berusaha mendekati San.

“Selama ini kau selalu menolak saat aku memberi perhatian padamu. Aku melakukan ini karena…,”

“Cukup. Kalau kau hanya membicarakan hal tidak berguna seperti itu, lebih baik aku pergi. Bodo amat dengan tugas kelompok. Aku bisa mengerjakannya sendiri.” San meninggalkan Junia, tapi sebuah tangan menahannya.

“Apa karena kau menyukai Lala? Atau karena Lala menyukaimu?” San dengan cepat melepaskan tangan Junia darinya dan berbalik.

“Tentang perasaan Lala kepadaku, itu bukan urusanmu, tapi jika tentang perasaanku, ya, aku memang menyukai Lala. Puas? Sekarang kau tau kan harus apa?” Kata San dengan datar. Junia tentu saja terkejut sampai-sampai matanya sudah mulai berair. Namun, dia menahan itu semua.

“Tentu saja ini menjadi urusanku juga, karena…,”

“Karena kau menyukaiku? Lalu kau melarangku untuk menyukai Lala? Memangnya kau ini siapa?”

“Dengarkan dulu penjelasanku. Ya. Aku akui aku memang ingin mengatakan itu. Aku ingin kau menjauhi Lala, karena dia tidak pantas untukmu dan dia tidak akan menyukaimu. Percayalah padaku, San.” Nada bicara Junia meninggi, karena dari tadi San memotong ucapannya.

“Atas dasar apa kau bicara seperti itu? Tahu apa kau soal perasaanku dan perasaan Lala? Sudahlah, memang harusnya aku pergi dari tadi. Oh, perlu kau ingat. Aku tidak akan pernah sudi menyukaimu.” Setelah pengucapan kalimat pedas tadi, San melangkahkan kaki lebarnya keluar gedung UKM.

“KAU AKAN MENYESAL, SAN, KARENA TIDAK MENDENGARKAN UCAPANKU. KAU AKAN TAU KEBENARAN TENTANG LALA! LIHAT SAJA, KAU PASTI AKAN TAHU BETAPA TIDAK PANTASNYA LALA UNTUKMU!” Ucapan Junia menggema memenuhi gedung. Langkah San terhenti sejenak. Lalu, tidak lama kemudian dia melangkah lagi sambil mengepalkan tangannya.

***

Apa maksud ucapan Junia tadi? Kebenaran tentang Lala? Kebenaran apa? Apa yang tidak aku tahu? Ah, tidak. Mungkin itu hanya akal-akalan Junia saja. Iya. Tidak ada kebenaran apapun.

          “San! Woi San!” San tersadarkan dari lamunannya setelah mendengar panggilan temannya.

          “Mikirin apa, sih?” Tanya Jodi, salah satu teman sekelas San yang diajaknya ke kantin. Bahkan makanan yang San pesan ditelantarkannya karena sibuk melamun.

          “Nggak, kok. Cuma mikirin kuis.”

          “Hadeh.. San..San.. nggak usah terlalu dipikirin kali. Cuma kuis aja sampai dilamunin segala.”

          “Alah, entar pas kuis juga lo nyontek gue.” Jodi hanya membalas perkataan San dengan cengiran.

          “Eh, sekarang jam berapa?” Jodi melirik jam tangannya.

          “Jam 14.55. Kenapa?”

          “Bentar lagi gue ada rapat sama anak UKM. Duluan, ya.”

          “Eh, makanan lo belum kemakan tuh, kan sayang.”

          “Yaudah, lo makan aja. Sekalian bayarin, ya.” Lalu dengan segera San meninggalkan Jodi yang teriak-teriak protes.

          “Heh! Woi! Kampret lo, San!” teriakan yang tentunya tidak digubris oleh San.

***

Selesai rapat dengan semua anggota UKM Mapala, sekarang San membereskan ruangan yang dipakai, karena kebetulan hari ini adalah jadwalnya untuk piket dan uwunya dia juga sejadwal dengan Lala. Sebenarnya, ada anggota lain juga. Namun, anggota yang lain hari ini tidak hadir. Jadi, mau tidak mau hanya mereka berdua yang piket.

