ESAI – KONTRADIKSI PEMBANGUNAN KOTA BERKELANJUTAN DENGAN URBANISASI: EKSPEKTASI VS KENYATAAN

0
76

KONTRADIKSI PEMBANGUNAN KOTA BERKELANJUTAN DENGAN URBANISASI:  EKSPEKTASI VS KENYATAAN

Oleh Friska Mey Surya Praditya

 

Dalam beberapa dekade isu urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota menjadi isu penting dalam agenda pembangunan kota di Indonesia. Bank Dunia memperkirakan bahwa jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan akan mencapai 60% pada tahun 2025 sedangkan penduduk pedesaan cenderung menurun. Arus urbanisasi yang mengalami perubahan begitu cepat ini jika tak diimbangi dengan pengantisipasian secara bijaksana dari awal akan menyebabkan sejumlah persoalan baik dari segi sosial maupun ekonomi.

Pertumbuhan urbanisasi di Indonesia saat ini tergolong tinggi dibandingkan negara yang lain. Pertumbuhan populasi di perkotaan Indonesia termasuk yang tertinggi yaitu mencapai 4,1 persen. Kondisi ini bisa memang bisa menimbulkan masalah, namun disisi lain urbanisasi bisa mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih maju. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dilansir dalam Kompas.com menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stabil dalam jangka waktu yang lama memberikan implikasi yang luas. Pertumbuhan ekonomi yang cenderung stabil ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun tak dipungkiri juga menyebabkan tingginya tingkat urbanisasi sehingga populasi di kota pun mengalami ledakan penduduk. Hal ini mengakibatkan daerah perkotaan menjadi semakin sesak dan kebutuhan perumahan menjadi mendesak.

Perpindahan penduduk dari desa ke kota merupakan salah satu penyebab terjadinya urbanisasi. Perlu diketahui bahwa masih banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya urbanisasi misalnya pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan, perluasan wilayah, perubahan status wilayah dari daerah pedesaan jadi daerah perkotaan dan gaya hidup serta ketersediaan lapangan kerja. Selain itu, kebijakan dan peraturan didaerah perkotaan terutama di bidang ekonomi yang dikembangkan pemerintah kota.

Urbanisasi telah menimbulkan ketimpangan persebaran penduduk di Pulau Jawa dan di luar Jawa yang semakin meningkatkan kesenjangan sosial dan ekonomi yang memerlukan perhatian yang serius. Laju urbanisasi yang tidak dapat dikendalikan ini akan semakin memprihatinkan pada saat mereka yang akan melakukan urbanisasi memiliki kualitas pendidikan, keahlian dan ataupun kesadaran akan lingkungan yang rendah.

Urbanisasi dialami oleh penduduk kota dan desa, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota, dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup. Akan tetapi, pola urbanisasi yang terjadi di Indonesia, sering menimbulkan berbagai macam permasalahan baik yang terjadi di desa maupun di kota. Di kota, hal ini jelas menimbulkan meningkatnya jumlah kepadatan penduduk, di desa yang ditinggalkan, persoalan yang muncul ialah kurangnya tenaga kerja yang berfungsi untuk mengembangkan usaha pertanian. Oleh karena itu, untuk mengatasi atau mengurangi dampak negatif yang dihasilkan akibat adanya urbanisasi maka diterapkannya suatu konsep perkotaan yang baru.

Adanya The New Urbanism menurut Peter Kartz (dalam Marwati Gundhi 2008), ditujukan untuk membuat suatu onsep perencanaan pembangunan lingkungan denga visi masa depan yang mengkombinasikan antara keadaan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Konsep ini cenderung untuk memelihara dan melestarikan lingkungan yang berkelanjutan. Indikator pembentuk lingkungan berupa taman, lapangan terbuka difungsikan sebagai pusat lingkungan. Pembangunan kota yang berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Sehingga untuk menjaga keseimbangan ketiga aspek tersebut diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya (Fauzi, A : 2004).

