Kucing dan Kesuburan Wanita

Kucing dan Kesuburan Wanita
Oleh: Leni Samara

Kucing merupakan hewan peliharaan yang paling populer di Indonesia saat ini, tampilan fisiknya yang lucu dan tingkahnya yang menggemaskan membuat banyak orang tertarik untuk memeliharanya. Kucing memiliki banyak ras, diantaranya yang populer dan sering dipelihara seperti kucing domestik, Persia, Anggora, Maine Coon, Siam, Munchkin, hingga Ragdoll. Selain tingkahnya yang menggemaskan, hewan berbulu yang memiliki banyak ras ini memang memiliki segudang manfaat bagi orang yang memeliharanya, mulai dari menghilangkan stres dan kecemasan, meningkatkan kekebalan tubuh, hingga menurunkan resiko penyakit jantung.

Terlepas dari itu semua banyak kabar yang beredar mengenai kucing, ada yang mengatakan bahwa bulu kucing apabila terhirup atau masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan kemandulan dan keguguran, dan ada yang berkata apabila ingin memiliki keturunan maka wanita tidak diperbolehkan untuk memelihara kucing, dan kabar lain yang terkait kesuburan wanita. Karena beredarnya kabar ini di masyarakat, beberapa orang menjadi takut untuk mengadopsi kucing dan ada beberapa orang tua yang tidak mengizinkan putrinya memelihara hewan lucu ini.

Akan tetapi, berdasarkan berbagai macam rumor yang beredar ini mengapa tidak semua orang yang memelihara kucing menjadi mandul? Dan mengapa ada orang hamil yang tetap melahirkan dengan sehat meskipun sering berinteraksi dengan kucing? Ternyata keguguran janin ketika memelihara kucing disebabkan oleh suatu bakteri bernama Toksoplasma. Bakteri Toksoplasma atau yang disebut dengan Toxoplasma gondii ini merupakan protozoa intraselluler obligat, bakteri ini menyebabkan infeksi yang disebut toksoplasmosis.[1]

Toxoplasma gondii menjadikan kucing dan kerabatnya sebagai hospes definitifnya dan manusia serta hewan lain sebagai hospes perantara. Toxoplasmosis sering ditularkan dari kucing atau anjing, tetapi protozoa ini juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, maupun hewan peliharaan lainnya [2]. Bakteri ini mengalami proliferasi aseksual (schizogoni) dan seksual (gametogoni) dalam hospes definitif dan Falidae lainnya yang menjadikannya sebagai tempat untuk produksi ookistanya [3].

Toxoplasmosis merupakan salah satu infeksi laten manusia yang paling umum di seluruh dunia. Parasit ini merupakan penyebab utama infeksi menahun dengan prevalensi yang berbeda-beda antara wilayah geografik pada sepertiga penduduk dunia. Prevalensi toksoplasmosis di berbagai daerah Indonesia berkisar antara 2-51%. Diagnosis dari toksoplasmosis berdasarkan adanya antibodi IgM atau IgG dalam darah pasien. Pemeriksaan antibodi pada donor darah di Jakarta menunjukkan 60% di antaranya mengandung antibodi IgG terhadap protozoa tersebut [4].

Toksoplasma masuk ke dalam tubuh tidak hanya terjadi melalui interaksi dengan kucing saja, akan tetapi minum susu sapi segar, makan daging hewan yang belum sempurna matangnya, dan minum air yang terkontaminasi parasit ini dapat menyebabkan parasit masuk ke dalam tubuh manusia. Proses penginfeksian parasit ini pada manusia dapat melalui dua cara yaitu didapat (Aquiredtoxoplasmosis) maupun diperoleh semenjak dalam kandungan (Congenital toxoplasmosis) [2].

Bakteri ini dapat bertahan hidup dalam periode yang lama dalam tubuh manusia dan hewan lain. Akan tetapi orang yang terinfeksi, sangat sedikit yang menunjukkan gejala karena sistem imun dan karena kista parasit terdapat dalam bentuk laten, tidak aktif. Dan infeksi primer biasanya juga bersifat subklinik, sangat ringan, meskipun beberapa orang penderita mengalami limfadenopati leher atau mengalami gangguan pada organ mata. Sedangkan untuk wanita yang hamil dan yang memiliki sistem imun yang terganggu seperti pengidap AIDS, infeksi dari Toksoplasma dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Pada ibu hamil, infeksi dari parasit ini tidak menunjukkan gejala serius akan tetapi dapat menyebabkan akibatyang fatal yaitu cacat kongenital pada bayi hingga menyebabkan keguguran [5].

Toxoplasmosis kongenital ditandai dengan gejala klinis utama yaitu korioretinitis, kalsifikasi serebri, mikrosefalus atau hidrosefalus. Dan gejala klinis lain penyerta yang mungkin merupakan anemia, kejang, pembengkakan kelenjar air liur, muntah, bisul-bisul di kulit, radang paru-paru, diare, demam, kulit kuning dan pengapuran dalam tengkorak yang umum terlihat setelah bayi berumur satu atau lebih. Pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan karena gejala klinik bagi yang terinfeksi tidaklah spesifik. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma.

Kucing merupakan host definit Toxoplasma gondii tetapi pada tubuhnya jarang ditemukan ookista. Sebesar 24% kucing yang terinfeksi parasit tersebut tidak mengandung ookista pada tubuh dan bulunya. Selain itu untuk mencegah penularan Toxoplasma gondii pada kucing peliharaan dapat dilakukan dengan rutin membersihkan tubuh kucing, tidak memberi kucing makanan berupa daging mentah dan dijaga jenis makanan yang dikonsumsinya, serta membersihkan kandang maupun mengganti pasir kotoran kucing dengan rutin mampu mengurangi risiko kucing untuk terinfeksi Toxoplasma gondii. Selain itu, vaksinasi toksoplasmosis pada kucing dapat meningkatkan kekebalan kucing terhadap infeksi dari parasit tersebut [6].

Bagi pemelihara kucing, infeksi dari penyakit ini dapat dicegah diantaranya dengan tidak memberi kucing makanan daging yang mentah, kucing yang diberi makanan kaleng maupun kemasan tidak akan memproduksi ookista. Selain itu menghindari berinteraksi dengan semua yang berhubungan dengan feses kucing, termasuk seperti ketika berkebun atau mengganti alas kotoran kucing, jika akan melakukannya dapat menggunakan sarung tangan dan segera mencuci tangan setelahnya. Sedangkan pencegahan dasar lain adalah dengan memasak daging hingga benar-benar matang, menjaga kebersihan peralatan dapur setelah kontak dengan daging mentah, mencuci buah dan sayur hingga bersih, dan menghindari meminum air yang mengandung ookista [7].

Daftar Pustaka

[1] Triana, A. 2015. Faktor Determinan Toksoplasmosis pada Ibu Hamil. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 11, No. 5, pp. 25–31.

[2] Wayuni, S. 2013. Toxoplasmosis dalam Kehamilan. BALABA, Vol. 9, No. 01, pp. 27–32.

[3] Astuti, N. T. 2010. Toxoplasma gondii (Nicolle & Splendore 1908). BALABA, Vol. 6, No.01, pp. 24-25.

[4] Soedarto, S. 2017. Masalah Titer IgG dan IgM dalam Menentukan Diagnosis Toksoplasmosis. Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol. 6, No. 2, pp. 1-5.

[5] Kurniawan, B., Suwandi, J. F., dan Arniamantha, D. 2020. Perbedaan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil tentang Toksoplasmosis. JMJ, Vol. 8, No. 1, pp. 47-53.

[6] Agustin, P. D., dan Mukono, J. 2015. Gambaran Keterpaparan terhadap Kucing dengan Kejadian Toksoplasmosis pada Pemelihara dan Bukan Pemelihara Kucing di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 8, No. 1, pp. 103–117.

[7] Hamdan, A. B. 2015. Toxoplasmosis dalam Kehamilan. Intisari Sains Medis, Vol. 2, No. 1, pp.13-18. ISSN: 2089-9084.

Related posts

Leave a Comment