          “Uhuk…, uhuk. Heh, lo sengaja ya ngarahin debunya ke gue?!” Protes Lala sambil terbatuk akibat debu memasuki mulutnya.

          “Salah sendiri lo berdiri di situ. Udah tau gue nyapu dari sini juga.” Tidak mau kalah, San membela diri, padahal sudah jelas dia memang sengaja melakukannya.

          “Lo tuh sehari aja nggak bikin masalah sama gue bisa nggak, sih?!” sentak Lala dengan wajah memerah. Sepertinya moodnya sedang jelek hari ini.

          “Gue nggak nyari masalah tuh. Lo aja kali yang sensian. Lagian ya, lo tinggal minggir gitu aja kok repot. Tuh, lihat sampah lo terbang.” Benar saja,  sampah yang susah-susah dikumpulkan oleh Lala berantakan lagi terkena angin. Lala pun panik sembari mengumpulkannya lagi.

          “Makanya langsung dibuang ke tempat sampah. Bukannya malah ditelantarin. Ututu kasian. Hahahah..” San dengan berdosanya malah menertawakan Lala.

          “BISA DIEM NGGAK! LO TUH NGESELIN BANGET, SIH! DARI TADI BERISIK MULU!” Kali ini Lala benar-benar marah.

          “Lo, kenapa, sih?! Selalu aja gangguin gue. Selalu aja bikin emosi gue. Kaya lo tuh nggak gangguin hidup gue sehari aja kaya nggak afdal gitu. Udahlah gue capek! Lo bersihin aja semuanya sendiri! Gue mau pulang!” Lala melangkahkan kakinya meninggalkan San. Namun, langkah Lala terhenti karena San menghalangi jalannya.

          “Minggir!”

          “Maaf. Gue nggak bermaksud bikin lo emosi. Gue ngelakuin ini karena…,” San menggantung kalimatnya. Raut wajahnya terlihat memancarkan keraguan.

          “Apa? Kalo ngomong tuh yang jelas! Udah, ah. Minggir!” Lala baru saja akan melangkahkan kaki, tapi..

          “KARENA GUE SUKA SAMA, LO!” Langkah Lala benar-benar terhenti karena pengakuan San. Dia terlihat sangat kaget bahkan matanya terlihat membola.

          “Gue ngelakuin ini semua karena gue suka sama, lo. Gue pengen lo merhatiin gue. Maaf kalau selama ini sikap gue bikin lo malah bikin lo benci sama gue. Tapi, itu asal lo tau gue hanya ingin perhatian dari lo.” Bukannya senang karena ditembak salah satu primadona kampus, Lala malah terlihat menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal erat.

          “Jadi, Lala. Lo udah udah tau perasaan gue ke lo. Lo mau kan jadian sama gue?”

          “…”

          “Hei, lo nggak perlu mal…,”

          “Nggak.”

          “Hah? Apa?”

          “Gue nggak mau jadi pacar, lo. Denger, kan?” Alis San bertaut. Sangat jelas bahwa dia tidak terima dengan penolakan Lala.

          “Kenapa?”

          “Ya, karena gue nggak suka sama, lo.”

          “Gue nggak menerima penolakan. Lo harus jadi pacar gue.”

          “Siapa lo maksa-maksa gue? Lagian gue udah punya pacar.” Raut wajah San terlihat kaget sesaat tapi kemudian dia tersenyum miring.

          “Jangan bohong. Lo aja nggak pernah deket sama cowok.”

          “Oh, iya? Tapi sekarang dia lagi telpon gue, tuh.” Terdengar dering dari ponsel Lala. Dia memperlihatkan kontak bernama ‘Babe’ dengan tanda love yang sedang menelponnya ke arah San. San menatap ponsel itu tidak percaya.

          “Halo, Babe.” Lala mengangkat telponnya dan pergi meninggalkan San yang terpaku tidak percaya.

Inikah kebenaran yang dimaksud Junia? Maksudnya Lala sudah memiliki pacar? Tapi kenapa aku sampai tidak tahu?  Pikir San yang masih terdiam di tempat. Mungkin benar, tapi…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Iya, nanti aku ke rumahmu, Babe.” Jawab Lala kepada si penelpon.

“Oke, sampai jumpa nanti malam, Selly.”

… entahlah.

Related posts

Leave a Comment