Pembangunan kota yang berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Keseimbangan ketiga aspek tersebut diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya (Fauzi, A. : 2004). Perkembangan daerah perkotaan yang tidak dapat dikendalikan akan menyebabkan paradoks urban yakni makin munculnya kantong-kantong kemiskinan baru. Persoalan kemiskinan merupakan permasalahan kompleks yang selalu ditemui pada kawasan perkotaan dan hingga saat ini belum dapat terselesaikan.

Adanya pembangunan berkelanjutan diharapkan kota yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kini, mampu berkompetisi dalam ekonomi global dengan mempertahankan keserasian lingkungan vitalitas sosial, budaya, politik dan pertahanan keamanannya, tanpa mengabaikan atau mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Pembangunan kota yang berkelanjutan harus menghasilkan ekonomi yang kuat, lingkungan yang serasi, tingkat sosial yang relatif setara penuh keadilan, kadar peran serta masyarakat yang tinggi dan konservasi energi yang terkendali dengan baik (Rahadian, A : 2016).

Namun tidakkah disadari jika adanya pembangunan berkelajutan dikota akan meningkatkan kualitas kota yang mana tentu akan meningkatkan minat penduduk untuk melakukan urbanisasi. Pembangunan berkelanjutan di kota tentu baik untuk meningkatkan perekonomian menjadi kuat tetapi dengan tidak diimbangi dengan pembangunan desa maka tentu pembangunan kota yang berkelanjutan ini akan sia-sia. Hal ini dikarenakan akan semakin banyaknya penduduk yang berpindah ke kota dan menjadi beban disana yang mana tentu akan menyebabkan peledakan urbanisasi dan desa ditinggalkan. Proses urbanisasi di Indonesia sangat berkaitan dengan kebijakan pembangunan yang diambil oleh pemerintah pada masa lampau, baik menyangkut pembangunan spasial maupun sektoral.

Adanya pengkonsentrasian kesempatan kerja di perkotaan saat ini disebabkan olelh pertumbuhan urbanisasi yang tinggi. Menutur data Kementrian Ketenagakerjaan, sepanjang 2001-2011 tercatat 18 juta dari 21 juta kesempatan kerja yang tercipta berada di perkotaan. Sehingga jika melihat kondisi saat ini ada kemungkinan Pulau Jawa menjadi perkotaan secara keseluruhan. Urbanisasi memang dapat mendorong konsumsi rumah tangga yang lebih tinggi dan dampak lanjutannya akan menopang pertumbuhan ekonomi. Terlebih lagi  di Indonesia, konsumsi rumah tangga paling dominan menopang pertumbuhan ekonomi.

Indonesia memiliki lahan perkotaan terbesar ketiga di Asia Timur. Jumlah lahan perkotaan di Indonesia meningkat dari 8900 km persegi menjadi 10.000 km persegi yang mana laju perkotaan mengalami penambahan 1,1% per tahun. Indonesia dapat menerima lebih banyak manfaat dari urbanisasi. Negara-negara lain menikmati pertumbuhan ekonomi lebih tinggi akibat perkembangan kota., berkat bertambahnya pekerjaan formal dan meningkatnya produktivitas. Tiap 1% pertumbuhan urbanisasi berkorelasi dengan PDB perkapita.

Indonesia memperoleh hanya 4% pertumbuhan PDB untuk setiap 1% pertumbuhan urbanisasi, karena maraknya kemacetan, polusi, risiko bencana akibat investasi infrastruktur yang kurang memadai (Bank Dunia: 2016). Kota-kota di Indonesia tidak melakukan belanja yang cukup untuk infrastruktur dan belanja tidak diakukan dengan baik. Kurang investasi infrastruktur mempertajam kerentanan masyarakat terhadap kemiskinan. Kepadatan penduduk yang tinggi semakin membebani infrastruktur yang sudah ada.

Kepadatan penduduk yang tinggi semakin membebani infrastuktur yang sudah ada. Antara tahun 2000 hingga 2010, kepadatan penduduk urban di Indonesia naik pesat, dari 7.400 orang per kilometer persegi menjadi 9.400 orang per kilometer persegi. Jumlah lahan perkotaan baru untuk tiap orang yang tinggal di kota kurang dari 40 meter persegi.

Seharusnya dengan adanya desentralisasi, perkembangan kota menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Sedangkan pemerintah pusat mempunyai pembinaan dan pengawasan. Namun dari sekian banyak manfaat yang dapat dihasilkan dengan adanya perkotaan, manfaat yang diserap hanya sebagian sebagian kecil potensi yang bisa menjadi pusat inovasi dan pertumbuhan yang tinggi. Dengan meningkatnya investasi infrastruktur berkelanjutan guna menyediakan air bersih, sanitasi, transformasi umum yang efisien, dan perumahan terjangkau, kota-kota di Indonesia dapat mempercepat pertumbuhan dan mengangkat jutaan rakyat keluar dari kemiskinan.

Oleh karena itu diperlukannya berbagai upaya untuk memaksimalkan manfaat yang dapat terserap. Misalnya dengan memaksimalkan adanya Indonesia Sustainable Urbanization Multi-Donor Trust Fund (IDSUN). IDSUN sendiri merupakan dana yang diberikan kepada Indonesia dalam mendukung upaya Indonesia untuk memprioritaskan urbanisasi yang mengedepankan faktor ekonomi, sosial dan perlindungan lingkungan hidup dalam agenda nasional. Adanya dana ini juga akan memperkuat sinergi dan kapasitas lembaga pemerintah baik di pusat dan di daerah dalam upaya meningkatkan kapasitas hidup di daerah perkotaan.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki manajemen perkotaan melalui perencanaan investasi yang strategis, memanfaatkan opsi dalam negri guna mendanai infrastruktur perkotaan, reformasi kebijakan yang mempermudah investasi infrastruktur dan belajar dari negara-negara yang berhasil dalam urbanisasi berkelanjutan. Dengan diperbaiki pemberian layanan di tingkat daerah serta meningkatkan kesetaraan peluang diharapkan tercapainya pertumbuhan inklusif di seluruh Indonesia khususnya di wilayah tertinggal. Adanya bantuan pendanaan ini diharapkan sebagai salah satu jalan keluar untuk memastikan Indonesia bisa mengurangi ketimpangan sehingga masyarakat paling miskin bisa menerima manfaat pertumbuhan.

Tindakan yang dapat dilakukan guna memungkinkan lebih banyak manfaat dari urbanisasi dalam agenda pembangunan nasional perlu dikaji ulang. Dan dapat mengatasi masalah tersebut melalui pendekatan yang komprehensif. Selain tu perlu adanya sinergi antara pembangunan desa dan kota. Sehingga pembangunan desa dan kota dapat menjadi seimbang dan tidak adanya kesenjangan antara pembagunan desa dan kota. Hal ini juga dapat memeratakan persebaran penduduk dengan kata lain penduduk antara desa dan kota akan menjadi seimbang dan akan mengurangi beban infrastruktur yang ada di perkotaan.

 

Daftar Rujukan

Bank Dunia. Indonesia Urban Story. (Online), (http://www.worldbank.org/in/news/feature/2016/06/14/indonesia-urban-story), diakses pada 10 Desember 2017.

Fauzi.A. 2004, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Teori dan Aplikasi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

KataData.co.id. 27 Maret 2017. Sri Mulyani: Urbanisasi bisa Dorong Indonesia jadi Negara Maju. (Online), (https://katadata.co.id/berita/2017/03/27/sri-mulyani-urbanisasi-bisa-dorong-indonesia-jadi-negara-maju), diakses pada 10 Desember 2017.

Kompas.com. 27 Maret 2017. Sri Mulyani Ungkap Kegilaan Urbanisasi. (Online), (http://ekonomi.kompas.com/read/2017/03/27/142000926/sri.mulyani.ungkap.kegilaan.urbanisasi.di.indonesia), diakses pada 10 Desember 2017.

Marwati, Gundhi. (2008). Peremajaan Permukiman Melalui Keswadayaan Masyarakat (Membangundengan potensi masyarakat di Cigugur Tengah, Cimahi, Jawa Barat). Jurnal Permukiman Vol.3 No.1 Mei 2008.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here