Konstruksi Kodrat dan Peran Adam Hawa dalam Alkitab

 

Oleh Royyan Julian

            Yang tertulis pada sebuah buku (kitab) adalah potret dari keberadaan kondisi dari sosio-politiko-kultural masyarakat yang hidup pada masa itu. Saya meyakini bahwa sebuah kitab merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sesuai konteks masyarakat yang mengodifikasikannya. Begitu pula yang terjadi pada kitab suci agama apa pun. Entah itu Alkitab (Nasrani/Yahudi), Al-Quran (Islam), Weda (Hindu), atau kitab suci dari agama lainnya merupakan produk budaya yang berasal dari ilham suci (holy inspiration) yang melingkupi para penulis/nabi yang terwahyukan.

Perempuan (saya yakin dari tradisi manapun) mayoritas menempati kedudukan subordinatif dari laki-laki. Perempuan menjadi komplementer, inferior (hingga tidak jarang mengalami marginalisasi) dan nampaknya inilah yang bernama patriarki yang merupakan penyebab munculnya gerakan emansipatoris. Namun, pada tulisan ini, saya tidak akan membahas masalah emansipasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama merupakan salah satu faktor munculnya reduksi peran unggul perempuan. Hal ini dibuktikan dengan teks-teks suci (kitab suci) yang di dalamnya memuat segala macam tentang perempuan, bahkan kodratnya sebagai manusia. Pada tulisan ini, saya akan mencoba sedikit mengulas kodrat dan peran perempuan dari perspektif Alkitab (kitab Kejadian/Genesis). Bisa dikatakan bahwa interpretasi saya di sini murni subjektivitas saya. Saya akan mencoba menafsirkan ayat-ayat dalam Alkitab tersebut secara tekstual.

Bila kita membaca Alkitab, terutama pasal 2 dan 3, yakni tentang munculnya perempuan pertama (Hawa), maka kita akan menemukan sebuah budaya patriarki yang kuat dalam teks-teks tersebut. Sebenarnya pada adegan-adegan ketika Adam merasa sepi karena sendiri dalam kemewahan taman surgawi, saya merasa senang karena di situ, Tuhan akan menciptakan makhluk yang disebut “penolong” bagi laki-laki (Adam). Betapa mulianya sebutan itu: penolong. Namun, selanjutnya saya agak kecewa karena ternyata, “penolong” tersebut diciptakan dari bagian Adam, yaitu tulang rusuk.

Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawanya kepada manusia itu. lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab dia diambil dari laki-laki.” (Kejadian 2 : 21—23)

Saya kira, dengan diciptkannnya Hawa dari rusuk Adam, hal ini menunjukkan bahwa perempuan lebih inferior daripada laki-laki. Mengapa Tuhan tidak menjadikan saja Hawa sebagaimana Adam, yakni dari debu? Dari inilah, sejak awal, Alkitab seolah-olah mengodratkan bahwa perempuan adalah makhluk kedua, bukan yang utama, bukan yang substansial.

Pada awal mereka (Adam dan Hawa) didudukkan di surga, Tuhan telah mewanti-wanti mereka agar tidak mendekati pohon pengetahuan agar manusia tidak mati (ternyata Tuhan berbohong kepada manusia karena Tuhan takut mereka akan menjadi mahatahu seperti Tuhan ketika makan buah itu sehingga Tuhan punya saingan). Tetapi, ular adalah binatang licik yang tinggal di surga. Maka, ular membisikkan godaan kepada perempuan (lagi-lagi perempuan yang menjadi tipu daya) agar memakan buah itu. Ular berkata kepada perempuan:

“Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3 : 4—6)

Maka terbujuklah Hawa untuk makan buah itu dan ia juga mengajak Adam memakannya. Benar apa yang telah diwanti-wanti, mereka tahu, mata mereka menjadi terbuka bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Lantas, mereka menutupi aurat mereka dengan daun-daun ara. Uniknya (maksud saya, yang lebih menyebalkan lagi), ketika Tuhan menanyakan apakah meraka makan buah dari pohon terlarang, Adam berkata dengan mengambinghitamkan Hawa: “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3 : 12)

Padahal, Adam juga terbujuk tetapi ia cuci tangan dan ingin menanggungkan dosa-dosanya kepada Hawa. Tampaknya memang begitulah watak laki-laki (bodoh) yang acapkali menyalahkan perempuan. Misal, ketika tidak dikarunia anak, maka perempuan yang disalahkan (padahal bisa saja yang mandul adalah laki-laki), ketika perempuan yang mengenakan baju mini, maka perempuan yang disalahkan karena membangkitkan birahi laki-laki, padahal yang tergoda adalah laki-laki.

Akibat perbuatan dosa itu, Tuhan mengutuk mereka.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu ketika mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon, yang telah kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu….” (Kejadian 3 : 16—17)

Perhatikan kata-kata yang saya cetak tebal. Pertama, “mengandung” dan “melahirkan” merupakan kodrat perempuan yang merupakan kutukan dari Tuhan karena membangkang perintahnya. Kedua, “berkuasa atasmu”. Di sini seakan-akan sudah menjadi kodrat bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Laki-laki superior daripada perempuan. Ketiga, “mencari rezekimu”. Lagi-lagi hal yang merupakan ranah publik (mencari rezeki/nafkah atau bekerja) adalah laki-laki—sedangkan perempuan ranah domestik karena melahirkan?

Dari apa yang telah saya paparkan tersebut, nampaknya pandangan Alkitab tentang kodrat dan peran perempuan dan laki-laki sangat mempengaruhi pandangan orang-orang bahwa secara umum kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Hawa adalah tulang rusuk Adam dan pandangan mengenai tulang rusuk ini juga dipercayai umat muslim meskipun di Al-Quran tidak pernah ada ayat yang menjelaskan bahwa Hawa dijadikan dari tulang rusuk Adam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *